"Pagi, Tante!" Banyu menyapa Anggun, ibu Stella, dengan senyum tipis yang terukir manis di bibirnya.
Anggun yang sedang menyirami tanaman langsung menoleh. Melihat Banyu yang berada di luar pagar rumahnya. Membalas sapaan Banyu dengan senyuman pula, Anggun melepas selang yang dipegangnya lantas bergegas membuka gerbang. Mempersilakan Banyu masuk.
"Kamu tuh jadi anak cowok bangunnya pagi banget, deh. Rasanya mau tante tukar aja kepribadian kamu sama kepribadian Stella."
Banyu hanya terkekeh. Mengikuti Anggun yang menuntunnya memasuki rumah.
Jam dinding baru menunjukkan pukul enam sepuluh menit. Bisa dibilang masih terlalu pagi untuk berangkat sekolah. Tapi seperti biasa, Banyu selalu datang ke rumah Stella sepagi itu.
"Kamu udah sarapan belum?" tanya Anggun saat keduanya sudah berada di dalam rumah.
Banyu menggeleng pelan.
"Selalu aja, ya, mentingin Stella dibanding diri kamu sendiri."
"Soalnya anak Tante 'kan gak pernah mau gerak sendiri. Harus ada yang bantu, baru deh dia mau gerak."
Anggun tertawa. Membenarkan hal itu dalam hati. Tidak keberatan saat Banyu menjelekkan putrinya sendiri.
"Terus gimana? Itu anak belum bangun, Tan?" tanya Banyu menyambung pembicaraan.
Anggun mengendikkan bahu. "Menurut kamu?" Ia balik bertanya.
"Udah pasti belum sih, Tan."
Suara derap langkah terdengar dari arah tangga. Banyu dan Anggun menoleh serempak. Pria dengan perawakan tegap sampai di lantai satu beberapa detik kemudian. Berhenti di depan Anggun. Itu adalah Glen, ayah Stella. Pria itu mendongakkan kepalanya di depan istrinya, dan Anggun dengan cekatan meraih dasi yang sudah tersampir di leher suaminya. Memakainya dasi tersebut dengan rapi.
"Banyu, udah dateng?" tanya Glen menatap Banyu begitu selesai dipasangkan dasi.
"Udah, Om." Banyu mengangguk sambil tersenyum.
"Banyu." Anggun menyentuh bahu Banyu, "kalau kamu sadar, sifat malas Stella itu turun dari Papanya," ujarnya mengundang gelak tawa Glen.
Banyu hanya terkekeh karena tidak tahu harus menjawab apa. Jika mengiyakan, sudah tentu itu bukanlah hal yang sopan. Meski demikian, Anggun memang benar mengenai hal itu. Banyu pun sudah sadar sejak lama. Ayah Stella kerap meminta dipasangkan dasi meskipun bisa memasang sendiri.
Itu hanya satu kebiasaan kecil yang menurun pada Stella. Sedangkan sifat Stella yang lainnya kebanyakan karena memang gadis itu malas melakukan apa-apa. Bukan karena turunan dari ayahnya.
"Tan, Om, kalau gitu aku langsung ke kamar Stella aja, ya. Takut telat ke sekolahnya kalau gak buru-buru bangunin dia."
"Ya, udah. Kamu langsung naik aja. Nanti ajak Stella sarapan kalau udah rapi." Anggun berlalu sambil menggandeng tangan suaminya. Sementara Banyu berjalan menaiki anak tangga.
Seperti biasa, Stella belum bangun begitu Banyu membuka pintu kamarnya. Jendela sudah terbuka. Matahari memancarkan sinarnya dengan cara menerobos. Untuk Banyu, hal itu sanggup membuatnya membuka mata, tapi sepertinya tidak berlaku untuk Stella.
Ibunya mungkin sudah memaksa Stella bangun setelah membukakan jendela, tapi Stella itu kalau tidur nyaris seperti orang mati. Benar-benar hanya Banyu yang sanggup membangunkannya. Tentu dengan cara paling tega.
Setelah melepaskan sepatu dan kaus kakinya, Banyu meletakkannya di rak sepatu. Ia lantas berjalan ke arah ranjang. Menanggalkan tasnya dan menaruhnya di atas nakas. Menimpa laptop Stella yang berada di sana.
Banyu langsung menarik selimut yang menggulung tubuh Stella. Gadis itu menggeliat, menarik kembali selimutnya. Banyu menariknya lagi, dan Stella balas menariknya lagi. Selalu begitu. Tidak ada pilihan lain. Banyu segera berjalan ke arah kamar mandi yang ada di kamar Stella. Ia mengisi bath tub yang ada di sana dengan air dingin kemudian kembali ke hadapan Stella.
"Waktunya bangun, Tukang Tidur!" Banyu berteriak di telinga Stella dan kembali menarik selimut. Kali ini sampai menjatuhkan selimut tersebut ke lantai agar Stella tidak bisa menggulung tubuhnya lagi.
"Banyu! Lima menit lagi!" Stella berteriak marah. Membelakangi Banyu dan meringkuk seperti anak kucing.
Banyu hanya mampu terkekeh pelan. Bukan karena gemas dengan tingkah Stella, tapi karena tidak sabar dengan aksinya. Karena tak kunjung bangun, ia akhirnya segera membopong tubuh Stella. Dan seolah tidak curiga dengan hal itu, meski sudah dilakukan setiap hari, Stella justru menggeliat nyaman di dalam pelukan Banyu.
Tidak ada selimut lembut, selimut bernyawa pun jadi.
Banyu segera membawa Stella ke kamar mandi. Mendorong pintu yang sudah setengah terbuka dengan kakinya, dan melesak masuk lebih jauh. Sampai di depan bath tub yang sudah berisi air, Banyu menyeringai lebar. Ia melangkah lebih dekat dan melihat Stella yang memeluknya. Karena gadis itu terlihat sangat nyaman, langsung saja Banyu melepaskan kedua tangannya. Menikmati irama merdu saat tubuh Stella terjatuh ke dalam bath tub.
"BANYU!!!" Stella berteriak kesal.
Banyu segera menjauh. Tidak ingin seragamnya yang sudah terciprat jadi lebih basah lagi karena terancam akan disiram oleh Stella yang sedang murka.
"Aku tunggu paling lama lima belas menit. Kalau lewat, aku tinggal." Banyu segera menutup pintu kamar mandi setelah mengatakan hal itu. Lagi-lagi mendengar teriakan Stella yang terdengar tidak hanya sampai ke lantai satu, tapi mungkin satu kompleks mendengarnya.
***
Sepuluh menit kemudian, Stella keluar dengan tubuh yang dibalut handuk dari d**a sampai paha, juga handuk lain yang tersampir di bahunya.
"Banyu! Kebiasaan lo itu bikin gue males, deh! Udah gue bilang jangan lagi-lagi nyeburin gue ke dalam bath tub yang isinya air dingin. Gue kaget tau! Awas aja lo kalau besok masih ngelakuin hal yang sama."
Mendengar gerutuan Stella, Banyu yang tengah duduk di atas ranjang berdeham. "Lo juga bilang itu sejak beberapa tahun yang lalu," ujarnya tenang sambil menopang tubuhnya dengan kedua tangan. Turut membalas perkataan Stella dengan sebutan lo-gue.
Stella menghentakkan kakinya kemudian berjalan ke arah Banyu. Berdiri tepat di depan cowok itu. "Biar gue kasih lo pelajaran buat kali ini," Stella berucap serius.
"Apa? Mau ngasih pelajaran apa ke gue?" tanya Banyu tenang.
Stella memegang bagian ujung handuk yang sengaja dilipat ke dalam untuk menjaga agar handuk bisa menempel di tubuhnya.
"Gue bakal buka handuknya sekarang juga terus gue teriak. Biar Mama Papa ke sini. Bahkan satu kompleks sekalian kalau perlu. Selama ini mungkin gue masih maklum, tapi kita udah sama-sama dewasa. Gue bakal bilang kalau lo mau merkosa gue. Kalau perlu gue juga bisa akting nangis yang keliatan real banget. Dan mereka bakal tahu senakal apa Banyu yang selalu kelihatan tenang dan kalem ini."
Belum sempat Stella menanggalkan handuknya, Banyu lebih dulu berdiri. Kembali melipat ujung handuk ke bagian dalam. "Gak usah aneh-aneh. Emangnya lo tega liat gue dipukulin massa?" tanyanya menatap Stella intens.
Stella tertegun. Benar juga. Ia memilih rencana itu tanpa memikirkan akibatnya. Kalau Banyu babak belur dipukuli orang satu kompleks, atau bahkan sampai masuk penjara, yang sedih tentu saja dirinya.
"Ihh, Banyu!" Stella berhambur ke pelukan Banyu, "aku cuma bercanda, kok. Mana mungkin aku setega itu sama kamu."
Banyu menggeleng pelan. "Kalau gitu mendingan sekarang kamu pakai seragam. Di kamar mandi. Abis itu kita sarapan," sahutnya memperbaiki sebutannya lagi kepada Stella seperti apa yang dilakukan oleh gadis itu.
Seperti anak kecil yang baru saja diperintahkan oleh orang tuanya, Stella manggut-manggut dan langsung pergi ke arah lemari. Mengambil pakaiannya kemudian menghilang di balik pintu kamar mandi. Tidak sampai lima menit, gadis itu sudah kembali. Masih ada satu handuk di tangannya. Digunakan oleh Stella untuk menyeka rambutnya yang masih basah.
"Hari ini aku males banget ke sekolah, deh." Stella mengadu sambil berjalan ke arah Banyu. Gadis itu duduk di karpet berbulu yang ada di dekat ranjang.
Mengabaikan Stella, Banyu memilih berlalu menuju meja belajar Stella. Sementara Stella mulai mengeringkan rambutnya menggunakan hair dryer, Banyu merapikan buku-buku Stella. Mengambil tas yang menggantung dan mengeluarkan buku pelajaran kemarin, menggantinya dengan buku pelajaran hari ini.
"Banyu, gimana kalau hari ini kita bolos aja?" tanya Stella saat Banyu berjalan mendekat ke arahnya.
Cowok itu menaruh tas Stella di karpet. Ia balik bertanya, "Mau bolos?" Dengan nada lembut.
Sontak saja Stella mengangguk bersemangat.
Selanjutnya, Banyu justru pergi meninggalkan Stella. Saat sampai di pintu, barulah Stella bangkit dan menyusulnya. Banyu sudah ada di luar kamar saat Stella menarik tangannya.
"Kok keluar?" Stella menatap Banyu bingung.
"Ya, kamu bilang kamu mau bolos, 'kan?"
"Iya. Terus kenapa kamu malah ninggalin aku?"
"Kalau mau bolos, ya, bolos aja sendiri. Gak usah ngajak-ngajak aku. Aku mau ke sekolah sekarang."
Banyu melepaskan tangan Stella, tapi dengan cekatan Stella kembali menarik tangannya dengan tangannya yang lain.
"Jangan gitu, dong!" Stella merengut. Menarik Banyu agar kembali ke kamarnya. "Kalau kamu gak mau bolos, ya, aku juga gak akan bolos. Percuma kalau bolosnya sendiri, aku bakal mati bosan nanti."
Begitulah kalau terlalu malas, bahkan ditinggalkan sendirian pun takut ditelan rasa bosan. Stella contohnya.
Banyu ingat, pernah satu kali ia tidak masuk sekolah karena sakit. Kala itu ia meminta Stella agar tetap pergi ke sekolah meskipun ia tidak masuk. Stella mengikuti. Diantar ayahnya, Stella pergi tanpa Banyu. Tapi satu jam setelah kepergian Stella, gadis itu sudah kembali mengetuk pintu rumahnya. Ia yang tengah merasakan pusing luar biasa terkejut melihat Stella di depan pintu rumahnya.
Waktu itu, Stella bercerita, katanya ia sudah sampai ke sekolah, bahkan sudah duduk di kursinya. Tapi baru lima belas menit duduk, Stella sudah bosan dan memutuskan untuk kembali pulang dengan taksi. Sejak saat itu, Banyu selalu berusaha agar tetap sehat. Jika hanya flu biasa atau demam, ia akan memaksakan dirinya pergi ke sekolah. Kecuali jika Stella yang sakit, ia tidak akan membolos dan menemani Stella seharian. Meskipun setiap kali ia datang sepulang sekolah, Stella akan mengeluh sambil mengatakan bahwa dirinya tidak setia kawan.
"Yakin gak jadi bolos?" tanya Banyu sesampainya di depan ranjang.
Stella menggeleng. "Kalau kamu gak mau, aku gak akan bolos. Sendirian itu gak enak. Makanya mendingan tetep ke sekolah walaupun bosenin," ujarnya dengan wajah cemberut.
Stella itu memang malas, tapi Banyu tahu bahwa Stella juga lucu sekali. Ia hanya bisa menggeleng pelan. Kalau Stella sudah mengatakan akan pergi ke sekolah, maka ia harus meneruskan kegiatan mengurus gadis itu.
Banyu menyuruh Stella mengambil sisir, sedangkan dirinya mengambil sepatu di rak. Menyerahkan sepatu beserta kaus kakinya pada Stella. Sambil menunggu Stella menyisir rambutnya, Banyu mengambil handuk yang sebelumnya dipakai Stella untuk mengeringkan rambut. Ia membawa handuk tersebut ke kamar mandi. Seperti dugaannya, pakaian Stella yang sebelumnya dipakai digeletakkan begitu saja di lantai dekat bath tub.
Tanpa ragu Banyu mengambil pakaian Stella sekalian dalamannya juga. Pakaian itu Banyu taruh di keranjang yang ada di sudut kamar mandi. Tak jauh dari pintu. Sementara handuknya digantungkan.
Saat kembali, Stella sudah rapi. Benar-benar rapi setelah gadis itu memakai body lotion ke tangan dan kakinya, serta menyemprotkan parfum ke beberapa bagian anggota tubuhnya. Banyu memandangnya dari bawah ke atas. Tersenyum melihat itu. Padahal Stella cantik, tapi sisi malasnya itu bisa membuat siapa saja lelah menghadapinya.
"Gak ada yang ketinggalan lagi? Siap sarapan terus berangkat ke sekolah?" tanya Banyu.
"Siap, Bos!" seru Stella semangat. Menghilangkan wajah cemberutnya yang masih terlihat beberapa menit lalu.
Keduanya berjalan. Banyu berhenti di depan rak sepatu. Mengambil sepatunya yang sempat dilepas saat masuk tadi. Ia hendak duduk di lantai, tapi Stella menahan bahunya. Menggeleng sambil berjongkok lebih dulu.
"Biar aku aja yang pasangin," kata Stella.
Diam-diam Banyu menahan senyum geli melihat Stella mengambil kedua sepatunya. Gadis itu mengeluarkan kaus kaki yang dimasukkan ke dalam masing-masing sepatu. Meminta Banyu untuk mengangkat kaki kanan terlebih dahulu.
Dengan tenangnya Stella memakainya kaus kaki pada kaki Banyu. Mulai dari yang kanan, kemudian yang kiri. Dan berakhir memakainya sepatu Banyu. Mengikatnya dengan kuat agar Banyu tidak terjengkang hanya karena ikatan yang asal dan mengakibatkan Banyu menginjak tali sepatunya sendiri.
"Bukannya udah pake body lotion? Megang kaus kaki aku nanti tanganmu jadi bau."
Stella tergelak. "Mana mungkin seorang Banyu kakinya bau. Aku udah sering lakuin ini, dan gak pernah nyium apa-apa. Kamu 'kan selalu ganti kaus kaki setiap dua hari sekali," jelasnya.
Gantian Banyu yang tergelak. Ia menarik tangan Stella dan membawanya untuk segera menuruni anak tangga. Bahkan karena sudah terlalu dekat, Stella sampai mengetahui tentangnya yang selalu mengganti kaus kaki setiap dua hari sekali