Banyu terbangun dari tidurnya saat samar-samar mendengar bunyi ponselnya. Karena tak kunjung berhenti, Banyu memutuskan untuk mengambil ponselnya tersebut. Menyipitkan mata karena cahaya ponsel yang menembus netranya yang belum sepenuhnya terbuka.
Nama Stella tertera di sana. Membuat Banyu langsung menyibak selimut dan bangun dari posisi berbaringnya dengan gerakan cepat. Hal itu membuat kepala Banyu terasa pening, tapi diabaikan. Banyu lebih memilih untuk mengangkat telepon dari Stella.
"Halo," sapa Banyu.
Karena suaranya yang masih serak, di seberang sana Stella tergelak.
"Aku tahu sih kamu pasti baru bangun tidur. Dan kamu bangun pasti karena telepon dari aku. Iya, 'kan?" tembak Stella tepat sasaran.
Banyu bukanlah orang yang malas. Sejak SMA, enam hari dalam seminggu, Banyu selalu bangun sebelum matahari terbit. Menjadi siswa teladan yang tidak pernah terlambat. Kegiatan paginya tidak lain adalah mengurus Stella yang terlalu malas bangun pagi. Tapi bukan berarti Banyu selalu seperti itu. Setiap libur sekolah, Banyu selalu memanfaatkan hari liburnya untuk istirahat. Sekadar untuk memanjakan dirinya sendiri. Setidaknya Banyu akan bangun paling lambat pukul tujuh pagi.
Namun, itu dulu. Setelah kuliah, lulus, dan memiliki pekerjaan, Banyu memiliki kesibukan yang lebih padat lagi. Bukan hanya otaknya yang bekerja, tapi fisiknya juga. Dan itu lebih keras, ketimbang saat dirinya masih duduk di bangku SMA.
Jadi, sama halnya seperti hari ini di mana Stella membangunkannya di hari liburnya, Banyu sadar bahwa dirinya sudah tidur terlalu lama. Sambil mendengarkan suara tawa Stella yang menyambut paginya, Banyu melirik jam dinding yang berada tak jauh dari posisinya. Menempel di bagian dinding. Jam tersebut menunjukkan pukul sepuluh siang.
"Kenapa kamu nelpon aku pagi-pagi gini?" tanya Banyu setelah berhasil mengumpulkan nyawanya.
"Awalnya sih mau ngecek aja kamu lagi kerja atau enggak, soalnya dari kemarin-kemarin kayaknya kamu kerja terus, tapi pas dengar suara kamu yang serak kayak orang baru bangun tidur, aku tahu kamu pasti lagi libur. Tebakanku bener?"
Banyu hanya berdeham. Menguap sekali kemudian beringsut turun dari ranjangnya.
"Jadi kamu beneran libur?" tanya Stella sekali lagi.
Dan lagi, Banyu hanya berdeham pelan. Ia berjalan ke arah jendela kamarnya yang masih tertutup. Satu tangannya yang bebas menarik tirai jendela. Pertama sisi kanan, kemudian dilanjutkan untuk membuka tirai di bagian kiri. Sehingga memperlihatkan bagian luar rumahnya yang sudah terang benderang.
"Kalau gitu ayo kita jalan!"
Banyu mengernyitkan dahi sambil menggigit bibir bawahnya. Sejak makan malam keduanya dengan Stella, setelahnya Stella selalu mengajaknya makan malam setiap kali pulang bekerja. Hal itu membuat Banyu kerap kali mengabaikan Mia yang posisinya adalah kekasihnya. Gadis itu memang tidak pernah mengeluh, tapi karena sudah satu Minggu lebih tidak menghabiskan waktu dengannya membuat Banyu merasa jahat.
Waktu itu, karena menerima ajakan Stella yang mengajaknya makan malam, Banyu terpaksa membatalkan makan malamnya bersama Mia yang sudah disusun rapi. Ia bahkan belum mengatur ulang rencana pergi sebagai ganti pembatalan itu. Dan rencananya, sore nanti ia ingin mengajak Mia pergi ke luar. Tapi karena Stella menelepon dan memintanya untuk pergi bersama gadis itu, pada akhirnya Banyu ragu juga.
Anggaplah dirinya adalah orang jahat. Laki-laki yang tidak memiliki pendirian teguh, egois, dan tidak bisa mengambil keputusan dengan tepat. Sekarang ini posisinya sudah memiliki seorang kekasih, dan Banyu amat sadar dengan hal itu. Meski jauh di lubuk hatinya masih terdapat perasaan yang begitu mendalam untuk Stella, ia sama sekali tidak berniat untuk memutuskan hubungannya dengan Mia hanya karena Stella kembali ke kehidupannya.
Meski Stella adalah orang pertama yang berhasil mendiami hatinya dan sampai sekarang posisinya tidak tergantikan, Mia tetaplah seseorang yang pertama berjuang untuknya dan mau memperjuangkan hubungan dengannya. Dan Banyu yakin Mia lah orang yang tepat untuk masa depannya.
"Kenapa? Kok diam? Kamu ada rencana lain hari ini?" Stella kembali berbicara karena Banyu tak kunjung buka suara.
Ya, meski sudah memantapkan hatinya, Banyu benar-benar tidak ingin kehilangan Stella untuk kedua kalinya. Stella adalah orang yang paling dekat dengannya, saat gadis itu kembali datang setelah bertahun-tahun menghilang, layaknya seorang yang sudah mengubur rindu terlalu lama, Banyu ingin menghabiskan banyak waktu bersama Stella.
Pada akhirnya Banyu bertanya, "Emangnya kamu mau ke mana?"
Disambut tawa ringan Stella di seberang sana.
"Ke mana aja. Asal sama kamu, kayaknya ke mana aja bakal nyenengin, deh. Aku bosan aja di rumah. Kita 'kan belum pernah jalan berdua pas siang hari. Selalu aja malam. Itu pun cuma sekedar makan malam."
Banyu bisa merasakan bahwa Stella begitu mengharapkan dirinya datang dan mau pergi bersama gadis itu.
"Main ke rumahku aja gimana?" tanya Banyu.
Stella balik bertanya, "Ngapain di rumah kamu?"
Dan Banyu tidak tahu harus menjawab apa.
Mungkin karena tubuhnya terlalu lelah. Bekerja dari pagi sampai sore hampir seminggu full membuatnya ingin beristirahat total begitu hari libur tiba.
Biasanya Mia selalu mengerti dan tidak pernah menghubunginya jika hari libur. Mia hanya akan menerima tawarannya untuk jalan jika dirinya yang mengajak lebih dulu.
"Tapi kayaknya asik juga, deh. Aku udah lama banget gak ke rumah kamu. Sejak terakhir kali kita ketemu tujuh tahun lalu pastinya. Kamu bakal nyuguhin aku apa kalau aku main ke rumah kamu?"
Seketika Banyu melupakan sosok Mia yang sempat mampir di pikirannya. Ia terkekeh pelan mendengar setiap kalimat yang keluar dari mulut Stella. Senang karena pada akhirnya Stella tidak benar-benar merupakan apa yang pernah terjadi di masa lalu. Gadis itu ingat bagian-bagian tertentu, dan itu terasa menyenangkan.
"Di rumahku ada kolam renang, kamu bisa berenang sampai pagi kalau bosan. Itung-itung olahraga. Isi kulkasku juga penuh, banyak camilan yang kayaknya gak akan habis kalau cuma dimakan sama kamu. Kita bisa ngobrol sampai bosan atau nonton film buat ngisi waktu. Bukannya kamu sendiri yang bilang asal sama aku ke mana aja bakal nyenengin?" Banyu menggaruk tengkuknya. Malu dengan kalimat terakhirnya, "walaupun aku gak yakin apa jalan sama kamu emang seseru itu," sambungnya tidak ingin membuat Stella kegeeran.
Stella tertawa lagi. "Boleh. Mungkin nanti kita bakal nostalgia bareng."
Banyu hanya bisa tersenyum sambil menatap kaca jendela yang menampilkan betapa cerahnya hari ini.
"Ya, udah. Nanti aku jemput. Aku mau mandi dulu."
"Oke," sahut Stella singkat.
Banyu mengangguk. Reaksi bodoh yang dilakukannya.
Panggilan dimatikan oleh Stella. Banyu berbalik dan berjalan menuju kamar mandi. Baru beberapa langkah saat ponselnya kembali berbunyi. Kali ini bukan nama Stella, tapi nama Mia yang tertera di sana.
Banyu menempelkan ponselnya ke telinga setelah menggeser ikon berwarna hijau.
"Tumben banget kamu nelepon pas hari liburku. Kenapa?" tanya Banyu tanpa basa-basi. Dengan nada lembut dan halus.
"Kamu udah bangun tidur?" tanya Mia di seberang sana.
"Baru aja."
"Tadinya sih aku gak mau ganggu kamu, tapi mamaku bikin brownies pisang. Aku jadi keinget sama kamu. Itu 'kan salah satu makanan favorit kamu. Aku bawain ke rumah kamu, ya? Nanti sekalian aku bikinin sarapan buat kamu."
Sudah ke sekian kalinya Mia menawarkan diri seperti itu. Dengan alasan yang serupa. Mengatasnamakan mamanya. Padahal Banyu tahu bahwa Mia sendiri yang membuat brownies tersebut. Mia hanya ingin main ke rumahnya. Satu hal yang sejak berpacaran dengannya tidak pernah dilakukan.
"Gak usah repot-repot, Sayang. Aku bisa sarapan pakai roti aja, kok. Dan untuk brownies-nya bisa kamu sisain sedikit buat aku. Nanti malam aku main ke rumah kamu. Jadi kamu gak perlu ke rumahku. Gimana?"
Selalu sama. Banyu menolak permintaan Mia dengan halusnya. Bukan karena ia tidak ingin Mia mengunjungi rumahnya, ia hanya belum siap membawa gadis itu ke rumahnya. Entah karena apa. Banyu pun tidak tahu alasannya.
"Oh, gitu. Ya, udah. Aku tunggu nanti malam, ya." Terselip nada kecewa di balik perkataan tersebut.
"Iya, Sayang."
Panggilan dimatikan. Banyu mengembuskan napasnya lelah. Memilih untuk mengabaikan perasaan bersalah yang kembali muncul, ia melemparkan ponselnya ke atas ranjang dan segera menuju kamar mandi.
***
Banyu menatap rumah besar yang ada di depannya. Setelah menutup pintu mobilnya, Banyu segera berjalan mendekati pagar. Memiringkan kepala saat melihat pagar rumah Stella sedikit terbuka.
Tanpa pikir panjang, Banyu segera berjalan melewati pagar tersebut. Berjalan pelan menyusuri halaman rumah Stella yang luas. Ini pertama kalinya Banyu mendatangi rumah Stella saat siang hari. Rupanya keadaannya jauh berbeda. Halaman rumah setelah terlihat asri dan menyejukkan mata. Bunga berwarna-warni memenuhi bagian halaman yang juga dilapisi rumput hijau tipis. Mungkin ibu tiri Stella lah yang merawat bunga-bunga tersebut, tidak mungkin Stella. Mengingat bagaimana perangai gadis itu.
Belum sampai Banyu di bagian teras rumah, pintu depan rumah Stella sudah terbuka. Stella berlari tak lama kemudian. Menghampiri Banyu dan berhenti tepat di hadapan Banyu.
Banyu keheranan. Bagaimana Stella bisa berlari seperti itu seolah gadis itu tahu bahwa dirinya sudah sampai?
"Ngapain lari-lari sih? Kamu emangnya mau ke mana? Kok kayaknya buru-buru amat?" tanya Banyu meledek.
Stella memasang senyum lebar di bibirnya. Lalu berkata dengan percaya dirinya, "Mau ke rumah kamulah. Emangnya mau ke mana lagi? 'Kan kamu ke sini mau jemput aku."
Banyu geleng-geleng kepala. Diam-diam tertawa di dalam hati karena tingkah Stella yang barusan mengingatkannya pada sosok Stella tujuh tahun yang lalu. Yang begitu manja dengannya, yang selalu bersemangat setiap kali ingin diajak pergi dan selalu menunggu di depan pintu. Stella yang dulu juga selalu berlari setiap kali dirinya sudah sampai di gerbang. Lantas sebuah pelukan akan ia dapatkan tak lama setelah itu.
Tapi tentu saja keadaan yang sekarang sudah jauh berbeda. Stella tidak lagi berlari dan langsung memeluknya begitu sampai di hadapannya. Gadis itu hanya memamerkan senyumnya yang menurut Banyu masih semanis dulu.
"Jadi ceritanya kamu tahu kalau aku udah sampai di rumah kamu?" tanya Banyu.
Stella mengangguk pelan. "Aku tuh dari tadi nungguin di jendela kamarku." Stella menunjuk bagian kamarnya yang berada di lantai dua. Dari posisinya sekarang, jendela kamarnya tersebut terlihat sangat jelas. "Pas kamu turun dari mobil, aku langsung lari dari kamar dan akhirnya sampai deh di depan kamu," uangkapnya kemudian.
"Oh, gitu." Banyu melongokkan kepalanya ke bagian belakang tubuh Stella, "papamu ada di rumah? Aku mau pamit dulu sama dia sebelum aja kamu pergi."
"Gak usah. Papa lagi gak ada di rumah. Dia lagi ke luar buat ketemu sama temannya. Di rumah cuma ada dia."
"Dia?"
"Iya, dia."
"Mama, Stella." Karena tahu siapa yang dimaksud Stella, Banyu berusaha untuk memberitahu Stella agar memanggil ibu tirinya dengan cara yang benar.
Namun, sayangnya Stella tidak menerima hal itu. Sosok Stella yang barusan terlihat begitu ceria di mata Banyu, berubah menjadi sosok Stella yang angkuh. Bibirnya membentuk garis lurus. Sebuah dengkusan lolos dari mulutnya tak lama kemudian.
"Dia bukan mamaku dan sampai kapan pun aku gak akan menganggap dia sebagai mamaku. Mamaku cuma satu dan dia udah meninggal. Aku gak butuh mama lain buat ngurusin hidup aku."
"Ya, udah. Terserah kamu. Tapi biarin aku izin dulu sama mama tiri kamu. Biar dia gak khawatir terus nyariin kamu nantinya."
Saat Banyu ingin berjalan melewati Stella, Stella buru-buru menarik tangan Banyu.
"Gak usah. Kita langsung pergi aja. Tadi aku udah bilang sama Papa lewat chat, jadi kita gak perlu izin dari dia."
Banyu yang sangat paham bagaimana sifat Stella memilih untuk mengiyakan saja. Memaksa apalagi mendebat Stella hanya akan menimbulkan pertengkaran dan Banyu tidak mau itu sampai terjadi.
Alhasil, keduanya pergi. Sampai di depan pagar, Stella juga membiarkan pagar yang terbuka begitu saja. Banyu mengatakan bahwa setidaknya Stella harus menutup pagarnya sampai rapat, tapi Stella menolak dan mengatakan bahwa nanti ibu tirinya tersebut yang akan menutup pagar tersebut. Dan, ya, lagi-lagi Banyu mengalah.
Keduanya segera pergi menaiki mobil Banyu karena setelah sudah merengek ingin segera melihat rumah Banyu yang sudah lama tidak didatangi olehnya.