Definition of Love; 10

2066 Kata
Banyu baru saja memasuki sebuah restoran yang alamatnya diberikan oleh Stella. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari-cari sosok Stella yang katanya sudah sampai di restoran. Hanya beberapa detik, dan Banyu langsung menemukan seseorang yang melambaikan tangan ke arahnya. Ya, siapa lagi kalau bukan Stella? Berjalan pelan ke arah meja yang sudah diduduki oleh Stella, Banyu menggulung lengan kemejanya sambil berdehem pelan. Berusaha menetralisir kegugupan yang tengah melingkupinya. Banyu tidak tahu alasan kenapa ia harus gugup hanya karena ingin bertemu dengan Stella. Kelakuannya persis seperti remaja labil yang baru saja akan pergi kencan dengan pacar pertamanya. Di mobil, berulang kali Banyu mengganti gaya rambutnya atau sekadar menyemprotkan parfum ke beberapa bagian bajunya meskipun sadar bahwa dirinya belum mandi. Semua itu semata-mata Banyu lakukan agar Stella mendapatkan kesan baik ketika bertemu dengannya. Sampai di meja, Banyu berhenti melangkah sementara Stella berdiri dari posisi duduknya. Hal itu membuat banyu membulatkan mata karena berhasil melihat penampilan Stella keseluruhannya. Stella hanya mengenakan kemeja putih polos yang bagian kancing teratas jadi biarkan terbuka. Sedangkan bawahannya setelah hanya mengenakan jeans pendek yang jauh di atas lutut. Bagian depan kemejanya sengaja sedikit dimasukkan ke dalam jeans sementara bagian belakangnya dibiarkan begitu saja. Rambutnya tergerai, dan wajahnya dipoles sehingga memperlihatkan sisi menakjubkan seorang Stella. Stella cantik. Terlampau cantik di mata Banyu. Yang Banyu herankan hanya satu. Kenapa bisa bisanya Stella berpakaian seperti itu untuk bepergian ke tempat umum? Pakaiannya memang tidak terlalu terbuka, tapi Stella yang Banyu kenal tidak akan mengenakan pakaian seperti itu jika ingin pergi ke luar. Yang sekarang berada di depan matanya hanyalah sosok Stella yang semalam ditemuinya sedang mabuk di pinggir jalan dengan pakaian ketat. Menggoda siapa pun yang melihatnya. "Ayo duduk!" Stella berbicara. Menyentak Banyu dari lamunannya. Banyu mengangguk dan segera menarik kursi ke belakang untuk selanjutnya diduduki olehnya. Matanya masih tidak teralihkan dari Stella yang sudah kembali duduk. "Mau langsung makan aja atau gimana?" tanya Stella. Mengabaikan kondisi perutnya yang jelas sudah sangat kenyang, Banyu mengangguk mengiyakan. "Boleh," katanya. Stella mengulas senyum tipis dan balas mengangguk. Gadis itu memanggil pelayan menggunakan tangan kanan. Dan tak lama pelayan restoran tersebut datang menghampiri. "Kamu mau pesan apa?" tanya Stella. "Apa aja." Lagi-lagi Banyu menjawab dengan wajah yang terus terfokus pada Stella. Tidak terlalu mempedulikan apa akibat dari ucapannya nanti. Stella memandang pelayan yang telah berdiri tak jauh dari posisinya. Ia berkata, "Chicken steak-nya dua, sama lemon tea dua, ya, Mbak." Kemudian tersenyum sebagai penutup perkataannya. "Baik, Mbak. Silakan ditunggu pesanannya, ya." Pelayan tersebut pergi. Dan Banyu dibuat terpaku oleh perkataan Stella. Chicken steak dan lemon tea adalah makanan kesukaannya dulu yang sering dimakan bersama Stella jika pergi ke luar. Menjadi makanan yang beberapa tahun belakangan sangat jarang dinikmati olehnya karena selalu mengingatkan dirinya dengan Stella. "Kamu pesan chicken steak sama lemon tea?" tanya Banyu. Stella mengangguk. "Kamu bilangnya 'kan terserah aku mau pesan apa aja. Jadi aku pesan makanan kesukaan aku. Ya, itu. Chicken steak sama lemon tea," ujarnya lempeng. Seketika Banyu merasa sangat malu pada dirinya sendiri yang merasa bahwa Stella memesan makanan tersebut karena masih mengingat bahwa makanan itu adalah makanan kesukaannya. Rupanya tidak. "Kenapa? Kamu mau pesan makanan yang lain aja?" tanya Stella merasa tidak enak. "Ah, gak pa-pa. Aku juga suka chicken steak sama lemon tea, kok." "Oke." Hanya itu. Stella langsung fokus pada ponselnya yang sejak tadi memang berada di atas meja. Banyu hanya memperhatikan saat tangan gadis itu menggulir layar dan sesekali terlihat seperti sedang mengetikan sesuatu. "Ngomong-ngomong, kamu apa kabar?" Tidak tahan, Banyu memulai pembicaraan. pertanyaannya berhasil mengundang perhatian Stella Dan membuat pandangannya teralihkan dari layar ponsel ke wajah Banyu. Namun, berbeda dari pandangannya tentang Stella yang ia kenal dulu, Stella yang sekarang duduk berhadapan dengannya justru menjawab dengan dinginnya. "Kamu enggak lihat? Badanku sehat, segar bugar kayak gini, dan kamu malah nanyain kabar aku?" Nada bicaranya terdengar kasar dan tidak bersahabat. Banyu seperti dihadapkan dengan seseorang yang baru dikenalnya. Angkuh, kasar, dan yang pasti tidak memiliki sisi manja. Stella yang sekarang berbicara dengannya bukan Stella yang ia kenal dulu. Banyu tidak tahu mengapa Stella bisa berubah sebegitu drastisnya sejak terakhir kali bertemu, tapi yang lebih membuatnya bingung, hatinya tetap bergetar meski diperlakukan seperti itu oleh Stella. Banyu tahu perasaannya untuk Stella masih ada, bahkan mungkin masih sama. Hanya saja jika dulu Stella berhasil menjadi satu-satunya orang yang menduduki posisi di hatinya, sekarang sudah ada seseorang yang berusaha mengambil alih posisi tersebut. Banyu bisa menjamin bahwa Mia adalah gadis paling baik yang saat ini dikenalnya, tapi dia juga tidak yakin setelah kedatangan Stella kembali, apakah Mia masih bisa menjadi satu-satunya orang yang menduduki hatinya? "Maksud aku, kita 'kan udah lama banget gak ketemu. Apa gak ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan sama aku?" Banyu berbicara lagi untuk mencairkan suasana, "misalnya tentang kehidupan kamu sebelum pindah lagi ke Jakarta, cerita tentang teman-teman kamu, pacar atau apa pun itu yang bisa kamu kasih tahu ke aku." "Ngapain aku harus ngasih tahu kamu? Kenapa juga harus ada sesuatu yang kita bicarain? Kamu 'kan bukan siapa-siapa." Banyu merasa tertohok hanya karena satu kalimat terakhir yang diucapkan Stella. Bertanya-tanya dari mana setelah belajar cara berbicara kasar seperti itu? Tapi karena sudah terlanjur bertemu, Banyu tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Stella kembali, dan setidaknya ia harus menjadi teman yang baik untuk gadis itu. Seperti dahulu. "Kalau kamu lupa, biar aku ingatkan. Tujuh tahun yang lalu itu kita teman dekat. Bisa dibilang sangat dekat. Dan sekarang pun aku masih nganggap kamu sebagai temanku. Gak ada salahnya 'kan buat ngobrolin banyak hal setelah sekian lama gak ketemu?" Stella menegakkan tubuhnya agar bisa menatap Banyu lebih leluasa. "Emang gak salah, tapi gak perlu ngelakuin itu juga kayaknya. Lagian kalau tadi papaku gak ngasih tahu kalau yang nganterin aku semalam pulang itu kamu, temen lamaku, kita mungkin gak akan ketemu sekarang," jelasnya. Banyu bertanya, "Kenapa?" Bermaksud untuk menanyakan kenapa pertemuan yang sekarang terjadi seharusnya tidak terjadi. "Karena sebenarnya aku udah lupa sama kamu. Aku ingat karena papaku ngomongin tentang kamu aja tadi pagi di meja makan. Ya, karena aku bukan orang yang gak tahu terima kasih, jadi aku mutusin buat traktir kamu makan aja." Kejam sekali. Banyu tidak menyangka bahwa Stella akan berubah sampai sejauh itu. Bicaranya tidak hanya terkesan kasar, tapi juga sangat menusuk. Setelah tujuh tahun lebih tidak bertemu, yang didapatkannya bukanlah obrolan hangat, melainkan sambutan tidak menyenangkan. "Gimana kabar mamamu, aku gak lihat dia waktu semalam nganterin kamu pulang?" Karena itulah Banyu memilih mengalihkan pembicaraan untuk terus melanjutkan obrolan tanpa harus membicarakan hal yang tidak enak. "Dia udah meninggal. Lima tahun lalu." Namun, rupanya alur pembicaraan yang dipilih oleh Banyu salah. Berharap bisa menghangatkan suasana, Banyu tidak menyangka bahwa pertanyaan yang justru mendapatkan jawaban yang mengejutkan. Wanita anggun nan lemah lembut yang sering membuatkannya brownies, bagaimana bisa sudah meninggal? "Kenapa? Bukannya mamamu itu orangnya sehat banget? Dia selalu hidup sehat." "Karena serangan jantung. Pas dibawa ke rumah sakit nyawanya udah gak tertolong." Tahu bahwa pertanyaan yang diajukannya bisa membuat luka lama kembali terbuka, Banyu menatap Stella. "Maaf ... aku gak maksud buat ungkit masalah itu," ujarnya dengan raut menyesal. Alih-alih menduga bahwa ayah Stella berselingkuh dan memiliki istri baru, kabar yang ia dapatkan justru bertolak belakang dengan hal itu. Ayah Stella bukannya berselingkuh, tapi memilih untuk hidup dengan wanita lain setelah kehilangan istrinya. "Gak pa-pa, lagian itu udah lama. Gak perlu sampai minta maaf segala." Stella tersenyum, "kamu sendiri, kayaknya karir kamu cukup gemilang? Menurut aku itu wajar banget sih emang. Secara kamu itu gak cuma modal tampang aja yang rupawan, tapi otakmu juga brilian." Dipuji seperti itu tentu saja Banyu luar biasa senang. tapi yang membuat bibirnya tersenyum kian lebar adalah cara bicara Stella yang perlahan jauh lebih terbuka dan bersahabat. "Bukan apa-apa, kok. Aku cuma berusaha meraih apa yang selama ini mau aku raih. Itu aja." "Dan itu berhasil. Iya, 'kan?" Banyu tertawa lantas mengangguk membenarkan. Karena sejak SMA cita-citanya ingin menjadi arsitek, meski belum bisa dibilang sukses benar, cita-citanya itu sudah tercapai untuk saat ini. Dan Banyu hanya berusaha menjalaninya agar ia bisa melangkah lebih jauh lagi. "Kabar orang tua kamu gimana? Mereka sehat?" Meski sudah tidak sepenuhnya mengingat wajah orang tua Banyu, Stella tetap menanyakan hal itu. Banyu sudah bersusah payah menyambung obrolan, setidaknya ia akan sedikit berusaha agar obrolan tersebut tidak terputus. "Mereka sehat. Kalau kamu mau, lain kali biar aku ajak kamu buat ketemu mereka. Mereka pasti kaget banget kalau lihat kamu." "Kaget karena aku makin cantik dan makin mempesona maksud kamu?" Banyu tertawa lagi. Mengutuk dirinya sendiri. Ternyata Stella tidak seburuk dugaannya beberapa menit lalu. Gadis itu masih memiliki sisi hangat dan menyenangkan yang bisa menghibur siapa saja. Pesanannya keduanya datang. Pelayan menata dengan baik pesanan mereka di atas meja. Stella menyambut piringnya sendiri, diikuti dengan Banyu yang juga menarik piringnya mendekat. Stella mempersilahkan Banyu agar menikmati makanannya. Dibalas Banyu hanya dengan anggukan semata. Banyu sadar bahwa perutnya sudah hampir penuh dan ia sudah kekenyangan, tapi ia terlalu menghargai pesanan Stella dan langsung menyantapnya. Mungkin makanan yang tadi dimakannya bersama Mia dan Rangga belum sepenuhnya dicerna oleh perutnya, tapi Banyu tidak peduli dan terus mengunyah dengan tenang. Sesekali Banyu akan memperhatikan Stella. Melihat cara makan gadis itu yang tidak berubah. Wajahnya tetap cantik, bahkan saat mulutnya sedang mengunyah. Dan seperti kebiasaan lama Stella yang sudah melekat erat, tak lama kemudian Stella tersedak. Gadis itu meneguk minumannya dengan serakah kemudian meminta maaf karena kecerobohannya tersebut. "Santai aja," kata Banyu terkekeh pelan. Menertawai Stella karena satu-satunya yang tidak berubah dari gadis itu adalah kecerobohannya saat sedang makan yang seringkali terburu-buru dan berakhir tersedak. "Ngomong-ngomong gimana kegiatan kamu sekarang? Kamu kerja apa setelah lulus kuliah?" "Kamu gak akan senang kalau dengar jawaban aku tentang pertanyaan itu." Stella menjawab dengan mulut yang kembali mengunyah. "Kenapa harus gak senang? Aku cuma mau tahu, kalau kamu gak mau jawab juga gak pa-pa. Aku gak akan maksa." Banyu kira Stella benar-benar tidak akan menjawab karena beberapa detik setelah itu keheningan mengambil alih, tapi rupanya Stella menjawab pertanyaannya. Mungkin keheningan yang mengambil alih semata-mata karena Stella tidak tahu ingin memulai ceritanya dari mana. "Aku bahkan gak lulus kuliah." Jawabannya santai sekali. Membuat Banyu justru heran. "Kenapa?" "Ya, karena aku di drop out dari kampus?" "Alasannya?" Banyu bertanya dengan wajah yang tengah melihat piringnya. Tangannya bergerak memasukkan makanan ke mulutnya. Mengisi kembali kekosongan di sana. "Karena melakukan hubungan intim di area kampus." Selanjutnya, suara batuk kembali memenuhi telinga Banyu dan Stella. Kali ini bukan berasal dari Stella, melainkan dari Banyu yang terlalu terkejut mendengar jawaban dari Stella. "Apa? Coba ulang. Kayaknya telingaku agak bermasalah hari ini." Stella menatap Banyu. Banyu balas menatapnya setelah meminum minumannya. "Kamu gak salah dengar. Aku bilang aku di drop out dari kampus karena melakukan hubungan intim di area kampus." Sontak saja Banyu langsung memandang sekelilingnya. Bisa-bisanya setelah mengatakan hal sevulgar itu di depan umum tanpa peduli akibatnya. Untung saja sepertinya tidak ada yang mendengar ucapan Stella karena gadis itu berbicara tidak terlalu keras. Dan jarak antara satu meja dan meja lainnya tidak terlalu dekat. "Kenapa? Kamu pasti gak nyangka banget, ya?" Stella tertawa renyah, "anggap aja aku ini Stella yang baru. Bukan Stella yang tujuh tahun lalu dikenal sama kamu. Semuanya udah beda. Aku bukan lagi gadis polos yang bisanya cuma dimanjain sama kamu. Kamu mungkin gak percaya, tapi itu kenyataannya." Kenapa bisa? Banyu bertanya dalam hati. "Abisin makanannya. Biar kita bisa langsung pulangdan urusan diantara kita selesai cukup sampai di sini aja. Kita mungkin teman lama, tapi sekarang udah jelas berbeda. Kamu juga kelihatannya masih jadi anak baik-baik, aku gak kamu kenal sama cewek kotor kayak aku?" Tanpa sadar Banyu langsung melepaskan pisau dan garpu yang dipegangnya. Menimbulkan bunyi dentingan yang membuat Stella sedikit terkejut. "Kalau kamu mikir aku bakal ninggalin kamu cuma karena kamu kayak gitu, berarti kamu udah ngehina aku. Aku bukan seseorang yang bakal menjauh cuma karena satu atau dua hal. Seburuk apa pun kamu membicarakan tentang diri kamu sendiri, di mataku kamu cuma Stella yang manja dan selalu butuh bantuanku." Untuk kali pertama setelah dua kali dipertemukan dengan Banyu, Stella takjub dengan kata-kata Banyu. Begitu menyentuh dan membuatnya terenyuh. "Oke. Berarti mulai hari ini kamu udah siap direpotin sama gadis manja kamu ini." Banyu tersenyum. "Oke," sahutnya singkat. Sangat bertolak belakang dengan apa yang dirasakannya. Hari itu, detik itu juga, Banyu merasa patah hati. Lebih dari patah hati yang selama ini pernah dirasakannya. Mengetahui bahwa orang yang sangat dicintainya sudah kehilangan keperawanannya membuatnya merasakan kehilangan yang begitu hebat. Banyu terluka, dan bersamaan dengan itu ia bertanya-tanya apa ia memiliki hak untuk marah?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN