Geovan segera berdiri dan membantu Chima untuk bangun. Gadis itu berkali-kali menengok ke belakang seolah tengah memastikan sesuatu. Geovan melakukan hal yang sama. Ia tidak lagi melihat laki-laki yang sama dengan yang ada di atap semalam. Siapa dia? Mengapa laki-laki itu bisa berada di sekolah pada siang hari dan dengan berani membawa senjata tajam. Geovan bersumpah ia melihat bagaimana laki-laki itu berusaha untuk mengayunkan pisau yang ia bawa kepada Geovan. Apakah dia tidak berpikir bahwa pembunuhàn yang dilakukan di sekolah pada siang hari akan menimbulkan keributan dan berpotensi diketahui dengan cepat? Memangnya dia tidak takut ketahuan?
"Chima, kenapa kamu lari?" Tanya Geovan bingung.
Chima meraup napas dengan rakus. "Kamu juga lari-lari Ge, ada apa?"
Geovan melirik sekitar, beberapa murid lain memandangi mereka dengan ekspresi bingung. Geovan segera menggandeng pergelangan tangan Chima dan membawa gadis itu ke halaman belakang sekolah yang jarang dikunjungi oleh murid-murid lain.
Geovan menghela napas keras. "Katakan, ada apa Chima?"
Chima duduk pada satu-satunya bangku yang ada di sana. Kepalanya mendongak, memandangi langit biru cerah di atas seolah tengah memikirkan sesuatu. Geovan menyusul Chima untuk duduk di bangku yang sama setelah ia selesai menetralkan detak jantungnya.
"Sebenarnya, ada seseorang yang ngejar-ngejar aku." Ucap Chima lirih.
"Hah? Ngejar-ngejar gimana? Suka sama kamu?" Tanya Geovan bingung.
Chima menggeleng keras. "Bukan gitu maksudnya. Aku nggak akan lari ketakutan kalau hanya sekadar hal itu. Maksudnya, ada seseorang yang ngejar-ngejar aku dan berusaha untuk membunuhku."
Jantung Geovan berdetak kencang ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Chima. "Apa maksudnya membunuhmu? Kamu lihat orang itu berusaha menyakitimu?"
Chima mengangguk. "Cutter, aku ngeliat orang itu menodongkan cutter kepadaku. Kukira aku salah, maksudku, aku tidak pernah berpikir akan ada seseorang yang berusaha menyerangku di area sekolah apalagi pada siang hari. Tapi dia terus mendekatiku dengan cutter itu dan mengayunkannya seolah memang berusaha untuk menyayat kulit tubuhku. Aku segera melarikan diri dengan panik lalu menabrak dirimu. Lalu Geo, kenapa kamu berlari panik seperti itu?"
Geovan menghela napas. "Kamu ingat dengan laki-laki yang kita temui di atap tadi malam? Aku bertemu lagi dengannya di toilet dan dia berusaha untuk membunuhku. Aku nggak tahu insiden yang kualami dengan yang terjadi padamu kebetulan atau tidak, tapi aku merasakan bahaya yang cukup besar terjadi di sekitar kita."
Chima melebarkan matanya. "Apa? Laki-laki yang kita temui semalam datang lagi dan berusaha membunuhmu? Tapi mengapa?"
Geovan menggeleng. "Satu-satunya asumsi yang bisa kupikirkan hanya karena kita berada di tempat kejadian. Kurasa, kematian Kak Sandra bukan karena bunuh diri. Mungkin Kak Sandra memang benar dibunuh oleh seseorang, yang sialnya sekarang orang itu berusaha mengejar kita karena kita mengetahui fakta ini. "
Chima menunduk. "Maafin aku Geo, aku nggak tahu kalau tindakanku akhirnya jadi benar-benar membahayakan. Terlebih hal ini tidak hanya membahayakan nyawaku tapi juga nyawamu."
Geovan sungguh ingin memarahi Chima karena kesalahan besarnya, namun ia sendiri tahu bahwa hal itu tidak akan mengubah apapun. Saat ini, jika ada yang harus dilakukan maka mereka mau tidak mau harus mengungkap siapa yang sebenarnya membunuh Sandra Widya. Orang itu langsung mengincar Geovan dan Chima padahal mereka berdua belum tahu secara pasti siapa pembunuhnya. Geovan merasa bingung setelah mendengar penuturan Chima. Ada seseorang yang mengejarnya juga di waktu yang bersamaan dengan Geovan, itu artinya ada dua orang yang berusaha menyingkirkan mereka. Tetapi di malam sebelumnya hanya ada satu orang yang mereka temui. Lantas siapa pengejar lainnya? Apakah mereka berada di pihak yang sama? Bukankah tambah menyeramkan jika pembunuh Sandra Widya ternyata memiliki rekan? Geovan benar-benar pusing memikirkannya.
"Untuk sekarang, lebih baik kita jauhi tempat-tempat yang sepi. Aku rasa, mereka mengincar kita di tempat-tempat yang tidak banyak orang."
"Tapi mereka berani menunjukkan diri di sekolah Ge."
Geovan tidak menampik hal tersebut, jujur saja ia sangat terkejut karena para penjàhat itu berani menunjukkan diri di sekolah ketika pada siang hari. Geovan ingin sekali menarik masker yang dipakai laki-laki itu dan melihat siapa dia sebenarnya, namun akal sehatnya mengatakan bahwa orang itu berbahaya dan memerintahkan dirinya sendiri untuk melarikan diri. Lagipula, Geovan tidak memiliki senjata apapun sementara laki-laki itu membawa pisau. Baru semalam lengan Geovan terluka karena sayatan pisau dari orang yang sama. Beruntung luka itu tidak cukup dalam.
"Tapi mereka tidak menyeràng kita secara terang-terangan. Aku rasa, mereka tidak sepenuhnya berani melakukan penyerangán di hadapan orang-orang. Aku merasakan firasat buruk mengenai ini."
"Hah? Ada apa?"
Geovan menatap Chima lekat-lekat. "Menurutmu, mungkin nggak sih kalau orang-orang yang berusaha untuk membunuh kita itu adalah warga sekolah ini?"
Chima melebarkan matanya. "M-Maksudmu salah satu murid?"
Geovan mengangkat bahu. "Entahlah, bisa jadi. Tidak hanya murid sekolah ini, tapi bisa juga para guru atau petugas lainnya." Geovan mengacak surai hitamnya kesal. "Aku nggak tahu, pikiranku benar-benar kacau."
"Ge, menurutmu apakah orang-orang yang mengejar kita itu juga orang yang sama dengan mereka yang menyebarkan àib para pengurus OSIS ke forum jurnalistik sekolah? Entah mengapa, rasanya semua ini berhubungan."
Geovan menghela napas panjang. "Aku ingin mengelak, tetapi tampaknya berhubungan. Semua ini bermula karena àib para pengurus OSIS itu yang disebar secara terus-menerus. Lalu kemudian berita tentang beberapa orang yang mulai depresi terdengar dan menjadi gunjingan rutin di sekolah, sampai kemudian Kak Sandra dikabarkan bunuh diri dengan melompat dari atap sekolah. Aku rasa—" Seolah menyadari sesuatu, Geovan melebarkan matanya.
"Ada apa Ge?" Chima mengernyit bingung melihat perubahan ekspresi tiba-tiba yang ditampilkan oleh Geovan.
"Àib para pengurus OSIS...." Gumam Geovan pelan. ".... Pengurus OSIS itu! Semuanya bukan berawal dari àib tersebut melainkan dari kegiatan orientasi yang berubah menjadi perundungan hari itu!" Seru Geovan.
"H-Hah? Bukankah mereka yang mendapatkan kerugian dari kejadian ini?"
"Semuanya berawal dari sana. Kamu ingat 'kan ada yang menyebarkan video kegiatan orientasi kita ke media sosial dan membuat anak-anak OSIS itu marah-marah di hari terakhir kegiatan kita. Perundungan yang dilakukan oleh pengurus OSIS itu sebenarnya masih tahap biasa saja meski aku enggak membenarkan sama sekali apa yang mereka lakukan. Namun tampaknya, ada seseorang di angkatan kita yang benar-benar benci dengan kegiatan tersebut dan memulai kekacauan ini. Lalu semuanya semakin runyam karena amarah pengurus OSIS yang tidak terbendung di malam keakraban kita. Malam itu, mungkin menjadi saat di mana orang yang memulai kekacauan ini memastikan bahwa apa yang ia lakukan benar. Dengan pengurus OSIS yang semakin menggilà dan semena-mena memperlakukan adik kelas, orang itu pasti semakin yakin bahwa tindakannya mempermalukan pengurus OSIS adalah benar." Jelas Geovan panjang lebar.
"Jadi maksudnya, tersangka dari semua kekacauan ini menyempit hanya pada angkatan kita?" Tanya Chima memastikan.
"Sebenarnya enggak juga. Ada banyak kemungkinan untuk terjadi. Misalnya, meskipun yang diseràng adalah angkatan kita, yang membenci pengurus OSIS bukan hanya angkatan kita. Pengurus OSIS hanya sedikit jika dibandingkan dengan seluruh murid-murid tahun kedua dan tahun ketiga. Angkatan kita mungkin memiliki alasan untuk melakukan ini karena perundungan tersebut, namun hanya satu alasan yang bisa digunakan karena kita memang baru saja masuk. Tapi murid-murid tahun kedua dan ketiga memiliki lebih banyak alasan yang bisa jadi tidak kita ketahui untuk membenci pengurus OSIS."
Chima mengerutkan dahinya dengan ekspresi semakin bingung. "Mengapa pengurus OSIS harus dibenci hingga seperti itu? Maksudku, ya aku tahu mereka memang agak menyebalkan dan sok berkuasa. Tapi jika ini balas dendam, bukankah agak berlebihan? Menyebarkan áib seperti itu bisa menyebabkan kerugian dalam berbagai aspek."
"Entahlah." Geovan mengangkat bahu. "Seperti yang aku katakan sebelumnya, kita hanyalah murid-murid yang baru masuk alias nggak tahu apapun yang terjadi sebelumnya. Yang aku tahu, pengurus OSIS itu didominasi oleh anak-anak dari orang-orang berpengaruh. Chima, kamu tahu kan pengurus inti OSIS itu semuanya anak-anak dengan orang tua yang kuat secara finansial dan kuasa?"
"Aku tahu, lagipula sekolah ini memang milik anak-anak kaya. Untuk kaum jelàta seperti kita, mungkin mendekati ruang OSIS saja dilarang." Canda Chima sembari terkekeh pelan.
Geovan tersenyum tipis. Chima bukan rakyat jelàta seperti candaan yang dikatakan olehnya. Gadis itu sama saja termasuk golongan anak-anak kaya meski dalam hal ini ia tidak menunjukkannya. Bagi Geovan, Chima dan keluarganya sangat berkecukupan, namun jika dibandingkan dengan para OSIS itu, mungkin perumpamaan Chima sebagai rakyat jelàta cukup akurat, karena mereka memang benar-benar kaya.
"Apa ini semacam dendam pribadi? Tapi mengapa kekacauannya baru dilakukan sekarang?"
"Hm.... Lagi-lagi, aku hanya bisa menjawab semua itu dengan banyak kemungkinan Chima. Satu hal yang menurutku sangat pasti adalah menghindari kecurigaan. Siapa pun dia yang membenci OSIS pasti cukup cerdas dengan melakukan ini. Maksudku, kegiatan orientasi murid baru jelas tidak akan pernah ada sangkut pautnya dengan murid non OSIS 'kan? Jika mereka memang benar-benar bukan dari angkatan kita melainkan murid tahun kedua atau tahun ketiga, maka mereka akan aman. Tidak akan ada bukti yang merujuk ke arah murid-murid tahun kedua dan tahun ketiga karena mereka yang bukan OSIS sama sekali tidak ada interaksi dengan kegiatan orientasi murid baru."
Chima menghela napas. Mereka seperti menemukan jalan buntu dari kasus ini. Chima merasa sangat bersalah karena melibatkan Geovan. Ia kira, kejadian yang menimpa Sandra Widya tidak akan menjadi serumit ini. Chima hanya ingin memastikan bahwa Sandra Widya tidak bunuh diri melainkan dibunuh oleh seseorang, namun ia tidak pernah berpikir bahwa pembunuh yang melakukannya berganti mengejar mereka berdua. Geovan sudah memperingatkan dirinya mengenai hal ini, namun Chima mungkin terlalu bodoh untuk menyadari bahwa yang mereka lakukan itu berbahaya. Sekarang, ketika wajah mereka telah ditandai oleh pembunuh tersebut, tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan selain terus berlari atau mengungkap segalanya. Pembunuh itu akan terus mengejar Chima dan Geovan sampai mereka mati. Praktis, kehidupan SMA mereka benar-benar hancur dalam sekejap.
"Ayo balik ke kelas." Ujar Geovan tiba-tiba.
"H-Hah?" Chima yang tenggelam dalam pikirannya sendiri tidak konsen mendengarkan Geovan. Ia mendongak ketika Geovan telah berdiri dari bangku yang mereka duduki.
"Balik ke kelas kita, lima menit lagi jam istirahat selesai."
"Oh oke."
Chima melompat dari tempat duduknya dan mengekori langkah Geovan. Tidak ada pembicaraan sama sekali di antara mereka setelah diskusi panjang mengenai apa yang terjadi pada mereka sebelumnya. Chima yang biasanya banyak bicara dan memiliki beragam topik untuk dikatakan menjadi sangat pendiam sejak apa yang terjadi pada mereka. Saat ini, Geovan dan Chima seperti dua orang yang terjebak dalam labirin gelap dan berliku-liku. Sangat sulit untuk menemukan jalan keluar karena begitu gelap untuk memutuskan mana jalan yang benar.
"Geo, kamu duluan aja ke kelas aku mau cuci muka sebentar."
Geovan melebarkan matanya. "Aku temani." Serunya cepat. Setelah apa yang terjadi dengan dirinya di toilet sebelumnya, Geovan tidak akan membiarkan Chima masuk ke toilet sekolah sendirian. Siapa pun dia yang mengejar Chima dan Geovan, kesimpulan sementara mereka ada di sekolah ini dan bahkan mungkin salah satu murid di sekolah ini. Penyamaran orang itu sangat sulit untuk diketahui, dan yang lebih parah orang itu tanpa ragu mengayunkan benda tajam dengan niat membunuh yang sangat besar.
"Hah? Aku mau ke toilet perempuan Geo."
"Aku bisa menunggumu di luar kok."
"Bukan itu masalahnya! Anak-anak yang lain pasti akan berpikir aneh kalau kamu sampai nganterin aku ke toilet."
Geovan menaikkan sebelah alisnya. "Kurasa mereka ngerti kalau anak kecil kayak kamu memang butuh diantar karena berbahaya untuk jalan sendirian."
Alis Chima menukik tajam. Ia meninju lengan Geovan sekuat tenaga karena kesal. "Sialan!" Serunya kesal dan segera berlari pergi.
"Eh, Chima!"
Geovan menghela napas sembari memijat pangkal hidungnya. Jujur saja, seandainya kondisi mereka tidak dalam bahaya, Geovan juga enggan mengantarkan Chima ke toilet. Seperti tidak ada kerjaan saja. Jam istirahat sudah akan berakhir dan Chima malah memutuskan untuk kembali ke toilet, tempat yang cukup berbahaya saat ini karena seringnya sepi. Geovan menatap kelasnya yang hanya tinggal beberapa langkah. Beberapa teman sekelasnya melambai ringan dan Geovan membalasnya dengan senyum tipis.
"Tidak, tidak, aku harus memeriksa Chima." Gumam Geovan pelan dan segera berlari ke toilet perempuan.
Seperti yang Geovan pikir, di jam-jam seperti ini, toilet jelas sangat sepi dan bahkan nyaris tidak ada yang ke sana sama sekali. Geovan merasa kikuk berdiri di depan toilet perempuan. Jika ada murid lain yang memergokinya, mereka bisa salah paham dan mengira Geovan hendak melakukan sesuatu yang tidak bermoral. Geovan berdiri sembari menyandarkan punggungnya pada dinding. Tiap detik rasanya sangat lama ketika menunggu sesuatu dengan pikiran yang tidak tenang. Geovan berkali-kali mengecek arloji di pergelangan tangan kirinya, dan berkali-kali pula mendecak kesal karena Chima tak juga kunjung keluar.
Geovan mengalami pergolakan batin sangat berat. Ia sangat khawatir dan ingin memeriksa kondisi Chima, namun masuk ke toilet perempuan adalah hal yang sangat tidak pantas ia lakukan. Tidak hanya akan merusak harga dirinya, tetapi juga akan membuat dirinya benar-benar seperti pemuda brengsék yang hobi mesúm. Sial, Geovan merinding membayangkan hal tersebut.
"Chima! Sudah selesai belum sih? Udah bel masuk lho." Seru Geovan dari luar toilet.
Sama sekali tidak ada jawaban dari Chima. Mungkin gadis itu tidak mendengarnya. Chima hanya pamit untuk mencuci muka, tetapi mengapa lama sekali?
Klontang... Klontang...
Geovan melebarkan matanya. Mengabaikan peràng batin di hatinya mengenai kemungkinan harga dirinya yang ternodai, Geovan tanpa ragu berlari masuk ke dalam toilet. Jantungnya berdetak sangat cepat. Apapun itu, semoga saja Chima hanya tidak sengaja menjatuhkan botol sabun atau semacamnya.
O||O