Definition of Love; 14

2072 Kata
Mobil Banyu berhenti dengan jarak dua meter di depan pagar rumahnya. Ia membunyikan klakson dua kali. Beberapa menit setelah itu, seorang wanita paruh baya berlari pelan dari pintu utama dan membukakan gerbang untuk Banyu. Setelah mobil Banyu memasuki halaman rumahnya, wanita paruh baya tersebut kembali menutup gerbang. Stella turun dari mobil Banyu dengan semangat begitu mobil berhenti. Untuk beberapa detik, Stella hanya menatap rumah yang berada di depannya. Rumah yang dulu sangat sering didatangi olehnya. Rumah Banyu masih terlihat sama. Tidak ada perubahan apa pun seperti renovasi atau semacamnya. Warna catnya bahkan masih sama, hanya saja terlihat lebih baru. Mungkin karena diganti cat baru, tapi dengan warna yang sama. Setelah puas memandangi rumah Banyu, Stella beralih melihat sisi kanan di mana sebuah rumah berdiri tepat di samping rumah Banyu. Kakinya melangkah mundur beberapa kali untuk melihat bagian rumah tersebut dengan lebih jelas. Wanita paruh baya yang tadi membukakan gerbang membungkuk sopan pada Stella sebelum kembali masuk ke rumah Banyu, dan Stella membalas dengan anggukan kepala. Kembali fokus setelah wanita itu pergi. Rumah yang diperhatikannya adalah rumah yang yang dulu sempat ditempati olehnya. Rumah itu sudah jauh berbeda. Warna catnya berubah, bagian depannya pun sepertinya diatur ulang, satu kali lihat saja Stella sudah tidak mengenali rumah itu. Ada banyak dekorasi di bagian halaman. Seperti ayunan dan taman kecil untuk anak-anak. Berbeda sekali dengan suasana rumahnya dulu yang cenderung lebih hijau dengan bunga-bunga dan rerumputan yang melapisi area taman. "Yang sekarang isi rumah ini pasti punya anak kecil." Stella menunjuk rumah tersebut lantas menatap Banyu, "iya, 'kan?" tanyanya ingin memastikan. "Iya. Kenapa? Kamu kangen sama rumah lama kamu?" Di luar dugaan, Stella justru menggeleng. matanya kembali beralih untuk mengamati rumah Banyu yang sempat diabaikan olehnya. "Rumah itu cuma jadi masa lalu aku. Gak ada apa pun di sana meskipun aku hidup dari kecil di rumah itu. Gak ada yang perlu dikangenin, karena semenjak aku pindah, semua yang ada di sana ikut aku bawa." "Kecuali aku," tukas Banyu cepat. Stella tergelak. Mengiyakan hal tersebut. Dulu saat dirinya pindah, hal sekecil apa pun yang ada di kamarnya, dibawa olehnya. Ia tidak pernah mengkhawatirkan apa pun setelah pindah dari sana. Seperti perkataan Banyu, kecuali Banyu sendiri yang tidak diikutsertakan karena memang tidak bisa. "Kalau gitu kita langsung masuk ke rumahku aja gimana?" Banyu memberi saran. Mendapati anggukan kepala dari Stella, Banyu segera berjalan lebih dulu menuju pintu utama. Lagi-lagi Stella terkagum-kagum begitu sampai di bagian dalam rumah Banyu. Ia seperti dilemparkan kembali ke masa lalu, dan hal itu membuatnya bernostalgia. Rumah Banyu masih sehangat dan senyaman dulu, itu yang Stella rasakan. Ia tidak ingat apa saja yang pernah dilakukannya di rumah Banyu, tapi kenyamanan yang sekarang dirasakannya membuatnya merasa seperti kembali ke masa lalu. Banyu menuntunnya untuk duduk di sofa yang berada di ruang tengah, tapi Stella menolak untuk duduk. "Aku mau ke kamar kamu aja. Kita bisa ngobrol di sana." Banyu melongo. Dulu mengobrol di kamarnya bukanlah hal yang aneh. Stella sering sekali main di rumahnya bahkan sampai ketiduran juga. Tapi sekarang situasinya jelas sudah sangat berbeda. Banyu tidak yakin apakah nanti situasinya masih sama atau malah akan terasa canggung untuknya. "Kalau cuma sekedar ngobrol aja kita bisa di ruang tamu atau di pinggir kolam renang. Kamarku berantakan. Jadi mendingan gak usah ke sana." Karena itulah Banyu memilih untuk menolak permintaan Stella. "Gak mau. Aku tetep mau di kamar kamu." Stella menatap Banyu, "tenang aja. Kamu gak akan kehilangan keperjakaan kamu, kok. Aku bisa jamin yang satu itu." Astagfirullah, kenapa cara bicara Stella makin hari makin terdengar frontal saja? Banyu bertanya-tanya dalam hati. "Bukan gitu. Cuma emang beneran kamarku lagi berantakan banget." Banyu sebaik mungkin berusaha untuk tetap tenang dan tidak terbawa arus pembicaraan Stella yang frontal. "Gak mau. Pokoknya aku mau tetep ke kamar kamu." Sekarang Banyu merasa mendapatkan tekanan yang tidak biasa. Tapi karena tidak ingin berpikiran yang aneh-aneh tentang Stella, Banyu akhirnya mengiyakan lagi permintaan Stella. Keduanya beranjak dari ruang tengah menuju tangga. Di anak tangga pertama, Banyu melongokan kepalanya ke arah dapur, berteriak agar asisten rumah tangganya membawakannya camilan ke kamarnya. Di depan kamar Banyu, Stella berhenti melangkah. Ia memutar tubuhnya agar bisa berhadapan dengan Banyu. "Aku sampai lupa, dari tadi aku gak lihat mama kamu. Dia lagi ke luar atau gimana? Terus perempuan yang tadi itu siapa? Setahuku dari dulu kamu itu gak pernah pakai pembantu." Stella buka suara karena baru menyadari hal itu. Banyu memilih untuk membuka pintu kamarnya terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Stella. Ia mendorong Stella masuk dan mengatakan kepada gadis itu bahwa Stella bebas duduk di mana pun. Dan Stella memilih ranjang sebagai tempatnya. Sementara Banyu memilih menarik kursi yang ada di dekat meja. Makin sering menghabiskan waktu bersama Banyu, Stella sadar bahwa makin banyak pula kilasan-kilasan kisah manis yang dulu sempat terjadi antara dirinya dan Banyu. Ia ingat, ibu Banyu adalah orang yang selalu melakukan berbagai macam hal dengan tangannya sendiri. Terutama jika itu berhubungan dengan keluarganya. Keluarga Banyu tidak pernah menyewa atau mempekerjakan asisten rumah tangga karena ibu Banyu selalu melakukan semua pekerjaan rumah sendiri. Ibu Banyu adalah satu-satunya wanita karir sekaligus ibu rumah tangga terbaik yang pernah Stella kenal setelah ibu kandungnya. Ibu Banyu bekerja hampir setiap hari, tapi di waktu yang sama selalu bisa membagi waktunya untuk mengurus Banyu dan suaminya sebelum pergi bekerja dan setelah pulang bekerja. Menurutnya itu adalah hal hebat yang bisa dilakukan oleh seorang ibu. "Yang tadi itu namanya Bi Siti. Terus kalau Mama sama Papa, mereka udah pindah rumah," kata Banyu tiba-tiba. Stella yang mendengar sontak berjengit kaget. Pindah bagaimana maksudnya? Tapi sebelum Stella bertanya, Banyu sudah lebih dulu menjelaskan. "Jadi kalau gak salah tiga atau empat tahun setelah kepindahan kamu, papaku dapet promosi jabatan, tapi di saat bersamaan diminta buat urus cabang perusahaan yang lain. Masih di daerah Jakarta juga, tapi bukan di daerah sini. Nah, karena kebetulan Mama juga punya cabang butik di sana, mereka mutusin buat pindah. Kata Mama sih emang pengin nyari suasana baru juga." "Terus?" Stella menuntut agar Banyu mau bercerita lebih banyak. "Ya, terus mereka akhirnya beneran pindah. Mama ngurus butik di sana, sementara yang ada di sini diurus sama adiknya karena dari awal 'kan mereka ngediriinnya berdua." Stella menggeleng. "Bukan. Maksudku mereka milih pindah dan ninggalin kamu di sini gitu aja? Atau emang kamu yang gak mau pindah?" tanyanya. "Ya, masa aku ditinggalin gitu aja. Enggak lah! Aku tetep di sini karena emang gak mau ninggalin rumah ini. Udah terlalu nyaman di rumah ini dan gak ada niatan buat nyari suasana baru juga." Stella langsung paham. Mulai dari asisten rumah tangga yang ia lihat tadi, juga keberadaan ibu Banyu yang tak kunjung terlihat. Alasannya ternyata karena kedua orang tua Banyu sudah pindah rumah. Sedangkan untuk asisten rumah tangga, Banyu mempekerjakannya karena sudah pasti Banyu tidak bisa mengurus segala keperluannya sendiri. Banyu butuh seseorang yang bisa membantunya mencuci pakaian, membersihkan rumah, atau membuatkannya makanan. "Apa mama papamu gak cemas ninggalin kamu tinggal sendirian di sini?" "Enggak. Mungkin karena mereka tahu aku bisa jaga diri aku sendiri. Lagi pula setiap dua minggu sekali aku selalu ke sana. Dan sekarang harusnya aku ke sana. Biasanya dari pagi, terus pulangnya sore." Mendengar hal itu, Stella sedikit merasa bersalah. Ternyata ajakannya meminta Banyu untuk menemaninya adalah satu kesalahan. Ia secara tidak langsung sudah merenggut waktu Banyu dan orang tuanya. "Maaf, harusnya aku—" "Gak perlu minta maaf. Lagian aku juga lupa kalau sekarang mau ke sana. Baru inget barusan pas kamu tanya tentang orang tuaku." Banyu terkekeh pelan, "santai aja," sambungnya kemudian. Pintu kamar yang memang tidak tertutup sepenuhnya, berderit terbuka. Asisten rumah tangga Banyu memanggil nama Banyu dengan sopan, dan Banyu langsung mempersilahkannya untuk masuk. Bi Siti berjalan tenang membawa nampan dengan dua gelas jus jeruk beserta beberapa toples camilan. Wanita itu pamit untur diri setelah meletakkan apa yang dibawanya di atas meja yang terdapat di kamar Banyu. "Gimana kalau Minggu depan kita ke sana?" Stella memberi saran. Banyu bertanya, "Ke rumah orang tuaku?" Yang dibalas anggukan kepala oleh Stella. "Boleh. Mungkin mereka bakal kaget banget kalau aku tiba-tiba bawa kamu. Secara kamu sama aku itu udah gak ketemu lama banget. Mungkin bakal sedikit aneh kalau tiba-tiba kamu muncul di depan mereka." "Itu pun kalau mereka masih ngenalin aku." Banyu hanya tersenyum kecil. Tentu. Mungkin reaksinya akan sama seperti dirinya yang melihat Stella untuk pertama kalinya malam itu. Stella memiliki wajah yang terlalu familier untuk dilupakan begitu saja. Tidak ada perubahan signifikan pada wajah atau bentuk tubuhnya selain tampilan yang lebih dewasa. Banyu yakin, jika dirinya saja bisa langsung mengenali Stella dalam satu kali lihat, mungkin orang tuanya pun demikian. "Tujuh tahun itu emang waktu yang lama, tapi bukan berarti kamu bakal dilupain gitu aja sama mereka. Aku yakin orang tuaku masih ngenalin kamu dengan sangat baik." "Kalau kamu aja bilang kayak gitu, aku gak punya pilihan lain selain percaya." Jujur saja, Banyu belum pernah mengajak perempuan ke rumah orang tuanya semenjak orang tuanya pindah. Membawa Stella nantinya mungkin akan membuat kejutan tidak terduga atau harapan yang seharusnya tidak ada. Selama ini orang tua Banyu selalu menuntut Banyu untuk mengenalkan seorang perempuan kepada mereka. Banyu belum bisa memenuhi harapan itu meskipun dirinya sudah menggandeng seorang gadis bernama Mia. Gadis baik hati yang berhasil menempati posisi di hatinya setelah Stella. Mia bukanlah seseorang yang pernah diceritakan oleh Banyu. Orang tuanya bahkan tidak mengetahui jika dirinya sudah memiliki seorang kekasih. Membawa Stella akan membuat mereka mengira jika selama ini dirinya memendam perasaan pada Stella. Dan Banyu harus memikirkan berbagai macam alasan untuk mengelak. Selain karena ia tidak berniat memacari Stella, Mia lah yang nantinya akan ia perkenalkan pada orang tuanya sebagai pasangan. Mungkin bukan sekarang. Banyu pun tidak yakin kapan dirinya siap mengenalkan Mia pada orang tuanya, tapi setidaknya ia hanya perlu memikirkan hal apa yang harus ia katakan atau ia lakukan agar orang tuanya tidak berharap yang macam-macam pada Stella. Ahh, Banyu melupakan sesuatu. "Apa kamu gak punya pacar?" tanya Banyu. Ya, itulah yang ia lupakan. Ia sejak tadi mengkhawatirkan hal yang tidak perlu tanpa mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu. "Kenapa kamu baru nanya hal itu sekarang?" Stella balik bertanya. Banyu mengendikkan bahunya. Menolak sadar bahwa beberapa hari belakangan terasa jauh lebih menyenangkan karena ia bersama Stella. Dan itulah yang membuatnya tidak ingin peduli pada status Stella. "Kalau pacar, kebetulan gak ada. Aku baru putus belum lama ini." Mendengar kata putus, Banyu tiba-tiba bertanya-tanya sudah berapa banyak laki-laki yang pernah dipacari Stella? Mengingat bagaimana gadis tumbuh dengan begitu cantiknya. Tubuhnya sempurna dengan wajah yang mulus dan menggoda tentunya. Siapa pun mungkin akan tergugah untuk melirik Stella sekali melihatnya. Tapi di sisi lain, Banyu juga tidak ingin mengetahui jawaban dari pertanyaannya. Ia tidak ingin berspekulasi mengenai kehidupan pribadi Stella. Gadis itu bebas berpacaran dengan siapa saja, dan ia sebenarnya tidak perlu tahu seberapa banyak laki-laki yang pernah mengencani Stella. Akan sedikit mengecewakan jika dirinya sampai tahu bahwa Stella selama ini sudah memiliki banyak mantan, sedangkan dirinya bertahun-tahun terpaku pada sosok Stella yang sudah menetap dalam hatinya sejak lama. "Kamu sendiri? Apa sekarang kamu gak ada yang punya?" Stella menggeleng cepat setelah menanyakan hal itu, "kayaknya gak mungkin, deh. Muka kamu itu ganteng, tampilan kamu juga keren, kekinian dan yang pasti gak malu-maluin. Aku ragu kalau kamu gak punya pacar." "Kenapa ragu?" "Ya, habisnya cewek t***l mana yang mau ngelewatin pesona seorang Banyu? Orang ganteng gini, masa iya gak ada yang tertarik sama sekali." Banyu hanya fokus pada satu kata yang sempat diucapkan Stella. t***l? Ia tidak mengerti sebenarnya apa saja yang dialami oleh Stella semenjak pindah sampai tumbuh menjadi gadis kasar dan bermulut pedas? Stella yang dikenalnya dulu, jangankan mengucapkan kata t***l, Stella bahkan enggan menggunakan kata bodoh yang setidaknya lebih halus. Meskipun blak-blakan, sifatnya yang manja membuat Stella tidak berani berucap kasar pada seseorang. Tapi lihat sekarang. Banyu memandang Stella tidak habis pikir. Terlebih wajah gadis itu terlihat tenang dan santai sekali selepas mengucapkan kalimat tersebut. Ia benar-benar tidak mengerti. Di balik wajah polos dan manis itu, sebenarnya apa yang telah dialaminya? "Kayaknya kita gak perlu bahas itu, deh. Gimana kalau kita minum dulu? Jusnya gak enak kalau lama-lama didiamkan." Banyu tidak mengerti, ingin mencari tahu penyebab dari perubahan Stella, tapi di saat yang bersamaan ia juga tidak ingin membahas hal itu. Mungkin saja Stella pernah mengalami hal yang berat, atau bergaul dengan orang-orang yang salah. Itu cukup dijadikan sebagai pegangan untuk jawabannya. Karena itulah Banyu memilih mengalihkan pembicaraan. Karena Banyu memang tuan rumahnya, Stella memaklumi saja. Ia beringsut turun dari ranjang dan mendekati Banyu yang duduk di dekat meja. Mulai meneguk jusnya tanpa permisi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN