Definition of Love; 6

2132 Kata
16 Mei 2012 Pagi itu cerah sekali. Matahari bersinar dengan terangnya. Menjadi sambutan yang baik untuk siapa pun yang bersiap memulai hari baru. Tapi tidak untuk Banyu. Cerahnya pagi seolah dengan terang-terangan mengejeknya yang justru tengah dilanda kesedihan. Banyu berdiri di depan pagar rumah Stella. Kesibukan terpampang jelas di matanya. Beberapa orang keluar masuk dari rumah Stella. Membawa berbagai macam barang yang kemudian diletakkan di atas mobil pick up. Setelah diam cukup lama, Banyu memutuskan untuk melewati pagar rumah Stella. Memilih berjalan dengan tempo pelan menuju pintu utama. Ada kedua orang tua Stella yang sedang sibuk sekali. Mengatur barang-barang yang akan dibawa dan menyuruh orang-orang yang akan membawanya agar berhati-hati. Meski sesibuk itu, keduanya menyadari kehadiran Banyu. Anggun yang pertama bergerak mendekat. Menggeser Banyu yang berdiri di depan pintu agar bergegas masuk. "Kamu kok baru datang? Dari tadi itu Stella nanyain kamu. Dia mau ke rumah kamu, tapi juga lagi sibuk banget di atas, jadi gak sempat. Ini 'kan hari terakhir Stella ada di Jakarta, jadi katanya dia tuh mau lebih banyak ngabisin waktu sama kamu pagi ini." "Semalam itu aku begadang, Tan. Nonton film sampai jam dua pagi, jadi sekarang baru bangun." Anggun mengusap bahu Banyu. "Ya udah, gak pa-pa. Mendingan sekarang kamu ke kamar Stella. Tante yakin pas sampai di sana dia pasti marah-marah sama kamu karena kamu telat datang." Banyu hanya mengangguk. Anggun bergegas pergi dan Banyu ikut berlalu menuju kamar Stella. Banyu ingat, semalam yang di lakukan hanya berdiam diri di atas ranjang dengan televisi yang menyala. Bukan karena benar-benar menonton film, tapi karena dirinya tidak bisa tidur untuk menerima kenyataan di hari ini. Rasanya hampir saja semalam Banyu bergegas keluar dari rumahnya untuk menemui Stella, tapi tidak sampai dilakukan karena takut mengganggu keluarga Stella. Alhasil, malam panjang yang semalam terasa lambat sekali berjalan itu berhasil dilalui olehnya tanpa harus pergi ke rumah Stella. Ada sedikit drama di baliknya. Banyu sempat berguling-guling di atas ranjangnya karena bosan, berulang kali mondar-mandir tidak tahu harus melakukan apa, dan terkadang ia membuka jendela kamarnya. Berdiri di sana sebentar hanya untuk melihat rumah Stella entah berharap apa. Lalu, setelah malam panjang yang berhasil dilaluinya, Banyu kini dihadapkan pada kenyataan yang tidak bisa ia lewatkan. Yaitu melepas Stella pindah rumah. Tepat di pintu kamar Stella yang terbuka, Banyu berhenti melangkah. Di hadapannya, Stella tengah mondar-mandir tidak jelas. Gerakan yaitu baru terhenti begitu Stella melihat Banyu. Tidak sampai lima detik, Stella sudah berdiri satu langkah di depan Banyu. "Kamu kayaknya kelihatan biasa-biasa aja walaupun tahu hari ini aku bakal pindah rumah. Apa emang kamu gak sedih sama sekali karena kehilangan salah satu temanmu yang paling dekat?" tanya Stella sedikit emosi. Ia berkacak pinggang. Menatap Banyu tentu dengan sorot kesalnya. Banyu balas menatap Stella sambil melipat kedua tangan di depan d**a. "Jadi kamu maunya aku nangis-nangis? Mohon- mohon supaya kamu gak perlu pindah dan tetap sama aku aja di sini? Kamu mau aku meraung-raung di depan kamu? Atau guling-guling sekalian?" sarkasnya. Banyu tidak sadar bahwa di dalam kalimatnya Banyu menyelipkan kata-kata yang terdengar kasar di telinga Stella. Alasannya sudah pasti karena banyak sebenarnya tidak mau Stella pindah, hanya saja merasa tidak memiliki hak untuk melarang gadis itu. "Tapi 'kan seenggaknya kamu harus ada sebelum aku pergi. Emang kamu gak mau ngabisin waktu sama aku pagi ini? Ngasih apa kek gitu buat kenang-kenangan. Enggak ada kepikiran ke sana sama sekali?" Dan dengan lempengnya Banyu menggeleng. "Banyu!" seru Stella kesal, "padahal aku kasih tahu soal kepindahan itu udah dari jauh-jauh hari. Tapi kamu malah gak nyiapin apa-apa buat aku. Terus nanti kalau aku kangen sama kamu atau kamu bakal kangen sama aku, kita gak punya apa-apa dong buat dijadiin pengingat." "Emang harus banget saling ngasih sesuatu buat saling ingat satu sama lain?" Banyu menurunkan tangannya. Berjalan dengan santainya di kamar Stella yang dipenuhi kardus-kardus. "Sekali-kali kamu hilangin deh sifat tenang kamu itu. Kamu itu bakal kehilangan teman kamu yang paling berharga, loh. Pasang ekspresi sedih atau merasa kehilangan gitu. Gak bisa?" Banyu menggeleng. "Enggak." Selama ini Banyu selalu merasa bahwa ia bisa melakukan apa pun jika dirinya bersama Stella. Apa yang Stella minta, dan apa yang ia inginkan, bisa dengan mudah dilakukan jika ia dan Stella bersama. Namun, untuk sekarang, jangankan memikirkan untuk memberikan hadiah, Banyu bahkan tidak bisa berpikir jernih sama sekali. Ia kesal dan marah, tapi tahu bahwa tidak bisa melampiaskan kemarahannya itu. Kepindahan Stella jelas bukan karena kemauan gadis itu sendiri, mainkan karena tuntutan orang tuanya, atau bisa juga disebut tuntutan kantor ayah Stella yang memindahtugaskan. Dan Banyu benar-benar kesal karena ia tidak bisa melakukan apa pun untuk Stella. Jika Stella mengatakan bahwa sekarang dirinya tetap tenang meski sadar bahwa sebentar lagi gadis itu akan pergi, Stella salah besar. Setiap perkataan yang keluar dari mulut Banyu memang terdengar tenang seperti biasanya, tapi sebenarnya isi kepala Banyu sedang berkecamuk tidak karuan. "Ini barang-barang kamu udah dimuat semua?" Banyu bertanya sambil menyapu pandang. Melihat keseluruhan isi kamar Stella yang sudah disapu bersih. Di bagian dinding sudah tidak ada lagi frame foto atau hiasan dinding lainnya seperti lukisan. Meja belajar Stella hanya menyisakan meja kosong. Pun di bagian ranjang, nakas, ataupun lemari. Semuanya sudah benar-benar kosong. "Udah, dan aku ngemasin semua barang-barang aku sendirian. Gak ada yang bantu dan gak ada yang bisa dimintain bantuan." Dari perkataannya setelah jelas sekali sedang menyindir Banyu yang baru datang. Sepertinya sejak kemarin Stella dipaksa bekerja keras untuk mengemasi semua barang-barangnya sendiri. Maklum saja, sudah dua hari Banyu tidak berada di rumah Stella sampai malam. Bahkan kemarin, setelah menghabiskan waktu di atap gedung sekolah, Banyu benar-benar langsung pulang dan tidak mampir sama sekali ke rumah Stella. Stella sempat merengek, mengatakan bahwa Banyu harus membantunya beres-beres, tapi Banyu menolaknya dan langsung pergi begitu saja. Jadi bisa dibilang sekarang Banyu datang setelah semuanya sudah rapi. "Semalam itu aku nonton film sampai dini hari, jadi tadi bangunnya kesiangan. Maaf kalau gak sempat bantuin kamu sama sekali." Banyu duduk di ranjang. Stella mengikutinya. Keduanya duduk berdampingan. "Selama kamu tahu di mana letak kesalahan kamu, gak pa-pa. Lagian aku juga gak bakal benar-benar minta bantuan kamu buat beresin barang-barang. Kalau aja kamu datang lebih pagi, aku bakal minta tolong sama Mama buat beresin barang-barangku sementara kita main berdua di sisa waktu yang ada." "Itu namanya kamu niat jadi anak durhaka. Masa Mama kamu yang disuruh beres-beres barang kamu? Gak sopan tahu." Stella menaikkan kakinya untuk duduk bersila di atas ranjang tanpa seprai. "Abisnya aku tuh dari tadi mau ketemu sama kamu, tapi kamunya malah gak datang-datang. Kalau aku tinggal, ini barang-barang aku benar-benar gak bakal ada yang ngemasin. Harusnya kamu dong yang peka dan datang ke sini. Gara-gara kamu waktu kita jadi tipis," tuturnya terdengar kesal. Benar apa yang Stella katakan. Ada dua orang yang memasuki kamarnya tak lama kemudian. Dua orang itu adalah orang-orang yang dilihat Banyu tadi. Mereka yang memindahkan barang-barang dari rumah segala ke mobil. "Permisi, Mbak. Saya diminta sama Bapak buat bawa barang-barang Mbak ke mobil." Salah satu dari dua orang itu berbicara. Stella mengangguk. "Silahkan, Mas. Langsung bawa aja kardus-kardusnya. Tapi bawahnya tolong hati-hati, ya, Mas. Soalnya ada beberapa barang penting yang mudah hancur kalau jatuh." "Siap, Mbak!" Dua orang itu mengangguk. Mereka langsung melakukan pekerjaan mereka. Membawa barang-barang yang sudah dikemas. Stella memerintah dengan berisik. Mengatakan apa saja yang menurut Banyu tidak penting. Bawa barangnya satu-satu lah, jalannya pelan-pelan lah, bahkan Stella juga mengatakan di anak tangga mereka harus ekstra hati-hati agar tidak terjungkal dan membuat barang-barang miliknya hancur. Pekerjaan itu dilakukan berulang kali sampai tidak ada lagi yang perlu dibawa dari kamar Stella. Menyisakan kekosongan yang membuat suasana kamar Stella berubah menjadi sepi. "Stella, Mama kasih waktu sepuluh menit buat ngobrol sama Banyu!" Suara teriakan seseorang terdengar dari lantai satu. Keras sekali. Itu adalah suara Anggun. Stella menatap Banyu. "Jadi, selama sepuluh menit ini kita mau ngapain?" tanyanya. Hening beberapa saat. Banyu kemudian ikut mengangkat kakinya. Duduk bersila di atas ranjang dengan posisi yang berhadapan dengan Stella. "Oke, berhubung waktu kita sempit, jadi kamu dengerin aku ngomong aja. Jangan nyaut apalagi disela sebelum aku selesai. Paham?" Karena tidak diperbolehkan menyahut, Stella mengangguk. "Sebelumnya aku minta maaf karena datang kesiangan. Aku minta maaf gara-gara itu waktu kita jadi sempit banget." Banyu menatap Stella dalam, "hari ini mungkin bakal jadi hari terakhir kita ketemu." Kalimat terakhir dari Banyu membuat Stella membulatkan mata. Mulutnya sudah terbuka bersiap ingin menyela perkataan Banyu, tapi satu tangan banyak dengan cepat terangkat. Menghentikan Stella yang sudah ingin berbicara. "Aku bilang dengerin aku sampai aku selesai ngomong," kata Banyu. Stella diam. Ia kembali merapatkan mulutnya dan melanjutkan memasang telinganya baik-baik agar tidak ada satu kata pun yang terlewatkan. "Kenapa aku bilang hari ini mungkin bakal jadi hari terakhir kita ketemu? Karena ada kata mungkin, itu artinya bisa iya bisa juga enggak. Ke depannya kita gak akan tahu apa yang terjadi sama masing-masing dari kita. Di tempatmu nanti, kamu mungkin bakal nemuin sesuatu yang lebih hebat dari apa yang kamu temui di sini. Teman yang jauh lebih bisa diandalkan dari aku, atau seseorang yang nantinya berhasil mengisi hati kamu. Dan kalau sudah saatnya tiba, aku yakin pelan-pelan kamu mungkin bakal lupa sama aku." Stella menggeleng cepat. Menolak mengiyakan perkataan Banyu. Karena ia sangat yakin bahwa hal itu tidak akan pernah terjadi. "Meskipun itu benar-benar terjadi, meskipun nantinya kamu benar-benar bakal lupain aku, kamu cuma perlu tahu satu hal tentang aku." Banyu menyentuh bagian dadanya sendiri dengan telunjuknya, "di sini, udah ada rasa buat kamu. Perasaan sayang antar teman yang gak akan pudar gitu aja. Kalau kamu mau tahu, ada bagian dari hati aku di mana kamu yang ngisi. Jadi meskipun nanti kamu lupain aku, aku gak akan pernah lupain kamu." Banyu mengulas senyum tipis saat Stella terlihat terkejut dengan kalimat yang ia ucapkan. Meski ia mengutarakan perasaannya sebagai perasaan sayang antar teman, kenyataannya perasaan itu memang tidak akan hilang karena ada sesuatu yang lebih kuat dari itu. "Hari ini, sebenarnya aku mau pakai kedua tanganku buat nahan kamu supaya gak pergi. Tapi gak bisa aku lakuin karena aku tahu aku gak punya hak apa-apa buat itu." Selama beberapa tahun belakangan Banyu selalu berusaha untuk menghilangkan perasaannya. Ia selalu berusaha untuk mengganggap Stella adalah temannya, tidak lebih dan tidak kurang, tapi tidak bisa. Jadi, meskipun mulai hari ini Stella akan berada jauh darinya, Banyu yakin bahwa perasaannya tidak akan pudar dengan mudahnya. "Dari banyaknya hari yang udah kita lalui, kita sama-sama tahu kalau semua itu ngasih kesan mendalam. Itu yang bikin aku percaya meskipun kita udah saling berjauhan, gak akan ada apa pun yang bisa mutus ikatan di antara kita. Kecuali salah satu dari kita mutusin buat lakuin hal itu. Kamu gak akan lakuin itu, 'kan?" "Ya, enggak lah!" Stella menutup mulutnya sendiri setelah mengatakan hal itu. Lupa bahwa Banyu belum memperbolehkannya berbicara. Banyu lagi-lagi tersenyum. "Gak pa-pa. Sekarang kamu udah boleh ngomong." Tentu saja Stella langsung memulai aksi protesnya. "Semua yang barusan kamu omongin itu isinya omong kosong." Stella menatap Banyu serius, "aku gak akan pernah lupain kamu, dan aku juga yakin kalau nanti kita pasti bakal ketemu lagi. Bukan sebagai dua orang yang udah gak saling kenal, tapi sebagai dua orang yang bakal saling memeluk karena udah terlalu rindu." Banyu mempercayai hal itu. Kalau Stella sudah berbicara seserius itu, artinya perkataan gadis itu bisa dipegang. "Kalau kamu emang yakin, aku mau minta satu hal sama kamu." Stella bertanya, "Apa?" "Tolong jangan pernah putus hubungan sama aku. Sesibuk apa pun kamu nantinya, kamu harus bisa hubungin aku minimal seminggu sekali." "Jangankan seminggu sekali, aku bahkan bakal nelpon kamu setiap hari." Banyu terkekeh geli. "Boleh. Jadi bisa janji, ya, kalau kita bakal terus berhubungan?" Ia mengangkat jari kelingking. Layaknya anak kecil yang saling berjanji, Stella ikut mengangkat jari kelingkingnya dan menautkannya dengan jari milik Banyu. "Aku gak punya kenangan apa-apa buat kamu, tapi aku harap kamu bisa mengingat hari-hari yang pernah kita lalui supaya kamu gak akan lupa sama aku." "Oke. Nanti kalau kita ketemu lagi. Kalau kamu udah bener-bener jadi orang sukses dan banyak uang, jangan salahin aku kalau aku datang dan minta kamu buat beliin apa pun yang aku mau." "Oke," sahut Banyu singkat. Keduanya sama-sama beringsut turun dari ranjang saat lagi-lagi mendengar suara dari lantai satu. Anggun meminta mereka untuk turun. Hal yang pada akhirnya mereka lakukan dengan berat hati. Setelahnya, Banyu berhasil mengantar Stella. Meski sudah diberi waktu sepuluh menit, keduanya kembali meminta waktu sepuluh menit di luar rumah. Banyu memperingatkan Stella dengan banyak hal. Harus bangun pagi, harus bisa belajar mandiri, harus bisa merapikan tempat tidur sendiri, intinya Stella diminta untuk tidak merepotkan ibunya lagi. Banyu juga berpesan agar Stella jangan jadi gadis nakal yang terbawa arus pergaulan. Dan Stella mendengarkan semua pesan-pesan dari Banyu tanpa memprotesnya. Karena Stella tahu bahwa Banyu melakukan hal itu karena khawatir dengannya. Lalu, salam perpisahan itu ditutup dengan sebuah pelukan. Pelukan erat yang memaksa keduanya untuk saling melepaskan meski jauh di lubuk hati mereka sama-sama tidak ingin meninggalkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN