Definition of Love; 12

2008 Kata
Sekali lagi Banyu memperhatikan penampilannya di kaca mobilnya sendiri. Banyu tidak mengerti kenapa apa ia harus bersusah payah berpenampilan rapi hanya untuk bertemu dengan Stella. Tadi sebelum berangkat, berulang kali ia mengganti baju untuk memastikan bahwa penampilannya kekinian dan tidak memalukan. Stella tidak boleh risih. Itulah yang ia pikirkan. Kelakuan dan persis seperti remaja yang baru akan pergi kencan untuk pertama kali. Lalu sekarang, sekali lagi Banyu memperhatikan penampilannya sendiri. Entah sudah berapa kali ia memperbaiki tatanan rambutnya atau sekedar melihat kemeja yang dikenakannya. Banyu sudah berdiri tepat di depan pagar rumah Stella yang beberapa hari lalu pernah didatangi olehnya untuk mengantar Stella pulang. Setelah dirasa penampilannya sudah rapi, Banyu menjauhkan diri dari mobilnya dan berdiri tepat di depan pagar rumah Stella. Ia mengangkat ponsel yang sejak tadi dipegangnya. Mencari nama Stella di kontaknya kemudian menempelkan ponselnya ke telinga setelah memutuskan untuk menghubungi Stella. Suara Stella membelai telinganya dengan manja beberapa detik kemudian. Banyu memperhatikan rumah besar yang ada di depannya. Menilik bagian lantai dua yang pernah dimasuki olehnya. "Aku udah ada di depan rumah kamu," kata Banyu. "Oke. Aku keluar sekarang juga." Panggilan dimatikan begitu saja oleh Stella. Beberapa menit menunggu, gadis itu muncul dari pintu utama. Berjalan anggun dengan setelan jumsuit pendek berwarna coklat s**u. Kakinya dibalut heels hitam, serupa dengan warna tas selempang yang tersampir di bahu kirinya. Pakaian yang benar-benar kontras sekali dengan kulitnya yang putih bersih, juga rambut cokelatnya yang ikal. Cantik sekali. Banyu tahu bahwa sebuah kesalahan besar memuji Stella saat dirinya jelas-jelas memiliki seorang kekasih. Tapi apa yang dilihatnya, itulah kenyataannya. Stella tumbuh menjadi gadis cantik yang tidak pernah dibayangkan olehnya akan secantik sekarang. Stella membukakan gerbang untuk Banyu. Memasang wajah ceria seolah bersiap menaklukan malam bersama Banyu. "Ayo jalan!" Stella berseru semangat. Sudah bersiap melangkah, tapi Banyu menahan tangannya. "Kamu udah pamit sama papamu?" tanya Banyu. Stella mendengkus halus. "Ngapain pakai pamit segala? papa itu lagi mesra-mesraan sama istri mudanya di kamar. Aku gak perlu pamit. Kalau aku gak ada di rumah berarti papa aku tahu aku itu lagi hangout sama temen-temen di luar. Masalah selesai," ujarnya lempeng. "Tapi kamu 'kan perginya sama aku, bukan sama temen-temen kamu. Jadi ... ayo kita masuk lagi ke dalam supaya aku bisa izin langsung sama papa mama kamu." Tidak menunggu jawaban, Banyu menarik tangan Stella. Memasuki gerbang yang yang tidak sempat Stella tutup. Di halaman, Stella menghentikan langkahnya dengan menarik tangannya. "Kamu itu jadi orang jangan sopan-sopan amat, deh. Nanti gampang dibegoin orang. Pokoknya kita gak perlu izin. Jadi mendingan langsung pergi aja." "Stella! Gak ada asal-usulnya orang sopan bakal dibegoin sama orang lain. Gak usah ngawur kayak gitu. Lagian kamu itu udah gede, kamu pasti bisa ngurus diri kamu sendiri di luar, itulah sebabnya kamu butuh izin buat keluar supaya orang tua kamu gak cemas dan gak mikir yang aneh-aneh tentang kamu. Paham?" Sekelebat ingatan tentang masa lalunya muncul di kepala Stella. Tentang sosok Banyu yang juga gemar memarahinya. Stella tidak tahu kenapa ingatan itu tiba-tiba muncul begitu saja, tapi sepertinya Banyulah pemicunya. "Jangan mentang-mentang udah dewasa, kamu pikir kamu bisa pergi ke mana aja tanpa izin dari orang tua kamu. Itu jelas pemikiran yang salah." Mengalah, Stella mengembuskan napas lelah. "Oke-oke! Kita masuk lagi ke rumah sekarang terus izin ke Papa aku. Puas?" Banyu hanya tersenyum sambil berlalu lebih dulu. Memasuki rumah Stella, Banyu langsung tahu bahwa Stella berbohong. Posisi meja makan yang terlihat dari ruang tengah membuat Banyu bisa dengan jelas melihat ayah Stella sedang duduk di sana, bersama ibu tirinya yang sedang menyiapkan makanan. Langsung saja Banyu menghampiri keduanya. Glen, ayah Stella, langsung bangun dari posisi duduknya begitu melihat Banyu. "Pantesan aja Stella mau masuk lagi ke dalam rumah, ternyata yang ngajak keluar Banyu, toh. Kalau orang lain gak mungkin Stella mau repot-repot masuk lagi, karena siapa pun yang ngajak selain Banyu gak pernah minta izin dari saya." Banyu tersenyum dan mendekati Glen. Mencium punggung tangannya begitu berada di samping Glen. Tak lupa, Banyu juga mencium punggung tangan Airin yang baru sampai, membawa semangkuk besar sayur sup. Meski ia yakin usia Airin tidak jauh beda darinya, Banyu tetap merasa perlu untuk menghormati perempuan itu. "Selamat malam, Om, Tante." Banyu menyapa setelah selesai bersalaman. Glen menyambutnya dengan tepukan di bahu, sementara Airin hanya tersenyum lantas segera duduk di kursi lain karena kegiatannya memindahkan berbagai macam lauk pauk dari dapur ke meja makan sudah selesai. "Kalian ini sebenarnya mau ke mana?" tanya Glen kembali duduk. Pria itu meminta Banyu untuk ikut duduk, yang diiyakan oleh Banyu dengar langsung menarik kursi di samping Glen. "Tadi waktu saya baru pulang kerja, Stella ngehubungin saya, katanya dia bosan di rumah dan mau pergi ke luar. Makanya saya ke sini." "Tapi 'kan ini bukan malam Minggu. Apakah kalian memang sekangen itu sampai ngorbanin malam lain buat saling bercengkrama?" "Pa!" Stella menyela cepat, "jalan itu 'kan gak harus selalu malam Minggu. Lagian malam Minggu itu dikhususkan untuk mereka yang berstatus sebagai pasangan. Kami berdua 'kan gak pacaran," ujarnya kesal. Rupanya sejak tadi Stella berdiri di belakang kursi yang diduduki Banyu. "Papa lagi gak mau ngobrol sama anak yang suka pergi keluyuran tanpa izin dari papa. Mendingan kamu diam aja, soalnya papa mau ngobrol banyak sama Banyu." "Papa! Aku sama Banyu 'kan mau pergi ke luar." Banyu hanya terkekeh geli. Rasanya menyenangkan bisa melihat kembali pertengkaran kecil antara Stella dan ayahnya. Sejak dulu keduanya memang sering memperdebatkan hal kecil, dan itu terlihat sangat manis di matanya. "Saya pikir setelah melihat perubahan dalam diri Stella, kamu gak akan mau nemuin lagi anak perempuan saya yang satu ini. Maklum aja, Stella yang kamu kenal dulu udah jauh berbeda dengan apa yang sekarang kamu lihat." Benar. Banyu tidak akan menyangkal hal itu. Perbedaannya begitu kentara sampai Banyu merasa seperti mengenal orang baru, daripada bertemu lagi dengan teman lama yang sudah sangat dikenalnya. Tapi itu tidak masalah. Yang berubah dari diri Stella hanyalah penampilan luar dan beberapa sifatnya saja. Itu tidak terlalu mengganggu untuknya. Karena setiap orang memiliki hak atas kehidupannya sendiri, dan ia tidak berhak untuk berkomentar terlalu banyak. "Awalnya saya emang cukup terkejut, tapi ternyata saya gak bermasalah sama sekali. Lagian sejauh apa pun perubahan Stella, Stella yang saya kenal, ya, tetap Stella. Itu aja udah cukup buat ngasih tahu kalau saya gak mungkin nolak buat ketemu sama anak Om." "Jangan bilang kamu berani ngomong kayak gini karena kamu belum punya pacar?" tembak Glen membuat bola mata Stella membesar. Menurut Stella pertanyaan ayahnya terlalu berlebihan. Status yang seperti itu seharusnya menjadi privasi Banyu dan Banyu berhak ingin memberitahukannya atau tidak. "Oh, buat yang satu itu sepertinya tebakan Om salah besar." Tidak hanya Glen, kini Stella ikut memandang Banyu penasaran. Mungkin terkejut, mungkin juga tidak menyangka, karena Banyu masih mau datang meskipun sudah memiliki kekasih. "Jadi kamu udah punya pacar?" tegas Glen. Mendapati anggukan kepala dari Banyu, Glen mendengkus halus. "Pasti perempuan itu beruntung banget bisa dapetin kamu. Anak saya yang kurang beruntung karena nggak punya kesempatan buat dimiliki sama orang sehebat kamu." "Papa!" tegur Stella mulai kesal. Tapi lagi-lagi ayahnya hanya mengabaikannya dan terus fokus pada Banyu. "Om terlalu berlebihan. Saya yakin kok nanti Stella pasti dapet laki-laki yang benar-benar bisa ngurus dia dan bener-bener sayang sama dia. Gak seperti saya, tapi mungkin jauh lebih hebat dari saya." Banyu tersenyum. Berusaha keras mengabaikan kata hatinya yang ingin menyangkal perkataannya tersebut. Bertolak belakang dengan perkataannya yang menginginkan laki-laki lain memiliki Stella, hatinya justru tidak ingin menerima hal itu. "Tapi sejauh ini menurut saya kamu yang terbaik. Stella selalu bergaul dengan laki-laki b******k yang gak tahu tatakrama. Kalau aja kamu belum punya pacar, mungkin saya akan menjodohkan Stella dengan kamu." "Papa!" tegur Stella untuk ke sekian kalinya. Banyu hanya terkekeh pelan. Tidak ingin menanggapi hal itu dengan serius. Terlebih lagi saat ini posisinya sudah memiliki kekasih, dan mungkin Stella juga. Ia dan Mia sudah menjalin hubungan baik sejak dua tahun lalu, dan itu bukan untuk main-main. "Udah, deh. Papa gak usah ngomong yang aneh-aneh dan mendingan gak usah ngajak ngobrol Banyu lagi sekalian. Aku sama Banyu itu mau jalan, kalau Papa terus ngajakin Banyu ngobrol, kapan aku jalannya?" "Lho, papa 'kan cuma kangen sama Banyu. Apa salahnya papa ngobrol banyak sama dia. Lagian daripada jalan ke luar, kenapa kalian yang ngobrol di rumah aja terus ikut makan malam sama papa." "Gak mau! Aku mau jalan sama Banyu!" tolak Stella. Airin yang sejak tadi diam akhirnya memilih angkat bicara. Ia berkata, "Udah dong, Pa. Gak usah godain mereka berdua terus. Lagian mereka berdua itu 'kan masih muda, jadi wajar kalau lebih suka ngabisin banyak waktu dari luar rumah, daripada di rumah." Dengan nada lembut yang membuat Banyu langsung menatap ke arahnya. Stella memiliki ibu sambung yang baik dan pengertian. Banyu yakin Stella pasti senang memiliki seorang ibu yang sifatnya tidak jauh beda dengan ibu kandungnya. "Bukannya kamu juga masih muda? apa kamu gak lebih senang ngabisin waktu di luar rumah, daripada susah payah jadi seorang istri dan terkurung di rumah?" Namun, rupanya pemikiran Banyu salah. Bicara Stella lancang dan terlihat sangat tidak suka dengan ibu tirinya. Dan saat melirik Airin, Banyu melihat perempuan itu nampak gelisah dan kecewa. "Kamu lihat." Glen berbicara lagi, "kamu itu pawangnya Stella, Banyu. Semenjak kalian berdua jauh, Stella jadi kayak gini. Bicaranya kasar dan lancang sekali." Tahu bahwa keadaan akan semakin rumit jika dirinya dan Stella tetap berada di sana, Banyu memilih berdiri. "Kayaknya Stella udah mulai bosan karena dari tadi Om ngajakin saya ngomong terus." Banyu mengulas senyum tipis, "kalau gitu saya sama Stella mau pamit pergi ke luar dulu, Om. Saya janji gak akan pulang terlalu malam." "Kalau sama kamu saya percaya, kok. Tenang aja." Glen ikut berdiri. Dan sekali lagi Banyu mencium punggung tangan pria itu. Disusul dengan memberi senyuman pada Airin. Banyu dan Stella berlalu setelah itu. Keduanya kembali keluar dari rumah Stella. Menyapa udara malam yang sebelumnya sempat menyentuh mereka. "Kamu itu kenapa sih makin dewasa bicara kamu makin gak sopan aja?" Banyu menggeleng pelanmengingat perkataan Stella pada ibu tirinya tadi. Tidak hanya kecewa, Airin mungkin akan terluka dan sakit hati. Tapi bukannya merasa bersalah, Stella justru terlihat jengah karena Banyu kembali mengungkit kejadian di meja makan tadi. "Kalau kamu mau bahas masalah itu, kayaknya kita gak perlu jadi jalan aja, deh." Stella menghentikan langkah. Membuat Banyu ikut menghentikan langkah. "Aku 'kan cuma ngasih tahu kamu aja. Gimanapun dia itu mama kamu, jadi sudah sepantasnya kamu menghormati dia sebagai seorang ibu." "Gak! Mamaku itu cuma satu, dan dia udah meninggal." Stella memutar tubuhnya. Mulai kesal dengan Banyu. Tapi sebelum mengambil langkah, Banyu sudah lebih dulu menarik pergelangan tangannya. "Oke-oke. Maaf kalau bicaraku itu terlalu ikut campur dan bikin kamu nyaman. Gak usah ngambek gitu. 'Kan kamu yang ngajak pergi ke luar, masa mau dibatalin? Aku udah capek-capek pergi ke sini buat jemput kamu, dan kamu malah mau batalin gitu aja? Apa ga terlalu tega kamu sama aku?" "Abisnya kamu nyebelin. Bikin mood-ku rusak aja." "Ya, udah. Aku 'kan udah minta maaf sama kamu. Janji gak bakal bahas mama tiri kamu lagi. Oke?" Stella hanya berdeham masih dengan raut kesalnya. "Jadi kita mau ke mana? Mau nyari makan dulu? Kamu deh yang pilih tempat makannya, baru setelah itu kita pergi ke mana pun kamu mau. Gimana?" Banyu berhasil membujuk Stella dengan cara paling sederhana yang tentunya ampuh. Wajah Stella kembali semringah dan ceria seperti dengan begitu mudahnya. "Oke. Karena kamu maksa, aku gak jadi balik ke dalam rumah. Kita jalan dan malam ini bakal jadi malam pertama kita setelah sekian lama gak ngabisin waktu berdua. Siap-siap aja dompetmu jebol karena mauku itu banyak." Banyu tersenyum. "Gak masalah," katanya singkat. Keduanya melanjutkan langkah mereka yang sempat terhenti. Alih-alih Banyu yang pergi ke mobilnya duluan, Stella justru jauh lebih bersemangat dan memasuki mobil Banyu tanpa permisi. Yang hanya ditanggapi Banyu dengan gelengan kepala. Stella bukanlah gadis anggun yang perlu dibukakan pintu saat ingin memasuki mobil. Gadis itu lebih terlihat bar-bar dan ngeyel. Suka berbuat semaunya. Tapi itu bukan masalah. Selama Stella senang, maka itu cukup untuk Banyu. Seperti perkataan Stella, malam itu menjadi malam pertama Banyu dan Stella menghabiskan waktu berdua sebagai teman setelah sekian lama tidak bertemu. Menjadi awal kisah baru antara mereka berdua.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN