Setelah menghabiskan banyak waktu di rumah orang tua Banyu, Stella meminta pada Banyu untuk pulang. Meski ia masih ingin menghabiskan banyak waktu bersama dengan ibu Banyu, tapi ia tahu bahwa Banyu harus bekerja esok hari. Jadi, ia tidak ingin membuat Banyu terlalu lelah dan kurang istirahat.
Orang tua Banyu mengantarnya dan Banyu sampai depan pintu. Banyu yang pertama pamitan. Mencium tangan orang tuanya, kemudian berpesan untuk tidak tidur terlalu malam dan menjaga kesehatan mereka dengan baik.
"Tante, kalau gitu aku sama Banyu mau pamit pulang, ya?"
Stella mengulas senyum tipis. Ia mencium tangan ayah Banyu lebih dulu, sebelum akhirnya beralih mencium tangan ibu Banyu. Ia diberi pelukan yang cukup lama oleh ibu Banyu. Wanita itu nampak enggan membiarkan dirinya pulang.
"Kalian hati-hati di jalannya, ya." Clarissa beralih menatap Banyu, "Banyu, selalu ingat pesan mama. Jangan ngebut-ngebut kalau lagi bawa mobil. Mama khawatir. Apalagi sekarang udah malam. Mama gak bakal berhenti mikirin kalian kalau kalian masih di jalan."
Tatapannya jatuh pada langit malam dengan cahaya bulan yang terlihat cerah. Walaupun belum cukup malam, Clarissa tetap khawatir. Jarak antara rumahnya dan rumah Banyu cukup jauh. Terlebih Banyu juga masih harus mengantarkan Stella sebelum bisa benar-benar pulang dan beristirahat.
Sebagai seorang ibu, meskipun Banyu sudah dewasa dan mengatakan bisa menjaga dirinya sendiri. Untuk Clarissa, Banyu tetaplah Banyu. Putra kecilnya yang manis. Dan itu tidak akan berubah sedewasa apa pun usia Banyu saat ini.
"Mama gak perlu khawatir. Aku pasti baik-baik aja. Nanti aku bakal kabarin Mama kalau aku udah sampai rumah."
Banyu berusaha menenangkan. Tapi tetap saja wajah Clarissa tidak berubah.
"Padahal kalian bisa nginep di sini. Besok kalian bisa pulang pagi-pagi kalau emang punya kesibukan. Gimana?"
Awalnya Banyu sudah tenang, tapi sekarang ia kembali memutar mata karena ibunya kembali membahas hal itu.
"Mama, aku 'kan udah bilang kalau aku sama Stella gak bisa nginep di sini. Besok aku harus kerja. Kalaupun aku bangun pagi, Aku gak yakin bisa datang tepat waktu. Mama gak usah ngulang kalimat yang sama yang lagi-lagi bakal aku tolak. Lagi pula kalau aku punya waktu lebih, aku selalu nyempetin nginep di sini."
"Setahun sekali maksud kamu?" tanya Clarissa cepat.
"Gak usah berlebihan, Ma. Baru juga bulan lalu aku nginep di sini."
"Tapi waktu itu gak ada Stella."
Sadar bahwa pembicaraan akan semakin panjang, Bima, ayah Banyu, menyentuh bahu istrinya. Istri dan putranya itu tidak akan berhenti berdebat jika tidak ada yang menghentikan.
"Udah-udah. Kalau kalian ngobrol terus kayak gini, yang ada bakal panjang banget." Bima menepuk-nepuk bahu istrinya, "Mama juga. Sekarang itu udah malam. Kalau Mama ngajak mereka ngobrol terus, yang ada mereka gak akan pulang-pulang. Nanti malah kasihan sama Banyu kalau pulangnya kemalaman."
Clarissa mengalah. Ia mendengarkan perkataan suaminya. Sekali lagi ia memeluk Stella sebagai salam perpisahan.
"Minggu depan pokoknya kalian harus ke sini lagi. Oke?" Clarissa melepas pelukan. Stella mengangguk semangat.
"Pasti, Tan. Aku itu gak akan bisa move on dari masakan Tante. Aku pasti bakal sering-sering ke sini buat numpang makan. Soalnya masakan Tante itu juara banget. Ngingetin aku sama masakan mamaku."
Tangan kanan Clarissa bergerak untuk mengusap surai panjang Stella. "Tante seneng kalau kamu suka," katanya.
Keduanya benar-benar pergi setelah itu. Stella melambaikan tangan saat dirinya menunggu Banyu membuka gerbang kemudian mengeluarkan mobilnya dari garasi.
Sampai Stella sudah berada di dalam mobil, bahkan sudah keluar dari pekarangan rumah orang tua Banyu, yang Stella lakukan hanya memandangi rumah orang tua Banyu dengan menatap ke belakang.
Stella merasa bodoh. Selama ini ia selalu berpikir bahwa dirinya sudah tidak memiliki siapa pun lagi setelah ibunya meninggal, tapi ternyata ada satu keluarga yang begitu menyayangi dirinya meskipun ia sempat melupakan mereka.
Keluarga Banyu sangat hangat dan menyenangkan. Stella merasa bahwa dirinya terlambat datang. Jika saja ia tidak pernah melupakan Banyu, mungkin sudah lama ia merasakan kebahagiaan yang saat ini tengah melingkupinya. Jika saja dirinya tidak memilih untuk jadi gadis yang bebas melakukan apa pun tanpa ada yang melarang, mungkin saja ia tidak akan serusak sekarang.
Stella menyesal karena tidak menemukan Banyu lebih awal lagi. Stella menyesal karena sudah menjadi gadis paling bodoh yang pernah mengabaikan dan berusaha membuang teman sebaik Banyu. Mengingat apa yang pernah terjadi di masa lalu sebelum dirinya bertemu dengan Banyu membuat Stella sedih.
"Kapan-kapan aku mau main ke sini lagi, boleh?" tanya Stella setelah jauh dari rumah orang tua Banyu.
Pertanyaannya berhasil mengundang tatapan aneh dari Banyu. "Kenapa nanya kayak gitu? Bukannya tadi mamaku bilang kalau kamu bebas main kapan pun kamu mau? Kamu itu udah kayak anaknya sendiri, jadi gak perlu sungkan," ujarnya menggeleng pelan.
"Makasih, ya, Banyu."
"Buat apa?"
"Karena kamu gak cerita ke mama kamu tentang apa yang terjadi sama aku, tentang papaku yang punya istri baru juga. Kalau mereka tahu dulu aku kayak gimana, atau apa sekotor apa aku sekarang, aku yakin mama papa kamu gak akan mau lihat aku lagi."
Banyu sangat kecewa saat mengetahui apa yang pernah terjadi di masa lalu Stella, ia nyaris hilang akal saat tahu bahwa Stella sudah tidak suci lagi, bahwa gadis itu sudah banyak bermain dengan banyak lelaki. Tapi ia jauh lebih benci melihat Stella yang sekarang. Katakanlah apa yang Stella katakan memang benar, tapi ia tidak suka saat Stella sendiri yang mengakui dan memperjelas fakta tersebut.
"Apa yang terjadi sama kamu itu urusan kamu. Aku gak punya hak sedikit pun buat ikut campur apalagi sampai bongkar-bongkar kayak gitu. Mau kamu ngasih tau atau gak, itu terserah kamu."
Stella hanya mampu tersenyum lebar. Tahu pasti bahwa di balik perkataan Banyu yang terkesan tidak peduli, sebenarnya Banyu menaruh perhatian di sana.
Benar-benar manis dan menggemaskan. Makin mengenal Banyu, makin banyaknya hari yang ia habiskan bersama Banyu, makin besar pula kepercayaannya pada Banyu. Stella rasanya ingin memiliki Banyu. Kalau saja yang namanya perasaan cinta bisa diatur oleh manusia itu sendiri, Stella ingin memilih untuk jatuh cinta pada Banyu saja. Sebelum ia kotor, Sebelum ia tergoda, sebelum ia tumbuh menjadi gadis berantakan, setidaknya mencintai Banyu akan menjadi anugerah terindah.
Sayangnya tidak bisa begitu. Banyu hanyalah teman lamanya yang kembali datang setelah sempat menghilang dari ingatannya. Tidak ada sedikit pun perasaan cinta untuk Banyu. Dan mungkin Banyu pun demikian.
***
Satu jam lebih di perjalanan, Banyu akhirnya sampai di depan rumah Stella. Saat menoleh ke sampingnya, Stella tertidur dengan wajah yang menghadap ke jendela.
Banyu melepas seat belt yang dikenakannya dan mengubah posisinya agar sedikit berhadapan dengan Stella. Ia mengguncang tubuh Stella dua kali, tapi bukannya bangun, Stella justru mengerang nyaman dan malah merubah posisi wajahnya sehingga berhadapan dengan Banyu.
Berbeda saat dirinya sedang bangun, Stella yang tertidur terlihat lucu di mata Banyu. Padahal kalau sedang bangun, mulut Stella terkadang ceplas-ceplos dan selalu berbicara tanpa berpikir terlebih dahulu, tapi siapa sangka saat tertidur justru terlihat manis sekali.
"Stella, kita udah sampai di rumah kamu. Ayo bangun!" Sekali lagi Banyu mengguncang tubuh Stella. Dan lagi, gadis itu tak bergeming juga.
Tidak punya pilihan lain, Banyu keluar mobil lebih dulu. Berjalan memutar untuk menuju kursi Stella. Ia membuka pintu, melepas seat belt yang dikenakan Stella, dan sekali lagi mengguncang tubuh Stella. Kali ini lebih keras.
"Stella, ayo bangun. Pindah tidurnya di kamar kamu. Aku harus pulang."
Banyu bahkan menepuk-nepuk pipi Stella untuk membangunkan gadis itu, dan mungkin karena merasa terganggu, perlahan-lahan kelopak mata Stella terbuka.
"Apaan sih? Ganggu!" Gadis itu misuh-misuh sambil menguap malas.
"Ini udah sampai di rumah kamu. Kamu harus masuk kalau mau lanjut tidur, aku harus pulang."
Stella mengerjapkan mata. Memandang sekelilingnya. Terhadap bahwa dirinya sedang berada di dalam mobil, ia baru mengingat semuanya.
"Ayo bangun. Aku antar sampai depan pagar," kata Banyu.
Stella memandangi Banyu. Dan karena posisinya terlampau dekat dengan Banyu, Stella dengan mudah menarik leher Banyu dan memeluknya tanpa permisi.
Banyu hanya mampu tertegun saat menyadari bahwa tubuhnya dan tubuh Stella saling menempel.
"Gendong," kata Stella setelah beberapa saat.
"Hah?" Banyu bertanya bingung.
"Gendong. Aku gak mau jalan. Males. Masih ngantuk juga. Kalau nanti kejengkang atau kesandung 'kan gak lucu banget."
Oh, rupanya itu sebuah permintaan.
Banyu segera melepaskan pelukan. Ia memandang Stella lantas terkekeh pelan. Memang dasarnya malas. Mau sedewasa apa pun, sifat utamanya tidak akan berubah dengan mudah.
"Ya, udah." Banyu membalikkan tubuhnya. Sedikit membungkuk agar Stella bisa dengan mudah melompat ke punggungnya. "Naik ke punggungku. Biar aku Gendong sampai depan pintu," sambungnya.
"Gak mau!" tolak Stella cepat.
Banyu menoleh ke belakang. Bertanya, "Gak mau apa?"
"Gak mau kalau cuma sampai depan pintu. Harus sampai kamar aku, dong!"
Tidak ada lagi yang bisa Banyu lakukan selain menggeleng pelan. Ya, itu adalah Stella. Stella yang dikenalnya dulu.
"Oke. Ya, udah. Buruan naik." Dan Stella melompat dengan cepat setelah Banyu mengatakan hal itu.
Banyu berdiri dan memperbaiki posisi Stella. Menutup pintu menggunakan kakinya, lantas berjalan menuju rumah Stella. Di depan pagar, saat Banyu hendak menekan bel, Stella menghentikan gerakan tangannya.
"Jangan dilepas gitu, dong! Aku itu berat, tanganmu gak akan bisa nahan kalau cuma satu. Lagian gak usah tekan bel segala. Tinggal dorong aja pagar di sana." Stella menunjuk bagian pagar kecil yang biasanya digunakan keluar masuk orang rumah tanpa harus menggeser pagar besar.
"Pagar itu gak pernah dikunci. Istri papaku selalu biarin terbuka sebelum aku pulang."
Banyu memilih opsi kedua. Ia mengabaikan bel rumah dan masuk lewat pagar kecil. Dan seperti perkataan Stella, pagar tersebut tidak dikunci sehingga ia bisa masuk.
Keduanya berjalan dengan Stella yang berada di gendongan Banyu. Menuju pintu utama yang tertutup.
Lagi, saat Banyu ingin mengetuk pintu, Stella menghentikannya.
"Ini rumahku, jadi gak perlu ngetuk pintu segala."
"Tapi aku itu tamu. Gak sopan kalau datang terus masuk gitu aja tanpa ngetuk pintu."
"Repot, deh. Ya, udah. Aku aja yang ngetuk pintu."
Banyu mengembalikan tangannya untuk menjaga agar Stella tidak jatuh. Sementara Stella menggantikannya untuk mengetuk pintu. Gadis itu kembali memeluknya setelah tiga kali mengetuk. Meletakkan kepalanya di pundak Banyu dengan nyaman.
Pintu terbuka tak lama kemudian. Airin rupanya yang datang. Seolah sedang menyambut anaknya pulang setelah lama hilang, Airin memasang senyuman lebar disertai tatapan lega yang tidak dibuat-buat. Terlihat senang melihat keadaan Stella baik-baik saja.
"Kalian baru pulang?" tanya Airin.
Banyu mengangguk dengan senyuman.
"Udah, deh. Gak usah basa-basi. Minggir, ih. Banyu mau lewat."
Stella kembali pada jati dirinya yang arogan. padahal batu beberapa jam lalu Banyu melihat sisi dari seorang Stella yang begitu dirindukan olehnya, tapi sekarang Stella sudah kembali lagi seperti semula.
Bukannya Banyu benci, hanya saja ia tidak menyukainya. Stella yang sekarang hanyalah gadis yang tidak tahu sopan santun. Dan itu terlihat jelas sekali.
"Kalian mau makan dulu atau gimana? Kebetulan Tante baru selesai makan malam sama Om. Kalau kalian mau makan, Tante bisa siapin lagi." Airin berbicara sambil menatap Banyu. Seperti permintaan Stella, ia segera menyingkir setelah itu. Membukakan jalan untuk Banyu dan Stella.
"Gak usah, Tante. Kebetulan kami berdua udah makan. Saya ke sini cuma mau nganterin Stella aja. Abis itu langsung pulang," sahut Banyu sopan.
Airin mengangguk. Membiarkan Banyu masuk.
"Papa Stella lagi di ruang kerja. Kalau kamu mau ngobrol sama beliau, nanti biar Tante panggilin."
Untuk sesaat, Banyu menoleh ke arah Airin yang berjalan di sampingnya. Ia menggeleng pelan. Mengatakan bahwa itu tidak perlu.
Pembicaraan singkat itu berakhir. Banyu pamit untuk mengantar Stella ke kamarnya.
Di tengah anak tangga, Stella berbicara. "Padahal kamu gak perlu ngomong sesopan itu sama dia. Umur kamu sama dia gak jauh beda. Kalau perlu, kamu bahkan bisa panggil dia pakai namanya."
"Stella!" tegur Banyu, "mamamu itu punya nama. Kalau kamu belum siap manggil dia pakai sebutan 'mama', seenggaknya panggil dia tante atau apa pun yang lebih sopan."
"Kenapa aku harus sopan sama dia? Aku gak pernah nganggep dia sebagai mamaku."
"Tapi kenyataannya dia itu mama tiri kamu."
Stella diam. Tidak ingin mengakui bahwa dirinya tidak ingin menerima kenyataan itu. Ayahnya mungkin saja bahagia, tapi ia tidak bisa begitu saja menerima kehadiran seseorang yang sudah merenggut posisi ibunya.
"Aku tahu kamu itu sebenernya anak baik. Jangan terlalu egois, kita berdua gak tahu luka apa yang sebenernya disembunyikan sama mama tiri kamu. Jangan bersikap seolah-olah cuma kamu yang dirugikan. Dia juga gak mungkin nyaman tinggal di sini kalau kehadirannya gak diterima sama anak dari suaminya, tapi buktinya dia milih buat tetep tinggal meskipun perlakuan kamu buruk. Dia milih buat tetep ngurus kamu meskipun kamu tolak berulang kali. Karena apa? Karena dia peduli sama kamu sama papa kamu."
Stella tidak lagi bisa berkata-kata. Ia semakin mengeratkan pelukannya pada Banyu. Dan karena itu Banyu tahu, bahwa meskipun Stella diam, Stella tidak bisa menolak perkataannya.