Definition of Love; 16

2055 Kata
Satu Minggu kemudian. Banyu ragu-ragu menggerakkan tangannya untuk menekan bel rumah Stella meski pagar rumah Stella sudah terbuka lebar. Tak jauh dari posisinya, ibu tiri Stella sedang berdiri sambil menyiram tanaman. Perempuan itu menoleh ke arah Banyu. Segera melepas selang yang dipegangnya hanya untuk menghampiri Banyu. "Banyu, tante kira kamu siapa. Padahal gerbangnya kebuka, kamu gak perlu nekan bel, dan harusnya langsung masuk aja." Airin tersenyum. Cara bicaranya ramah sekali. Ibu tiri Stella itu pastilah dididik dengan cara yang baik. Banyu tidak tahu apa yang membuat Stella begitu membenci sosok ibu tirinya. Salah satu alasannya mungkin karena Airin merebut posisi ibu kandungnya, tapi meski demikian, Banyu merasa kasihan karena Stella harus melampiaskan semua kemarahan pada perempuan sebaik Airin. "Gak pa-pa kok, Tan. Gak sopan aja kalau tiba-tiba aku masuk tanpa nekan bel. Gimanapun aku itu tamu ya gak bisa seenaknya keluar masuk rumah ini." "Tapi sepertinya Papa Stella ataupun Stella tidak pernah menganggap kamu hanya sebagai tamu aja. Kamu lebih dari itu, Banyu, dan saya tahu hal itu. Jadi jangan sungkan." Airin kembali tersenyum. Ia sedikit menepi agar bisa membiarkan Banyu lewat. Memperlihatkan sisi sopannya yang lain. Karena meski ada banyak ruang yang bisa dilalui oleh Banyu, Airin lebih memilih untuk mempersilahkan Banyu dengan cara menepi. Banyu lewat sambil membungkukkan sedikit tubuhnya. Karena meskipun masih muda, posisi Airin sekarang adalah ibu tiri Stella. Yang artinya, Airin harus dihormati. "Dari semalam itu Stella udah ribet banget. Katanya kamu mau ngajakin dia main ke rumah orang tua kamu." Airin terkekeh geli saat berjalan di samping Banyu, "dia nanya-nanya ke papanya tentang banyak hal. Apa yang harus dilakuin saat pertama kali ketemu orang tua kamu, apa sapaan pertama yang harus diucapin, atau apa yang harus dia bawa supaya orang tua kamu terkesan." "Oh, ya?" tanya Banyu. Airin mengangguk membenarkan. "Lucu banget. Papanya bahkan sampai geleng-geleng kepala lihat kelakuan dia. Padahal selama ini dia selalu cuek setiap kali mau ketemu sama siapa pun, tapi untuk hari ini, dia bilang katanya kalau orang yang mau dia temuii itu penting. Terutama buat kamu, katanya." Banyu tahu hanya dari cara bicara Airin. Meskipun Stella terang-terangan membencinya, Airin terlihat sangat menyayangi Stella. Hanya dengan membicarakannya saja mampu membuat Airin tertawa dan tersenyum berulang kali. Seharusnya Stella bersyukur karena memiliki ibu tiri sebaik Airin. Yang selalu bisa berusaha untuk terlihat baik-baik saja meski anak tirinya tidak pernah menganggapnya ada. "Stella berlebihan. Padahal dulu dia sering banget ketemu sama orang tua saya. Bahkan sering nginep juga. Jadi aneh aja rasanya kalau sekarang dia justru berlaku serepot itu, padahal dulu akrab banget sama orang tua saya." "Mungkin karena ini pertama kalinya buat dia setelah sekian lama kalian gak ketemu." Banyu mengangguk setuju. Itu bisa dijadikan alasan yang masuk akal. Seakrab apa pun setiap orang berhubungan dengan sekitarnya, jika sempat kehilangan kabar dalam kurun waktu yang cukup lama, tidak aneh jika saat bertemu lagi akan ada kecanggungan yang terasa. "Ngomong-ngomong, apa saya ganggu kerjaan Tante?" Sekilas, Banyu melirik ke belakang. Melihat bunga-bunga yang tadi sempat disirami oleh Airin, "tadi saya lihat Tante lagi nyiram tanaman. Saya takut ganggu kegiatan Tante." Tapi lagi-lagi yang Banyu dapatkan adalah senyuman hangat dari Airin. Dari senyumannya Banyu seolah diberi tahu bahwa Airin tidak masalah dengan itu. "Tante bisa lanjutin kegiatan Tante nanti lagi, tapi seorang tamu jelas gak boleh diabaikan. Apalagi kamu itu tamu VIP di rumah ini. Stella selalu senang kalau kamu datang. Begitupun dengan papa Stella." Keduanya sampai di pintu yang terbuka. Airin lagi-lagi mempersilahkan Banyu untuk masuk. Waktu masih cukup pagi saat itu. Matahari belum terlalu terik, tapi tentu sudah lewat dari jam sarapan. Ayah Stella sedang duduk di sebuah sofa. Menonton televisi dengan wajah serius. Saat Banyu melihat acara apa yang sedang ditontonnya. Rupanya berita pagi yang biasanya hadir untuk menemani para orang tua yang selalu gemar melihat situasi negara ini. "Pa!" panggil Airin. Glen, ayah Stella, seketika langsung menoleh ke sumber suara. Cukup terkejut, tapi juga terlihat senang saat melihat Banyu datang bersama istrinya. "Banyu, pagi sekali kamu datangnya?" tanya Glen berdiri. Baju berjalan mendekat dan langsung mencium punggung tangan Glen begitu sampai di hadapannya. "Soalnya biar pulangnya gak terlalu malam, dan kami berdua bisa ngabisin banyak waktu lebih bebas lagi di sana." Glen menepuk bahu Banyu. "Itu ide bagus. Saya gak menyangka kalau kamu juga pintar mencari kesempatan," ujarnya. Banyu hanya tertawa. Dibalas ayah Stella yang juga ikut tertawa. Sedangkan Airin hanya menggeleng melihat percakapan dua orang di depannya. Selalu saja terlihat akrab. Suaminya juga bersikap seolah dirinya masih muda dan masih pantas bercanda dengan teman putrinya. "Tapi kayaknya anak Om yang manja itu bahkan belum mandi sama sekali. Tadi waktu sarapan soalnya mukanya masih kayak singa yang baru keluar dari sarangnya." Banyu tertawa lagi. Menyetujui hal itu. Sejak dulu Stella memang tidak pernah suka bangun pagi. Jika tidak ada yang membangunkannya, dalam bahkan tidak akan turun dari ranjang meski ada tsunami yang menerjang rumahnya. "Kamu bisa langsung naik ke atas. Nanti kalau dia emang beneran belum mandi, kamu bisa turun lagi supaya kita bisa ngobrol panjang lebar. Maklum, akhir-akhir ini Om gak punya temen ngobrol yang bisa diajak berdebat tentang politik." "Baik, Om. Kalau begitu saya permisi dulu ke atas." Setelah melepaskan senyumnya untuk ayah dan ibu Stella, Banyu bergegas pergi ke arah tangga. Menaiki satu persatu anak tangga dengan tenangnya. *** Dugaan ayah Stella ternyata salah. Saat mengetuk pintu, Banyu dipersilahkan masuk oleh Stella. Gadis itu sedang berdiri di depan lemari. Hanya mengenakan tank top dan celana ketat yang jauh di atas lutut. "Kamu udah di sini?" tanya Stella tanpa menatap ke arah Banyu sedikit pun. "Ngapain sampai berantakin kamar kayak gini?" Banyu memandangi bagian ranjang Stella yang sudah dipenuhi pakaian. Sejak tadi pastilah setelah hanya memilih pakaian apa yang cocok dipakainya. Jika menurutnya tidak cocok maka pakaian itu akan dilemparkan begitu saja, dan ia akan kembali memilih sesuka hatinya. "Kira-kira aku harus pakai baju apa, ya? Gaun, jeans, atau apa?" "Terserah kamu," sahut Banyu. Stella melemparkan dua dress di tangannya ke arah ranjang. Membuat Banyu menggeleng pelan. Setelahnya Stella membalikan tubuh agar bisa menatap Banyu yang berdiri di depan pintu kamarnya. Jarak antara dirinya dan Stella memang cukup jauh, tapi Banyu bisa dengan jelas melihat setiap lekuk tubuh Stella yang terekspos sempurna. Satu kebiasaan menjengkelkan itu ternyata masih melekat pada diri Stella. Suka telanjang dan tidak pernah peduli ada siapa di sekitarnya "Jangan bilang terserah kayak gitu, dong. Kamu malah jadi kayak perempuan. Karena biasanya perempuan yang bilang kayak gitu. Ditanya mau diajak ke mana, jawablah terserah. Ditanya mau makan apa, jawablah terserah juga. Bahkan mungkin kalau ada yang nanya ke perempuan mau dimadu atau enggak, jawabannya masih terserah." Stella berbicara seolah-olah dirinya bukanlah perempuan. Mengkritik tajam padahal jelas-jelas dirinya adalah bagian dari kaum yang dikritiknya. "Kamu juga 'kan perempuan, jadi jangan ngomong kayak gitu." Banyu melangkah mendekat. Melihat keseluruhan baju yang ada di atas ranjang Stella. Didominasi warna gelap dengan berbagai macam model. "Kamu gak perlu siap-siap sebegini hebohnya cuma karena mau ketemu sama orang tuaku. Kamu bisa pakai apa pun yang yang membuat kamu nyaman. Gak perlu mikirin gimana tanggapan mereka tentang kamu nantinya, karena mereka mengenal dengan baik kamu itu kayak gimana orangnya." "Tapi aku udah lama banget gak ketemu sama mereka, Banyu!" tukas Stella cepat. Banyu hanya berdeham. Ia mengambil jeans hitam yang diletakkan di bagian pinggir. Menyodorkan jeans tersebut pada Stella. "Pakai ini aja. Atasannya bisa kamu paduin sama kemeja atau apa pun yang menurut kamu cocok. Simpel, 'kan?" "Tapi kalau kayak gitu penampilanku jadi biasa banget, dong!" "Kalau mau yang wah..." Banyu mengabsen lagi berbagai macam model pakaian yang ada di hadapannya. Ia menunjuk dress berwarna abu dengan hiasan bulu-bulu halus di bagian bawah dan dadanya. "Yang itu aja," sarannya kemudian. Stella menggeleng. "Tapi aku bukan mau pergi ke pesta," tolaknya. Merepotkan. Itulah yang sekarang sedang Banyu pikirkan. Padahal Stella bisa memakai baju yang menuruti nyaman dan cocok untuknya, maka itu akan selesai dengan cepat. Tapi daripada memilih hal sesimpel itu, Stella justru merepotkan dirinya sendiri dengan mengobrak-abrik isi lemarinya. Dan pada akhirnya, orang-orang semacam Stella ini biasanya hanya akan memilih pakaian yang pertama kali diambilnya dari lemari. "Kita itu cuma ke rumah orang tua aku, jadi menurutku kamu terlalu berlebihan kalau sampai bikin kamarmu kayak kapal pecah gini. Kalau udah kayak gini nanti siapa yang beres beresin?" "Papaku punya istri, dan seharusnya dia bisa ngelakuin hal kecil kayak gini. Kamu gak perlu khawatir. Dia pasti bakal beresin semuanya." "Meskipun kamu yang berantakin kamar kamu sendiri?" Dan Stella hanya mengangguk tanpa merasa berdosa sama sekali. Banyu tidak menyangka bahwa bisa-bisanya Stella memperlakukan ibu tirinya layaknya pembantu yang bisa membereskan apa pun meski Stella yang membuatnya berantakan. "Kamu gak bisa kayak gini." Banyu mengambil jeans berwarna putih yang berada di tempat yang dekat di mana tadi dirinya mengambil jeans berwarna hitam, "kamu pakai jeans ini aja. Untuk atasan yang pakai aja kaos atau kemeja. Pokoknya yang simpel-simpel aja." "Tapi aku mau kelihatan berkesan di depan orang tua kamu." Dan Stella masih keras kepala. Banyu tidak ada pilihan lain selain menggertak Stella. Sedikit saja. Untuk memberitahu pada Stella bahwa apa pun yang diinginkan Stella, tidak pernah bisa selalu terwujud di waktu bersamaan. "Kalau kamu masih mau repot-repot mikirin setelan yang bakal kamu pakai, mendingan kita gak jadi pergi aja." "HAH?!" Stella melotot, "kok gitu?" tanyanya jengkel. "Pokoknya sekarang kamu beresin semua baju-baju kamu ini. Lipat, dan taruh di tempat semula. Karena kamu yang berantakin, jadi kamu sendiri yang harus rapiin. Dan kalau kamu masih mau nolak, gak mau nurutin apa yang aku bilang, kita gak jadi pergi." Itu hanya ancaman kecil. Ancaman yang dulu kerak Banyu lontarkan untuk membuat Stella menurut. Dulu cara itu selalu berhasil. Sekeras kepala apa pun Stella, dia tidak akan bisa menang melawan ancaman darinya. "Oke!" Banyu tersenyum. Tidak menyangka bahwa cara itu masih berhasil. "Kamu itu udah dewasa, jadi seenggaknya harus bisa belajar mandiri. Walaupun kamu punya mama tiri yang menurutmu bisa diandalkan, tapi kamu harus sadar kalau kamu punya dua tangan yang bisa kamu pakai buat apa pun. Apalagi kamu juga harus tahu kalau setiap orang itu punya tanggung jawabnya masing-masing. Kalau kamu yang berantakin kamar kamu, itu artinya kamu sendiri yang harus beresin. Paham?" Stella mendengkus sebal. Ia duduk di tepi ranjang yang kosong. Mulai melipat baju baju yang dilemparnya dengan asal. Karena selalu dilayani, ia hampir tidak pernah melakukan berbagai macam hal secara mandiri. Dan sekarang Banyu memaksanya untuk melakukan hal itu. Karena itu Banyu, makanya tidak bisa menolak. "Lain kali kalau emang kamu mau milih-milih baju, keluarin satu per satu. Dan kalau baju yang kamu keluarin pertama gak cocok, kamu bisa langsung taruh baju itu di lemari dan ambil yang lainnya. Gitu terus sampai kamu nemuin baju yang cocok. 'Kan gampang. Kamarmu jadi gak berantakan, dan kamu bisa nemuin apa yang kamu mau." Tidak tahan, Stella menatap Banyu sengit. "Daripada kamu ceramah terus, apa gak sebaiknya kamu bantu aku beresin semua baju-baju ini aja? Biar kita bisa cepat-cepat pergi ketemu sama mama papa kamu," protesnya kesal. Untuk yang satu itu Banyu setuju. Ia ikut duduk di tepi ranjang yang kosong. Mulai membantu melipat baju Stella yang memenuhi bagian atas ranjang. Untuk seorang laki-laki, Banyu memang selalu rapi. Bahkan bisa dibilang terlampau rapi. Lipatan bajunya jauh lebih teratur, daripada Stella. Jauh lebih cepat, dan tentunya tidak asal-asalan. Stella bahkan kesenangan dibuatnya. Ia sengaja memperlambat gerakan tangannya agar Banyu bisa melipat baju jauh lebih banyak darinya. Tidak sadar kelakuannya bertolak belakang dengan apa yang dikatakannya pada Banyu untuk membereskan pakaiannya dengan cepat. "Ngomong-ngomong, apa kamu gak jalan sama pacar kamu?" Gerakan tangan Banyu berhenti mendengar pertanyaan itu terlontar tiba-tiba dari mulut Stella. Ia teringat apa yang dikatakannya pada Mia tadi pagi. Gadis itu ingin berkunjung ke rumahnya, tapi ia menolak dengan mengatakan bahwa dirinya akan pergi ke rumah orang tuanya. Tidak memberitahu fakta lain bahwa ia datang berkunjung dengan Stella. "Kalau kamu ngajakin aku ngobrol terus? Kapan selesainya kerjaan ini?" Banyu balik bertanya. Mengalihkan pembicaraan Stella. Bukannya tidak ingin menjawab pertanyaan Stella, Banyu hanya tidak mau Stella merasa tidak enak dan tidak jadi pergi. Stella hanya nyengir lebar. Mulai melipat lagi dengan serius kali ini. Meski terlihat ceplas-ceplos, Stella sebenarnya cukup peduli dengan kehidupan pribadi Banyu. Sejak bertemu, sudah beberapa kali Stella menanyakan tentang pacar Banyu. Apa Banyu sudah punya kekasih atau belum, kalaupun punya, apa kekasihnya itu akan terganggu atau tidak, dan lainnya. Dari sana Banyu tahu bahwa Stella peduli dan tidak ingin mengganggu jika Banyu memang benar punya kekasih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN