"Stella, kamu mau tahu, gak?" tanya Clarissa pada Stella.
Stella bertanya, "Mau tahu apa, Tan?" Dengan raut penasaran.
"Kamu itu orang pertama yang diajak Banyu ke sini. Udah tujuh tahun lebih gak ketemu, siapa sangka kamu masih jadi satu-satunya orang yang selalu diajak Banyu ke rumahnya. Soalnya dia itu jomblo, gak punya pacar, dan itu kelihatan ngenes."
Banyu yang sedang meneguk minumannya tersedak. Stella terkekeh melihat hal itu.
"Mama!" Banyu menegur ibunya, "apaan sih kok jadi ngomongin itu segala?" tanyanya kesal.
Clarissa menatap putranya. "Lho, kenapa kesel, bukannya yang mama bilang itu bener? Kamu jomblo, 'kan? Jangankan calon istri, kamu bahkan gak punya pacar."
"Bener kata mamamu. Padahal usia kamu itu sudah cukup menjanjikan untuk menjadi seorang suami. Banyak sekali anak dari teman-teman papa yang sudah menikah di usia yang bahkan lebih muda, daripada kamu. Tapi kamu bahkan tidak pernah terlihat berhubungan dengan seorang gadis. Apa tidak ada niatan untuk menikah?"
Banyu hanya bisa terdiam. Tidak menanggapi pertanyaan ibu dan ayahnya.
Dua tahun berpacaran dengan Mia, Banyu memang tidak pernah menceritakan sedikit pun tentang Mia. Ia mengira bahwa hal itu tidaklah penting. Akan mengecewakan jika pada akhirnya, setelah diceritakan, setelah dikenalkan, gadis yang sudah bersamanya justru pergi dan menikah dengan orang lain.
Karena itulah Banyu memilih untuk menyembunyikan hubungannya dengan Mia. Bukan karena ia tidak mempercayai Mia atau tidak berniat untuk menjalin hubungan yang lebih serius dengan Mia, justru karena ia serius, ia ingin meyakinkan dirinya sendiri terlebih dahulu sebelum akhirnya memperkenalkan Mia pada orang tuanya.
"Ngapain sih bahas nikah segala? Aku itu masih dua puluh enam tahun, yang artinya masih sangat muda. Aku belum mau nikah. Lagi pula sejauh ini, aku belum bisa membahagiakan Papa sama Mama. Kenapa harus memikirkan hidup sama orang lain kalau membahagiakan kedua orang tua aja belum bisa?"
"Terus memangnya kamu mau nikah di usia berapa? Di usia empat puluh? Kalau iya, sudah pasti tidak akan ada lagi perempuan yang tersisa buat kamu di dunia ini," ujar Bima.
Karena pembicaraan berubah menjadi lebih serius dari dugaannya, Banyu memilih diam saja. Tidak ingin menanggapi lebih. Takut salah bicara, takut pula mengecewakan orang tuanya dengan jawaban yang ia berikan.
"Mungkin karena Banyu-nya masih mau serius kerja dulu, Tan, Om. Supaya nanti bisa menghidupi istrinya dengan baik," komentar Stella setelah sejak tadi hanya diam mendengarkan.
"Bener juga." Clarissa berhenti di Stella, "mungkin emang gitu."
"Lagian Banyu itu ganteng, karirnya bagus, aku rasa mustahil kalau gak ada yang mau sama dia. Kalau emang sampai sekarang Banyu belum punya pacar, itu artinya Banyu emang belum siap aja. Kalau udah waktunya pasti bakal dikenalin ke Tante sama Om."
"Bener juga, ya." Clarissa manggut-manggut.
Banyu hanya bisa melongo melihat tanggapan ibunya. Stella hanya memberikan dua kalimat sebagai komentar, tapi ibunya langsung diam memaklumi dan tidak membahas lebih jauh lagi. Padahal sejak tadi ia berusaha menjelaskan panjang lebar agar ibunya mau mengerti, tapi siapa sangka justru Stella lah yang bisa membuat ibunya diam.
Keduanya baru bertemu kembali, tapi Banyu sudah dibuat takjub dengan kehadiran Stella yang begitu diterima oleh orang tuanya. Ia yang notabene-nya adalah anak kandung, sedikit merasa terpinggirkan karena Stella.
Tujuh tahun tidak bertemu Stella, persis seperti apa yang dikatakan ibunya, selama itu pula Banyu tidak pernah mengajak siapa pun menemui ibunya. Tidak teman dekatnya sekalipun, seperti Rangga misalnya. Lalu, takdir kembali membawa Stella padanya. Seolah ada cerita yang belum usai, ada cerita yang masih belum dimulai, atau bahkan ada cerita yang seharusnya diperankan oleh dirinya dan Stella, ia dipertemukan lagi oleh Stella. Dan gadis itu menjadi gadis pertema yang ia bawa untuk menemui ibunya setelah dirinya dewasa. Sebagai teman tentunya.
"Kenapa lebih kelihatan kalau Stella yang jadi anak Mama? Kayaknya Mama lebih percaya ucapan Stella, daripada aku," ucap Banyu setengah jengkel.
"Lho, Stella 'kan emang anak mama. Anak kedua mama. Dia baru pulang setelah tujuh tahun merantau di kota orang"
Banyu mengalah. Mengiyakan saja ucapan ibunya.
Stella justru terkekeh geli melihat percakapan antara Banyu dan ibunya. Berbeda dengan Banyu yang lebih tenang dan jarang bercanda, ibunya justru memiliki selera humor yang mengagumkan. Wajah Banyu memang kontras sekali dengan ibunya, tapi sifatnya menurun langsung dari ayahnya. Tenang, dan tidak banyak bicara jika memang tidak diperlukan. Sering mengalah jika sedang berdebat. Bukan karena merasa kalah, tapi karena tidak ingin memperpanjang masalah. Itulah Banyu.
Hanya satu yang disukai Stella. Nampaknya orang tua Banyu sangat senang melihatnya, bahasan tentang ibunya hanya dibahas sekilas, tidak ada bahasan tentang ayahnya yang terlalu panjang. Mereka hanya menanyakan kabar, tidak lebih. Karena kalau mereka bertanya lebih banyak, Stella pastilah harus menjelaskan tentang ibu tirinya. Dan ia tidak mau.
"Oh, iya. Lain kali kalau kamu mau ke sini lagi, gak perlu nunggu Banyu libur. Kamu bisa pergi sendiri. Setiap hari juga gak pa-pa. Tante bakal seneng banget kalau kamu mau sering main ke sini. Gimana, Pa?" Clarissa bertanya pada suaminya. Bermaksud meminta pendapat.
Bima mengangguk setuju. "Boleh. Lagi pula Banyu cuma datang kalau libur aja. Itu pun gak tentu. Kalau Stella punya lebih banyak waktu senggang, main aja ke sini. Tante sering masak banyak soalnya."
"Oke, Tan." Stella memberi hormat pada ibu Banyu, "siap-siap aja Tante direpotin sama aku."
"Gak akan merasa direpotin, kok. Pokoknya jangan sungkan kalau mau main. Itung-itung melepas kangen, 'kan?"
Stella mengangguk sambil nyengir lebar.
Merasa bahwa sudah cukup obrolan antara kedua orang tuanya dengan Stella, Banyu berdiri.
"Udah dulu, ya, ngobrolnya. Aku mau ajak Stella keliling rumah ini. Takutnya dia bosan kalau cuma ngobrol sama Mama Papa."
"Boleh. Nanti mama masak buat kalian. Kalian bisa pulang sore, atau malah nginep aja sekalian."
"Mama!" Banyu lagi-lagi harus menegur karena ucapan ibunya, "kamar di sini 'kan cuma satu. Kita gak bisa nginep. Lagian besok aku juga harus kerja."
Tapi Clarissa hanya fokus pada kalimat Banyu tentang kamar yang hanya ada satu. "Kalian 'kan bisa tidur berdua," sahutnya. Mengatakan seolah-olah Banyu dan Stella adalah dua anak kecil yang tidak masalah jika dibiarkan tidur di ranjang yang sama.
"Gak bisa dong, Ma."
"Takut kamu khilaf?"
Tidak tahan, Banyu memilih untuk menarik tangan Stella menjauhi ibunya. Setelah posisinya berada beberapa meter dari orang tuanya, barulah tawa ibunya pecah. Terdengar nyaris dan puas sekali karena berhasil mengerjai dirinya.
***
Awalnya Stella kira hanya bagian halaman depan saja yang cukup luas, tapi ternyata orang tua Banyu juga memiliki halaman belakang yang luas. Ada kolam renang, ayunan, dan beberapa kursi yang diletakkan di bawah pohon mangga.
Banyu mengajaknya untuk duduk di salah satu kursi. Memandangi bagian rumah dan kolam renang yang tepat berada di depan jika dilihat dari posisi kursi.
"Ternyata di sini gak kalah enak juga, ya, dari rumah kamu. Bahkan ada kolam renangnya juga. Kukira gak ada, lho. Karena seingatku 'kan di keluarga kamu yang suka berenang cuma kamu aja, sedangkan rumah ini cuma ditempati sama orang tua kamu."
Benar. Sejak kecil satu-satunya olahraga yang digemari Banyu memang hanya berenang. Nilai olahraga Banyu di sekolah memang selalu tinggi, itu karena Banyu selalu jadi anak teladan yang tidak pilih-pilih soal pelajaran. Suka tidak suka, akan dipelajari dengan serius.
Tapi kalau berenang, Stella tahu bahwa Banyu sangat menyukainya. Banyu suka berenang malam sebelum tidur. Itulah yang Stella tahu. Berbeda dengan dirinya yang tidak terlalu menyukai air atau kegiatan apa pun yang berhubungan dengan air, Banyu justru mencintai olahraga renang sebagai kesenangan.
"Emang iya. Mama sama Papa sengaja bikin kolam renang karena aku emang suka ke sini. Ini juga cuma bakal dipakai sama aku aja."
Dan sepertinya sampai sekarang pun Banyu masih menyukai olahraga yang satu itu.
"Berarti kalau kamu gak ke sini, kolamnya gak pernah dipakai?"
Banyu menggeleng. Menandakan bahwa itu benar.
Keduanya terdiam cukup lama. Stella hanya memandangi bagian kolam renang yang terlihat tenang. Ada beberapa daun kering di permukaan air. Karena terlalu sibuk, Stella beranggapan bahwa ibu Banyu mungkin belum sempat membersihkan kolam renang. Karena selain wanita karir, ibu Banyu juga merupakan ibu rumah tangga yang sempurna menurutnya.
Ibu Banyu tidak pernah menyewa asisten rumah tangga sejak Banyu kecil. Bukan karena pelit uang, tapi karena ingin merawat keluarganya dengan tangannya sendiri. Sejak lama, Banyu memang sering ditinggal kerja, tapi di saat bersamaan, Stella juga tahu bahwa ibunya begitu memperhatikan Banyu. Bangun lebih pagi untuk menyiapkan keperluan Banyu, dan tidur lebih malam untuk memperhatikan putranya.
Kasih sayangnya tak terbatas. Meski sibuk di luar karena tuntutan pekerjaan, Banyu tidak pernah kekurangan kasih sayang. Banyu tumbuh dengan baik menjadi anak yang cerdas dan membanggakan.
Lalu, sekarang Stella ditunjukkan bahwa Banyu sudah bisa hidup mandiri, dan di satu waktu akan menjadi anak manja yang tidak pernah lupa untuk pulang ke pangkuan ibunya.
"Enak, ya, jadi kamu. Kadang-kadang, aku selalu mikir kalau aku mau tumbuh kaya kamu. Pintar, sopan, gak pernah kebawa sama pergaulan zaman. Tapi aku sadar kalau itu cuma angan-anganku aja. Aku, ya, aku. Kamu, ya, kamu."
Banyu menatap Stella. Tatapannya nampak kosong. Banyu tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Stella, tapi terlihat jelas bahwa Stella sedang sedih.
Untuk alasan pastinya Banyu tidak tahu, tapi sepertinya itu karena pertemuan Stella dengan orang tuanya. Stella sudah lama berusaha baik-baik saja tanpa kehadiran seorang ibu dalam hidupnya, tapi hari ini ia mempertemukan Stella dengan orang tuanya. Jelas, Stella pastilah sangat senang, tapi di waktu bersamaan, Banyu juga yakin kalau hal itu membuatnya merindukan sosok ibunya.
"Andai mamaku masih ada."
Dan, benar. Ternyata itu alasannya.
"Gak usah ngomong yang aneh-aneh. Gak usah berandai-andai. Aku yakin kamu pasti tahu sesuatu yang kamu harapkan itu mustahil."
Stella memandang Banyu karena perkataannya.
"Mamamu emang udah gak ada, tapi bukan berarti dunia kamu berakhir gitu aja. Kamu bisa jadi apa pun yang kamu mau meski tanpa kehadiran ibu kamu. Dan kalau kamu rindu sama mama kamu, kayak apa yang mamaku bilang, kamu bisa ke sini kapan pun kamu mau. Seenggaknya ada seseorang yang bisa kamu peluk. Karena aku tahu kamu belum bisa dekat sama mama tiri kamu."
Stella bertanya, "Apa beneran kamu belum punya pacar?"
Sontak saja pertanyaannya berhasil membuat Banyu mengerjapkan mata. Tidak nyambung. Apa yang ia katakan benar-benar tidak nyambung dengan tanggapan Stella.
"Kenapa malah bahas pacar?" Banyu balik bertanya. Tidak mengerti.
"Ya, abisnya kamu itu bijak gini. Bisa menyikapi segala sesuatu dari sisi yang positif. Apa gak ada yang jatuh cinta sama kamu karena cara bicara kamu itu?" Stella memiringkan kepala, "bahkan aku aja kagum sama kamu. Belum sampai ke tahap jatuh cinta sih, tapi aku yakin kalau kamu gitu terus, aku bisa kesengsem."
Banyu tidak tahu apakah dirinya harus senang, atau justru takut mendengar pernyataan Stella. Di satu sisi, ia sadar dirinya sudah memiliki kekasih yang harus ia jaga perasaannya, tapi di sisi lain, Banyu tidak bisa menyembunyikan debaran yang timbul karena pernyataan itu.
Stella pastilah hanya bercanda, tapi karena Banyu pernah dan masih memiliki perasaan pada Stella, perkataan Stella berhasil membuatnya meneguk air liur.
"Gak usah ngawur. Omongan kamu itu gak lucu." Banyu membuang muka. Berusaha mengabaikan Stella. Dan hal itu membuat Stella tertawa.
Banyu sangat hebat. Hanya dengan melihat tingkahnya saja, Stella dibuat tertawa. Melupakan perasaan rindu pada sang ibu yang beberapa saat lalu membuatnya sedih.
"Tapi kalau nanti kamu punya pacar, aku yakin pacarmu itu bakal jadi gadis paling beruntung. Jangan lupa bilang sama aku, ya, kalau kamu udah punya pacar."
"Kenapa juga aku harus ngasih tahu kamu? Itu 'kan pacar aku."
"Aku 'kan teman kamu. Jadi aku harus nyari tahu pacarmu itu beneran cocok buat kamu atau gak. Kalau perlu nanti aku tes juga. Bakal aku cari tahu kalau dia itu bisa ngurus kamu dengan baik atau gak. Gitu."
"Berarti itu berlaku juga buat aku?" tanya Banyu.
"Hah?" Stella mengerjapkan mata, "Apa?"
"Kalau kamu bakal jadi seseorang yang nentuin pacarku itu cocok buat aku atau gak, berarti aku juga punya hak buat nentuin siapa yang cocok buat kamu?" Jeda sebentar. Banyu menatap Stella intens, "aku bakal lihat dia itu sungguh-sungguh atau cuma main-main sama kamu. Dia tulus atau gak. Baik atau gak. Dan bertanggung jawab atau gak. Kalau perlu aku bakal ngasih ujian keseriusan juga ke pacar kamu nanti. Gimana?"
Stella tertawa terbahak-bahak. "Apaan sih kamu. Aku 'kan cuma bercanda, kenapa dibawa serius gitu sama kamu?" Ia menggeleng tidak habis pikir.
Namun, meskipun begitu, Banyu serius dengan perkataannya. Ia tahu Stella hanya bercanda, tapi tidak dengannya. Ia bersungguh-sungguh. Karena tahu apa yang sudah dialami Stella saat tidak bersamanya, Banyu tidak ingin Stella memilih laki-laki yang salah lagi. Yang hanya mengedepankan hawa nafsu tanpa peduli yang namanya perasaan apalagi ketulusan.
Banyu hanya tidak ingin Stella menderita. Kalau nanti Stella menemukan seseorang yang benar-benar dicintainya, maka ia akan memastikan orang itu juga harus mencintai Stella.