BAB 3 : Nonton Bareng

1964 Kata
                                                                            BAB TIGA           Di bioskop.           Karena empat anak itu sudah punya tiket jadi mereka langsung mengantri masuk, berbeda dengan Nadia dan Fara yang masih antri membeli makanan yang disedikan ditempat tersebut.           Dirasa sudah cukup Fara yang berjalan beriringan dengan Nadia tiba-tiba Fara terpleset dan hampir menumpahkan makanan yang dibawanya. Akan tetapi hal itu tidak terjadi karena entah sejak kapan datangnya Ricky dengan gerakan reflek langsung meraih tubuh Fara kedalam pelukannya.           Nadia yang melihat pemandangan itu langsung memejamkan matanya sejenak.  Entah sejak kapan hati Nadia melihat hal itu hatinya berdebar-debar tidak seperti biasanya.           Akan tetapi Nadia tidak tahu itu artinya apa, apakah bahagia apa marah atau bahkan cemburu.           “Kamu tidak apa-apa kan Far?” ucap Nadia dengan nada empatinya.           Fara bukannya menjawab pertanyaan dari Nadia, ia malah justru sedang bertatap secara intens dengan Ricky. Hal itu membuat Nadia justru malah salah tingkah, akan tetapi Nadia tidak tahu apa yang sebenarnya dirasakan perasaan Nadia. Apakah cemburu atau yang lainnya entahlah.           Selesai menonton acara bioskop Nadia memilih untuk pulang bersama sopirnya, bukan karena Nadia sedang tidak enak hati. Tapi memang pak Barjo yang tadi sempat ditelepon oleh mama Bella.           Sepanjang perjalanan pulang Nadia hanya membuang muka memandang ke sembarang arah. Bahkan sampai mobil terparkir di halaman rumah Nadia yang luas, Nadia masih menatap ke semabarang arah dengan tatapan yang tidak menentu.           “Nona, kita sudah sampai rumah.” Pak Barjo yang sudah keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk majikannya.           Dengan cepat Nadia tersadar kalau ternyata dirinya sudah sampai halaman rumahnya yang cukup luas dan indah itu, “terima kasih pak.”           Meski Nadia merupakan salah satu putri tunggal dari keluarga yang kaya raya, tapi Nadia merupakan orang yang sangat santun dan rendah hati. Dia tidak pernah berbuat merendahkan, walaupun dengan sopir atau asisten rumah tangganya dirumah.           Baru Nadia melangkakhkan kaki masuk ke rumah yang memiliki tiga lantai dan bergaya Eropa, mamanya yang masih didapur dengan tangan yang penuh dengan tepung lari berhamburan menyambut putri tercintanya.           “Sayaaaang…. Kenapa pulangnya lama sekali? Sampai mama mengutus pak Barjo untuk menjemputmu?” ucap mama dengan memeluk tubuh Nadia seakan-akan seperti sudah puluhan tahun tidak ketemu. Padahal pagi tadi juga mamanya yang memang hari itu libur tidak kemana-mana sudah bersama dengan Nadia.           “Iya ma, tadi temen-temen ngajak Nadia nonton film yang baru tayang hari ini, kebetulan papanya Fara sudah membelikan tiket jadinya Nadia tidak enak menolak ajakannya ma.” Jelas Nadia dengan Nada lesunya.           “Lho habis nonton kenapa lesu gitu? Harusnya semangat dong sayang.” Balas mama dengan nada curiganya.           Nadia melepasakan pelukan mama Bella dan duduk di sofa empuk berwarna biru muda. “Mama nggak usah lebay deh, Nadia cuma capek aja.” Balas Nadia dengan nada malasnya lagi.           Segera Nadia bangkit dari sofa dan pergi menuju kamar yang berada di lantai dua. Tanpa pamit dan tanpa permisi.           Mama Bella yang merasa anaknya tidak seperti biasanya langsung pergi kedapur untuk mencuci tangan dan menemui pak Barjo.           “Pak kira-kira Nadia ada masalah apa ya, kok mama rasa Nadia tidak seperti biasanya?” tanya mama Bella ke pak Barjo yang masih berada di halaman parkir.           Mendengar majikannya sedang mengajak berbicara padanya, pak Barjo langsung menoleh ke belakang dan membungkukan badannya karena sedikit terkejut. “Maaf nyonya, saya kurang tahu nona muda kenapa. Hanya saja….” Kata-kata pak Barjo terputus karena tidak yakin mau mengatakan hal yang belum pasti kebenarannya.           “Hanya apa pak?” cecar mama Bella dengan cepat.           “Hanya saja tadi nona sepanjang perjalanan terlihat melamun, saya ajak bicara juga tidak menjawab apa-apa.” Akhirnya pak Barjo menjawab dengan jawaban yang sebatas ia tahu saja dengan posisi kepala yang masih menunduk menunjukkan rasa hormatnya kepada majikannya yang baik hati itu.           “Ya sudah kalau begitu pak Barjo mulai sekarang harus lapor apa yang terjadi dengan Nadia di luar rumah, apapun itu tanpa kecuali.” Setelah  menyampaikan hal itu mama Bella langsung masuk kedalam rumah dan melanjutkan aktivitasnya tadi di dapur bersama asisten rumag tangganya yang lain.           “Baik nyonya,” pak barjo menjawab pasrah.             Keesokan harinya, Nadia yang baru saja sampai diruang kelas waktu baru menunjukan pukul 06.55 terlihat banyak siswa yang sudah berhamburan masuk keruang kelas. Tanpa disadari Nadia yang memang sengaja duduk di bangku paling depan masih menundukkan kepalanya dan asik dengan novel romance yang selalu menemani ia kemanapun.           Nadia masih fokus dengan novelnya, dan entah sejak kapan anak-anak dikelas itu ramai sekali dibelakang. Hal itu tidak membuat Nadia ingin menolehnya, melainkan ia masih sibuk dengan Novel barunya yang masih berumur satu minggu ditangan Nadia.           “sudah berapa kali saya katakan kalau dikelas saya jangan bawa novel, apa lagi novel cinta seperti ini!” tiba-tiba seseorang dengan perawakan tampan, hidung mancung dan rambut klimis menarik novel yang masih dibaca oleh Nadia.           Nadia segera mengalihkan pandangannya, dan ternyata benar itu adalah pak Hasan guru Matematika yang masih berusia 25 tahun tapi killernya minta ampun. Tapi itu tidak berlaku pada Nadia. Karena pak Hasan sangat tertarik dengan Nadia.           “Ma…maaf pak, tadi saya tidak lihat bapak, makanya saya baca novel.” Jawab Nadia jujur dan apa adanya. Semenjak pak Hasan masuk ke kelas ia terus menundukkan kepalanya, itu karena Nadia menghindari sekali kontak mata dengan pak Hasan.           “Baiklah, kali ini kamu aku maafkan tapi tidak untuk lain waktu.” Jawab pak Hasan dengan tegas.           Terlihat orang tinggi berambut klimis itu menarik lengan tangan kirinya, dan memandangi benda berwarna kuning keemasan yang melingkar di lengan tangan kirinya.           “Maksudnya apa itu, mau pamer jam tangan tau apa?” batin Nadia berbicara.           “Teeeeeeetttt….!!!” Tak lama bel sekolah itu berbunyi. Siswa yang masih diluar ruangan berhamburan masuk ke kelas. Tapi belum dengan bangku sebelah Nadia, terlihat bangku yang biasa di tempati oleh Ricky masih kosong.           “Kemana ini anak kenapa belum berangkat?” gumam Nadia dalam hati.           Setelah berdoa dan kegiatan absensi siswa yang memang rutin dilakukan oleh pak Hasan setiap masuk ke kelas. “Baiklah pelajaran kita mulai, kemarin saya sudah memberikan tugas halaman 36 silahkan dikumpulkan di depan” perintah pak Hasan yang terdengar sangat tegas.           Terlihat Nadia memukul keningnya, “sial! Kenapa bisa lupa tugas manusia klimis ini, bakalan menghadap nih. Oh tuhan malas banget aku.” Gumam Nadia dalam hati.           “Nadia Safa Blenzisky!” Panggilan itu bikin bulu kuduk Nadia merinding. “pasti kamu tidak mengerjakan tugas kan!” sambung manusia klimis itu lagi.           Dengan berani Nadia yang semula masih menundukkan kepala langsung menatap manusia klimis itu dengan tatapan tajamnya. Dengan tatapan tajam Nadia berharap Nadia tidak dapat hukuman untuk menghadap ke ruangan manusia klimis itu.           Ia memandang manusia klimis itu dengan tatapan baby face nya yang berhasil membuat pak Hasan salting tidak karuan. “iya pak” jawab Nadia dengan nada memelasnya. “maafkan saya yang lupa akan tugas dari bapak Hasan yang terhormat” sambung ia lagi.           “Kenapa wajahnya seperti itu? Kamu ingin mendapat belas kasihan dari saya ya?” Jawab manusia klimis itu yang membuat Nadia tidak menyangka.           “Pak Hasan kenapa kok berkeringat gitu” ucap Eza dari tempat duduk paling belakang.           “Pak Hasan itu nervous di pandang sama Nadia gitu ha..haa..haa… iya kan pak?” sambung Barack dari sebelah Eza.           “Huuuu……cie…cie… cie…” Sorak riuh seluruh siswa di kelas itu yang cukup membuat wajah manusia klimis itu memerah.             Pembelajaran sudah selesai dan semua siswa sudah pulang ke rumah masing-masing. Akan tetapi masih ada satu siswa putri di ruang waka kurikulum siapa lahi kalau bukan ruangan manusia berambut klimis itu.           “Nadia Safa Blenzinsky…” suara dari seorang pria berambut klimis. Ia menatap intens Nadia yang masih duduk di kursi tepat di depannya.             Nadia yang sudah sangat malas karena harus mengahadapi manuasia klimis itu hanya bisa menunduk pasrah “saya pak.” Jawab Nadia singkat dan masih menundukkan kepalanya.           “Kenapa kamu tidak mengerjakan tugas saya?” cecar manusia klimis itu lagi.           “Maaf pak, saya benar-benar khilaf.” Jawabnya.           “Meski kamu adalah salah satu siswa favorit di sekolah ini dan memiliki banyak prestasi, tapi sanksi tetap harus kamu terima.” Jelas pak Hasan yang masih menatapnya dengan sangat intens.           “Iya pak saya tahu.” Jawab Nadia pasrah.           Lalu manusia klimis itu menyodorkan lembaran kertas yang berisikan soal matematika berjumlah 100 soal.           Nadia yang sudah tahu resikonya jika bermain-main dengan orang ini pasti akan mendapat hukuman yang sangat tidak manusiawi.           Nadia mulai mengambil soal yang diletakkan dimeja tepat didepan Nadia. Seketia ia langsung membulatkan matanya, “ini tidak salah pak?!” Nadia bertanya dengan nada terkejutnya.           “Kenapa? Masih kurang?” Jawab manusia klimis itu dengan santainya sembari menatap benda pipih berlogo apel bekas gigitan putri salju itu.           “Emmm… ti..tidak pak, ini sudah cukup sekali” Balas Nadia dengan gaya nyengir kudanya. “Ya sudah kalau begitu saya pamit ya pak.” Nadia langsung mengambil lembaran kertas itu dan berpamitan.           “Siapa yang mengijinkan kamu pulang? Itu soal di kerjakan disini.” Jelas manusia klimis itu.           “Apa….!!!!   Pak Please pak, ini sudah sore saya belum makan, dirumah juga kasian orang tua saya sudah menunggu huhuhu…” Nadia berusaha merayu.           “No...no...no… kalau kamu lapar nanti aku pesankan makanan delivery order, kamu mau apa? Bakso, nasi goreng, pizza, burger, sate, sate kambing, sate ayam, sate padang, atau nasi padang sekalian. Kamu mau yang apa?” ocehnya. “Oo iya saya lupa memberitahu kamu, kebetulan saya tadi sudah ketemu sama sopir kamu dan saya sudah memberitahu orangtua kamu kalau kamu masih saya hukum karena tidak mengerjakan tugas.”           “Yang benar saja, bisa-bisanya ini orang tidak manusiawi sekali.” Gumam Nadia dalam hati.           “Kenapa? Kenapa kamu menatap saya seperti itu? Kamu mau marah? Apa kamu mau mengahjar saya disini?” sambung manusia klimis itu.           “Ini namanya tidak manusiawi pak? Tolong pak kasihani saya, nanti bapak saya traktir deh, atau kalau tidak bapak mau ponsel baru tidak?” rayu Nadia.           “Apa!! Kamu mau menyogok saya? Sekalipun kamu mau menyogok dengan memberikan mobil itu tidak akan saya terima, karena itu perbuatan dosa dilarang agama. Kamu paham?” jelas orang itu yang masih menatap Nadia tajam setajam silet. “Sudah..sudah lebih baik kamu mulai mengerjakan tugas itu, daripada nanti tidak selesai-selasai.” Sambungnya lagi.           Akhirnya Nadia mengalah untuk mengerjakan tuas dari pak Hasan itu. Dengan langkah dihentak-hentakkan kakinya Nadia menuju sofa yang terdapat meja di ruangan milik manusia klimis itu.           Satu jam sudah berlalu, ia baru menyelesaikan 45 soal beserta cara penyelesainnya. Pak Hasan sudah tahu kemampuan Nadia yang memang diatas rata-rata makanya meski diberi soal sebanyak 100 butir pasti dia bisa menyelesaikannya dengan cepat.           “kruuuk..kruuk..krruuuk..” suara yang berasal dari perut Nadia itu memecah keheningan diruangan tersebut.           Entah sejak kapan manusia klimis itu menyodorkan satu porsi sate padang beserta nasinya. Entah dari mana orang ini tahu makanan favorit Nadia.           “Ini dimakan dulu, setelah makan sholat dulu biar otaknya rileks.”ucap pak Hasan yang sedang meletakkan makanan itu lalu pergi menuju kamar mandi.           Karena memang rasa laparnya sudah tidak tertahankan lagi, Nadia langsung melahap habis menu yang tadi diberikan oleh pak Hasan.           Ditengah-tengah ia menyantap makanannya terlihat manusia klimis itu masuk ke kamar mandi dan keluar setelah menyelesaikan kegiatannya.           “Ternyata ganteng juga itu manusia, kenapa kalau didepan muridnya rambutnya dibuat klimis kaya tokoh cecep? Padahal lebih ganteng kalau berpenampilan biasa seperti itu.” Gumam Nadia dalam hati yang sesekali melirik aktivitas gurunya itu sembari melahap nasi beserta sate padang kesukaannya.           “Kenapa? Saya ganteng?” tiba-tiba suara itu membuat Nadia gelagapan.           Karena malu Nadia langsung membuang muka agar pak Hasan tidak melihat pipinya yang sudah merona.           “Saya itu memang sengaja berpenampilan klimis supaya gadis-gadis tidak ada yang tertarik pada saya. Saya ini dulu adalah primadona banyak gadis lho.” Jelas manusia klimis itu dengan sok PD nya.           “Maksudnya apa coba ngomong kaya begitu dengan saya.” Gumam Nadia dalam batinnya.           “Tidak usah heran dengan perkataan saya tadi, kamu tidak perlu berkomentar. Saya hanya ingin memberitahumu                                         
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN