Definition of Love; 17

2024 Kata
Rumah orang tua Banyu tidak sebesar rumah yang ditempati Banyu. Berada di perumahan elit bagian Utara Jakarta. Hanya satu lantai, tapi terlihat cukup luas. Bagian halamannya pun tidak seluas rumah lamanya, tapi bunga-bunga berbagai macam jenis memenuhi halaman tersebut melebihi apa yang ada di rumah Banyu. Banyu dan Stella baru sampai beberapa menit lalu. Saat di depan pagar, Banyu tempat turun dari mobil untuk sekadar membuka bagian pagar agar mobilnya bisa masuk ke dalam dan diparkir di garasi. Di dekat satu mobil lainnya milik ayah Banyu. Stella hanya bisa diam di dekat mobil Banyu sambil memperhatikan sekitarnya. Tampak kegugupan yang tergambar jelas di wajahnya. "Sampai kapan kamu cuma mau diam diri di sini?" tanya Banyu menatap Stella. Ia sempat melangkah, tapi Stella menahan tangannya di langkah kedua. "Bentar!" Stella menarik Banyu agar berdiri lebih dekat dengannya. Ia meneliti penampilannya sendiri, "coba kamu lihat penampilanku sekali lagi. Apa menurut kamu aku gak pa-pa pakai baju kayak gini doang? Apa nanti mama papa kamu gak kecewa kalau ngelihat aku kayak gini?" tanyanya kemudian. Terlihat panik dan gelisah. Banyu hampir tertawa dibuatnya. Padahal di pertemuan pertama, penampilan Stella begitu terbuka, dan Stella sama sekali tidak terlihat terganggu dengan penampilannya tersebut. Di pertemuan kedua pun begitu, Stella terlihat bodo amat dan tidak begitu memperdulikan penampilannya. Itu berlaku di pertemuan-pertemuan selanjutnya. Sampai kemudian hari ini Stella nampak gelisah padahal pakaiannya tidak terlalu terbuka seperti biasanya. Memang sederhana. Hanya jeans berwarna putih dengan atasan berwarna peach. Meski begitu Stella justru terlihat jauh lebih cantik di mata Banyu. "Gak perlu khawatir, mereka pasti gak akan terlalu peduli sama penampilan kamu. Karena mereka bahkan bakal lebih terkejut kalau lihat siapa yang datang sama aku." Stella menghempaskan tangan Banyu kesal. "Aku itu gak lagi bercanda. Coba kamu lihat lagi penampilan aku! Udah bagus belum?" Banyu terkekeh geli kemudian mengangguk. "Udah, kok. Kamu cantik," pujinya lembut. Lalu, seolah tidak ingin lagi mendengar keluhan dari Stella, Banyu menarik tangan gadis itu. Memaksanya untuk segera bergerak mengikutinya. Keduanya berjalan ke arah pintu. Mungkin karena Banyu sering datang, mungkin juga karena rumah yang didatanginya adalah rumah orang tuanya, Banyu mendorong pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Bagian dalam ternyata jauh lebih luas, daripada apa yang dilihat dari luar. Dua orang sedang berbincang mesra di sofa sambil menonton televisi. Ibu Banyu yang pertama menoleh dan menyadari kehadiran putranya. "Banyu, kenapa gak ngetuk pintu dulu?" Ibu Banyu bertanya lantas segera berdiri. Clarissa namanya. Gerakan yang membuat sang suami ikut menoleh ke arah Banyu. Hanya butuh waktu beberapa detik untuk keduanya sampai di depan Banyu dan Stella. Bukannya menyambut kedatangan putranya, Clarissa justru menoleh ke arah Stella yang berdiri di samping Banyu. Nampak terkejut sekaligus terlihat senang. "Astaga, wajah familiar siapa sebenarnya yang lagi mama lihat?" tanya Clarissa terdengar bersemangat. Stella merasa malu ditanya seperti itu oleh Clarissa. Ia tahu pertanyaan itu ditujukan untuk Banyu, tapi ia juga tahu bahwa secara tidak langsung Clarissa menanyakan tentangnya. "Iya, Mama gak salah lihat. Ini Stella." Banyu mengulas senyum tipis. Membenarkan dugaan ibunya. Bima, ayah Banyu, sampai di depan Banyu dan Stella. Sama seperti Clarissa yang nampak terkejut melihat sosok Stella yang dibawa oleh putranya, Bima pun sampai melongo karena masih tidak percaya. Maklum saja, dulu Banyu dan Stella sangatlah dekat. Nyaris tidak terpisahkan. Dan karena suatu alasan, keduanya harus berpisah. Tujuh tahun lebih tidak pernah bertemu. Rasanya sangat wajar jika kedua orang tua Banyu nampak terkejut saat melihat Banyu tiba-tiba membawa Stella ke hadapan mereka. "Ya Tuhan, sudah berapa lama kami tidak bertemu dengan kamu? Lima tahun mungkin, atau malah enam tahun?" Clarissa bertanya. Mendekatkan dirinya pada Stella. "Lebih tepatnya tujuh tahun lebih, Tante." Stella meralat tebakan Clarissa sambil tersenyum. Ia mengulurkan tangannya dan Clarissa menyambutnya, Stella segera mencium punggung tangan wanita itu. Setelahnya Clarissa bahkan menyempatkan diri untuk memeluk Stella akrab. Sedikit usapan lembut Stella dapati di rambutnya. Bima turut mendekat. Sama seperti apa yang dilakukannya pada Clarissa, Stella juga mencium punggung tangan ayah Banyu. Rasanya seperti baru kemarin Stella bertemu dengan orang tua Banyu. Wajah mereka masih terlihat muda. Mungkin bisa dibilang awet muda. Ibu Banyu sangat cantik, dan ayah Banyu terlihat sangat gagah. Seperti anaknya. "Tante masih gak percaya kalau yang tante lihat sekarang itu emang beneran Stella." Clarissa masih memandangi Stela dengan serius, "tante gak mau nanyain keadaan kamu. Karena kamu sekarang berdiri tepat di depan mata tante. Itu artinya kamu sehat dan baik-baik aja." Bima menyentuh pundak istrinya. "Ma, apa Stella yang sekarang gak kelihatan jauh lebih cantik dari Stella yang kita lihat tujuh tahun lalu?" tanyanya. "Papa!" tegur Banyu. "Apa?" tanya Bima, "papa bener, kok. Dia pasti merawat dirinya dengan sangat baik karena bisa tumbuh jadi gadis secantik dan seanggun ini. Mama setuju 'kan sama papa?" sambungan gantian menatap wajah istrinya. "Tapi masih lebih cantik mama, 'kan?" Bima tertawa. Menganggukan kepalanya karena tidak mungkin menolak mengakui pertanyaan istrinya yang satu itu. "Daripada cuma berdiri di sini, gimana kalau duduknya pindah aja di sofa?" tawar Clarissa. Bima dan Banyu mengangguk setuju. Boleh, kata Banyu. Stella sangat senang karena dirinya mendapatkan sambutan yang begitu baik dari keluarga Banyu. Meski sudah sangat lama tidak bertemu, orang tua Banyu masih menganggapnya seperti anak sendiri. Perlakuan mereka masih sama seperti apa yang ia dapatkan tujuh tahun lalu. Di sofa, Clarissa meminta agar Stella duduk. Membiarkan putranya sendiri. Kini Clarissa justru lebih memanjakan Stella. Menanyakan makanan dan minuman apa yang diinginkan Stella, atau apa yang Stella ingin lakukan terlebih dahulu. Berkeliling rumah misalnya. Tindakannya itu membuat Banyu mendengkus halus. Membiarkan putranya hanya untuk seseorang yang sudah lama hilang, lalu kembali lagi. Menurutnya itu menyebalkan. Tapi mau bagaimana lagi, sejak dulu Stella memang sudah dianggap seperti anak sendiri. Persis seperti apa yang dilakukan kedua orang tua Stella. Banyu memakluminya. Ibunya mungkin tidak menyangka, dan di saat yang bersamaan merasa sangat rindu pada sosok Stella, sehingga sikapnya seperti itu. Begitu di atas meja sudah tersaji empat gelas minuman dengan beberapa macam camilan, barulah obrolan yang sebenarnya dimulai. Clarissa duduk di samping suaminya, sementara Banyu duduk bersama Stella di kursi yang berbeda. "Ngomong-ngomong gimana caranya kalian bisa ketemu lagi kayak gini?" Clarissa memulai pertanyaan untuk menjawab rasa penasaran. "Iya, Banyu tuh enggak pernah bilang apa-apa, lho, sama om sama tante tentang kamu. Makanya kami kaget banget pas lihat kamu dibawa sama Banyu ke sini. Sejak kapan kalian udah saling ketemu?" Bima ikut bertanya. Stella dan Banyu saling pandang. Terkekeh lalu saling membuang muka. Stella meminta agar Banyu saja yang bercerita lewat isyarat yang ia berikan menggunakan dagu. "Belum satu bulanan ini kita ketemunya. Jadi gini, Ma, Pa." Banyu menatap Stella meskipun orang yang dipanggil adalah orang tuanya, "pertemuan kita berdua itu bisa dibilang gak sengaja. Kalau Mama sama Papa mau tahu, ternyata Stella itu udah pindah ke Jakarta lagi beberapa tahun lalu. Dan dia gak pernah berusaha buat nyari tahu tentang aku. Apa menurut kalian gak terlalu jahat anak kedua kalian ini?" Di akhir kalimat, Banyu cemberut. Berpura-pura kesal dengan fakta itu. Kedua orang tuanya malah tertawa mendengar cerita Banyu. "Maaf, Tante, Om. Aku itu bukannya gak mau nyari tahu tentang Banyu, gak gitu, kok." Stella menggeleng. Belum sempat Stella melanjutkan penjelasannya, Banyu sudah lebih dulu menyela. "Terus apa?" "Karena kita udah lama lost contact, aku gak bisa gitu aja ketemu sama kamu. Terlebih kita itu udah bertahun-tahun gak ketemu. Fakta kamu udah punya pacar atau istri, pindah rumah, atau fakta lainnnya bikin aku berhenti. Lagi pula siapa sangka ternyata kamu masih ingat sama aku. Aku 'kan takut kamu udah lupa karena kenal sama banyak orang baru setelah kita pisah." Dan, wow! Sungguh jawaban yang sangat mengejutkan. Banyu tidak menyangka bahwa selain perubahan sifat yang terlihat lebih kasar, Stella juga memiliki sesuatu yang lain yang baru dilihatnya. Gadis itu pandai berakting dan baru saja melakukannya di depan matanya, juga di depan orang tuanya. Padahal selama ini bukan dirinya yang melupakan Stella karena mengenal banyak orang baru setelah perpisahan, tapi justru Stella sendiri yang melupakannya karena pandai beradaptasi dengan dunia dan teman-teman barunya di kota sana. Siapa sangka, Stella justru memutar balikan fakta tersebut di depan orang tua Banyu. "Kalian berdua gak salah. Emang wajar aja kok kalau kalian itu udah punya kehidupan masing-masing yang bikin kalian mungkin lupa sama kehidupan kalian di masa lalu. Tapi pada akhirnya kalian beruntung karena dipertemukan kembali dengan ingatan yang masih sama. Tante suka lihatnya karena kalian kelihatan sama-sama bahagia karena bertemu lagi dengan satu sama lain." Clarissa tersenyum. Bima mengangguk setuju. "Apa pun yang udah kalian alami sebelum kalian ketemu, seenggaknya kalian udah sama-sama lagi sekarang. Dan itu udah cukup melegakan, 'kan?" Banyu tersenyum. Ya, itu sudah lebih dari cukup. Setidaknya Stella kembali. Meski ada kekurangan atau kelebihan yang sebelumnya tidak pernah ditemukan dalam diri Stella, fakta bahwa gadis itu baik-baik saja masihlah menjadi berita yang paling penting. "Ngomong-ngomong, gimana keadaan ibu kamu, Stel? Papa kamu juga? Soalnya sama kayak kalian, kami juga gak pernah berhubungan sejak beberapa tahun lalu." Stella menatap Clarissa. Tersenyum. Bukan senyuman manis yang tadi sempat Clarissa lihat, melainkan senyuman dengan luka di baliknya. Nampak jelas sekali. "Kalau Papa, alhamdulillah sehat. Tapi kalau Mama, beliau udah meninggal beberapa tahun lalu." Hening. Banyu melirik Stella lewat ekor mata, tahu bahwa Stella sebenarnya tidak ingin membeberkan fakta itu, tapi harus. Sementara Clarissa dan Bima terdiam dengan tatapan fokus menatap Stella. Mungkin masih belum percaya dan masih berusaha mencerna kalimat yang baru saja dilontarkan oleh Stella. "Mama kena serangan jantung. Pas dibawa ke rumah sakit, nyawanya gak tertolong." Barulah Clarissa menutup mulutnya. Ia memandang suaminya. Pria itu lantas segera menyentuh bahunya dan memberi sedikit tepukan untuk menenangkan. "Tante bener-bener gak tahu. Maaf, Sayang. Tante gak ada maksud buat bikin kamu ingat sama semuanya." Clarissa terlihat sangat menyesal, "tante gak nyangka kalau Anggun, ibu kamu, bisa pergi secepat itu." Stella hanya bisa tersenyum. Sudah banyak yang mendapatkan kalimat-kalimat semacam itu. Mulai dari mantan-mantannya, atau teman-teman di kampusnya dulu. Ia sudah sangat terbiasa sehingga tidak terlalu memikirkannya. "Gak pa-pa, Tante. Itu juga udah lalu, dan sekarang seperti apa yang Tante lihat, aku udah baik-baik aja." "Kami turut berduka cita, Stella. Om yakin kamu itu anak kuat yang bisa lewati ini semua. Meski udah lewat beberapa tahun lamanya, tapi om yakin bahwa lukanya masih terasa. Kita doakan saja supaya mamamu bisa tenang di sana. Setidaknya itu adalah cara terbaik untuk meringankan beban yang ada di pundak kita," tutur Bima tulus. Stella mengangguk pelan. Dulu, awalnya memang terasa sangat berat dan menyakitkan. Ibunya adalah satu-satunya orang yang paling ia percayai yang paling ia sayangi. Hari-hari berjalan sangat lambat saat wanita itu telah pergi dari dunia ini, meninggalkannya bersama ayahnya. Lukanya tidak akan pernah sembuh sampai kapan pun, rasa sakit akibat ditinggalkan tidak akan pernah bisa hilang, tapi setidaknya Stella tahu bahwa yang sudah pergi tidak akan pernah bisa kembali. Sebanyak apa pun air mata yang ia keluarkan, atau sebanyak apa pun ia menyesali kepergian ibunya, fakta bahwa Tuhan telah mengambilnya tidaklah bisa berubah. Tidak ada yang bisa dilakukan selain berusaha menerima dengan lapang d**a dan menjalani hari-hari meskipun berat. "Aku senang karena akhirnya bisa ketemu lagi sama, Tante. Dan lebih menyenangkan lagi saat aku tahu bahwa kehadiran aku sangat diterima di sini." "Tentu, Sayang." Clarissa bangkit. Beralih duduk di samping Stella, "kamu selalu disambut di sini. Bukan karena kamu teman kecil Banyu, tapi karena kamu sudah tante anggap seperti anak tante sendiri. Kamu bisa datang ke sini kapan pun kamu mau." "Makasih, Tante." "Anggap aja ini rumah kamu sendiri, sama seperti Banyu yang selalu keluar masuk seenaknya, kamu pun sangat diterima di sini. Tante sama om akan sangat senang kalau kamu mau sering-sering main. Walaupun udah lama gak ketemu, kamu, ya, kamu, anak kedua tante yang manis dan menggemaskan. Rasa sayang tante gak akan luntur ditelan waktu." Tidak ada yang jauh lebih menyenangkan untuk Stella saat ini, selain diterima dengan begitu baiknya oleh keluarga yang sempat ia lupakan. Banyu beruntung karena tumbuh di tengah keluarga yang begitu harmonis, dan ia tak kalah beruntung karena masih diterima di keluarga harmonis tersebut. Lagi, Clarissa menarik Stella ke dalam pelukannya. Memberikan kehangatan serta kenyamanan pelukan seorang ibu yang sudah lama tidak Stella rasakan. Di pelukan ibu kandungnya selalu terasa nyaman dan menenangkan, tapi karena pelukan itu sudah tidak bisa lagi ia rasa, Stella senang karena berhasil menemukan lagi pelukan yang sama hangat yang dengan pelukan ibunya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN