Definition of Love; 15

2012 Kata
Setelah meneguk sedikit jus jeruk miliknya, Stella berjalan ke arah jendela kamar Banyu. Berbeda dengan dirinya yang selalu menyukai area balkon di bagian kamarnya, Banyu justru tidak menyukai hal itu. Karenanya di bagian kamarnya tidak terdapat balkon. Hanya jajaran jendela besar dengan dominan kaca yang tidak bisa dibuka. Ada satu sofa di dekat jendela tersebut. Stella memilih duduk di sana. Memandangi bagian luar rumah Banyu yang terlihat jelas dari posisinya. Ia akui bahwa rumah Banyu terasa jauh lebih nyaman, daripada rumah yang sekarang ia tempati. Mungkin karena dulu ia sering menghabiskan hari bersama Banyu di tempat yang sama, sehingga semuanya terasa familier untuknya. Rumahnya jauh lebih mewah dan besar, tapi berada di rumah Banyu memberinya ketentraman yang tidak ia dapatkan di rumahnya. Ini pertama kalinya ia datang setelah tujuh tahun lamanya, dan entah kenapa semuanya terasa masih sama. Dan ia menikmati kesempatan hari ini. "Kalau aja kita ketemu lebih awal, kalau aja malam itu datang bertahun-tahun lalu, mungkin hari-hariku jauh lebih menyenangkan," kata Stella tiba-tiba. Banyu hanya diam di kursinya. Stella teringat banyaknya hari yang ia lewati. Setelah pindah dari Jakarta, ia mendapatkan teman baru dengan mudah. Di kampus, ia menjadi seseorang yang mudah berteman dan bergaul dengan orang lain. Tapi di sisi lain ia lupa untuk menjaga diri. Mengenal orang baru membuatnya lupa bahwa mereka tidaklah sama seperti Banyu yang begitu menghormati perempuan. Laki-laki yang dikenalnya membuatnya terjerumus ke dalam pergaulan yang liar. Ia mengenal klub malam, berpacaran tanpa batas, dan melakukan hubungan intim tanpa peduli status. Stella sadar bahwa kehidupannya sangat mengerikan. Banyu menjadi satu-satunya hal baik yang ia temui di kehidupannya. Andainya ia bisa memilih untuk bertemu Banyu lebih awal, mungkin kehidupannya akan membaik lebih awal pula. "Gak perlu ngomong sesuatu yang gak mungkin. Karena kita udah ketemu seharusnya semuanya udah baik-baik aja. Iya, 'kan?" Stella menoleh ke belakang. Banyu yang awalnya sedang duduk di kursi, kini tengah berjalan ke arahnya. Sampai di depannya, Banyu memilih duduk di lantai. Membuat Stella mau tak mau beringsut turun dari sofa dan ikut duduk di lantai bersama Banyu. "Oh, iya. Dari kemarin itu aku selalu lupa kalau mau nanya sama kamu, sebenarnya udah dari kapan kamu pindah lagi ke Jakarta?" Banyu bertanya karena Stella tak kunjung menanggapi ucapannya. Stella berdeham pelan. Mungkin sedang memikirkan sudah berapa lama pastinya ia pindah lagi ke Jakarta untuk menjawab pertanyaan Banyu. "Tiga tahun lalu kayaknya. Aku gak tahu tepatnya kapan, tapi seingatku aku udah ngerayain ulang tahun tiga kali di Jakarta." Jawaban Stella berhasil membuat Banyu sedikit kecewa. Sudah tiga tahun lamanya Stella dan dirinya berada di kota yang sama. Berbeda dengannya yang berusaha keras melupakan Stella, Stella justru terlihat tidak terlalu peduli dengannya dan memilih diam saja meskipun sudah pindah lagi ke Jakarta. "Selepas Mama meninggal, aku jadi anak nakal. Gak ada siapa pun yang bisa ngatur aku lagi. Bukan karena aku merasa bebas, justru karena aku merasa udah gak punya siapa-siapa lagi. Papaku kuwalahan ngadepin sikap aku. Dan aku makin liar aja. Temen-temenku semuanya cowok. Ada beberapa yang cewek, tapi semenjak pindah dari Jakarta aku lebih suka berteman sama cowok. Gak ada temen perempuan sama sekali." "Kenapa gitu?" tanya Banyu. Stella mengulas senyum tipis. Mengingat masa-masa saat dirinya masih duduk di bangku kuliah. Menjadi mahasiswa yang cukup dikenal. Bukan karena prestasi, tapi karena seberapa sering membuat masalah dan tidak pernah jera. Berteman dengan laki-laki itu menyenangkan. Itu yang ia pikirkan dulu. Ia banyak mendapatkan kebebasan. Tidak ada pembicaraan tentang apa yang sedang trend sekarang, fashion apa yang sedang digemari perempuan, atau tipikal cowok seperti apa yang seharusnya dimiliki. Obrolan-obrolan seperti itu biasanya hanya dilakukan oleh perempuan. Dan ia jarang sekali melakukannya. Bermain dengan teman laki-laki jauh lebih menyenangkan, daripada berkumpul dengan perempuan hanya untuk bergosip ria. Kebanyakan laki-laki yang mengenalnya selalu berhasil membuatnya nyaman. Ia dimanjakan, diberikan apa pun yang ia inginkan, dan dijadikan ratu oleh mereka. Yang menjadi bagian buruknya hanya satu. Sebagian besar laki-laki yang mengenalnya selalu meminta bayaran tubuhnya sebagai tanda perkenalan atau hubungan yang semakin dekat. "Mungkin karena cowok itu selalu berhasil bikin aku merasa bebas. Beberapa dari mereka selalu tahu apa yang aku mau." "Sebenarnya kebebasan apa yang kamu cari? Bukannya selama ini kamu cuma lagi lari dari keadaan aja?" Stella tertegun mendengar pertanyaan Banyu. Ia menatap Banyu yang ternyata sejak tadi memang sedang memperhatikannya. Tidak menyangka bahwa Banyu bisa dengan mudah membaca situasi yang dialaminya. "Kenapa kamu bisa nanya kayak gitu?" tanya Stella penasaran. Karena bagaimanapun ia dan Banyu sudah tujuh tahun lebih tidak bertemu. Rasanya agak mustahil jika Banyu masih mengenalinya seperti tujuh tahun yang lalu. "Karena itu kamu. Aku kenal kamu, Stella. Kamu gak pernah ngadepin masalah yang lagi kamu alami tanpa bantuan orang lain. Daripada berusaha buat nyelesain masalah yang lagi kamu alami, atau nyari tahu apa yang lagi kamu mau, kamu lebih milih buat lari dari itu semua." Banyu mengendikkan bahunya. Seolah tidak terlalu mengharapkan bahwa dugaannya benar. "Sejak mamamu meninggal, kamu mungkin butuh perhatian lebih. Kamu butuh seseorang yang bisa nyemangatin kamu, yang bisa ngasih kamu kekuatan dan pelukan hangat. Tapi tentu ayah kamu gak bisa ngelakuin hal itu karena mungkin dia sibuk sama kerjaannya atau gak terlalu paham apa yang harus dilakuin seorang ayah sama anak perempuannya yang sudah dewasa. Ayah kamu itu sebenernya sayang banget sama kamu, cuma mungkin waktu itu dia juga lagi ngalamin luka yang sama kayak kamu. Dia nggak tahu apa yang kamu mau karena kamu nggak ngasih tahu dia." Sekarang Stella bertanya-tanya bagaimana bisa seorang Banyu sebegitu hebatnya? Tujuh tahun tidak bertemu, tanpa kabar sama sekali, seharusnya Banyu setidaknya sudah tidak memahaminya lagi. Tapi yang baru saja dikatakan Banyu begitu mengejutkan. Banyu benar-benar memahami dirinya. "Sebelum Mama meninggal sebenarnya aku udah nakal, mungkin karena aku gak punya seseorang yang lindungin aku lagi sama kayak waktu aku di Jakarta. Di sana gak ada kamu, jadi gak ada seorang pun yang bisa ngawasin aku di luar. Aku kira aku baik-baik aja tanpa kamu waktu itu. Aku kira gak ngabarin kamu, bikin aku gak perlu bertanggungjawab lagi. Aku gak perlu repot-repot ngasih tahu apa yang aku lakuin atau gimana keseharianku sama kamu." Stella tersenyum tipis, "tapi sekarang aku sadar bahwa yang aku lakuin waktu itu salah. mulai mengabaikan kamu sama artinya aku mulai mengabaikan kehidupan aku sendiri." "Itu sebabnya kamu dikeluarin dari kampus kamu?" tanya Banyu. Stella mengangguk. "Aku benar-benar salah pergaulan di sana. Aku terjerumus ke dunia yang seharusnya gak pernah aku datengin. Dunia itu emang menyenangkan, dan jujur aku masih nikmatin ada di dunia kelam itu, tapi aku tahu sebenarnya itu yang bikin masa depanku sesuram ini." "Terus apa kamu gak ada niatan buat ngelanjutin kuliah atau apa gitu?" Stella mengendikkan bahunya acuh. Tidak mempedulikan hal itu. Ia tidak ingin belajar atau mempelajari hal baru. "Padahal mungkin kalau kamu mau lanjutin kuliah, kamu bisa mulai semuanya dari awal lagi. Kamu bisa berubah jadi lebih baik lagi, dan buktiin sama papa kamu kalau kamu bisa hidup mandiri." "Buat apa?" "Kok malah nanya. Emangnya kamu gak mau perbaiki masa lalu kamu?" Stella berdecih. Reaksi yang tidak Banyu duga. Jika sejak tadi Stella hanya tersenyum, sekarang reaksinya justru nampak ogah-ogahan. "Papaku aja gak bisa buktiin kalau dia adalah ayah yang baik buat aku. Bisa-bisanya dia malah nikah lagi setelah Mama meninggal. Apa wajar? Aku bahkan sampai sekarang gak pernah bisa terima mamaku meninggal, tapi Papa justru bisa hidup sama wanita lain." Itu menggelikan menurut Stella. Saat masih hidup, ibunya sangat setia pada ayahnya. Menjadi ibu rumah tangga yang baik, selalu bisa diandalkan, dan penyayang tentunya. Tapi siapa sangka setelah meninggal, ayahnya justru memilih hidup bersama wanita lain untuk mengisi kesepiannya. Itu tidak adil untuk ibunya. Bukannya ia benci pada ayahnya, hanya saja menyebalkan rasanya mengetahui bahwa ada perempuan lain yang sekarang menempati hatinya selain ibunya. "Jadi apa kamu berpikir kalau ayah kamu itu gak pantas bahagia?" "Bukan gitu!" sergah Stella cepat. "Lalu?" Stella menatap Banyu sendu. "Aku cuma gak terima. Papaku masih bisa hidup bahagia tanpa wanita lain. Dia masih bisa hidup bahagia walaupun cuma sama aku. Iya, 'kan?" Banyu menggeleng pelan. Tidak menyangka bahwa ternyata pikiran Stella masih kekanak-kanakan. "Kalau kamu berpikir kayak gitu, itu artinya pemikiran kamu sempit. Bayangin gimana kesepiannya papa kamu semenjak ditinggal mama kamu. Dia mungkin selalu berusaha buat tegar demi kamu, tapi apa kamu emang setega itu bakal ngebiarin papa kamu sendirian di masa tua dia? Oke, mungkin sekarang kamu bisa menjamin kalau kamu bisa hidup sama papa kamu, kalau kamu bisa bahagiain papa kamu, tapi apa jadinya kalau nanti kamu menikah? Walaupun itu gak pernah terpikirkan oleh kamu, itu pasti terjadi," tuturnya panjang. "Tapi Papa bisa hidup sama aku!" ujar Stella tegas. "Ya, emang bisa. Tapi 'kan bukan salah dia juga kalau dia mau hidup sama orang lain setelah kepergiannya mama kamu. Lagi pula mama tirimu itu sepertinya orang baik." Stella mendengkus. Tidak terima bahwa Banyu memuji ibu tirinya seperti itu. "Sumpah demi apa pun aku itu gak mau bahas dia. Lagian kamu juga ngapain sih pakai muji dia segala? Dia itu gak sebaik yang kamu lihat." Stella merengut kesal. Melipat kedua tangannya di depan d**a, "bahas yang lain aja, deh. Aku males ngomongin dia." Lagi-lagi Banyu menggelengkan kepalanya. Benar-benar kekanakan. Sifat Stella yang satu itu tidak juga berubah dari dulu hingga sekarang. Terlalu melekat sampai bisa dijadikan satu ciri khas dari Stella. "Oke. Kita bahas yang lain. Apa yang mau kamu omongin?" tanya Banyu akhirnya. Memilih mengalah pada Stella. Awalnya Stella hanya diam. Keningnya berkerut seolah sedang memikirkan apa yang akan dibicarakan olehnya. Dan Banyu hanya bisa menunggu. Mengamati sosok Stella lekat-lekat. "Kamu ingat waktu pertama kali kita ketemu? Pas kamu nganterin aku pulang. Waktu itu aku mabuk." Banyu mengangguk. Tanda bahwa dirinya masih mengingat hal itu. Bahkan sangat mengingatnya. Karena itu jadi pertemuan pertama yang menentukan pertemuannya dengan Stella di esok harinya, sampai hari ini. "Pas pertama kali kita ketemu kamu, jujur aja aku gak ingat sama sekali sama kamu. Aku sempat bingung waktu kamu tiba-tiba manggil nama aku, tapi karena aku mabuk, aku lupa pas bangun paginya. Aku pikir aku udah benar-benar lupain kamu, tapi makin sering ketemu sama kamu bikin aku sadar satu hal. Bahwa selama ini aku bukannya ngelupain kamu, tapi cuma berusaha ngubur masa laluku dengan kilasan-kilasan kisah buruk yang terjadi semenjak kita berpisah." Stella memandang Banyu dalam. Dibalas Banyu dengan tatapan yang hangat. "Aku gak pernah ngelupain kamu. Kamu cuma tertimpa sama lembar-lembar baru, dan aku gak nyadarin hal itu. Tapi makin ke sini semuanya makin jelas. Aku bisa inget dengan jelas banyaknya hari yang pernah kita lalui bersama. Walaupun gak sepenuhnya, tapi aku tahu dulu kamu cukup berarti buatku." Banyu benar-benar tidak tahu apakah dirinya harus senang atau bagaimana. Tadi, ia tempat dibuat kecewa pada penjelasan Stella yang tanpa merasa berdosanya mengatakan bahwa dirinya telah pindah lama ke Jakarta dan tidak pernah memikirkannya sedikit pun. Tapi baru saja ia diberitahu kalau Stella tidak benar-benar melupakannya. Kisah lama yang dulu sempat mewarnai hari-harinya bersama Stella, masih menjadi gambaran manis yang akhirnya diingat oleh Stella. Itu cukup melegakan untuk Banyu. Karena bagaimanapun, tidak ada yang jauh lebih menyenangkan selain diingat oleh orang yang menurutnya berharga. Mungkin ia pernah dilupakan, tapi Banyu senang karena akhirnya dia muncul kembali di ingatan Stella. "Makasih karena akhirnya udah inget lagi sama aku. Makasih juga karena kamu udah mengakui bahwa selama ini aku gak pernah benar-benar dilupain sama kamu. Aku cukup lega denger fakta itu." Banyu menatap Stella. Tatapannya menenangkan. Stella sampai dibuat beringsut mendekati Banyu dan duduk berhadapan dengan Banyu. Mulai lebih tertarik pada sosok Banyu, daripada pemandangan luar jendela yang sejak tadi dinikmatinya. "Aku juga mau berterima kasih, karena setelah apa yang aku alami, dengan banyaknya kisah buruk di masa laluku, tentang fakta mengerikan yang juga kamu tahu, kamu masih mau jadi temanku. Aku bahagia karena punya seseorang yang seperti kamu." "Makasih karena udah bahagia punya aku," sahut Banyu. Stella terkekeh geli. "Apa aku harus berterima kasih lagi? Kapan selesainya pembicaraan ini?" tanyanya bercanda. Keduanya lantas tertawa. Menikmati kekonyolan yang mereka lakukan. Banyu sadar bahwa selama ini, meski dirinya sudah bersama dengan orang lain, ia masih sangat merindukan Stella. Terbukti dari bagaimana lepasnya ia tertawa tanpa perlu khawatir akan apa yang terjadi ke depannya. Stella di dekatnya, dan itu sudah cukup.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN