16 September 2019
Yang diingat oleh Banyu tentang Stella hanyalah sikap manja dan malasnya.
Dulu, Stella nyaris tidak bisa melakukan apa pun tanpa bantuan darinya. Mulai dari bangun pagi, mengerjakan tugas sekolah, bahkan hal-hal remeh lainnya yang sebenarnya bisa dilakukan sendiri. Stella cenderung selalu mengandalkan orang-orang di sekitarnya. Menjadikannya gadis paling manja di mata Banyu.
Namun, siapa sangka yang dilihat Banyu sekarang jauh berbeda dengan Stella yang dikenalnya. Berpakaian terlalu terbuka, dan tercium aroma alkohol dari mulutnya. Banyu yakin betul bahwa yang ada di sampingnya adalah Stella yang ia kenal, yang masih membuatnya tidak percaya adalah sosok Stella dengan segala perubahannya.
"Stella!" panggilnya.
Gadis itu sudah terlelap begitu saja tanpa mempedulikan sedang berada di mobil siapa dirinya.
Banyu memandangi Stella sekali lagi. Melepas rindu yang selama ini ditahannya. Entah Stella masih mengingatnya atau tidak, yang pasti ia sangat senang bisa bertemu kembali dengan gadis itu.
Tujuh tahun lalu, sejak pertama kali Stella pindah dari Jakarta, tidak ada satu hari pun yang Banyu lewatkan untuk tidak memikirkan Stella. Setiap hari, Banyu hanya bisa menunggu agar Stella menghubunginya lebih dulu karena ia tidak mau mengganggu. Meski tahu mendengar suara Stella malah membuat perasaan rindu kian kuat, telepon dari Stella tetap menjadi sesuatu yang selalu Banyu tunggu.
Hubungannya dengan Stella masih hangat bahkan setelah enam bulan berlalu sejak perpisahan. Stella kerap menghubunginya minimal sehari satu kali. Membicarakan tentang banyak hal mengenai hari-harinya. Tentang suasana di kampus, kebiasaan baru, atau teman barunya. Stella juga sering curhat bahwa dirinya kerap bangun terlambat karena tidak ada Banyu.
Ya, semuanya masih berjalan menyenangkan. apa yang Stella katanya di telepon bahkan masih terekam jelas di ingatan Banyu hingga sekarang. Sebelum semua pembicaraan terasa hambar dan dingin seiring berjalannya waktu. Jalan satu tahun, Stella sudah mulai jarang menghubunginya. Banyu masih bisa memaklumi karena mungkin semenjak kuliah Stella menjadi lebih sibuk. Tapi lambat laun Banyu justru tidak bisa menghubungi Stella.
Nomor telepon Stella tidak bisa dihubungi. Semua akun sosial medianya tidak lagi aktif. Banyu menghabiskan waktu untuk mencari tahu tentang Stella, tapi tidak ada apa pun yang ia temukan selain hasil yang nihil. Stella benar-benar memilih untuk memutuskan hubungan dengannya. Orang yang selama hampir enam tahun menjaga, melindungi, dan memanjakannya.
Awalnya Banyu mengira bahwa mungkin itulah yang terbaik. Ia dan Stella mungkin bukan seseorang yang ditakdirkan untuk bertemu kembali apalagi bersatu menjadi sepasang kekasih. Karena itulah Banyu memutuskan untuk memulai kehidupan yang baru tanpa Stella. Banyu bahkan tidak menanyakan keadaan Stella pada orang tua gadis itu, karena tahu bahwa mungkin itu yang diinginkan Stella. Ia memilih berhenti, dengan harapan menghilangnya perasaan.
Tapi siapa sangka di tengah usaha Banyu melupakan Stella, gadis itu justru muncul kembali di waktu yang tidak terduga. Yaitu sangat Banyu sudah memiliki seorang kekasih. Meski tidak bisa dipungkiri, saat ini, detik ini, melihat Stella berada tepat di depan matanya membuat Banyu sangat lega. Selama ini Stella tidak pernah bisa dihubungi lagi olehnya, dan sekarang gadis itu muncul dalam keadaan yang baik-baik saja. Rasanya Banyu merasa keterlaluan kalau dirinya tidak mensyukuri hal itu.
"Aku senang kamu baik-baik aja." Banyu mengulas senyum tipis.
Sejenak, Banyu melupakan sosok Mia yang sudah mendiami hatinya. Ia menggerakan tangannya untuk menyentuh pipi Stella lembut. Gadis itu melenguh, dan ia memutuskan untuk segera menjauhkan tangannya.
Banyu tidak tahu sudah berapa lama ia memilih duduk diam di samping Stella dengan hanya memperhatikan gadis itu. Rasanya waktu bukan menjadi hal yang akan dipedulikan olehnya untuk saat ini. Banyu tidak peduli bahwa besok dirinya harus bangun pagi dan bekerja seperti biasa, Banyu juga tidak peduli bahwa waktu sudah menunjukkan dini hari, yang ingin ia lakukan hanyalah memperhatikan Stella.
"Aku gak nyangka kalau kita bakal ketemu dalam keadaan yang kayak gini. Asal kamu tahu, begitu aku gak berhubungan lagi sama kamu, gak pernah sedikit pun kamu menghilang dari hati aku." Banyu mengambil beberapa anak rambut yang jatuh ke wajah. Meletakkan anak rambut basah itu ke belakang telinga Stella.
Sadar bahwa dirinya harus segera mengantarkan Stella pulang, Banyu memilih untuk mencari cara lain, daripada menanyakannya langsung kepada Stella. Ia membuka resleting tas selempang Stella. Untunglah bagian luar tas yang dipakai Stella tahan air sehingga bagian dalamnya tidak basah sama sekali.
Hanya ada dompet dan ponsel di sana. Banyu mengeluarkan dompet berwarna abu dari dalam tas selempang Stella lantas segera membukanya. Ada beberapa lembar uang ratusan ribu di sana. Kartu kredit, selembar foto yang memperlihatkan Stella dan ibunya, dan kartu tanda pengenal.
Langsung saja banyak menarik kartu tanda pengenal. Tersentak saat membaca keterangan yang ada di sana. Jelas tertulis bahwa di kartu itu Stella tinggal di Jakarta. Hal itu membuktikan bahwa Stella sudah pindah lagi ke Jakarta dan ia tidak mengetahui hal itu. Dan yang membuat hati Banyu tercubit adalah tanggal pembuatan tanda pengenal tersebut rupanya terjadi tiga tahun lalu.
Artinya, Stella sudah pindah lagi ke Jakarta sekitar tiga tahun lalu.
***
Banyu memperhatikan rumah dua lantai yang berada berpuluh meter dari posisinya. Ia melihat lagi alamat di kartu tanda pengenal Stella, menyamakannya sekali lagi dengan rumah yang ada di depannya. Dan hasilnya sama. Rumah besar itu adalah rumah Stella.
Hujan belum juga reda. Dan suasana di kompleks perumahan Stella sudah sangat sepi. Karena tidak ada pilihan lain, Banyu memilih untuk turun dari mobil. Bergegas ke arah pagar rumah tersebut. Menerobos derasnya hujan yang benar-benar tidak bisa diajak kompromi untuk setidaknya berhenti sepuluh menit saja selama dirinya berada di luar mobil.
Gerbang rumah yang ada di hadapannya terkunci, tapi untunglah tinggi pagarnya hanya sebatas pinggang sehingga Banyu bisa dengan mudah melompatinya. Melewati pekarangan rumah Stella, sampailah Banyu di depan pintu. Tubuhnya menggigil kedinginan. Berulang kali Banyu menekan bel, mengetuk pintu, tapi tak juga mendapat jawaban. Ia memeluk tubuhnya sendiri untuk menghalau udara yang memaksa masuk ke dalam pori-pori kulitnya. Hampir lima menit berdiri sambil terus menekan bel juga mengetuk pintu, barulah pintu bercat putih itu terbuka. Menampilkan seorang perempuan yang membuat Banyu mengerjapkan mata.
Yang ada di depannya bukanlah ibu dari Stella. Cenderung terlihat jauh lebih muda, mungkin tidak jauh berbeda dengan usianya, dan sedikit lebih tinggi dari ibu Stella. Meski sudah lama tidak bertemu, Banyu yakin masih bisa mengenali ibu Stella hanya dalam sekali lihat, tapi yang kini berada di hadapannya memanglah orang asing. Ia tidak mengenalnya, dan sepertinya perempuan itu pula tidak mengenalnya.
"Ada apa, ya?" Wanita itu bertanya.
Banyu tersentak dari lamunannya memperhatikan perempuan itu. Ia segera menyahut, "Maaf, sepertinya saya salah rumah. Permisi." Sebelum pergi Banyu sempat membungkukkan sedikit tubuhnya sebagai permintaan maaf karena telah mengganggu malam-malam.
Saat Banyu memutar tubuhnya dan berjalan dua langkah menjauhi wanita itu. Suara perempuan itu kembali terdengar.
"Tunggu!"
Sontak saja Banyu kembali menoleh. Rupanya perempuan tersebut keluar dari rumahnya dan berada satu langkah di depan pintu.
"Apa kamu pacar anak saya? Kamu ke sini ingin mengantarkan anak saya, 'kan?" tanya si perempuan.
Banyu membulatkan mata. Ia segera memutar tubuhnya. Anaknya?
"Stella. Nama anak saya Stella." Perempuan itu kembali berbicara seolah ingin menegaskan kepada Banyu.
Sekali lagi Banyu memperhatikan perempuan yang berdiri di depannya. Menelitinya dari atas ke bawah, dan tetap tidak menemukan kemiripan pada perempuan yang yang tujuh tahun lalu dilihatnya. Apa ayah Stella menikah lagi? Dan perempuan ini ibu tirinya?
Buru-buru Banyu menggeleng. Keluarga Stella adalah keluarga paling harmonis yang dilihatnya. Bahkan bisa dibilang jauh lebih harmonis, daripada keluarganya sendiri. Ayah Stella amat sangat mencintai ibu Stella. Dan ibu Stella bukan seseorang yang akan berpaling pada orang lain. Tapi apa-apaan yang dilihatnya sekarang ini?
"Maaf, saya bertanya apa kamu mengantarkan anak saya?" Perempuan yang berdiri di depan Banyu kembali berbicara. Mengagetkan Banyu.
"Ah, maaf." Banyu tersenyum kikuk, "iya, saya ke sini karena ingin mengantarkan Stella. Dia mabuk dan pingsan di mobil saya."
"Astaga. Dasar anak itu." Perempuan itu nampak kesal, tapi di sisi lain tergambar jelas raut kekhawatiran di wajahnya. "Sebentar. Saya mau ambil payung dulu. Setelah itu kita ke mobil kamu."
Perempuan itu langsung memutar tubuhnya tanpa menunggu jawaban dari Banyu. Tidak sampai dua menit, dia datang kembali dengan membawa dua buah payung. Satu payung diserahkan kepada Banyu, tapi Banyu menolaknya.
"Pakaian saya sudah terlanjur basah, jadi saya gak perlu payung."
Banyu berjalan lebih dulu untuk kembali menembus hujan. Perempuan yang diduga adalah ibu tiri Stella mengikuti dengan membawa satu payung yang tertutup di tangannya.
Sampai di depan gerbang, keduanya berhenti. Banyu kembali memandang ibu tiri Stella.
"Maaf, tapi tadi pagarnya terkunci, jadi saya terpaksa lompat buat ngelewatin pagarnya."
Tidak ada jawaban. Perempuan yang berdiri di samping Banyu maju lebih dulu dan segera membuka gembok. Rupanya sudah ada kunci di tangannya, dan Banyu tidak menyadari hal itu.
Setelah pagar terbuka, keduanya kembali berjalan ke arah mobil Banyu. Banyu membuka pintu di samping kemudi.
"Bisa kamu gendong Stella sampai ke kamarnya?" Wanita itu bertanya.
Banyu mengangguk. Langsung saja Banyu membopong Stella. Dan setelah mendorong pintu agar kembali tertutup, sebuah payung menaunginya dan Stella. Rupanya satu payung yang sejak tadi dibawa oleh ibu tiri Stella digunakan untuk menaungi putrinya.
Keduanya kembali berjalan melewati pekarangan dengan Banyu yang membopong Stella. Di luar pintu, payung yang dipakai ibu tiri Stella atau yang digunakan untuk memayungi Banyu diletakkan begitu saja di lantai. Banyu dituntun memasuki rumah luas tersebut. Menaiki anak tangga dan berakhir di depan sebuah pintu.
"Ini kamar Stella, kamu tolong bawa masuk dia ke sana. Saya bakal bangunin ayah Stella supaya bisa ngasih baju ganti buat kamu."
"Eh, gak usah, Tante. Saya bisa langsung pulang aja," sahut Banyu menggeleng.
Perempuan itu tersenyum. Meneliti Banyu yang basah kuyup. "Kalau kamu hujan-hujanan lagi dan maksa buat pulang, kamu bakal demam. Seenggaknya sebagai ucapan terima kasih saya mau kamu pakai baju yang kering dari sini." Dan lagi, perempuan itu pergi tanpa menunggu jawaban dari Banyu. Menuju pintu lain yang ada di lantai yang sama.
Susah payah Banyu mendorong pintu kamar Stella dan membawa gadis itu masuk untuk kemudian dibaringkan di sebuah ranjang besar berlapiskan seprai berwarna biru muda. Warna kesukaan Stella.
Kamar Stella jauh lebih berbeda dari kamar yang dulu pernah ditempatinya dan sering didatangi oleh Banyu. Jika kamar lama Stella terlihat ramai dengan berbagai macam hiasan, kamar Stella yang sekarang cenderung lebih sepi. Tidak ada frame foto, tidak ada lukisan, hiasan dinding lainnya, udah di atas ranjang tidak ada boneka sama sekali. Benda berbulu yang sejak dulu sangat disukai oleh Stella.
Banyu memandangi Stella yang sudah meringkuk nyaman di atas ranjangnya. Bertanya-tanya sebenarnya apa yang mengubah sikap Stella? Bagaimana orang tuanya bisa bercerai dan Stella bisa hidup bersama ayahnya? Dan bagaimana Stella menjalani hari-harinya selama ini?
Ketika Banyu tengah disibukkan dengan berbagai macam pikiran yang seliweran di kepalanya, pintu kamar terbuka. Menampilkan perempuan yang tadi mengantarnya dan seorang pria yang sangat dikenal Banyu dulu. Keduanya mendekati Banyu. Glen, ayah Stella, terkejut saat mendapati wajah familier yang berdiri di samping ranjang putrinya.
"Banyu? Kamu Banyu, 'kan?" tanya Glen mendekati Banyu dengan lebih semangat.
Sampai di depan Banyu, Glen menepuk pundak banyak beberapa kali. Memperlihatkan kekagumannya di wajah keriputnya. Seolah masih tidak menyangka bahwa yang saat ini berada di depan matanya adalah sosok laki-laki yang dulu sudah dianggap seperti anaknya sendiri.
"Iya, Om. Saya Banyu." Banyu mengulurkan tangan. Disambut hangat oleh Glen, yang langsung dicium bagian punggungnya oleh Banyu.
"Astaga, saya gak nyangka bisa ketemu kamu lagi. Sudah berapa lama kita tidak bertemu? Lima tahun? Atau malah enam tahun?"
Banyu mengulas senyum tipis. "Tepatnya tujuh tahun lebih, Om," ralatnya kemudian.
Sekali lagi Glen memandangi Banyu. Menggeleng tidak percaya. "Kamu tumbuh menjadi laki-laki yang gagah dan sangat tampan pastinya. Persis seperti ayahmu. Bagaimana kabar mereka?"
"Alhamdulillah baik, Om. Mereka sehat-sehat aja."
Glen mengangguk-angguk. Baru teringat sesuatu, ia segera menarik tangan istrinya. "Ini Airin. Ibu tiri Stella," katanya memperkenalkan.
Mendengar hal itu, Banyu tahu bahwa dugaannya tidak salah. Banyu mengangguk sambil mengulas senyum tipis kepada perempuan yang rupanya bernama Airin tersebut. Dan Airin balas tersenyum tak kalah ramah.
Banyu masih bertanya-tanya bagaimana bisa ayah Stella mengkhianati ibu Stella? Apakah karena wanita yang saat ini berdiri di hadapannya jauh lebih cantik dari ibu Stella?
"Selama ini Stella tidak pernah membawa kamu main ke sini. Dia juga tidak pernah menceritakan tentang kamu. Saya kira kalian tidak pernah saling bertemu lagi semenjak kami pindah lagi ke Jakarta, tapi siapa sangka sekarang kamu justru berdiri di hadapan saya."
Banyu memandang Stella. Gadis itu menggeliat sambil menarik selimut naik. Mungkin tidak sadar bahwa bajunya basah. "Saya memang tidak pernah bertemu dengan Stella. Ini adalah pertama kalinya sejak terakhir kali kami bertemu," jelas Banyu kemudian.
"Bagaimana bisa kalian—"
"Pa..." Tahu bahwa pembicaraan akan semakin panjang, Airin menyela perkataan suaminya.
"Ah, ya. Ayo ikut saya. Kamu harus berganti pakaian. Pakaian yang sekarang kamu pakai sangat basah."
Tapi lagi-lagi Banyu menolaknya dengan menggeleng. "Tidak perlu, Om. Sekarang sudah terlalu malam dan saya harus pulang karena besok harus bekerja. Terima kasih untuk tawarannya, tapi saya bisa langsung berganti pakaian jika sudah sampai di rumah."
Glen dan istrinya saling pandang. Glen yang pertama memandang Banyu dan mengangguk mengiyakan.
Sebelum Banyu benar-benar pamit, ia mengeluarkan dompet dari sakunya dan mengambil satu kartu nama yang selalu ada di sana. Meletakkan kartu nama tersebut di atas nakas yang berada di samping ranjang Stella.
"Tolong sampaikan pada Stella kalau saya meninggalkan sesuatu untuk Stella."
Setelah itu, Banyu benar-benar pulang. Ditemani oleh Airin yang mengantarnya sampai depan pintu.