"Banyu, kamu mau makan apa?" Stella bertanya, tapi setelah itu ia menjawab pertanyaannya sendiri, "chicken steak sama lemon tea aja gimana? Biar sama kayak aku?" Seulas senyum lebar Stella perlihatkan.
Banyu hanya mengangguk. Setelahnya Stella memanggil pelayan dan memesan makanan tersebut untuk makam malam mereka kali ini.
Banyu ingat saat pertama kali setelah mengajaknya untuk makan malam. Saat itu Stella mengatakan bahwa makan malam kala itu hanya untuk ucapan terima kasih saja. Tidak lebih. Cara bicara Stella kala itu pun masih kasar. Seolah enggan menjelaskan tentang kehidupannya pada Banyu yang merupakan teman lamanya.
Ya, Banyu tidak pernah mengira bahwa dirinya dan Stella akan menjadi sangat dekat seperti ini. Hampir setiap malam, Stella akan merengek minta diajak makan malam. Beralasan bahwa makanan buatan ibu tirinya tidak enak, dan ia tidak mau memakannya. Alhasil, setiap malam pula Banyu hanya akan menuruti tanpa protes. Berulang kali mengabaikan permintaan Mia yang juga terus mengajaknya makan malam sepulang bekerja.
Banyu tidak tahu apakah dirinya bisa membiasakan diri dengan Stella sebagai teman saja, meskipun ia sadar perasaannya untuk Stella yang terpendam masih tersisa jauh di lubuk hati sana. Tapi yang pasti, untuk sekarang Banyu hanya tidak ingin melepas Stella lagi. Jika saatnya nanti Stella akan menemukan seseorang yang menurutnya pantas, maka ia akan melepas Stella tanpa perlu menahannya.
Kalau saat itu sudah tiba, ia akan kembali pada Mia seperti sebelum Stella datang kembali ke kehidupannya.
"Oh, iya. Ulang tahun kamu itu bentar lagi, ya?" tanya Stella tiba-tiba.
Barulah Banyu mengerjapkan mata. Bukan karena tersadar dari lamunannya, tapi karena terkejut dengan pertanyaan yang diajukan oleh Stella. Bertanya-tanya sejak kapan Stella ingat ulang tahunnya setelah perpisahan yang begitu lama?
"Kamu mau kado apa dari aku?" Stella bertanya lagi. Kali ini benar-benar menyadarkan Banyu.
"Ehh?" Banyu menggaruk tengkuknya, "kamu tahu ulang tahun aku?"
Stella memandang Banyu heran. "Kenapa aku harus ngelupain ulang tahun teman terdekat aku?"
"Karena kita udah lama banget pisah. Aku pikir kamu gak akan ingat sama hal-hal kayak gitu."
Hening sejenak. Stella mengerutkan darinya seolah sedang berpikir.
"Aku juga sebenernya gak tahu kenapa tiba-tiba tahu ulang tahun kamu. Biasanya aku gak pernah peduli sama hal-hal kayak gitu. Tapi belakangan ini aku selalu lihat kalender di handphone aku. Kayak berusaha nginget sesuatu yang aku lupa gitu. Terus beberapa kali aku ingat sama masa lalu kita. Alasan kenapa aku selalu lihat kalender, aku tanpa sadar tahu kalau bulan ini itu kamu ulang tahun."
Stella tergelak. Tidak mengerti penjelasan sendiri. Yang lebih tidak ia pahami adalah bagaimana itu bisa terjadi. Bagaimana tiba-tiba dirinya bisa mengingat ulang tahun Banyu padahal sebelumnya tidak pernah mempedulikan hal itu.
"Lucu, ya? Semakin kita dekat, semakin banyak kisah manis yang aku ingat. Kamu selalu ada di setiap hari yang aku lewati dulu. Itu yang aku tahu. Rasanya kayak kembali ke masa lalu. Sama kamu aja udah cukup buatku."
Banyu merasa senang sekali karena Stella berhasil mengingat ulang tahunnya. Awalnya ia tidak berpikir untuk memberitahu Stella. Ia akan membiarkannya saja meskipun tahu itu adalah hari spesial dalam hidupnya, dan Stella harus ada dalam setiap perayaan yang ia lakukan. Tapi siapa sangka kejutannya justru datang lebih awal tahun ini.
"Rasanya udah cukup. Dengan kamu ingat sama hari penting itu aja aku udah seneng," kata Banyu. Mengatakan bahwa ia tidak memerlukan apa pun. Ia tidak menginginkan kado atau hadiah dari Stella, karena hanya dengan Stella mengingat ulang tahunnya saja sudah cukup membahagiakan.
Namun, Stella tidak setuju dengan hal itu.
"Mana mungkin bisa kayak gitu." Stella merengut, "yang namanya ulang tahun itu harus ada kado atau hadiah. Gak bakal meriah kalau kamu gak dapet itu. Seenggaknya minta sesuatu sama aku, atau aku bakal kasih sesuatu yang random dan mungkin gak akan kamu suka."
Ahh, Banyu pernah mendengar kalimat yang serupa. Katanya, ulang tahun tanpa hadiah tidaklah menyenangkan. Mia yang mengatakannya. Lantas, sekarang Banyu bertanya-tanya, apa semua perempuan berpikiran serupa?
"Kalau kamu mau ngasih hadiah, bukannya harusnya jadi surprise? Kalau nanya sama aku dulu, gak jadi surprise, dong."
"Abisnya aku tuh terlalu malas buat mikir. Kamu bilang aja apa yang kamu mau, biar aku gampang nyarinya terus langsung kasih ke kamu."
Itulah Stella. Banyu menemukan sosok Stella yang dikenalnya dulu. Malas, tidak mau repot, tidak mau berpikir keras, dan tidak mau direpotkan dengan hal sepele.
Dulu, setiap tahun Stella akan memberi Banyu hadiah jika Banyu berulang tahun. Tapi pada saat bersamaan, Stella juga selalu bertanya dahulu sebelum memberi hadiah. Hal itu membuat Banyu tidak pernah mendapatkan surprise yang sesungguhnya dari seorang Stella. Karena Banyu selalu mengetahui apa yang akan Stella beri.
Kalau memberikan sepatu, Stella akan bertanya Banyu ingin merek apa, warna apa, ukuran yang biasa atau lebih besar agar bisa dipakai sampai nanti. Kalau membeli pakaian, Stella juga akan bertanya perihal jenis, warna dan sebagainya. Begitu pula dengan hadiah lainnya.
Tapi tidak apa. Setidaknya itulah Stella. Stella yang Banyu kenal.
"Gini aja. Nanti aku bakal rayain sama teman-teman kantor aku. Biasanya gitu setiap tahun. Cuma makan malam biasa di restoran. Bedanya aku yang traktir. Nanti kamu datang aja. Aku bakal kasih alamatnya ke kamu. Gak perlu bawa apa-apa. Cukup datang aja. Kamu udah jadi hadiahnya kalau nyempetin buat datang. Oke?" jelas Banyu akhirnya.
Sebelum Stella sempat menjawab. Pesanan mereka datang. Seorang pelayan menyajikan makanan pesanan Stella di atas meja. Pamit undur diri begitu selesai.
"Emang kalau aku datang gak masalah? Itu 'kan bakal jadi waktu kamu sama rekan kerja kamu. Kalau aku datang juga, bakal ganggu, dong."
"Siapa bilang ganggu?"
Stella menunjuk dirinya sendiri. "Aku. Barusan aku yang bilang kayak gitu." Ia menarik piringnya mendekat, "kalau enggak nanti kita buat acara sendiri aja. Kalau kamu sama rekan kerja kamu itu beda lagi."
"Emang kenapa? Ikut aja. Biar nanti aku kenalin sama mereka."
Stella menggigit bibir bawahnya ragu. Setelah bertemu Banyu lagi, ia sadar betul bahwa dirinya sudah terlalu banyak merenggut waktu Banyu. Hampir setiap malam meminta untuk ditemani makan malam, dan di hari libur Banyu, ia bahkan kerap mengganggu datang ke rumah Banyu. Memangnya siapa lagi kalau bukan Banyu yang mau mewujudkannya?
Tapi … pasti menyenangkan bisa kenal dengan teman-teman Banyu. Karena itulah Stella memilih menganggukkan kepalanya. Mengiyakan ajakan Banyu.
"Nanti aku kasih tau tempatnya. Mau aku jemput atau gimana?" tanya Banyu.
Stella menggeleng pelan. "Gak usah. Kamu kasih aja alamatnya, nanti aku naik taksi atau minta anterin sama Papa. Biar kamu bisa bebas ngobrol sama teman kamu dulu."
"Oke," sahut Banyu tersenyum.
Keduanya memulai makan malam. Stella mengunyah dengan semangat. Senang karena Banyu mau begitu baiknya mengenalkan dirinya dengan teman-temannya. Itu mungkin hal sepele, tapi entah kenapa tidak henti ya membuat bibirnya melengkungkan senyuman. Seolah Banyu baru saja mengakui bahwa dirinya penting dan pantas diketahui oleh teman-temannya.
***
"Banyu, aku boleh tanya sama kamu, gak?" Stella berbicara tepat setelah meneguk minumannya.
Banyu mengangguk. Ia mengambil gelas minumannya sendiri. Meneguknya perlahan.
"Kamu pernah tidur sama perempuan?"
Selanjutnya, yang Stella dengar adalah suara batuk Banyu. Membuatnya dengan cepat berdiri dari kursi dan berjalan cepat ke kursi Banyu untuk mengusap bahu Banyu. Ia bahkan mengambilkan sapu tangan di dalam tasnya untuk menyeka bibir Banyu.
"Kamu gak pa-pa?" tanya Stella panik.
Banyu mengambil alih sapu tangan Stella dan menggunakannya untuk menyeka mulutnya sendiri. Ia memandang sekelilingnya. Untunglah restoran tidak terlalu ramai, dan posisi dari satu meja ke meja lainnya cukup jauh, sehingga ia tidak perlu khawatir orang lain mendengar pertanyaan frontal Stella.
Setelah Stella kembali ke kursinya yang terletak di seberang, Banyu menatapnya dengan bola mata yang hampir mencuat keluar.
"Pertanyaan apa itu?" tanya Banyu jengkel.
Stella memiringkan kepala, kemudian tertawa terbahak-bahak. Mengundang dengkusan dari Banyu.
"Aku 'kan cuma nanya aja. Kalau kamu gak mau jawab tinggal bilang, kalau udah pernah atau belum juga tinggal bilang udah atau belum. Kenapa malah kesedak segala?" Stella menggeleng tidak habis pikir. Reaksi Banyu yang barusan benar-benar lucu.
"Bukan gitu!" sergah Banyu cepat, "tapi pertanyaan kamu itu frontal banget. Kita ini lagi di tempat umum Stella. Kamu gak bisa seenaknya nanya hal kayak gitu ke orang lain."
"Tapi kamu 'kan bukan orang lain."
Banyu memilih memijat pelipisnya yang tiba-tiba terasa berdenyut. Sekarang ia tahu bahwa cara bicara Stella yang blak-blakan tidak pernah hilang. Yang membedakan, sekarang Stella jauh lebih blak-blakan dan menjengkelkan. Bagaimana bisa gadis itu menanyakan hal seintim itu di dalam restoran dengan banyak pengunjung?
Ahh, tidak! Jangan salah paham. Bukan berarti Banyu ingin Stella menanyakan hal itu saat sedang berdua dengan dirinya saja. Bukan begitu. Banyu hanya merasa bahwa pertanyaan semacam itu tidak seharusnya ditanyakan. Sedekat apa pun dalam berhubungan.
"Lain kali jangan bahas hal-hal kayak gitu. Gak baik tau." Banyu mendengkus halus.
Stella kembali terbahak dibuatnya. "Kamu itu canggung banget sih? Heran aku. Padahal tinggal jawab aja. Aku 'kan penasaran." Lalu, Stella menyipitkan mata. Melirik Banyu dengan sorot curiga, "atau jangan-jangan kamu masih perjaka, ya?" tembaknya kemudian. Menunjuk Banyu seperti sedang menuduh.
"Stella!" Banyu menegur. Matanya kembali melirik ke kanan dan kiri. Lagi-lagi kembali bernapas lega karena tidak ada orang yang menatap aneh.
"Mulut kamu itu kenapa jadi liar banget kayak gini, sih? Kenapa hal-hal pribadi kayak gitu pakai ditanyain segala?"
"Aku 'kan udah bilang kalau aku itu bergaul sama cowok-cowok. Yang lupa aku kasih tahu, aku itu bergaulnya sama cowok berandalan. Jadi jangan heran kalau perubahan cara bicaraku juga terlalu jelas."
"Tapi 'kan gak harus ditunjukkan juga, Stel."
"Tapi aku penasaran. Barangkali kamu beneran masih perjaka, aku mau jadi perempuan pertama yang tidur sama kamu."
Ya Tuhan. Gila, Banyu bisa gila!
Terlalu lelah menghadapi Stella, Banyu hanya bisa mengembuskan napas pasrah. Ya, begitulah Stella. Tidak mau mengalah dan susah sekali dikontrol.
"Udah, ya. Kita bahas yang lain aja. Gimana kalau kamu pesan hidangan penutup? Atau udah cukup? Kalau udah, kita langsung pulang aja. Oke?"
"Pulang?" Wajah Stella yang awalnya terlihat santai meski pembicaraan yang dibawanya terkesan rentan, kini berubah cemberut. "Masa langsung pulang? Gak mau."
"Terus mau apa? Mau di sini sampai restorannya tutup?"
"Gak gitu juga, Banyu! Tapi aku gak mau pulang dulu. Kalau kamu gak mau jalan ke tempat lain, aku gak masalah pesan makanan penutup. Kamu mau apa?"
"Terserah kamu."
Stella kembali memanggil pelayan. Memesan custard untuknya sendiri, sedangkan untuk Banyu, Stella memesan Black forest karena tahu bahwa Banyu menyukainya.
Sambil menunggu pesanan tersebut. Ada pelayan lain yang mengambil piring sebelumnya. Hampir mengosongkan lagi meja yang sebelumnya terima.
Pada akhirnya Stella hanya ingin menghabiskan lebih banyak waktu di luar rumah. Banyu tahu hal itu. Stella tidak terlalu suka hidangan penutup. Tapi kali ini Stella memesannya agar Banyu menetap lebih lama dan tidak mengantarkan dirinya pulang terlalu awal.
Tepat saat pesanan Stella dan Banyu sudah tersaji di atas meja, dan Stella sudah siap menyantapnya, sebuah panggilan membuat keduanya menoleh serempak ke arah sumber suara.
"Banyu!"
Seseorang melambaikan tangan saat Banyu dan Stella sama-sama menemukan orang yang memanggil Banyu.