Definition of Love; 4

1849 Kata
"Banyu, kalau kamu jauh dari aku gimana?" Hari itu, sepulang sekolah, di kamar Stella. Untuk pertama kalinya Stella menanyakan hal aneh seperti itu. Membuat Banyu bingung. Jauh seperti apa sebenarnya yang dimaksud oleh Stella? Banyu tidak mengerti. Jauh karena nantinya ia dan Stella sama-sama harus mengejar mimpi masing-masing yang membuat sadar bahwa tidak selamanya ia dan Stella bisa bersama. Jauh karena takdir tidak selalu berjalan sesuai kemauan kita. Atau jauh karena Stella memutuskan ingin berkuliah di universitas berbeda dengannya? Maklum saja. Ujian nasional akan berlangsung beberapa Minggu lagi. Dan Banyu sudah menentukan ingin kuliah di mana. Stella setuju untuk kuliah di kampus yang sama meskipun sempat mengeluh. Katanya, kampus yang dipilihnya bukanlah kampus terpopuler di Jakarta. Stella bahkan sempat mengajaknya untuk berkuliah di luar kota. Belajar hidup jauh dari orang tua. Banyu bisa saja, tapi ia mengatakan pada Stella bahwa gadis tidak akan bisa, mengingat bagaimana perangainya. Mungkin karena itu Stella marah dan memutuskan memberontak sehingga memilih ingin kuliah di luar kota. "Aku bakal kuliah di luar kota." Tuh, 'kan. Film kartun yang sedang mereka tonton terabaikan. Banyu merubah posisinya yang tadinya tengkurap menjadi duduk tegak, begitu juga dengan Stella. Setelah mematikan laptopnya, Stella duduk berhadapan dengan Banyu. "Tetep mau ke Bandung?" Banyu mengingat nama kampus yang sempat dikatakan oleh Stella. Salah satu kampus terbaik di Bandung, "kamu 'kan gak pintar-pintar amat. Yakin bisa masuk ke sana?" tanyanya. Sebenarnya Banyu bukannya meragukan kemampuan Stella, ia justru tidak ingin gadis itu memilih untuk berkuliah di luar kota dan berakhir terpaksa mengungkit tingkat kecerdasan Stella agar Stella minder dan tidak jadi pergi. "Bukan gitu!" Banyu menatapnya. "Terus apa?" tanyanya sedikit ngegas. Terbawa suasana. "Kalau emang kamu mau kuliah di kampus ternama, boleh aja. Asal kampus yang ada di Jakarta. Aku bakal ikutin kemauan kamu. Tapi aku minta gak usah sampai ke luar kota segala. Kamu gak akan bisa jauh dari orang tua kamu," paparnya kemudian. Banyu sangat mengakui bahwa Stella hanyalah gadis merepotkan yang selalu membuatnya kesulitan, tapi bagaimanapun Stella adalah satu-satunya gadis yang berhasil mendiami hatinya sejak lama dengan segala kekurangannya itu. Ya, ia baru saja mengakui perasaannya sendiri. Itu benar. "Semalem papaku cerita, katanya dia bakal dipindah tugaskan ke luar kota. Aku harus ikut, karena seperti yang kamu bilang, aku gak akan bisa jauh dari orang tuaku. Walaupun aku kuliah di sini sama kamu, ada kamu yang mastiin aku bakal tetep aman, aku tetep gak bisa." Banyu mengerjapkan mata. Masih belum percaya dengan apa yang dikatakan oleh Stella. Jadi, Stella pindah bukan karena kemauannya ingin berkuliah di Bandung, tapi karena tuntutan pekerjaan ayahnya? Lantas apa bedanya untuknya? Ia tetaplah jadi orang yang ditinggalkan. "Kami bakal pindah setelah acara kelulusan kita. Papa tahu itu bakal jadi acara yang penting dan berkesan buat aku. Gak perlu nunggu ijazah dulu, nanti papaku yang bakal ngurus itu." Mulut Banyu terbuka, tapi Banyu menutupnya lagi. Tidak tahu harus mengatakan apa. Tadi ia mengatakan pada Stella bahwa gadis itu tidak akan bisa hidup jauh dari orang tuanya. Rasanya akan aneh jika sekarang ia justru meminta agar Stella tidak pergi. "Kamu ... bakal baik-baik aja 'kan di sini tanpa aku?" tanya Stella setelah beberapa detik hening. Khawatir karena Banyu tidak membalas ucapannya. Bagaimana ia dan Banyu sudah kenal hampir enam tahun. Selama itu, tidak ada satu hari pun ia jauh dari Banyu. Semuanya selalu dilakukan bersama, kecuali urusan pribadi. Mulai dari pergi dan pulang sekolah, main, menonton film, bahkan sarapan dan makan malam pun lebih sering bersama. Selama hampir enam tahun belakangan, Banyu lah yang lebih banyak merawatnya, ketimbang ibunya sendiri. Cowok itu membangunkannya saat pagi, memaksanya mandi, merapikan buku-bukunya, pakaian, sepatu, bahkan terkadang Banyu juga merapikan tempat tidurnya. Setelah semua kebiasaan itu, akan terasa sulit jika tidak ada Banyu di sampingnya. Bukan karena ia menganggap Banyu sebagai budaknya seperti apa yang sering ia katakan sebagai candaan, tapi karena cowok itu satu-satunya temannya yang paling berharga. Bahkan ia yakin akan kesulitan hidup tanpa Banyu. Mungkin Banyu pun akan merasakan hal yang sama. Namun... "Iyalah. Aku bakal baik-baik aja. Yang ada kamu yang nantinya bakal kesusahan." Banyu memberanikan diri menatap manik Stella, "emangnya bisa bangun pagi? Emangnya bisa naruh baju, sepatu, atau apa pun di tempatnya? Emangnya bisa rapiin tempat tidur sendiri? Terus kalau hujan, emangnya gak takut kalau hujan deras apalagi kalau sampai ada petir? Yakin bisa jauh dari aku? Yakin bakal baik-baik aja?" Rentetan pertanyaan Banyu mengarah pada kekurangan dan ketakutan terbesar Stella. Membuat gadis itu cemberut. Pada kenyataannya, justru Banyu yang tidak akan baik-baik saja. Ia mengatakan hal itu semata-mata untuk menghibur dirinya sendiri. Selama ini ia memang banyak membantu dan mengurus Stella, tapi bukan berarti jika tidak ada dirinya Stella akan kesulitan. Tentu tidak. Akan ada ibunya, di sisi lain, Stella juga mudah bergaul. Akan ada orang lain yang lambat laun menggantikan posisinya. Stella akan baik-baik saja. Banyu lah yang nantinya akan menderita kehilangan paling parah. Memang selalu begitu. Siapa pun, bukan hanya Banyu saja, tapi orang lain juga. Jika mereka ditinggalkan oleh seseorang yang selalu merepotkan mereka, yang paling merasa terluka bukanlah orang yang selalu merepotkan, tapi mereka yang selalu direpotkan. Hari-hari akan berubah sepi. Tidak ada yang merepotkan sama artinya tidak ada orang yang bisa menggangu sekaligus menemani lagi. Dan Banyu akan merasakannya nanti. "Aku bakal baik-baik aja di sini." Lagi, Banyu mengucapkannya dengan tenang. Stella tersenyum. Ia meraih tangan Banyu. Bertanya, "Kamu pernah denger gak kalau mereka yang berkata baik-baik aja kebanyakan merasakan hal yang sebaliknya?" Ia lalu menggeleng, "aku gak maksud apa-apa. Aku berharap kamu gak bohong. Aku mau kamu baik-baik aja. Selalu. Dengan atau tanpa aku. Oke?" Susah payah Banyu menahan kedua tangannya agar tidak terkepal. Melepaskan Stella untuk pergi sama saja membuatnya menerima bahwa nanti dirinya akan merasa sangat kesepian. Untuk Stella, ia mungkin hanya sebatas teman. Tidak lebih. Tapi baginya, Stella adalah gadis merepotkan yang sialnya berhasil membuatnya jatuh cinta. Selama ini Banyu tidak pernah memikirkan tentang cara bagaimana ia akan menyatakan perasaannya pada Stella, tapi sekarang ia memikirkan dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, ia bisa menyatakan perasaannya sekarang juga. Karena pilihan itu ia akan mendapatkan kemungkinan ditolak atau diterima, tapi harus hidup berjauhan dengan Stella. Kemungkinan kedua, ia akan tetap memendam perasaannya dan membiarkan rasa itu perlahan memudar. Meski menyiksanya, itu akan menjadi cara paling ampuh agar hubungannya dengan Stella baik-baik saja. Dua kemungkinan itu sama-sama memberikan efek yang sama. Yaitu luka. Dan Banyu tidak yakin dirinya bisa menghadapi luka tersebut. "Udah, deh. Gak usah bahas itu. Lagian pindahnya juga bukan hari ini juga, 'kan. Baik-baik aja atau gak nantinya, ya, itu urusan nanti. Buat sekarang cukup nikmatin aja hari ini. Selama aku masih bisa lihat kamu dan kamu masih bisa lihat aku, itu seharusnya udah cukup." Banyu hanya bisa menyerah. Memilih untuk memendam perasaannya. Melukai hatinya sendiri. "Emang dasar Pak Bos-ku yang satu ini bijak sekali kalau ngomong. Oke, walaupun kamu udah tahu fakta itu, kayaknya kita gak usah ngomongin hal itu. Kalau nanti udah waktunya aku pindah, seenggaknya aku bakal pamitan kok sama kamu." Ya, itu lebih baik, daripada pergi tanpa pamit. Banyu mengangguk mengiyakan, meskipun pada dasarnya isi kepalanya sekarang disibukkan dengan berbagai macam kemungkinan. Tentang bagaimana hari-harinya akan berjalan nanti jika tidak ada Stella di sampingnya. Keduanya tidak sadar, bahwa sejak pembicaraan pertama mereka tadi, ada seseorang yang menguping di balik pintu. Mungkin karena terlalu bersemangat mendengarkan, si penguping lupa bahwa pintu setengah terbuka. Saat pintu sedikit bergeser menimbulkan bunyi derit pelan, Banyu dan Stella serempak menoleh ke arah pintu. Anggun muncul dengan wajah polos tanpa dosa. Wanita itu mengerjapkan mata, mengangkat kedua tangannya di samping kepala seolah sedang meminta maaf atas apa yang baru saja dilakukan, lalu nyengir lebar. "Mama!" seru Stella kesal. Malu karena kebiasaan menguping ibunya tidak kunjung hilang juga. Ini sudah sekian kalinya terjadi, ibunya menguping pembicaraannya dengan Banyu. "Enggak, kok. Mama gak lagi nguping." Anggun menggeleng pelan kemudian beralih melihat Banyu, "serius, deh. Tante gak nguping, Banyu!" elaknya lagi. Namun, yang dilihat Banyu dan Stella terlalu jelas. Banyu hanya bisa menghembuskan napas lelah. Tidak ibunya, tidak juga anaknya, kelakuannya benar-benar membuat siapa pun yang ada di dekat mereka geleng-geleng kepala. "Oh, iya. Mama baru aja bikin brownies. Baru banget dikeluarin dari oven. Mama ke sini karena mau ngajak kalian makan brownies sama-sama. Yuk turun!" Cerdas sekali. Itu adalah pengalihan yang sempurna untuk membuat Banyu dan Stella melupakan kesalahan Anggun. Keduanya beringsut turun dari ranjang dan berjalan ke arah pintu. Mereka pergi dari kamar Stella bersama-sama. Menuruni anak tangga menuju meja makan. Banyu dan Stella duduk bersebelahan saat sampai di meja makan. Seperti perkataannya, Anggun pergi ke dapur dan kembali dengan brownies yang masih kotak utuh. Wanita itu kembali lagi, mengambil pisau untuk memotong kue, tiga piring berukuran kecil, juga tiga garpu untuk masing-masing orang. Memilih untuk duduk di seberang Banyu dan Stella. Brownies coklat berbentuk kotak itu memiliki tiga topping berbeda. Keju, kacang almond, dan potongan pisang. "Stella, kamu mau brownies yang pakai topping apa?" tanya Anggun. Stella menunjuk topping keju di sisi kanan, kemudian menunjuk topping kacang almond di tengah. "Aku mau yang pakai topping keju sama almond," sahutnya semangat. Biar Banyu beri sedikit informasi. Stella sangat menyukai pisang, tapi hanya jika pisang tersebut dimakan dengan kondisi sebenarnya. Dalam artian yang masih dilapisi kulit dan langsung dimakan. Lain cerita jika pisang tersebut sudah berubah menjadi topping brownies, dibuat untuk tambahan topping pudding, atau topping kue lain. Stella akan menganggapnya aneh dan menjijikkan. Berbeda dengan Banyu yang begitu menyukai pisang. Baik untuk cuci mulut, atau dalam bentuk topping makanan sekalipun. Jika disuruh memilih apel, anggur, melon atau pisang, Banyu tidak akan sungkan menyebut pisang sebagai pilihannya. "Kalau kamu mau coba brownies dengan topping lain, gak?" Anggun bertanya pada Banyu. Tahu bahwa banyak akan memilih pisang. "Gak mau, Tan." Banyu menggeleng, "aku mau yang topping-nya pisang aja." Anggun hanya tersenyum. Mengambilkan potongan brownies untuk Banyu. Ketiganya mulai menyantap potongan brownies masing-masing. Stella yang paling banyak makan. Setelah dua potong pertama habis, Stella bahkan menambah potongan lainnya. Melihat betapa lahapnya Stella selalu berhasil membuat Banyu tersenyum. Gadis itu tidak pernah jaim, selalu bersikap apa adanya, bukan hanya kepada dirinya yang notabene-nya adalah teman terdekatnya, tapi juga pada teman-temannya yang lain. Mengingat bahwa dirinya terancam tidak akan melihat sisi itu lagi, membuat Banyu sedih. Apalagi saat melihat Stella tersedak dan langsung berlari ke dapur untuk segera minum. Anggun geleng-geleng kepala melihat kecerobohan putrinya, dan Banyu malah dibuat lebih sedih. Kebiasaan Stella yang lainnya. Mudah sekali tersedak saat sedang makan. Tidak di rumah, tidak juga di sekolah. Stella sering tersedak apa pun situasinya. Saat kembali, Stella membawa segelas air putih untuk Banyu. Diambil oleh Banyu dan hanya dilihat sekilas sebelum akhirnya diletakkan di atas meja. Di dekat piring kecil yang dipakainya untuk memakan brownies. "Kalau gitu saya langsung pulang aja, ya, Tan. Udah sore soalnya." Banyu berdiri dan segera keluar dari sana. "Ngapain pulang? Di sini aja. Aku belum puas main sama kamu!" Stella menarik tangan Banyu. Banyu menatapnya. "Aku mau mandi. Badanku ini udah lengket semua. Bau," ujarnya. Stella mendekat. Tanpa aba-aba mencium bagian di dekat ketiak Banyu. "Enggak bau, kok," katanya lempeng. Anggun tertawa melihat itu. Karena malu, Banyu justru buru-buru menjauh dari sana sebelum Stella menahannya dengan cara yang lebih aneh lagi. Meninggalkan Stella yang berteriak memanggil namanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN