Butuh usaha keras untuk keluar dari area sekolah sekaligus menghindari CCTV. Geovan dan Chima tidak bisa berlari dengan cepat karena keduanya harus memilih jalur yang merupakan titik buta dari CCTV yang tersebar di area sekolah. Sebelum Geovan sampai di akhir anak tangga, ia masih melihat sosok laki-laki berbahaya tersebut, berdiri di depan pintu seng yang menghubungkan tangga dengan atap seperti sosok seram dalam film horor. Geovan sama sekali tidak memikirkan perihal lengannya yang berdarah karena tergores oleh pisau yang dibawa oleh laki-laki itu. Saat ini, prioritasnya adalah keluar dari sekolah bersama Chima. Ia memiliki banyak pertanyaan di dalam kepalanya, namun ia tidak memiliki waktu untuk mencari jawaban akan hal ini. Jika Geovan tidak selamat, maka Chima secara otomatis juga tidak akan selamat. Gadis itu saat ini bahkan berada dalam kepanikan ekstrem.
"Cepat naik sebelum para satpam itu memergoki kita." Bisik Geovan pelan. Ia mendorong tubuh Chima untuk naik ke atas pagar kemudian ia menyusul naik. Geovan sempat mengaduh pelan karena rasa ngilu pada luka di lengannya.
Geovan dan Chima melompat keluar dari area sekolah. Geovan membungkuk dan menumpukan lengannya ke lutut, meraup oksigen dengan rakus. Jantungnya berdegup dengan sangat cepat. Geovan bahkan bisa merasakan tubuhnya bergetar karena hal itu.
"G-Geo...."
Geovan membuang napas keras, ia mengusap peluh yang menetes di pelipisnya. "Sekarang kamu ngerti 'kan kenapa aku bilang kalau menyelidiki kasus ini berbahaya? Beruntung kita masih bisa selamat, bagaimana kalau tadi laki-laki itu berhasil mengayunkan kapaknya kepada kita?"
Chima menunduk dan merasa bersalah. "Maafkan aku Geovan. Aku hanya—"
"Maafmu tidak ada gunanya jika kamu terus melakukan ini. Putuskan dengan tegas Chima. Kamu harus berhenti mengurusi hal-hal yang seharusnya bukan urusanmu. Berhenti sekarang atau kamu mati."
"Tapi Kak Sandra...."
"Percuma kamu mencari keadilan untuk seseorang yang sudah mati! Apa menurutmu sepadan, membahayakan nyawa kita berdua untuk seseorang yang bahkan sudah mati?"
Chima tampak terkejut dengan kalimat yang dilontarkan Geovan, dan sesungguhnya Geovan sendiri juga tidak mengira ia akan berkata demikian. Meski dirinya kurang peduli dengan sekitar, Geovan sebisa mungkin tidak mengatakan hal-hal yang menyinggung seseorang. Terlebih, apa yang ia katakan ini berkaitan dengan kematian seseorang. Tapi entahlah, dibanding ketakutan karena pengalaman menyeramkan barusan, Geovan lebih merasa marah kepada Chima yang tidak juga mengerti bahwa tindakannya itu sangat berbahaya. Datang ke atap sekolah saja sudah berbahaya, apalagi menyelinap di malam hari. Gadis itu seperti menyerahkan dirinya sendiri ke dalam bahaya saja. Geovan juga merasa bodoh karena ia selalu saja terlibat dengan Chima padahal dia memiliki kemampuan untuk menghindarinya.
Chima tidak menjawab Geovan setelahnya. Mereka berdua berjalan pulang tanpa mengatakan apapun. Geovan mengantar Chima sampai di depan rumahnya, dan segera pulang untuk mengurus luka di lengannya. Geovan harus memanjat pagar dan menahan rasa perih di lengannya berkat luka tersebut. Sedikit kesal karena hal itu tetapi juga lega karena ia memutuskan untuk menyusul Chima ke sekolah. Seandainya Geovan memilih tidak peduli dan tidak menyusul ke sekolah, Chima mungkin tidak akan selamat. Gadis itu mungkin cukup pemberani, namun dia benar-benar ceroboh dan tidak waspada sama sekali. Geovan masih tidak bisa menghilangkan bayangan laki-laki yang membawa kapak dan menyerang mereka sebelumnya. Kejadian ini jelas membawa ketakutan tersendiri kepada Geovan. Laki-laki menyeramkan itu sudah melihat wajah Geovan dan Chima. Mereka bisa dalam bahaya selama orang itu masih berkeliaran. Masalahnya, bagaimana bisa dia berada di area sekolah? Siapa dia? Apakah mungkin dia berhubungan dengan pihak sekolah? Atau malah, dia bagian dari sekolah? Geovan benar-benar tidak bisa tidur malam itu. Ia hanya berbaring dan berkali-kali menghela napas setelah membalut luka sayat di lengannya.
O||O
Geovan berkali-kali menguap selama pelajaran berlangsung, namun sedetikpun ia tidak berani memejamkan matanya. Berada di sekolah tidak lagi menjadi hal yang membuatnya merasa aman sejak kejadian semalam. Sebelum ia tahu siapa laki-laki itu sebenarnya, Geovan merasa sekolah bukan lagi menjadi tempat belajar yang aman dan nyaman. Geovan berusaha untuk bersikap tak acuh karena toh mereka sedang di tengah pelajaran. Jika mungkin laki-laki yang ia temui semalam adalah salah satu murid di kelasnya, ia tidak mungkin menyeràng Geovan di tengah-tengah pelajaran seperti ini. Ya kecuali jika dia cukup bodoh dan ingin mengungkap jati dirinya yang sebenarnya.
Geovan menghela napas lega ketika guru yang mengajar di depan mengakhiri pelajarannya ketika bel istirahat berbunyi. Geovan meletakkan kepalanya di atas meja, menimbun wajahnya pada lipatan tangan untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lemas.
"Ge—"
Geovan membelalak. Ia mencengkeram pergelangan tangan salah seorang teman sekelasnya yang tiba-tiba berdiri di hadapannya.
"Ge lepasin aku, aaargh.... Sakit!"
Geovan terkejut dan melepaskan pergelangan tangan pemuda itu. "M-Maaf, aku nggak sengaja."
Geovan melirik kulit salah satu teman sekelasnya yang memerah karena cengkeraman kuat Geovan. Ia sungguh tidak sengaja melakukannya. Geovan baru beberapa detik meletakkan kepalanya di atas meja, berniat untuk meredakan rasa berat di kepalanya karena kurang tidur tadi malam. Baru saja ia hendak terlelap, bayangan laki-laki menyeramkan yang semalam mengejar dirinya dan Chima tiba-tiba muncul seolah Geovan berada di tempat yang sama. Lalu kebetulan pula salah satu teman sekelasnya menyentuh tubuh Geovan. Secara reflek ia melindungi diri dengan mencengkeram pergelangan tangan pemuda itu tanpa sadar bahwa dia telah menyakiti teman sekelasnya sendiri.
"Kamu kenapa Ge? Mimpi buruk?"
Geovan tersenyum tipis dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Yeah, semacam itu. Aku benar-benar minta maaf."
"Nggak apa-apa, kamu nggak sengaja."
"Oh ya, ada apa kamu manggil aku?"
Pemuda itu menyerahkan beberapa salinan kertas yang dibendel rapi. "Ini beberapa materi tugas yang dibagikan sama ketua kelas tempo hari. Ada beberapa tugas kelompok yang harus dikerjakan bersama dan kebetulan kita satu kelompok. Waktunya masih cukup lama, tapi kurasa lebih baik kuberikan padamu terlebih dahulu untuk dibaca, juga supaya kita bisa mengerjakan dengan tenang dan enggak terlalu mepet waktu nantinya."
Geovan menerima salinan kertas tersebut. "Oke, aku baca dulu. Thanks."
Pemuda itu kemudian pamit keluar kelas. Geovan menghela napas panjang, kembali meletakkan kepalanya di atas meja. Geovan bukan orang yang penakut, sungguh ia tidak mudah bermimpi buruk. Ini adalah pertama kalinya Geovan merasa waspada sampai dalam tahap paranoia yang cukup berlebihan untuk standar dirinya. Hatinya benar-benar tidak tenang setelah kejadian malam sebelumnya. Geovan tidak ingin terus merasa waspada berlebihan sampai-sampai tidak sengaja menyakiti teman sekelasnya sendiri. Jika dibiarkan terus-menerus, Geovan mungkin akan melakukan hal-hal yang tidak seharusnya hanya karena terlalu waspada hingga tidak memperhatikan sekitar dengan benar.
Geovan beranjak dari bangkunya dan menuju toilet. Ia tidak bisa membiarkan dirinya terus-menerus tidak fokus seperti ini. Geovan belum berbicara dengan Chima lagi sejak semalam, dan tampaknya gadis itu juga masih belum ingin bicara dengannya. Biarlah Chima menyadari kesalahannya dan tidak mengulangi hal itu lagi. Chima tidak akan terlalu lama mendiamkan dirinya karena sejak awal yang bersalah karena ceroboh adalah gadis itu.
Geovan membasuh wajahnya pada wastafel di toilet sekolah. Ia terkekeh pelan menatap pantulan wajahnya pada cermin. Lingkaran hitam di bawah matanya tampak sangat kontras dengan kulitnya yang pucat. Benar-benar tampak buruk.
"Gilà, jelek banget aku." Gumam Geovan pelan. Ia mengucek-ucek matanya yang terasa gatal berkali-kali sembari membasuhnya dengan air mengalir.
Geovan mengernyit dan berbalik. Ia menengok ke kanan dan ke kiri namun tidak menemukan siapa pun di belakangnya.
"Cuma perasaanku kah?" Ucapnya pelan. Geovan menggeleng dan kembali menunduk untuk membasuh mukanya. Ketika ia kembali mengangkat wajahnya, bayangan seseorang dengan memakai masker hitam terpantul dari cermin yang ada di hadapannya, menatap Geovan tepat di kedua mata pemuda itu. Geovan secara otomatis tersentak kaget. Ia berbalik dan mendapati sosok yang sama berdiri di hadapannya dengan sebuah pisau lipat di tangan kanannya.
Gawat, gawat, gawat, gawat!
Geovan tidak tahu jika orang ini bahkan berani datang ke sekolah di siang hari. Telapak tangan Geovan berusaha meraih apapun yang ada di dekatnya namun ia ingat bahwa toilet sekolah tidak memiliki banyak barang-barang yang berguna untuk digunakan sebagai senjata melindungi diri. Geovan meraih botol sabun cair yang diletakkan di atas wastafel dan melemparkan benda itu tepat ke wajah orang di hadapannya. Geovan cukup bersyukur kemampuan larinya sangat mumpuni. Ia langsung melesat cepat keluar dari toilet yang untungnya tidak dikunci oleh orang itu sehingga Geovan bisa segera pergi dan menempatkan dirinya pada keramaian agar orang itu tidak mengikutinya.
"Sial, dia siapa sih?" Batin Geovan sembari berlari cepat. Ia tidak peduli meski beberapa orang menatapnya bingung karena berlarian di koridor sekolah.
Brak!
"Argghhh....!" Geovan jatuh terduduk sembari memegangi dadanya yang sakit akibat terbentur sesuatu—atau seseorang?
"Chima?"
"Geovan?"
Chima tampak berantakan. Peluh menetes di wajahnya dan Geovan bersumpah ia melihat wajah Chima yang begitu panik. Geovan semakin khawatir mengenai apa yang sebenarnya terjadi di sekolah mereka. Àib OSIS yang disebar di forum jurnalistik sekolah masih terus bermunculan setiap hari, dan sekarang seseorang yang berbahaya muncul di sekolah mengejar dirinya. Ada apa sebenarnya dengan sekolah ini?
O||O