Dua Tahun Silam -8

1418 Kata
Geovan membelalak ketika melihat Chima berbaring di atas lantai toilet dengan seseorang yang menodongkan cutter di atas tubuhnya. Geovan segera menghampiri gadis itu dan menendang orang yang berusaha untuk melukai Chima. Ini benar-benar buruk. Baru beberapa saat yang lalu Chima mengatakan bahwa ia dikejar-kejar oleh seseorang yang berniat melukainya dengan cutter, siapa sangka orang tersebut masih menunggunya di toilet dan berusaha melakukan hal yang sama kepada Chima. "Lepasin brengsék!" Geovan mendorong tubuh penjahàt yang berusaha melukai Chima. Orang itu tersentak mundur, Geovan melihat dengan jelas ekspresi kesal di kedua mata orang itu. Penampilannya benar-benar sama dengan laki-laki yang berusaha untuk melukai Geovan di toilet laki-laki. Gawat, dia benar-benar orang yang berbeda dengan laki-laki yang menyeràng mereka di atap malam sebelumnya dan menyeràng Geovan di toilet tadi. Geovan menarik lengan Chima dan membuat gadis itu tetap di belakang tubuhnya. "Chima, segera lari saat aku mengalihkan perhatian dia." "Hah? Kamu nggak lihat dia bawa cutter? Ayo kabur sama-sama." Seru Chima. Geovan mendecak kesal. Chima susah sekali diajak bekerja sama. Geovan juga tidak berniat untuk mengorbankan diri. Maaf saja, ia tidak semulia itu. Geovan akan kabur setelah memastikan Chima selamat. Gadis itu mungkin biasa berkelahi, namun kondisi saat ini tidak memungkinkan. Bahkan untuk Geovan, menghadapi seseorang yang membawa senjata jelas bukan ide yang bagus. Tapi tunggu.... Orang di hadapannya ini tampak tidak sekuat laki-laki yang menyeràng Geovan di toilet. "Dia ini.... Perempuan?" Tanya Geovan. Chima mengangguk. "Atau setidaknya itulah asumsiku. Aku hanya melihat dari penampilan fisiknya. Dia cukup ramping untuk ukuran laki-laki." Geovan tahu penampilan fisik tidak bisa menjadi penentu jenis kelàmin seseorang. Ada banyak laki-laki dengan bentuk tubuh ramping seperti wanita, pun sebaliknya, ada banyak perempuan dengan tubuh kekar seperti laki-laki. Yang jelas, dia adalah orang yang berbeda dengan penyeràng yang berusaha melukai Geovan sebelumnya. Ini menjelaskan bahwa orang yang mengejar mereka ternyata tidak hanya satu orang. Penyeràng yang kemungkinan perempuan ini tanpak tidak sekuat yang satunya. Geovan melepaskan pegangannya pada pergelangan tangan Chima dan dengan cepat menerjang tubuh orang itu dengan cepat. Geovan mendorongnya dengan keras hingga tubuh orang itu limbung dan oleng ke salah satu bilik toilet. "Sekarang saatnya!" Seru Geovan keras. Ia menarik pintu bilik toilet dan menahannya dengan sebuah tali rambut milik Chima. Geovan segera menarik pergelangan tangan Chima dan berlari keluar dari area toilet perempuan. Pintu bilik toilet itu tidak akan tertahan lama karena hanya ditahan dengan ikat rambut milik Chima yang tentu saja tidak seberapa kuat. Geovan masih sempat mendengar pintu bilik toilet itu digedor-gedor dengan keras. Geovan dan Chima berhenti ketika mereka sudah berada di koridor, beberapa langkah lagi sampai ke kelas mereka. Geovan membungkuk dan menumpukan telapak tangannya pada lutut, berusaha keras meraup napas dengan rakus. Chima tidak jauh berbeda. Rambut pendek Chima yang tidak diikat lengket di dahinya karena berkeringat. "Apa-apaan...." Keluh Chima sembari bernapas putus-putus. "Aku sudah bilang, kita nggak bisa ke tempat sepi sendirian. Mereka bahkan ada di sekolah.ini benar-benar kacau." Chima mengusap peluh di sekitar pelipisnya dengan asal. "Ya, ya, aku paham. Aku hanya nggak nyangka dia datang lagi padahal sebelumnya dia udah nyeràng aku." "Dia orang yang sama dengan yang nyeràng kamu sebelumnya?" Chima mengangguk. Pikiran Geovan benar-benar kosong saat ini. Dia jelas orang yang berbeda dengan yang menyeràng Geovan di toilet sebelumnya. Geovan masih berpikir bahwa dia seorang perempuan dari perawakan tubuhnya, namun ia juga tidak bisa meyakini hal tersebut karena tidak memiliki bukti. "Geo, apa yang harus kita lakukan saat ini?" Geovan menghela napas panjang. "Masuk kelas dan kita mikir nanti. Ayo cepat!" Geovan dan Chima segera masuk ke kelas. Jam pelajaran terakhir sudah berlangsung sekitar sepuluh menit dengan seorang guru perempuan yang mengajar. Beruntung, Geovan dan Chima masih diizinkan masuk meski terlambat dengan catatan tidak boleh terlambat lagi setelah ketua kelas mencatat nama mereka berdua dengan keterangan pelanggaran. Murid-murid lain di kelas tampaknya cukup bingung ketika Geovan dan Chima datang dengan ekspresi panik dan wajah pucat seperti itu. Sisa jam pelajaran hari itu dihabiskan Geovan dengan berpikir bagaimana caranya ia dan Chima bisa selamat tanpa harus bertemu lagi dengan dua orang berbahaya yang berusaha membunuh mereka. O||O "—van, Geovan! GEOVAN!" Geovan membelalak. "Y-Ya?" "Kamu ngelamun mulu sih? Nggak dengerin apa yang aku jelasin?" Geovan memaksakan senyum dan meminta maaf. Ia sedang melakukan kerja kelompok dengan salah satu teman sekelas yang memberikannya beberapa salinan materi di sekolah. Namanya Farhan. Pemuda itu sangat aktif dalam mengerjakan sesuatu dan begitu rinci. Dia tidak peduli memiliki partner siapa pun asalkan bisa bekerja sama dengan baik. Geovan sebenarnya tidak berniat untuk mengabaikannya, namun pikirannya benar-benar tidak bisa diajak kompromi pasca kejadian-kejadian buruk yang menimpa dirinya dan Chima. Padahal Geovan sudah berjanji kepada dirinya sendiri bahwa ia akan belajar dengan giat, namun semua kejadian buruk ini benar-benar mengganggunya. "Maaf Han, aku cuma lagi kepikiran sesuatu." "Kepikiran apa?" Geovan menggaruk tengkuknya pelan. "Enggak, bukan apa-apa kok." Farhan mendecih pelan, tampak iritasi dengan jawaban tersebut. "Bilang Geo, atau aku nggak ngelanjutin tugas kita?" Geovan melebarkan matanya karena terkejut. Ia tidak mengira Farhan adalah tipe orang yang cukup ingin tahu dengan masalah orang lain. Tidak salah sih, dan sebenarnya Geovan juga tidak mempermasalahkan keinginan Farhan andai masalah Geovan bukan perihal yang berbahaya. Geovan dan Farhan itu sama saja dengan murid-murid sekelas lainnya. Mereka hanya sebatas teman sekelas dan tidak begitu akrab. Jadi agak aneh ketika Geovan mendengar Farhan ingin tahu mengenai masalahnya. Entah pemuda itu sekadar ingin tahu saja atau memang dia cukup peduli dengan masalah orang lain. Yang manapun sebenarnya tidak akan membuat Geovan mau menceritakan masalahnya. Ayolah, mana mungkin ia dengan santai membicarakan bahwa ada laki-laki misterius yang mengejar dirinya dan Chima lalu ingin membunuh mereka hanya karena Geovan dan Chima berada di tempat Sandra Widya diduga melakukan bunuh diri. "Han, kamu ada kenalan kakak kelas nggak?" "Kamu naksir kakak kelas atau gimana?" Geovan menggeleng. "Enggak gitu, aku ada sedikit masalah sama kakak kelas. Oh ya, kamu kenal sama Kak Sandra?" "Anak OSIS yang lompat dari atap itu? Enggak kenal, cuma tahu aja karena beritanya ada di mana-mana. Kamu ngapain nanya soal Kak Sandra? Jangan-jangan masalahmu ada kaitannya sama Kak Sandra ya?" "Sebenarnya enggak juga. Menurutmu, apa wajar kalau Kak Sandra bunuh diri hanya karena dia pernah mencium teman sekelasnya? Maksudku, itu bukan sesuatu yang memalukan, atau setidaknya untukku." Farhan menopang dagunya dengan telapak tangan. "Menurutku juga enggak. Para pengurus inti OSIS itu malah lebih parah. Kalau mereka yang bunuh diri aku rasa wajar, meski aku nggak berharap juga sih. Meski mereka memang menyebalkan, aku enggak setega itu dengan berharap mereka mati." "Jadi, menurutmu mengapa Kak Sandra bunuh diri?" Farhan mengangkat bahu. "Entahlah, kita juga enggak tahu mental seseorang kayak gimana. Bisa jadi apa yang kita anggap sepele merupakan masalah yang sangat besar untuk Kak Sandra, jadi aku enggak bisa menghakimi begitu saja pilihan yang dia ambil. Tapi jujur deh, beberapa hari setelah kenangan Kak Sandra yang katanya nyium teman sekelasnya itu viral, aku masih beberapa kali ngobrol sama Kak Sandra dan orangnya kelihatan baik-baik saja." Geovan melebarkan matanya. "Apa? Kamu ngobrol sama Kak Sandra?" "Hm." Geovan mencengkeram bahu Farhan dengan kuat. "Katanya kamu enggak kenal sama Kak Sandra?" Seru Geovan keras sembari mengguncang-guncang bahu Farhan. "Aaarghhhh.... Berhenti Geo!" Seru Farhan kesal. Ia melepaskan dengan paksa cengkeraman tangan Geovan di bahunya. "Aku memang nggak kenal Kak Sandra secara dekat, tapi bukan berarti aku nggak pernah ngobrol sama dia 'kan! Lagipula Kak Sandra 'kan salah satu anggota OSIS yang juga ikut di acara orientasi." "Lalu, apa yang kamu bicarakan sama Kak Sandra?" Farhan menatap Geovan dengan kelopak mata menyipit. "Kamu kenapa nanyain Kak Sandra terus? Jangan-jangan sebenarnya kamu naksir Kak Sandra ya?" "Apapun yang kamu pikirkan soal naksir atau semacamnya itu salah, aku punya alasan sendiri kenapa nanyain Kak Sandra, jadi dengan kerendahan hatiku ini, tolong kasih tahu aku apa yang kamu bicarakan dengan Kak Sandra?" Farhan menatap Geovan dengan kening mengernyit samar. Ia tidak tahu Geovan bisa begitu terobsesi untuk mengetahui pembicaraan orang lain. Farhan memang tidak terlalu dekat dengan Geovan. Teman-teman sekelasnya juga sama. Semua tahu bahwa Geovan hanya dekat dengan Chima yang mereka ketahui telah berteman dengan Geovan sejak kecil. Geovan itu anomali Chima. Dia adalah pemuda yang tampak cuek dan tidak peduli dengan sekitarnya jika itu tidak ada hubungannya dengan kehidupan yang ia jalani. Istilahnya, untuk apa mengurusi kehidupan orang lain jika hidup sendiri saja belum tentu sudah benar. Makanya, Farhan cukup terkejut melihat Geovan seperti seseorang yang sangat frustrasi hanya karena kematian Sandra Widya. Farhan sebenarnya juga tidak ingin ikut campur mengenai apa yang Geovan ingin lakukan dari informasi tersebut, namun jika memang bisa membantu, maka ia tidak keberatan untuk membagi informasinya. O||O
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN