Farhan mengusap dagunya. Ia tidak berbohong ketika mengatakan bahwa ia memang pernah berbicara dengan Sandra Widya, murid tahun ketiga yang tewas karena bunuh diri dengan melompat dari atap gedung sekolah. Sebenarnya pembicaraan Farhan dengan Sandra bukan hal yang terlalu penting, bukan pula sesuatu yang sifatnya pribadi. Rasanya, percakapannya hari itu juga sebatas kebetulan saja karena mereka tidak sengaja berpapasan. Seandainya Sandra Widya masih hidup, Farhan bahkan sangsi kakak kelasnya itu masih mengingat dirinya atau tidak. Farhan sendiri tidak akan ingat dengan kakak kelas yang bernama Sandra Widya andai perempuan itu tidak menggemparkan sekolah dengan kabar bunuh dirinya atau karena mereka tidak kebetulan berpapasan hari itu.
"Jadi, apa yang kamu bicarakan sama Kak Sandra waktu itu?" Ulang Geovan tak sabar.
Farhan memutar bola matanya melihat sorot mata penuh ingin tahu dari sepasang bola mata kelam di hadapannya. Geovan tidak pernah menampilkan ekpresi penuh minat seperti ini, setidaknya selama Farhan memperhatikan Geovan sebagai teman sekelasnya selama ini. Lagipula, mereka belum satu bulan saling mengenal.
"Enggak penting banget kok. Malahan, aku pikir hari itu cuma kebetulan aja Kak Sandra ngajak aku ngomong karena aku ada di sana. Waktu itu, aku hendak mengumpulkan beberapa angket yang disebarkan sama anggota jurnalistik sekolah. Kamu ingat 'kan anak-anak ekskul jurnalistik sekolah membagikan angket untuk murid baru yang mungkin berminat untuk bergabung dengan ekskul jurnalistik? Nah, karena aku sebelumnya menjadi ketua kelompok ketika masa orientasi, beberapa teman yang satu kelompok mengumpulkan angket-angket itu kepadaku untuk aku serahkan kepada ketua ekskul jurnalistik. Hari itu kalau nggak salah sehari sebelum Kak Sandra ditemukan bunuh diri dengan melompat dari atap sekolah. Kak Sandra kelihatan terburu-buru dan berkeringat. Dia sendirian dan membawa-bawa flashdisk di genggamannya. Dia nanya ke aku apakah ketua jurnalistik ada di ruang ekskul, tapi karena aku memang belum masuk dan baru sampai di sana jadi aku bilang kurang tahu. Lalu—"
"Tunggu, tunggu, Kak Sandra panik dan bawa flashdisk?" Potong Geovan tiba-tiba.
Farhan sedikit terkejut mendengar Geovan yang sejak tadi diam mendengarkan tiba-tiba memotong ceritanya dengan suara yang cukup keras.
"Ya, aku lihat Kak Sandra kelihatan panik. Dia juga berkeringat gitu kayak habis lari. Soal flashdisk itu, sebenarnya aku nggak sengaja lihat. Kak Sandra berbicara dengan terbata-bata karena napasnya putus-putus, dan karena dia berkeringat, tangannya berkali-kali mengusap wajah yang kebetulan tangan itu lagi megang flashdisk. Makanya aku ngeliat dia genggam flashdisk itu."
"Kak Sandra mau ke ruang ekskul jurnalistik?"
Farhan mengangguk. "Soalnya Kak Sandra nanyain ketua ekskul jurnalistik."
"Oke, Oke, lanjut."
"Oke jadi aku bilang ke Kak Sandra kalau aku belum tahu ketua ekskul jurnalistik ada di dalam ruangan atau enggak. Kak Sandra bilang makasih dan langsung melesat gitu aja masuk ke ruang ekskul jurnalistik yang enggak dikunci. Aku baru saja menyusul untuk memberikan angket-angket yang memang dari awal mau aku kumpulkan ke ketua ekskul jurnalistik, namun aku nggak jadi masuk pas dengar ribut-ribut di dalam ruangan ekskul jurnalistik."
"Hah? Ribut apa?"
Farhan menggaruk tengkuknya dan menghela napas, tampak tidak yakin ingin menjawab. "Itu...."
"Katakan, Han. Please."
Farhan mendengus. "Oke, Oke, tapi ini hanya berdasarkan apa yang aku dengar hari itu ya."
"Iya, iya."
"Aku dengar Kak Sandra minta ke ketua ekskul jurnalistik untuk mempublikasikan sesuatu. Aku nggak terlalu jelas karena suara mereka tabrak-tabrakan gitu karena berdebat. Kak Sandra ngomongin hal penting mengenai àib pengurus OSIS yang sengaja disebarkan dan dia ingin ketua ekskul jurnalistik untuk mempublikasikan apa yang dia bawa di dalam flashdisk itu tapi sepertinya ketua ekskul jurnalistik menolak hal itu. Aku nggak ngerti mengapa ketua ekskul jurnalistik terkesan ketakutan di perdebatan yang aku dengar."
"Ketua ekskul jurnalistik ketakutan?"
"Yeah, aku hanya menilai berdasarkan suaranya ketika berdebat sama Kak Sandra. Aku melihat mereka dari jendela karena untungnya gorden yang seharusnya menutup malah terbuka sedikit jadi aku melihat mereka berdua. Kak Sandra berkali-kali bilang kalau dia yang akan bertanggungjawab andai ketua ekskul jurnalistik dalam bahaya, namun sepertinya ketua ekskul jurnalistik juga bertahan dengan pendapatnya sendiri sehingga ia tetap pada penolakan tersebut."
"Dalam bahaya?"
Farhan mengangguk. "Aku nggak ngerti apa maksudnya, tapi sumpah aku dengar berkali-kali Kak Sandra dan ketua ekskul jurnalistik mengatakan tentang bahaya tersebut. Setidaknya sampai sekarang, yang aku ingat dari percakapan itu adalah tentang bahaya yang diperdebatkan oleh keduanya. Entah apa maksudnya."
Geovan semakin bingung dengan penjelasan yang diberikan oleh Farhan. Sandra Widya mendesak ketua ekskul jurnalistik untuk mempublikasikan sesuatu dan bahkan berjanji akan bertanggungjawab jika ketua ekskul jurnalistik dalam bahaya. Bahaya apa sebenarnya yang dimaksud? Lantas mengapa publikasi tersebut berpotensi berbahaya? Bukankah sudah biasa murid-murid di sekolah meminta untuk mempublikasikan berita atau karya-karya mereka di forum jurnalistik sekolah. Apa yang ada di dalam flashdisk Sandra hingga hal itu sangat berbahaya?
"Han, kamu nggak tahu apa isi flashdisk Kak Sandra?"
Farhan menggeleng. "Mana mungkin aku tahu isi barang pribadi Kak Sandra. Lagipula, jika pun flashdisk itu masih ada mungkin sekarang berada di tangan keluarganya, atau mungkin tidak."
"Hah?"
Farhan mengusap dagu. "Bukan apa-apa sih. Kalau isi flashdisk itu berbahaya sama seperti yang aku dengar, aku rasa keluarganya Kak Sandra nggak akan menerima kesimpulan polisi kalau puteri mereka meninggal karena bunuh diri."
"Kamu percaya kalau Kak Sandra nggak bunuh diri?"
Farhan mengangkat bahu. "Iya dan tidak, seimbang sih. Kalau saja aku nggak kebetulan ketemu Kak Sandra hari itu, mungkin sekarang aku juga nggak mikir ada kemungkinan lain dari kematian Kak Sandra. Tapi aku juga nggak punya bukti apapun, jadi aku juga nggak bisa memastikan mana yang benar. Sekarang, aku sadar diri bahwa aku cuma murid SMA tahun pertama yang nggak memiliki kemampuan sama sekali untuk membuktikan apa yang ada di dalam pikiranku. Jadi, jika polisi menyimpulkan bahwa Kak Sandra bunuh diri ya satu-satunya yang bisa kulakukan hanya menerima. Apalagi keluarganya sendiri sudah menerima hal tersebut dan tidak menuntut macam-macam."
Geovan terdiam. Bahkan Farhan berpikir demikian dengan kematian Sandra Widya. Mungkin Farhan hanya sekadar merasa aneh dengan kematian Sandra Widya karena ia bertemu dengan yang bersangkutan hanya sehari sebelum berita bunuh diri itu ramai di sekolah. Terlebih, Farhan melihat kejadian yang cukup membingungkan. Geovan sendiri juga akan merasa terganggu jika ia melihat perdebatan yang dilakukan oleh Sandra Widya dan ketua ekskul jurnalistik sehari sebelum kematiannya. Belum lagi Sandra Widya dikatakan meninggal karena bunuh diri yang jelas-jelas menjadi pertanyaan besar untuk banyak orang mengapa gadis yang tampak kuat dan lantang membela orang lain bisa mengakhiri hidupnya sendiri secara tiba-tiba. Geovan masih berusaha berpikir bahwa Sandra Widya benar-benar tidak kuat menghadapi masa lalunya yang diunggah di forum jurnalistik sekolah, namun dua orang yang mengejar-ngejar dirinya dan Chima membuat Geovan sadar bahwa Sandra Widya tidak seharusnya meninggal hari itu.
Sandra Widya tahu sesuatu, dan gadis itu dibunuh sebelum ia sempat mempublikasikan fakta yang ditemukannya.
O||O
Gara-gara pembicaraan yang dibahas dengan Geovan mengenai kematian Sandra Widya dan beberapa hal yang terjadi sebelumnya, Farhan pulang dari rumah Geovan sudah cukup malam. Awalnya, mereka berencana akan menyelesaikan tugas kelompok sampai maksimal pukul delapan malam, namun molor hingga pukul sepuluh malam dan bahkan tugas itu baru separuh selesai. Farhan mengomel mengenai betapa sia-sianya waktu yang terbuang untuk membicarakan kakak kelas yang sudah meninggal dan tugas mereka yang tidak selesai. Geovan meminta maaf sembari tertawa dan mereka berjanji akan meneruskan tugas itu esok hari di perpustakaan sekolah. Geovan biasanya mengantarkan siapa pun tamu yang datang ke rumahnya, namun Farhan menolak karena ia sudah membawa motor sendiri ketika datang ke rumah Geovan.
Komplek perumahan tempat Geovan tinggal cukup sepi di malam hari meski area itu sebenarnya perumahan yang cukup mewah. Farhan bahkan hanya menemukan satu pos satpam di bagian depan gapura masuk perumahan. Beberapa perumahan memiliki satpam di beberapa blok, beberapa perumahan lain hanya berada di pintu masuk. Menimbang bahwa perumahan tempat tinggal Geovan cukup mewah dan sangat besar, rasanya tidak terlalu aman jika satpam yang berjaga hanya di bagian depan gapura masuk, namun Farhan tidak memiliki hak untuk mengkritik karena ia juga tidak tinggal di sana. Pemikiran tersebut hanya sekelebat muncul karena ini pertama kalinya Farhan berkunjung ke rumah Geovan. Sebagai murid baru, Geovan adalah teman SMA pertama yang ia kunjungi rumahnya karena kebetulan tugas kelompok mereka bersama.
Farhan menghela napas di balik masker yang ia kenakan. "Gara-gara Geovan, aku juga jadi kepikiran dengan Kak Sandra." Gumamnya pelan.
Farhan mengemudikan motornya pelan-pelan. Jalanan di luar komplek perumahan Geovan masih berupa jalan aspal dalam. Butuh beberapa meter sampai ia keluar di jalan raya. Malam hari suasana benar-benar sepi. Farhan bisa langsung mengemudikan motornya dengan cepat karena jalan sepi, namun ia memilih pelan-pelan karena nasihat keluarganya. Lebih baik terlambat asal selamat. Bukan berarti Farhan tidak pernah ngebut, hanya saja situasi saat ini tidak mengharuskannya mengemudikan motor dengan cepat.
Farhan mengerem dengan panik ketika ban motornya terasa oleng. Ia baru saja keluar tidak jauh dari jalanan komplek perumahan Geovan. Hanya tinggal sedikit lagi Farhan sampai di jalan raya utama. Farhan meminggirkan motornya dan memberiksa kondisi ban motornya yang tiba-tiba terasa oleng dan seperti hendak terpeleset. Area ini sudah bukan bagian komplek perumahan Geovan dan hanya jalanan beberapa meter sebelum keluar ke jalan raya. Tidak banyak orang yang lewat jika malam sudah larut.
Farhan membungkuk dan mendengus kesal ketika melihat ban motornya kempes. "Hah? Di saat seperti ini malah kempes? Yang benar saja!" Keluhannya kesal. Farhan menendang ban motornya dengan kesal yang seketika membuatnya kesakitan.
Farhan mengedarkan pandangannya, sama sekali tidak ada bengkel di area ini. Tentu saja, area milik perumahan mewah mana mungkin ada bengkel yang biasanya mangkal di jalanan. Kalau pun ada, di jam-jam yang sudah cukup larut seperti ini tidak mungkin masih melayàni pelanggàn.
Farhan merogoh ponsel di saku celananya. Ia hendak menghubungi nomor Geovan, namun tiba-tiba merasa ragu karena sudah cukup malam. Farhan merasa tidak enak karena ia sendiri tidak benar-benar kenal dekat dengan Geovan. Rasanya aneh sekali menghubungi Geovan dan meminta tolong bannya yang bocor padahal ia baru hari ini saja berinteraksi cukup banyak dengan pemuda itu.
"Aduh, bagaimana ya?" Gumam Farhan pelan. Ia bukannya gengsi atau apa untuk meminta tolong, tetapi ia sendiri memang merasa sungkan apalagi dengan orang baru. Belum lagi posisinya sudah cukup jauh dengan rumah Geovan. Komplek perumahan Geovan itu sangat besar, dan tiap rumah memiliki ukuran yang cukup luas. Rasanya benar-benar tidak enak jika Farhan harus meminta Geovan kemari. Apalagi, belum tentu juga Geovan tahu di mana ada bengkel yang buka di jam seperti ini.
"Kenapa motornya?"
Farhan tersentak kaget dan nyaris menjatuhkan ponselnya ketika mendengar suara seorang laki-laki yang tiba-tiba menanyakan kondisi motornya. Farhan menoleh, mendapati seorang pemuda dengan tinggi yang nyaris sama dengannya berdiri mengenakan jaket hitam, topi, dan sebuah masker. Farhan nyaris mengira dirinya sebagai hantu karena muncul tiba-tiba. Memangnya ada ya orang yang berjalan sendirian di waktu yang cukup larut seperti ini? Farhan bertanya-tanya karena ia belum menemukan orang lain di sekitar perumahan Geovan setelah ia keluar dari sana.
"Oh, bannya bocor." Jawab Farhan singkat.
Laki-laki bermasker itu mendekati Farhan. "Boleh aku periksa?"
Farhan menaikkan sebelah alisnya, namun ia tidak merasa bahwa laki-laki itu berbahaya. "Oke."
Farhan hanya menatap apa yang dilakukan laki-laki itu. Dia berkali-kali menyentuh ban motor Farhan dan menyusuri tiap permukaannya seperti sedang mencari sesuatu. Ia kemudian berdiri dan menepuk telapak tangannya sendiri yang kotor.
"Coba kamu periksa, sepertinya ada paku atau benda tajam yang menancap. Barusan aku memeriksa tapi nggak ketemu. Sepertinya kurang teliti."
Farhan mengangguk. "Oke." Jawabnya singkat. Ia segera berjongkok dan melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh laki-laki tersebut. Farhan menyusuri ban motornya dengan telapak tangan pelan-pelan, berharap menemukan sumber bannya yang tiba-tiba kempes. Sebenarnya, Farhan sudah paham bahwa ban yang bocor semacam ini kemungkinan besar karena paku atau benda tajam kecil lainnya, namun ia terlalu malas untuk menyentuh ban motornya yang kotor. Karena laki-laki asing tersebut tiba-tiba membantu memeriksa ban motornya, Farhan menjadi tidak enak jika menolak sehingga ia dengan terpaksa melakukan hal yang sama dengan apa yang laki-laki itu lakukan.
"Aku rasa nggak ada—Aarghhh—hmmmmp." Farhan melebarkan matanya ketika rasa sakit yang teramat sangat menjalar dari bagian dadà ke seluruh tubuh hanya sesaat ketika ia berbalik untuk berhadapan dengan laki-laki asing tersebut.
"Hhhmmp.... Hmmmmp...." Farhan berusaha melepaskan diri ketika laki-laki itu terus menekan benda tajam yang telah menancap di dadà Farhan. Rasa sakit yang luar biasa membuat air mata Farhan menetes. Ia masih berusaha keras untuk meronta dan melepaskan diri, namun laki-laki yang bahkan tampak lebih kurus darinya ini memiliki kekuatan yang tidak terkira.
Kedua mata Farhan semakin berat. Ia tidak kuasa menahan rasa sakit luar biasa dari tusukan benda tajam yang terus ditekan kuat di dadanya. Kakinya yang sejak tadi bergerak-gerak dan berusaha menendang perlahan-lahan lemas, telapak tangannya yang menggenggam pergelangan tangan laki-laki tersebut juga mengendur. Farhan sudah tidak bisa lagi memikirkan apapun. Saat ini, yang bisa ia rasakan hanya sakit yang luar biasa. Pandangan Farhan semakin mengabur seiring dengan tusukan yang semakin dalam. Di detik-detik berikutnya, Farhan tidak lagi merasakan dirinya dan semuanya menggelap begitu saja.
O||O