Stella terbangun dengan rasa pening yang nyaris memecahkan kepalanya. Berulang kali ia menggeleng untuk menghalau rasa sakit di kepalanya itu, tapi tidak berhasil. Suasana sudah terang saat matanya melirik ke arah jendela yang tirainya sudah dibuka. Ia meneliti penampilannya sendiri. Pakaiannya sudah diganti, dan yang mengganti sudah pasti perempuan muda yang menumpang di rumahnya.
Stella tidak ingat dengan siapa dirinya pulang semalam, yang ia ingat hanya satu, bahwa ia mengetuk kaca mobil yang berhenti di pinggir jalan seusai diturunkan di pinggir jalan oleh kekasihnya. Pemilik mobil tersebut mengijinkannya untuk memasuki mobilnya, dan sepertinya laki-laki itu benar-benar mengantarnya pulang.
Tapi bagaimana laki-laki itu tahu alamatnya?
Stella mengendikkan bahunya acuh. Tidak terlalu peduli. Mungkin sebelum pingsan semalam, ia tempat memberitahu alamatnya sehingga sekarang ia berakhir di atas ranjang kamarnya.
Langsung saja Stella menyibak selimut. Beringsut turun dari ranjang dan keluar dari kamarnya. Di anak tangga teratas, ia menguap malas, tapi tetap menurun anak tangga hingga sampai di lantai dasar rumahnya. Langkahnya membawa Stella ke arah meja makan. Di sana, ayahnya sudah duduk bersama perempuan itu. Perempuan yang sangat dibencinya.
Sesampainya di dekat meja, Stella menghentikan langkah.
"Sayang, kamu udah bangun?" tanya Airin.
Stella mengabaikannya dan menarik kursi yang berada tepat di samping kursi ayahnya. Airin hanya tersenyum melihat sikap dingin dari Stella. Terhitung sudah hampir empat tahun Airin menikahi ayah Stella. Dan selama itu, Stella tidak pernah menganggapnya ada. Pernikahannya tidak mendapatkan persetujuan sama sekali dari Stella. Sangat berat dijalani, karena selama ini Stella bukan hanya menganggapnya tidak ada, tapi terus mengusiknya dengan perkataan kejam.
"Sayang, kamu mau sarapan pakai apa? Nasi goreng atau roti aja?" Airin bertanya lagi.
Stella menatapnya tajam. "Enggak usah sok akrab sama gue, dan jangan pernah manggil gue pakai sebutan 'sayang' segala. Gue bukan anak lo!" ujarnya kasar.
Airin diam. Glen mengembuskan napas panjang. Ia mengusap kepala Stella yang duduk di sampingnya sambil menatap Airin lantas menganggukan kepala. Meminta agar istrinya itu tidak emosi.
"Papa tahu kalian itu emang masih sama-sama muda, makanya sering berantem. Tapi 'kan gak ada salahnya berusaha buat akur."
"Papa!" Stella menatap ayahnya, "sampai kapan pun aku gak akan akur sama dia. Lagian dia bukan mamaku, dan gak akan bisa gantiin posisi mamaku."
"Stella, kamu gak boleh ngomong—"
"Udah, Pa. Gak pa-pa," Airin menyela dengan nada lembut dan pengertian. Ia kembali berdiri. Bersiap mengambilkan nasi goreng untuk Stella. "Biar mama ambilin nasi goreng buat kamu, ya?"
"Gak usah! Gue bisa ambil sendiri!" tukas Stella cepat.
Airin diam dan kembali duduk. Stella mengambil sarapannya sendiri. Suasana kembali dingin. Selalu seperti itu. Tidak pernah ada pembicaraan. Sekalipun ada, hanya berisi pertengkaran seperti yang terjadi beberapa detik lalu. Stella tidak pernah mau menerima kebaikan dari Airin. Meski perempuan itu yang selama hampir empat tahun mengurusnya layaknya anak kandung sendiri.
Mungkin Stella jengah, mungkin juga tidak terima. Bagaimanapun usia Airin dan dirinya tidak jauh berbeda. Ayahnya menikahi Arin saat perempuan itu masih berusia dua enam, dan sekarang usianya tiga puluh. Empat tahun lebih tua dari Stella. Karena hal itu Airin jauh lebih cocok untuk menjadi kakaknya, ketimbang ibu sambungnya.
"Oh, iya. Papa mau tanya sama kamu. Kamu udah ngehubungin Banyu?"
Stella menoleh ke arah ayahnya. Tidak mengerti apa maksud dari pertanyaan ayahnya. "Banyu? Banyu siapa?" Ia balik bertanya.
"Banyu teman lama kamu. Kamu udah kenal sama dia dari SMP. Dulu 'kan kamu manja banget sama dia. Apa-apa harus sama dia. Bahkan bangun pagi pun gak akan bangun kalau bukan Banyu yang bangunin. Kamu lupa?"
Sekilas ingatan samar tentang masa lalu mampir di kepala Stella. Tentang laki-laki yang selalu diandalkan olehnya. Ia tidak terlalu mengingat wajahnya, tapi seperti perkataan ayahnya, ingatan bahwa dirinya yang begitu manja dengan sosok laki-laki itu benar ada dan masih tersisa. Meski hanya sekelebat ingatan tipis yang terasa tidak nyata.
"Terus kenapa aku harus hubungin dia? Nomornya aja aku gak tahu. Lagian mana mungkin dia masih ingat sama aku, aku aja udah gak ingat sama dia. Secara 'kan kita itu udah lama banget gak ketemu, jadi udah pasti sekarang dia udah punya pacar atau bahkan udah nikah. Aku gak peduli dan gak mau hubungin dia juga. Buat apa?"
Glen meletakkan sendok dan pisau yang tengah dipegangnya di atas piring yang masih berisi roti. "Kok kamu bilang kayak gitu? Yang nganterin kamu semalam itu Banyu, jadi seengggaknya kalau kamu udah gak mau berhubungan lagi sama dia, kamu harus berterima kasih tentang semalam."
Stella terdiam. Kilas balik tentang kejadian semalam sebelum dirinya pingsan kembali muncul. Kali ini jauh lebih jelas, daripada saat dirinya baru bangun tidur tadi.
Kamu Stella, 'kan?
Ini aku.
Banyu, teman lama kamu.
"Semalam itu dia basah-basahan. Dia gendong kamu dari mobil sampai ke kamar kamu. Papa gak tahu gimana kalian bisa ketemu lagi, tapi papa yakin kalau kamu pasti maksa dia buat nganterin kamu. Iya, 'kan?"
Stella mengangguk.
"Gimana cara kalian ketemu?" tanya Glen.
"Semalam aku habis minum-minum sama Aldo. Di jalan, pas aku lagi pulang naik taksi, jelaskan aja aku muntah di dalam taksi karena terlalu banyak minum, makanya aku diusir dari taksi dan jalan kaki padahal lagi hujan deras. Pas lagi jalan kan aku lihat ada mobil yang berhenti di depan warung kecil gitu. Dia sempat beli minum, tapi pas masuk lagi ke dalam mobilnya, aku langsung minta anterin pulang sama dia."
Stella memilih berbohong. Tidak ingin mengatakan yang sebenarnya.
Glen hanya fokus pada nama Aldo yang disebutkan oleh Stella. "Kamu itu 'kan udah sering berantem sama pacarmu yang b******k itu. Bukannya kamu bilang udah putus sama dia? Kenapa masih mau aja main sama dia? Lagian semenjak kenal sama dia kamu itu malah jadi gak bener kayak gini. Suka mabuk-mabukan dan keluyuran gak jelas," paparnya sedikit kesal.
Stella memang pernah mengatakan itu, tapi ia hanya berbohong, agar ayahnya tidak terus berbicara buruk tentang Aldo.
"Ya, namanya minum-minum itu 'kan gak harus sama pacar. Yang penting aku seneng-seneng. Papa bilang selama aku bahagia, aku bebas melakukan apa pun yang aku mau. Iya, 'kan?"
"Tapi enggak dengan mabuk-mabukan apalagi sampai keluyuran gak jelas. Kamu itu kalau udah keluar malem bakal susah dihubungin dan gak mau ngangkat telepon papa. Padahal papa itu selalu khawatir sama kamu."
"Udah, deh, Pa. Aku malas berantem sama Papa."
Glen menghela napas panjang. Memilih untuk mengalah, daripada putrinya harus marah dan pertengkaran kembali terjadi.
"Ngomong-ngomong gimana reaksi kamu pas pertama lihat Banyu? Kayaknya dia itu tumbuh jadi cowok yang gagah dan lebih ganteng. Apa kamu gak kaget lihat dia."
Stella selesai dengan sarapannya. "Papa gimana sih? Di awal aku udah bilang kalau aku lupa siapa Banyu, jadi mana mungkin kalau aku langsung negur dia pas pertama ketemu. Semalam itu aku gak tahu kalau yang nganterin aku itu Banyu."
"Papa juga gak nyangka kalau dia itu Banyu. Kamu harus matiin kalau kamu bakal bilang terima kasih sama dia. Kalian juga pasti bisa berhubungan kayak dulu lagi. Papa lihat Banyu gak berubah sama sekali, dia masih sesopan dan seramah dulu. Pertemuan semalam itu mungkin bukan cuma sekadar kebetulan."
Airin hanya tersenyum melihat percakapan antara suaminya dan putrinya. Hampir tidak pernah ada pembicaraan di meja makan sejak ia memasuki keluarga Stella dan menjadi ibu untuk gadis itu. Tapi hari ini, meskipun ia tidak hanya menjadi bagian dari pembicaraan antara suaminya dan putrinya, ia sangat senang merasakan kehangatan dari pembicaraan mereka.
"Oke, nanti aku bilang terima kasih sama dia."
Glen tersenyum. "Jangan lupa ajak dia buat sering-sering main ke sini. Papa mau cerita banyak hal sama dia, dan kayaknya dia juga harus cerita banyak hal sama Papa."
Stella menggeleng. Menolak permintaan ayahnya. "Aku bakal berterima kasih sama dia, tapi enggak dengan mengundang dia buat main ke sini. Lagian dia juga belum tentu mau," ujarnya jengah.
"Pasti mau. 'Kan semalam Papa langsung yang undang dia."
Stella mendengkus halus. Masih belum mempercayai apa yang terjadi. Ia tidak menyangka bahwa yang namanya kebutuhan itu benar-benar ada di dunia ini dan sepertinya ia baru mengalami hal itu. Bagaimana mungkin setelah tujuh tahun lebih tidak bertemu, ia dipertemukan kembali dengan seseorang dari masa lalunya. Dari begitu banyaknya orang yang ada di dunia ini, Stella ingin tahu kenapa ia dipertemukan kembali dengan Banyu?
Entah Tuhan akan memberikan takdir yang seperti apa untuknya dan Banyu, tapi Stella tidak terlalu peduli. Ia hanya harus berterima kasih dengan Banyu, dan itu sudah cukup. Tapi...
"Gimana cara aku berterima kasih sama dia? Aku bahkan gak tahu apa dia masih tinggal di rumah yang lama atau enggak, dan aku juga gak punya nomor telepon dia." Stella mengendikkan bahunya acuh. Mulai tidak peduli dengan sosok Banyu yang sempat melintas di kepalanya.
Ayahnya menggeleng pelan. "Makanya kalau bangun tidur itu jangan langsung lari ke bawah buat sarapan. Mandi dulu kek, cek HP dulu kek buat nyari tahu siapa yang barangkali hubungin kamu, atau seenggaknya cuci muka dulu supaya kelihatan lebih segar," ujar dia tidak habis pikir.
Tingkat kemalasan Stella itu sudah di ambang batas. Stella bahan tidak pernah peduli apa pun kalau baru bangun tidur. Berbeda dengan gadis di luar sana yang kebanyakan sering mengecek ponselnya selepas bangun tidur, atau mereka juga yang lebih memperhatikan kebersihan dan langsung lari ke kamar mandi begitu membuka mata. Stella tidak begitu. Yang ada dipikirannya saat baru bangun tidur adalah makanan jika perutnya memang lapar, kalau tidak Stella akan berdiam diri di atas ranjang sampai benar-benar berhasil mengumpulkan niat untuk mandi.
"Semalam itu Banyu ninggalin hadiah buat kamu. Dia bilang sama papa kalau kamu bangun papa diminta buat nasi pesan itu. Coba cek di atas nakas kamu setelah makan."
Mungkin karena terlanjur penasaran, mungkin juga karena perutnya memang sudah kenyang, Stella langsung mendorong kursi ke belakang dan melesat cepat menuju kamarnya lagi. Mengabaikan Glen dan Airin yang menatapnya kebingungan.
Sesampainya di kamar, Stella langsung berlari ke arah nakas. Matanya menangkap selembar kertas tipis yang diletakkan di bagian pinggir. Nama Banyu Arisatya tertera di kertas tersebut saat Stella menyentuhnya. Dengan informasi nomor telepon yang berada di bagian bawah nama.
Ingatan Stella tentang masa lalu sudah terkubur terlalu jauh. Sampai Stella sendiri rasanya lupa bagaimana hari yang dialami bersama Banyu. Tidak terlalu banyak ingatan yang tersisa, jika saja tadi ayahnya tidak berbicara perihal Banyu, Stella yakin dirinya tidak akan bisa kembali mengingat apa yang pernah terjadi tujuh tahun lalu.
Namun, melihat kartu nama yang kini tengah dipegangnya, Stella yakin bahwa Banyu akan membawa kembali ingatan yang sudah terlupakan. Jika ia bertemu kembali dengan sosok Banyu, mustahil laki-laki itu tidak mengingatkannya tentang masa lalu. Mungkin lain cerita dengan apa yang terjadi semalam. Karena tengah dalam keadaan mabuk, ia bahkan tidak mengerti apa yang dikatakan Banyu. Rupanya cowok itu memanggilnya, menegaskan bahwa dirinya masih sangat dikenal olehnya.
Hari ini Stella diberitahu bahwa masa lalunya menjadi sesuatu yang tidak sepenuhnya terlupakan. Kenangan-kenangan di masa lalunya hanya terkubur jauh di lubuk hati dan ingatannya, tapi tidak pernah terhapus. Ada bagian yang mungkin menjadi sesuatu yang amat berharga dan itu tidak boleh hilang dari ingatannya. Mungkin pernah ada juga hari di mana ia merasakan kebahagiaan yang utuh, sebelum akhirnya ia menemukan kehancuran seperti sekarang.
Jika Banyu berhasil membangkitkan ingatannya tentang masa lalu, Stella tidak tahu apakah ia benar atau tidak, tapi jika dulu ia sangat manja kepada Banyu seperti perkataan ayahnya, itu artinya Banyu adalah sosok yang cukup berharga. Entah esok, atau kapan, saat ia bisa menyempatkan diri untuk bertemu dengan Banyu, ia ingin tahu seperti apa sosok Banyu yang sekarang.