Definition of Love; 5

1971 Kata
15 Mei 2012 Suasana sekolah sudah hampir sepi meskipun ada beberapa orang yang masih memilih tinggal di sekolah. Entah para panitia, para guru, atau murid yang masih ingin berfoto. Acara kelulusan kelas dua belas sudah berakhir sekitar dua jam yang lalu. Tadi Banyu dan Stella menyempatkan untuk berfoto bersama orang tua mereka. Tidak lama, setelah itu orang tua mereka memilih pulang duluan. Banyu dan Stella juga menyempatkan diri untuk berfoto bersama teman sekelas mereka. Atau teman terdekat mereka. Menyimpan lembar kenangan untuk menjadi obat nantinya jika saling merindukan. Dan sekarang, keduanya tengah berada di atap sekolah. Stella mengatakan bahwa dirinya ingin menetap lebih lama di sekolah untuk mengambil sebanyak mungkin setiap detail sekolah yang bisa diingatnya sebelum pindah besok. Banyu berdiri di pinggiran gedung dengan tangan kanan yang memegang jas. Jas berwarna hitam yang tadi dikenakannya untuk acara kelulusan. Dasi yang melingkar di lehernya sudah dilonggarkan. Pun dengan kemeja yang ia pakai, bagian tangannya sudah digulung sampai siku. Memancarkan sisi mengagumkan seorang Banyu Arisatya. Banyu bukannya orang yang berantakan, hanya lebih suka untuk berpakaian santai. Di sekolah, Banyu tidak akan mengenakan jas almamater kecuali di saat-saat terpenting saja seperti ujian atau hari Senin. Hari upacara bendera. Di rumah pun begitu. Yang Banyu kenakan hanya sebatas celana boxer dengan atasan kaus. Namun, melihat Banyu mengenakan kemeja berwarna putih dilapisi jas hitam mampu membuat Stella terkagum-kagum. Pasalnya ini kedua kalinya Stella melihat Banyu berpakaian serapi itu. Pertama ketika kelulusan SMP, dan yang kedua hari ini. Jika di SMP Banyu hanyalah remaja biasa dengan tampilan lebih rapi, kali ini banyak memperlihatkan sisi dewasanya yang membuat siapa pun berdecak kagum. Termasuk Stella. "Ternyata kalau lagi berpenampilan rapi kayak gini, kamu lumayan ganteng juga." Banyu menatap Stella. Gadis yang awalnya berdiri sedikit jauh dari posisinya kini berada tepat di sisi kanan tubuhnya. Berdiri di pinggiran gedung pula. Banyu bertanya, "Emangnya kamu ke mana aja sampai gak sadar kalau aku itu emang ganteng?" "Kamu lagi muji diri kamu sendiri?" Stella menggelengkan kepalanya. Tidak menyangka bahwa Banyu akan sepercaya diri itu mengatakan bahwa dirinya tampan. Banyu hanya tersenyum. Melihat Stella lekat-lekat. Hari ini gadis ini tampil cantik sekali dengan setelan kebaya modern. Wajahnya dipoles make up tipis, tapi terlihat memukau. Kalau bukan karena hari kelulusan, Banyu yakin Stella tidak akan mau mengenakan pakaian merepotkan semacam itu. Terutama heels yang dikenakannya membuat Stella nampak kesulitan. Maklum saja, selama ini Stella lebih sering memakai sneakers atau sandal jepit. Banyu seharusnya mengapresiasi kerja keras Stella hari ini dengan tepukan meriah dan penuh rasa bangga. Tapi tidak ia lakukan. Tentu karena ia tahu Stella akan besar kepala nantinya. "Kamu juga hari ini cantik banget." Banyu mengatakannya dengan tenang sekali. Setenang semilir angin yang berembus menerpa wajah Stella. "Kamu pikir aku bakal baper kalau kamu bilang kayak gitu? Enggak! Maaf aja, kamu bukan selera aku." Stella membuang muka. Membuat Banyu tergelak. "Siapa juga yang mau bikin kamu baper, aku cuma muji kamu, dan seharusnya kamu berterima kasih karena hal itu." Stella kembali menatap Banyu. "Makasih, Banyu," katanya mengikuti kemauan Banyu. "Maksud aku itu, tumben banget hari kamu keliatan cantik. Soalnya kalau hari biasa jangankan tampil secantik ini, kamu bahkan males banget buat mandi. Udah kayak manusia purba yang takut sama air. Tapi hari ini ajaibnya kamu mau bangun tanpa harus di ceburin ke dalam bath tub. Itu 'kan pencapaian yang luar biasa. Makanya aku kasih pujian sebagai bentuk apresiasi." Stella merengut. Ingin membantah perkataan Banyu, tapi tidak berani, karena perkataan itu benar sepenuhnya. Sebenarnya pujian yang tadi itu tulus dari lubuk hati Banyu yang paling dalam. Namun, karena jawaban dari Stella terdengar menjengkelkan, makanya ia lanjutkan. Pagi tadi, Stella mau bangun pagi hanya untuk hari kelulusannya. Itu sangatlah mengejutkan karena biasanya Stella paling anti dengan yang namanya bangun pagi. Mungkin karena ini adalah hari terakhir dirinya berada di Jakarta, sehingga Stella ingin melakukan sesuatu tanpa harus dipaksa. "Tapi kalau apa yang kamu lakuin pagi ini bisa terus terjadi ke depannya, aku yakin kamu bakal baik-baik aja dan bener-bener gak butuh aku lagi." Jas yang awalnya Banyu pegang, beralih disampirkan ke bahunya. Tatapannya lurus ke depan. Melihat gedung-gedung dan rumah-rumah warga yang merapatkan situasi Jakarta. Stella tidak suka perkataan Banyu yang seperti itu, karena sampai kapan pun, jika saja ia bisa lebih jujur, ia akan selalu membutuhkan Banyu. Memang tidak ada rasa yang berlebih pada Banyu selain perasaan sayang sebagai teman, tapi tetap saja Banyu adalah temannya yang paling berharga. Menyadari bahwa Banyu terlihat baik-baik saja setelah tahu bahwa dirinya akan pindah membuatnya sedikit terluka. Karena kenyataannya ia justru ingin terus menetap di Jakarta dan tidak berada jauh dari Banyu. Membayangkan hari-harinya nanti akan berjalan tanpa Banyu saja sudah membuatnya merasa kesepian, apalagi jika harus menjalaninya. Banyu adalah satu-satunya orang yang tidak keberatan dengan sisi merepotkan dirinya. Mau membangunkan setiap hari, mau direcoki setiap saat, dan mau datang saat dibutuhkan. Untuk ukuran teman, Banyu sangat sempurna. Stella bahkan merasa iri pada gadis yang nantinya akan menjadi istri Banyu. Karena siapa pun gadis yang nantinya akan menjadi seseorang yang menetap di hati Banyu, akan merebut Banyu darinya. "Kalau aja aku punya sedikit rasa cinta buat kamu, udah pasti sekarang ini aku bakal minta papaku buat nikahin aku sama kamu. Biar kita gak perlu jauh-jauhan dan gak perlu pisah kota segala." Merasa tertarik, Banyu menatap Stella serius. "Tapi sayangnya gak ada perasaan itu sedikit pun buat kamu. Aku sayang sama kamu, bahkan sayang banget. Bukan karena kamu bisa jadi apa pun yang aku mau, tapi karena aku emang benar-benar sayang. Tulus sebagai teman. Enggak lebih dan gak kurang, jadi kayaknya kita gak bisa nikah." Di tengah cuaca yang terang benderang, tapi panasnya tidak keterlaluan, Banyu merasa bahwa dirinya baru saja disambar petir. Tepat di atas kepalanya. Dan sambaran itu bukannya melukai fisiknya, tapi hatinya. Jadi, Stella baru saja menolaknya padahal ia belum mengatakan apa-apa perihal perasaannya? Banyu merasa bahwa dirinya baru saja terluka karena penolakan dari Stella, tapi di sisi lain ia juga merasa lega. Setidaknya Stella baru saja memberitahunya bahwa ia tidak perlu berharap apa-apa lagi ke depannya. Perkataan Stella cukup untuk menamparnya, dan sudah lebih dari cukup untuk menyadarkannya bahwa Stella tidak menginginkannya. Sama sekali. "Kamu pikir aku mau nikah sama kamu? Enggak lah. Yang ada nanti masa depanku suram banget. Bisa-bisa kerjaan kamu cuma tidur. Aku yang bakal mengurus urusan rumah tangga dan urusan keuangan." Banyu geleng-geleng kepala, "baru ngebayanginnya aja udah bikin aku merasa tersiksa. Gimana kalau benar-benar kejadian? Bisa mati muda aku nantinya." "Ih, Banyu!" Stella memukul-mukul bahu Banyu karena kesal, "emangnya aku gak berguna banget apa sampai kamu bilang kaya gitu?" tanyanya dengan wajah merengut. "Iya. Emangnya kamu gak sadar diri?" Stella langsung menangis begitu saja. Awalnya pura-pura, dan Banyu hanya tergelak melihat itu, tapi lama kelamaan tangisannya berubah betulan. Membuat Banyu kelabakan. Ia menepuk-nepuk kepala Stella pelan. "Cup, cup, cup. Gak usah nangis. Aku cuma bercanda doang, kok." Banyu mengubah tepukan di kepala Stella menjadi usapan lembut, "katanya gak baperan tapi dibilang gitu aja langsung nangis. Dasar cengeng!" sindirnya kemudian. Yang tidak pernah dipahami Banyu hanya satu, yaitu sikapnya sendiri. Banyu mudah sekali melontarkan pujian, tapi di akhir akan ada sindiran setelahnya. Dan saat berusaha menenangkan, sikapnya juga cenderung berubah menjadi lebih lembut, tapi tetap saja masih ada sindiran setelahnya. Seperti yang baru saja dilakukan olehnya terhadap Stella. "Pokoknya aku bakal buktiin ke kamu kalau aku bisa mandiri. Kalau saatnya nanti kita ketemu lagi, kamu bakal kaget pas ngeliat aku, karena aku tumbuh jadi gadis mengagumkan yang bakal bikin kamu terperangah. Cantik, mandiri, sopan, bisa diandalkan, dan yang pasti bisa ngerawat diri sendiri." Stella lupa dengan tangisannya sendiri. Ia bahkan menghapus air matanya sendiri. Menunjukkan kepada Banyu bahwa yang baru saja terjadi bisa dengan mudah diatasi olehnya. Namun, Banyu terlalu mengenal Stella untuk mempercayai setiap perkataan Stella yang barusan. "Yakin? Kalau mau berubah itu gak usah bilang-bilang ke aku. Enggak usah pakai acara pamer-pamer segala. Nanti yang ada urusannya cuma bakal jadi halu doang. Berubah enggak, pas kita ketemu lagi kamu justru malah makin manja. Apalagi nanti mungkin aja aku udah jadi pengusaha atau karyawan dengan jabatan tinggi. Itu bakal jadi kesempatan besar buat kamu manja-manjaan sama aku. Iya, 'kan?" Siapa pun harus tahu kalau Banyu memang memiliki sisi tenang yang menakjubkan. Cowok itu selalu bisa bersikap tenang di segala situasi. Dan tentunya bisa menenangkan orang-orang di sekitarnya. Tapi kekurangannya hanya satu, jika sudah sangat dekat, cara bicara Banyu terkadang tidak terkontrol dan ceplas-ceplos. Membuat Stella jengkel. Orang yang baru mengenal Banyu pasti akan mengira bahwa Banyu adalah orang dengan kepribadian cuek dan sombong, tapi jika sudah mengenal dekat, siapa pun akan setuju mengatakan bahwa Banyu adalah pribadi yang hangat dan tenang. Meskipun terkadang menjengkelkan. "Kalau kamu bilang kayak gitu, berarti aku harus ngambil kesempatan sebanyak mungkin. Aku bakal ngabisin uang kamu nantinya dan kamu gak boleh protes karena hal itu." Stella tersenyum, dan Banyu melihat senyum itu dengan amat jelas. Menampar dirinya. Bukan karena ia tidak percaya bahwa di masa depan dirinya akan menjadi pria sukses yang bisa memberikan apa pun untuk Stella. Nasib seseorang, takdir seseorang memang ada di tangan Tuhan, tapi Banyu yakin selama ia berusaha keras akan selalu ada jalan untuk mencapai kesuksesan. Hanya saja, ia tidak yakin di masa depan ia akan dipertemukan lagi oleh Stella. Nanti, seperti keinginannya ia mungkin bisa menjadi pria sukses. Dan seperti harapan Stella, gadis itu mungkin akan tumbuh menjadi gadis cantik yang mandiri. Bukan tidak mungkin, saatnya nanti, ketika ia dan Stella dipertemukan kembali, takdir sudah mengikat dengan yang namanya pernikahan. Entah Stella yang lebih dulu menikah atau dirinya. Tidak ada yang tahu. Rasanya menyedihkan saat harus membayangkan hal itu sekarang. Memimpikan nanti akan bertemu kembali saja sudah terlalu berlebihan menurut Banyu, tapi Stella mengatakan seolah semuanya akan baik-baik saja. "Pulang, yuk!" Banyu berkata tiba-tiba. "Lho, kok pulang? Kamu terang-terangan nolak permintaan aku soal aku yang bakal morotin kamu di masa depan?" "Bukan. Karena kita udah terlalu lama aja di sini." Banyu menatap sekelilingnya. Ada beberapa orang yang masih berkeliaran di pekarangan. "Aku gak nyangka kalau hari ini adalah hari terakhir kamu nginjekin kaki di sekolah ini." Banyu berkata tanpa melihat Stella. Pekarangan sekolahnya luas. Dan hampir di setiap sudut sekolahnya merupakan bagian dari kenangannya bersama Stella. Luas sekolah yang sekarang tengah ia nikmati akan menjadi saksi bisu bahwa Stella pernah ada di tempat tersebut. Menghabiskan banyak waktu bersamanya dan mengukir masa remaja dengan berbagai macam kesenangan. Lalu, lembar-lembar manis yang pernah dilaluinya bersama Stella kini hanya akan menjadi kenangan sepenuhnya. Tidak akan ada lagi pena untuk menulis di lembaran baru. Lembar kosong yang seharusnya diisi dengan hari baru kini akan seterusnya kosong bersamaan dengan Stella yang pindah ke luar kota. "Rasanya baru aja kemarin kita ngikutin masa orientasi siswa baru di sini, tapi tahu-tahu hari ini kita udah lulus aja. Ternyata waktu beneran berlalu dengan sangat cepat, ya?" Perkataan Banyu terdengar tenang. Wajahnya terlihat tanpa rona. Dan itu begitu menohok untuk Stella. Bukan hanya Banyu, dirinya pun akan terluka. Tapi Banyu menambah kesan kelam tentang perpisahan dengan bahasan yang menyulitkan. "Iya, kamu benar. Waktu berlalu dengan sangat cepat." Mendengar Stella membenarkan perkataannya, Banyu menoleh. Menemukan manik hitam favoritnya sedang menatapnya. "Tapi secepat apa pun waktu berlalu, aku bisa jamin kalau aku gak akan lupain kamu dan kita pasti bisa kembali bertemu. Nanti. Di lain waktu." Beberapa kalimat itu berhasil menenangkan Banyu yang sempat dibuat gundah beberapa saat. Stella menjanjikan sesuatu yang jelas lebih berharga dari apa pun yang pernah ia inginkan di dunia. Dan itu membuatnya sangat lega. "Mulai hari ini aku pegang janji kamu. Bakal aku simpan dan aku pastiin kalau kamu gak bisa mengingkari janji itu." Stella tersenyum. "Oke, Bos!" sahutnya semangat. Hari itu mereka habiskan dengan bercerita panjang lebar di atap sekolah. Mulai dari pertemuan pertama, tentang kebiasaan masing-masing, atau sekadar bicara tentang betapa menyenangkannya jam kosong di sekolah. Tidak ada bahasan tentang rencana di masa depan, tapi masing-masing dari mereka percaya bahwa janji untuk tidak saling melupakan akan membuat mereka dipertemukan kembali nantinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN