Waktu menunjukkan pukul lima sore saat Banyu membukakan pintu mobilnya untuk Mia. Gadis itu tersenyum lembut. Menundukkan sedikit kepalanya, Mia segera masuk ke dalam mobil. Banyu berlari memutari mobilnya untuk kemudian duduk di kursi kemudi.
Mobil segera melaju dengan kecepatan sedang dan bergabung dengan kendaraan lain di jalan raya. Matahari sudah nyaris hilang. Pulang ke tempat peraduannya. Sayangnya, gedung-gedung tinggi membuat pemandangan matahari tidak terlihat menakjubkan lagi. Perlu tempat yang tinggi untuk bisa melihat matahari dengan lebih leluasa bersama pancaran jingganya yang mempesona.
Riuh jalan raya menjadi pemandangan biasa yang setiap hari dilalui Banyu. Untuk pekerja seperti dirinya, siang hari hanya menjadi kegiatan rutin di dalam kantor. Jarang sekali menemukan waktu luang untuk bisa memanjakan diri. Begitulah orang dewasa yang selalu disibukkan dengan pekerjaan dan segala masalah yang muncul.
Di lampu merah, Banyu menghentikan mobilnya. Menjadi pengendara yang berhenti di bagian terdepan. Mobil dan motor lain segera menyusul, turut berhenti untuk menantikan lampu merah berganti hijau.
"Malam ini kita jadi dinner?" Mia bertanya.
Banyu menoleh ke arahnya. Tersenyum kemudian mengangguk kecil. "Kita 'kan udah lama banget gak dinner berdua. Jadi udah pasti untuk malam ini harus jadi apa pun yang terjadi. Aku gak mau keharmonisan hubungan kita bakal terganggu karena kita jarang banget jalan bareng," jawabnya.
Mia terkekeh. Merasa menjadi gadis paling bahagia karena bisa memiliki Banyu. Laki-laki yang selalu mencari waktu untuk pergi berdua sesibuk apa pun dirinya. Padahal Mia dan Banyu satu kantor. Bertemu setiap hari dan selalu makan siang bersama, meski lebih sering diganggu oleh kehadiran Rangga. Tapi Banyu selalu membedakan antara kehidupan kantor dan kehidupan asmaranya. Hal yang membuat Mia merasa diistimewakan.
"Jadi kita mau makan di mana?" tanya Mia lagi.
"Bukannya kamu bilang ada restoran baru yang pengen banget kamu coba?"
"Mau ke sana?" Mia semringah dengan tatapan tertuju pada Banyu.
"Boleh. Aku bakal ikut ke mana pun kamu mau. Kalau kamu mau ke sana, ayo!"
Satu lagi sifat Banyu yang kerap kali membuat Mia semakin dibuat jatuh cinta. Sifat pengertiannya. Banyu bukanlah seseorang yang tidak banyak mau, malah terkadang sering mengutarakan isi hatinya, ingin pergi ke mana atau ingin melakukan apa, tapi di samping itu, Banyu selalu mengutamakan keinginan Mia terlebih dahulu.
Mungkin Mia merasa menjadi salah satu gadis yang paling beruntung. Dari banyaknya gadis cantik yang ada di kantornya, yang diam-diam menyukai Banyu karena parasnya serta kepribadiannya, Banyu justru mau menerima dirinya dan perlahan membuka hatinya.
Bukan hal mudah. Di awal hubungannya dengan Banyu, Mia kerap mendapatkan perlakuan yang bisa dibilang sangat dingin. Banyu tidak pernah melemparkan perhatian sedikit pun. Bahkan Banyu juga jarang sekali makan siang dengannya di kantor. Daripada makan siang bersama kekasihnya, Banyu lebih memilih untuk makan siang bersama Rangga. Kebiasaan yang kerap membuat Mia jengkel.
Tapi itu dulu. Sekarang Mia sudah sangat percaya diri tentang hubungannya bersama Banyu. Ia juga sangat yakin bahwa Banyu sudah jatuh cinta padanya dan mau menjalin hubungan yang lebih sehat dan serius. Terbukti dari hubungannya yang bertahan lebih dari dua tahun.
Lampu merah berganti hijau. Banyu kembali menancap gas. Kendaraan-kendaraan lain menyusul di belakangnya. Ada yang menyalip, ada juga yang melaju dengan kecepatan sedang seperti dirinya.
"Oh, iya. Bulan depan itu ulang tahun kamu, 'kan? Kamu mau dapat hadiah apa dari aku?"
Banyu berdeham pelan. Memikirkan jawaban yang pas untuk pertanyaan Mia. "Kayaknya cuma kamu aja deh yang setiap kali orang lain ulang tahun, kamu justru nanya mereka mau hadiah apa, bukannya ngasih surprise yang enggak diduga-duga." Ia menggelengkan kepalanya, "Apa kamu serius mau ngikutin kemauan aku?" tanyanya kemudian.
Mia mengangguk.
"Apa pun itu?"
Lagi, Mia mengangguk.
"Gimana kalau kita nginap satu malam di hotel? Satu malam aja."
Bukannya mengiyakan atau setidaknya menimang apakah dirinya akan setuju dengan permintaan Banyu atau tidak, Mia justru tertawa terbahak-bahak. Membuat Banyu kebingungan dibuatnya. Karena Banyu sangat yakin bahwa tidak ada unsur kelucuan dalam kalimatnya sama sekali.
"Kenapa malah ketawa? Kamu mau nolak permintaan aku setelah kamu sendiri tadi bilang bakal nurutin apa pun kemauan aku?"
"Bukan gitu." Mia menggeleng pelan sambil berusaha meredakan ledakan tawanya, "permintaan kamu itu aneh sekaligus lucu. Kenapa kamu minta yang itu? Padahal aku sendiri tahu banget kamu bukan orang yang kayak gitu."
"Sekenal itu kamu sama aku?"
"Emangnya kamu pikir kita baru kenal sehari dua hari, seminggu dua minggu, atau sebulan dua bulan? Kita udah kenal hampir tiga tahun, Banyu. Aku hafal banget semua yang ada di diri kamu. Dan salah satu hal yang selalu bikin aku takjub sama kamu itu, kamu selalu menghargai perempuan."
Mendapatkan pujian seperti itu, Banyu hanya bisa terdiam. Mengakui bahwa mungkin saja Mia menjadi orang kedua yang sangat mengenalnya setelah Stella. Gadis itu tahu apa yang ia suka dan apa yang tidak ia sukai, mengerti apa yang dia mau tanpa perlu meminta, dan sangat mengenal seluk beluk tentang dirinya. Mungkin tidak sejauh Stella mengenalnya, tapi Banyu yakin bahwa Mia berusaha sekeras mungkin untuk bisa memahami dirinya. Dan ia sangat menghargai hal itu.
"Kalau gitu kamu gak perlu ngasih apa-apa. lagian aku punya apa pun yang kamu butuhin dan aku ngerasa gak ngebutuhin apa-apa untuk saat ini," putus Banyu akhirnya.
Sontak saja hal itu membuat Mia mengerucutkan bibirnya. "Gak seru, dong! Masa pacar ulang tahun aku gak ngasih apa-apa, pokoknya nanti aku bakal ngasih kado ke kamu, dan aku yakin kamu gak bakal ngeduga apa isi kadonya. Lagian ulang tahun tanpa hadiah itu bukan perayaan namanya. Gak meriah, dong."
"Ya, udah, terserah kamu aja."
Mia bertanya lagi, "Terus nanti mau ngerayain bareng keluarga kamu atau gimana?"
"Papa mamaku sibuk. Mereka sih pasti ngasih hadiah, tapi jarang banget ada perayaan semenjak aku udah tumbuh dewasa. Paling nanti aku cuma bakal ngajak kamu makan malam sama Rangga juga. Itu aja."
"Kok sama Rangga? Gak bosen kamu tiap tahun ngerayain ulang tahun sama dia. Kita udah pacaran dua tahun dan setiap kali kamu ulang tahun kamu pasti ngajak Rangga ikut serta buat rayain ulang tahun kamu. Apa kamu gak niat buat rayain ulang tahun kamu berdua sama aku aja?"
"Habisnya aku sama Rangga itu udah dekat banget. Jadi agak aneh aja kalau ngerayain sesuatu, dan dia gak ikut serta. Soalnya setiap kali dia ulang tahun, dia juga gak pernah ngerayain barang sama pacarnya aja, pasti kita diajak juga. Iya, 'kan?"
Alhasil, lagi dan lagi, Mia hanya bisa mengalah. Ia mengangguk pasrah. Banyu adalah Banyu, yang tidak pernah bisa mengabaikan orang lain. Dan ia tidak bisa membenci sisi Banyu yang seperti itu.
Keduanya tidak berbicara lagi. Banyu fokus menyetir, sementara Mia memilih untuk memainkan ponselnya. Tidak sampai dua puluh menit kemudian, mobil Banyu memasuki kompleks perumahan di mana Mia tinggal. Mobil tersebut masih berjalan sampai kemudian berhenti di depan sebuah gerbang yang sering sekali didatangi oleh Banyu.
Mia tidak langsung turun, melainkan memilih untuk mengobrol sebentar bersama Banyu sebelum kekasihnya itu pamit pulang. Kebiasaannya setiap kali banyak mengantarnya pulang.
"Kamu mau lihat aku pakai baju warna apa malam ini?"
Banyu memiringkan tubuhnya. Tangannya bergerak untuk melepas seat belt Mia terlebih dahulu sebelum akhirnya melepas seat belt yang dikenakannya.
"Kamu pakai baju warna apa pun selalu cantik, kok. Asal jangan yang terlalu terbuka, terlalu nerawang, warnanya terlalu terang, atau model yang terlalu heboh. Pokoknya pakai apa pun yang simple gak ngundang perhatian orang lain."
"Selalu kayak biasa, ya?" tanya Mia.
"Iya, dong. Pacarku itu, ya, cuma punya aku. Jangan pakai sesuatu yang bisa ngundang perhatian orang lain, karena aku gak suka hal itu."
Mia mengangkat tangan kanannya untuk memberi hormat pada Banyu. "Siap!" serunya kemudian.
"Nanti aku jemput jam tujuh malam, ya."
Ucapan lembut di surai panjangnya Mia dapatkan setelah itu. Mia baru akan turun dari mobil selepas Banyu menarik tangannya, tapi suara ponsel yang berdering membuat perhatian Mia teralihkan.
Banyu mengambil tas kerjanya yang diletakkan di kursi belakang. Membuka resleting dan mengeluarkan ponselnya dari sana.
"Halo," sapa Banyu.
"Banyu, aku lagi bosan nih di rumah. Mau jalan sama aku gak nanti malam?" Stella berbicara tanpa basa-basi. Suara di seberang sana membuat Banyu langsung menoleh ke arah Mia.
"Aku gak bisa—"
"Pokoknya harus bisa! Aku gak mau tahu. Kalau kalimat sebelumnya berupa pertanyaan, sekarang aku mau negesin ke kamu kalau aku mau jalan sama kamu nanti malam dan aku gak nerima penolakan."
"Kenapa kayak gitu?" tanya Banyu.
"Ya, karena aku gak suka ditolak. Lagian emangnya kamu gak mau jalan sama aku? Ada acara apa sampai berani nolak permintaan teman lama kamu ini?"
Banyu menatap Mia lekat-lekat. Ia meneguk air liurnya. Tidak tahu harus memilih apa. Di sisi lain ia sudah janji dengan Mia yang berstatus sebagai kekasihnya, tapi di sisi lain, sejak lama, ia memang tidak pernah bisa menolak permintaan Stella.
"Kenapa diam? Kamu ada acara sama pacar kamu atau kayak gimana?" Stella bertanya lagi.
Banyu memandang Mia dengan perasaan bersalah. Demi Tuhan, kalau bisa Banyu hanya ingin menghilangkan perasaannya kepada Stella. Agar apa pun yang ia lakukan bersama gadis itu tidak lagi melibatkan hati dan berakhir menyakiti perasaan orang lain.
Mia adalah gadis baik. Mungkin gadis paling baik yang pernah ditemui Banyu. Banyu tidak ingin menyakiti perasaan gadis itu sedikit pun. Karena selama berpacaran dengannya, Mia pun selalu berusaha keras untuk menjadi pacar yang baik untuknya. Tidak pernah menuntut apa-apa dan selalu bisa mengerti keadaan. Mia tidak rewel dan tidak manja. Selama bisa dilakukan sendiri, Mia tidak akan pernah meminta bantuan dari Banyu. Tidak pernah meminta ini itu, juga cukup tahu diri bahwa dirinya masih berstatus sebagai pacar, bukan istri. Sehingga tidak pernah menginginkan hal yang berlebihan. Memang sebaik itu sosok Mia.
Tapi untuk sekarang, Banyu seperti merasa sangat berdosa karena hatinya begitu menginginkan sosok Stella meski dirinya sudah memiliki kekasih sebaik Mia.
"Banyu! Kamu kok malah cuekin aku. Kalau gak mau bilang aja gak mau, gak usah diam-diaman kayak gini."
"Bukan gitu." Banyu akhirnya berbicara lagi.
"Terus apa?"
"Oke. Nanti malam aku ke rumah kamu."
Terdengar suara sorakan di seberang telepon. Sepertinya Stella sangat senang sekali mendengar jawaban dari Banyu.
"Oke. Aku matiin teleponnya. Sampai ketemu nanti malam."
Bahkan setelah Stella mematikan panggilan, Banyu masih menempelkan ponselnya di telinga. Baru diturunkan begitu Mia bertanya apa yang sebenarnya terjadi?
"Siapa yang telepon?" Mia bertanya lagi. Penasaran kenapa raut wajah Banyu berubah sangat drastis setelah berbicara dengan seseorang di seberang telepon.
"Temen aku." Banyu menjawab ragu.
"Terus kenapa kamu kelihatan kayak bingung gitu?"
"Gini." Banyu kembali memfokuskan pandangannya pada Mia, "temen SMA-ku yang barusan telepon. Dia ngajak buat makan malam di rumahnya. Katanya papanya mau ngobrol sama aku."
Untuk pertama kalinya Banyu berbohong hanya untuk menutupi keegoisannya. Ia semakin merasa bersalah saat Mia justru terlihat tidak terusik dengan hal itu. Makan malam yang dijanjikan terancam batal, tapi Mia terlihat biasa saja.
"Gak pa-pa. Kalau emang kamu mau makan malam sama temanmu itu di rumah dia, kita bisa batalin makan malam kita."
Terdengar tenang sekali, padahal kenyataannya Banyu tahu bahwa jauh di lubuk hati Mia, gadis itu pastilah merasa sangat kecewa.
"Ini pasti teman lama kamu yang waktu itu nelpon pas kita lagi makan malam di restoran, ya?"
Banyu tidak menyangka bahwa Mia mengingat hal itu, tapi tak ayal dirinya mengangguk mengiyakan.
"Wah, kalau begitu kalian pasti udah lama banget gak ketemu. Ya, udah. Nanti kamu makan malam di rumah dia aja, kita bisa atur waktu lagi supaya bisa makan malam berdua. Oke?"
"Kamu gak pa-pa?" Banyu bertanya khawatir. Takut bahwa diam-diam Mia menyimpan perasaan kesal pada dirinya.
Lalu, yang didapati Banyu adalah senyum menenangkan yang terukir sempurna di bibir Mia. Senyum yang selalu bisa ditunjukkan oleh Mia dalam keadaan dan situasi apa pun.
"Aku sedikit kesal sih, tapi gak masalah. Karena kita setiap hari ketemu, terus juga selalu makan siang bareng, aku gak akan merasa kalah sama temanmu itu cuma karena dia nyuri kamu dari aku malam ini. Kalau malam ini kita gak bisa dinner berdua, besok kita bisa atur ulang rencana supaya bisa pergi. Gampang, 'kan?"
"Makasih, ya," Banyu berucap tulus. Merasa senang karena Mia mau mengalah dan tidak marah.
"Ya, udah. Kalau gitu aku turun dulu. Kamu hati-hati nyetirnya, kabarin aku kalau udah sampai rumah, terus nanti juga jangan lupa kabarin kalau udah pulang dari rumah teman kamu."
"Oke."
Mia keluar dari mobil Banyu, dan Banyu hanya memperhatikan. Jika biasanya Banyu selalu menyempatkan diri untuk turun dari mobil meski sebentar, kali ini dirinya hanya melambaikan tangan melalui kaca jendela dan segera pergi setelah memasang seat belt.