Definition of Love; 9

1951 Kata
"Sayang, kamu mau makan apa?" Banyu menoleh ke samping. Menatap seorang perempuan yang juga tengah menatapnya. Di tangan perempuan itu terdapat buku menu yang terbuka. "Terserah kamu aja," jawab Banyu tersenyum. Saat ini Banyu sedang berada di restoran yang lokasinya tak jauh dari kantornya. Ditemani dengan kekasihnya, Mia, dan juga temannya Rangga. Ketiganya baru saja pulang bekerja dan memutuskan untuk makan bersama di salah satu restoran. Seperti jawaban Banyu, Mia memesankan makanan yang menurutnya cocok untuk Banyu dan biasa dimakan oleh Banyu. Rangga pun memesan makanan yang sama, hanya saja dengan minuman yang berbeda. "Lama-lama gue ngerasa capek banget kerja. Tiba-tiba pengen jadi keturunan konglomerat aja, supaya tinggal ngulurin tangan, terus duit langsung ngalir gitu aja." Rangga berbicara. Begitulah para manusia dewasa. Banyu hanya menggeleng. Kebanyakan anak kecil, sama seperti dirinya dulu yang pernah merasakan masa kecil, ia selalu ingin cepat dewasa agar bisa hidup mandiri dan membanggakan orang tua. Tidak dilarang ini itu dan bisa merasakan bagaimana luas di dunia dengan tangan sendiri. Namun, setelah dewasa, dunia justru terlalu luas sekaligus terlalu kejam untuk diarungi. Dan itu tidak pernah terpikirkan saat kecil dulu. Yang merasakan masa kecil ingin cepat dewasa, mencoba kebebasan, dan beradaptasi dengan dunia yang menurutnya lebih hebat lagi. Sedangkan yang sudah dewasa, setelah merasakan betapa kerasnya kehidupan, ketatnya persaingan, serta dipusingkan dengan urusan-urusan lainnya, mereka selalu ingin merasakan agar bisa kembali menjadi anak kecil yang tidak mengerti apa-apa. Polos dan hanya perlu meminta. "Lo pikir jadi anak konglomerat itu gak kerja? Pemikiran lo terlalu sempit kalau ngira jadi orang kaya itu bisa mempermudah segalanya. Duit boleh aja banyak tapi jangan lupain tanggung jawab dari mana duit itu berasal. Mereka yang kaya, mereka menjadi konglomerat atau miliarder di dunia ini, udah pasti harus usaha dari bawah juga." Rangga menatap Banyu. "Tapi 'kan kalau jadi anak orang kaya, seenggaknya gue cuma perlu nerusin usaha bokap gue. Iya, gak?" tanyanya. "Tapi sebelum ke sana lo juga perlu belajar keras, lulus kuliah S1 S2, belajar bisnis dan semacamnya, baru bisa ngelola." "Iya juga, sih." Rangga garuk-garuk kepala. Merasa sangat bodoh karena menginginkan sesuatu yang mustahil. "Jalanin aja apa yang sekarang lagi lo rintis. Nikmatin kehidupan lo yang sekarang. Supaya lo bukannya merasa terbebani, tapi bisa bersyukur sama apa yang udah lo raih." Mode bijak Banyu aktif. Rangga dan Mia tertawa. Keduanya menatap Banyu. Seperti itulah sosok Banyu di mata mereka. Tidak pernah mengeluh dan mungkin paling mengerti makna dari kata bersyukur. Banyu hampir tidak pernah menunjukkan sisi buruknya di depan Mia atau pun Rangga. Selelah apa pun keseharian Banyu dalam bekerja, Banyu selalu berhasil menanganinya dengan kepala dingin. Tidak ada keluhan apa lagi protesan untuk kehidupannya. Di mata Mia dan Rangga, selain memiliki sifat baik, Banyu juga selalu berhasil menjadi panutan keduanya. "Lagian gue pikir kerjaan kita sekarang udah lumayan banget. Mungkin lebih dari kata lumayan, bisa dibilang karir kita cukup bagus. Seenggaknya usaha kita buat sampai di titik ini gak sia-sia, itu yang harus lo tau, Rangga. Di luar sana itu banyak banget orang yang mau ada di posisi kita, jadi harusnya lo bersyukur karena bisa satu langkah di depan mereka yang ingin kayak lo." Sontak saja Rangga bertepuk tangan. Meramaikan suasana meja mereka. Beberapa pengunjung restoran yang lain bahkan sampai menoleh karena tepukan Rangga terlalu heboh dan mengundang rasa penasaran. Mereka mungkin bertanya-tanya apa sebenarnya yang membuat seseorang bertepuk tangan di tengah muka umum. "Selain banyak ngeluh, lo itu emang gak tahu malu." Banyu menggeleng lagi, "di tempat umum kayak gini itu harus bisa jaga tata krama. Berapa kali gue bilangin sama lo, jangan pernah bikin heboh kayak gitu. Malu sama pengunjung lain tau. Lo pasti ganggu mereka." Rangga hanya terkekeh pelan lantas meminta maaf kepada Banyu. "Gue kelepasan," katanya. Ya, itu Rangga. Teman Banyu yang paling heboh. Seperti perkataannya tadi, selain memalukan, Rangga juga sering sekali mengeluh padanya. Kalau sekiranya pekerjaan di kantor sedang sibuk-sibuknya dan memerlukan jam lembur, Rangga selalu membawa-bawa aturan kerja normal delapan jam meskipun tahu bahwa jam lembur itu sama artinya mendapatkan uang lebih. Dan kalau dinasehati dan merasa nasehat tersebut menampar dirinya, seperti apa yang baru saja terjadi, Rangga kerap kali bertepuk tangan untuk memuji si pemberi nasehat. "Kalian itu kenapa selalu heboh sih kalau udah berdua?" Mia yang sejak tadi hanya diam akhirnya memilih buka suara. Dan itu Mia. Pertanyaannya berhasil mengundang tatapan Banyu. Mia adalah kekasih Banyu. Hubungan keduanya sudah berjalan lebih dari dua tahun. Mia punya sifat yang lemah lembut dan sangat pengertian. Tidak hanya kepada Banyu yang notabene-nya adalah kekasihnya, tapi juga kepada orang-orang di sekelilingnya. Hubungan Banyu dan Mia berawal saat Banyu mengetahui bahwa Mia memiliki perasaan padanya. Mia lah yang menyatakan perasaannya lebih dulu. Banyu awalnya menolak karena tidak memiliki perasaan apa pun kepada Mia selain anggapan sebagai rekan kerja. Tidak lebih. Tapi lambat laun Banyu sadar bahwa perasaan Mia tulus dan ia ingin membalasnya. Dengan awal kisah cinta sepihak, lama kelamaan Banyu berhasil menumbuhkan perasaan untuk Mia. Perasaan yang juga tulus sampai saat ini. "Bukannya selalu kayak gini?" Banyu balik bertanya. Karena sering melihat pemandangan serupa, Mia sudah terbiasa dan tidak pernah terganggu dengan hal itu. Ia hanya terheran-heran kenapa Rangga terlihat jauh lebih dekat dengan kekasihnya, ketimbang dirinya? Dan Banyu selalu berbicara lebih bebas pada Rangga. "Lo kayak gak tahu kita berdua aja, Mi. Hubungan gue sama Banyu itu udah melebihi hubungan lo sama Banyu. Tapi gak perlu cemburu, karena gue masih suka sama lawan jenis." Banyu mendengkus halus. "Siapa juga yang suka sama lo?" tanyanya lantas menatap Mia, "lagian kamu juga kenapa masih harus nanya? Kamu 'kan tahu kalau Rangga itu emang selalu heboh di mana pun dia berada. Kalau dia diam, justru hal itu yang malah harus diselidiki." Benar juga. Mia tertawa kecil. Seseorang dengan kepribadian seperti Rangga memang mudah sekali menghangatkan suasana. Terkadang menjengkelkan, tapi karena selalu menjadi pembuka pembicaraan, orang seperti Rangga selalu berhasil membuat obrolan menjadi lebih asik. Dan benar, sehari saja Rangga terlihat diam, maka itu akan terasa sangat aneh. "Kalian berdua itu salah lagi ngasih tau gue kalau gue itu orang paling heboh sejagat raya," kata Rangga. Banyu mengangguk. "Emang gitu, 'kan?" "Enggak dong!" tukas Rangga cepat, "gue pernah dengar, kalau dalam lingkup pertemanan itu selalu ada orang-orang kayak gue gini. Setiap kali lo datang ke tempat baru atau nemuin tempat baru yang bikin lo harus berbaur sama teman-teman baru pula, lo pasti bakal nemu orang-orang yang gak jauh berbeda sama temen lama lo. Bakal ada yang pendiam, pemalas, suka banget selfie, tenang dan selalu bisa jadi penengah, terus pasti ada satu orang yang hadirnya selalu berhasil menghangatkan suasana. Banyak omong, humoris, walaupun terkadang emang agak aneh, orang-orang kayak gue itu berharga." "Sekarang lo seolah-olah lagi ngomong kalau lo punya kelebihan yang sangat istimewa," komentar Banyu. "Emang iya, 'kan?" "Gak juga padahal." Lucu sekali. Mia tertawa terbahak-bahak. Entah karena selera humornya yang rendah, atau memang karena pembicaraan antara Banyu dan Rangga memang selucu itu. Meskipun terkesan tenang, Banyu sebenarnya bukanlah seseorang yang mau mengalah. Terlebih jika kepada Rangga. Rangga adalah rekan kerja sekaligus teman terdekatnya sejak kuliah. Seseorang yang bisa memunculkan sedikit sifat menyebalkan seorang Banyu. "Kalian itu kalau udah ngobrol emang selalu berhasil bikin tawa orang-orang yang ada di sekitar kalian pecah," komentar Mia setelah berhasil menghentikan tawa. Bersamaan dengan itu, makanan pesanan mereka datang. Dua orang pelayan perempuan segera mengisi meja mereka sampai nyaris penuh. Rangga menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya setelah pelayan tersebut pergi. Bersemangat untuk memulai makan malamnya. Diikuti oleh Banyu dan Mia yang juga mulai menggerakkan tangannya untuk mengambil garpu dan pisau. *** Mia dan Rangga sontak menoleh ke arah banyu saat mendengar ponsel Banyu berdering. Ketiganya baru selesai makan. Baru saja. Bahkan mulut Rangga masih mengunyah, dan Mia baru saja meneguk minumannya. "Siapa?" tanya Mia. Banyu menatap layar ponselnya yang menyala. Di sana tertera beberapa digit nomor yang tidak ia ketahui. nomor tersebut jelas bukan merupakan nomor yang berada di kontaknya. Tidak ada namanya, dan ia merasa asing dengan barisan nomor tersebut. "Gak tahu. Ini nomor gak dikenal." Banyu meneguk minumannya lantas kembali menatap layar ponselnya, "Aku angkat dulu, ya. Takut penting." Melihat anggukan kepala dari Mia, Banyu segera menggeser ikon berwarna hijau dan menempelkan ponsel ke telinga. "Halo," kata Banyu. "Ini aku." Suara familier itu membuat Banyu terdiam untuk beberapa saat. Tidak perlu bertanya saja Banyu tahu siapa yang berbicara. Mia yang melihat Banyu nampak terkejut menggerakkan tangannya untuk menyentuh bahu Banyu. "Kenapa? Itu siapa yang hubungin kamu?" tanyanya. Dengan tenangnya Banyu mengangkat tangan. Meminta Mia untuk tidak berbicara dulu agar dirinya bisa fokus dengan seseorang yang ada di seberang telepon. "Ahh, kamu. Ada apa?" tanya Banyu untuk seseorang yang berada di seberang telepon. Mia dan Rangga saling pandang karena bingung. Sadar bahwa itu adalah nama asing yang baru pertama kali disebutkan oleh Banyu sejak mereka kenal dengan sosok Banyu. "Iya. Aku cuma mau tanya sesuatu buat matiin sendiri. Kamu 'kan yang semalam nganter aku pulang?" Stella bertanya di seberang sana. "Iya." Diam-diam Banyu melirik ke arah Mia dan Rangga. Ingin tahu bagaimana reaksi mereka. Dan persis seperti dugaannya, dua orang yang berada di dekatnya itu memasang wajah penasaran sekaligus bingung. "Aku dapat nomor kamu dari kartu nama yang kamu tinggalin di kamar aku. Maaf kalau aku ganggu kamu sekarang." "Enggak kok!" Banyu menyahut cepat. Terlalu cepat sampai ia tidak sadar bahwa nada suaranya terlampau tinggi dan mengundang tatapan aneh dari Mia dan Rangga. "Ah, oke. Papaku bilang kalau aku harus berterima kasih sama kamu karena kamu udah nganterin aku pulang. Rencananya sekarang aku mau ngajak kamu makan malam sebagai ucapan terima kasih, tapi kalau emang kamu lagi sibuk, gak pa-pa. Kita bisa makan lain kali." Banyu merasa sedikit kecewa pada perkataan Stella. Alih-alih mendapat ucapan terima kasih yang tulus, Stella justru berterima kasih hanya karena permintaan dari ayahnya. Tapi karena takut kehilangan kesempatan yang begitu langka, Banyu memilih menganggukkan kepalanya. "Boleh. Mau ketemu di mana?" tanya Banyu kemudian. Lupa bahwa beberapa detik lalu dirinya baru saja selesai makan. "Nanti aku kirim alamat restorannya. Kamu bisa langsung datang ke sana." Banyu lupa bahwa menyetujui permintaan Stella yang ingin mengajaknya makan malam sebagai ucapan terima kasih sama artinya dirinya kembali mengundang gadis itu memasuki kehidupannya. Karena jauh di lubuk hatinya Banyu sangat sadar bahwa dirinya menginginkan pertemuan itu. "Oke," sahut Banyu singkat. Panggilan dimatikan secara sepihak oleh Stella. Banyu mengembuskan napas panjang setelahnya. Sekian lama menunggu Stella, Banyu kira akan mendapat sambutan yang sedikit hangat setelah menemukan gadis itu kembali. Ternyata ia salah. Yang barusan berbicara dengannya nyaris seperti orang asing yang baru dikenalnya semalam. Stella berubah, jauh berbeda dari Stella yang dikenalnya tujuh tahun lalu. "Siapa yang telepon?" Mia bertanya setelah cukup lama diam. Banyu menatapnya. Menggeleng pelan kemudian berkata, "Bukan siapa-siapa. Tadi itu temen lama aku. Karena dia mau ketemu." Dengan raut yang tenang seperti biasanya. "Bukannya kamu bilang tadi itu nomor asing?" "Iya. Beberapa hari lalu itu aku sempat ketemu dia. Nah, Aku sengaja ngasih kartu nama aku supaya dia bisa gampang hubungin aku kalau mau ketemu lagi." Perkataan Banyu terdengar meyakinkan, tapi entah kenapa Mia merasa bahwa ada sesuatu yang disembunyikan. Tentu saja apa yang baru saja diucapkan oleh Banyu adalah suatu kebohongan. Mia sudah mengenal Banyu yang cukup lama. Setenang apa pun seorang Banyu, akan selalu ada saat di mana wajah Banyu terlihat seperti seseorang yang sedang berbohong. Persis seperti sekarang. "Jadi kamu kapan mau ketemu dianya?" Meski begitu Mia tidak ingin bertanya lebih jauh sebagai bentuk kecurigaannya. "Setelah dari sini. Habis aku nganterin kamu pulang aku langsung ketemu temenku. Sebentar, kok. Nanti aku kabarin ke kamu kalau aku udah pulang." Mia tersenyum. "Oke," katanya singkat. Sementara keduanya berbicara, Rangga hanya memperhatikan sambil menyimak inti dari pembicaraan Banyu dan Mia. Tidak ingin menyela, tidak ingin juga berkomentar. Hanya menjadi seseorang yang tidak terlalu dipedulikan kehadirannya sampai Rangga rasanya ingin menghilang dari hadapan Banyu dan Mia saat itu juga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN