BAB DUA
“Permisi nona” ucap pak Barjo dengan menundukkan badannya patuh.
“iya pak ada apa?” jawab Nadia penuh selidik. Karena Nadia sudah paham betul pasti ada sesuatu hal yang menyangkut dengan dia.
“Maaf nona, baru saja tuan dan nyonya telepon saya dan menyanyakan keberadaan nona.” Jawab pak Barjo menjelaskan.
“Ayah sama bunda masih di Singapura kan?” jawab Nadia lagi.
“Iya benar, tapi tuan dan nyonya sudah sampai rumah. Katanya nona suruh pulang secepatnya.
“Ada apa nad?” sambung Ricky dari arah belakang.
“Oowh ini tadi bundaku telepon kalau aku suruh segera pulang.” Jawab Nadia santai.
Belum juga tiga orang itu selesai berbicara, ponsel Nadia terus saja bergetar di dalam saku rok milik Nadia.
Nadia segera mengambil dan mengangkat telepon dari bundanya itu.
“Sayaanng… kamu dimana? Lagi sama cowok ya? Sekarang udah punya pacar ya?” belum juga Nadia menjawab pertanyaan dari bundanya itu. Tapi bundanya sudah meberikan pertanyaan yang sangat banyak.
“Apaan sih bunda.” Jawab Nadia malas.
Nadia melangkahkan kaki menjauhi Ricky dan pak Barjo, “Nadia lagi nemeni temen Nadia nda, dia nggak ada temen jadi Nadia temeni deh.” Sambung Nadia lagi.
“Oke-oke, kalau sudah selesai buruan pulang yaa, ayah kamu itu ngotot pengen ketemu kamu.” Balas mama Bella lagi.
Tiba-tiba-punggung Nadi di sentuh oleh seseorang, Nadia segera menoleh kearah belakang.
“Nad kalau kamu buru-buru, pulang saja dulu tidak apa-apa kok. Lagian aku masih ada jadwal sama dokter gigi.” Ucap Ricky memberikan masukkan ke Nadia.
“Beneran nih nggak papa rick?” jawab Nadia meyakinkan.
“Iya bener, udah sana kamu buruan pulang nanti keburu calon mertua aku marah lagi.” Jawab Ricky lirih.
“Kamu ngomong apa tadi?” balas Nadia lagi menegaskan.
Dan dibalaskan dengan jawaban dari Ricky dengan nyengir kuda yang memperlihatkan deretan giginya yang masih dikawat.
1 tahuan kemudian, persahabatan antara Ricky dan Nadia benar-benar membuat iri banyak orang, dengan penampilan Ricky yang sekarang benar-benar membuat banyak kaum hawa yang ingin cari perhatian kepadanya. Bagaiman tidak, Ricky yang dulunya sangat cupu dengan kaca mata tebal dan gigi yang berkawat membuat banyak orang yang acuh, bahkan malas untuk bertemu.
Berbeda dengan sekarang, Ricky yang sudah sering pergi ke gym membuat bentuk otot-otot ditubuhnya terlihat lebih bagus.
Selain itu juga Ricky sekarang sudah banyak memiliki teman dan mempunyai klub basket sendiri di sekolah.
Kulit putih, badan kekar dan matanya yang tajam membuat banyak kaum hawa semakin ingin mengenalnya lebih dalam.
Berbeda dengan Nadia, meski Nadia setiap hari sering bersama dengan Ricky tapi alih-alih ingin menjadi pacar Ricky, Nadia tidak menginginkan sama sekali.
Karena bagi Nadia persahabatan jauh lebih penting dari pada menjadi seorang kekasih. Berbeda dengan menjadi pacar kalau sudah putus maka bisa menjadi musuh. Itu adalah prisip yang di pegang Nadia.
Semenjak perubahan Ricky dan ketenarannya yang semakin menjadi. Ricky sudah sering mengungkapkan perasaannya kepada Nadia. Tapi Nadia hanya menganggap bahwa itu adalah lelucon belaka. Karena memang selama ini Ricky kalau berbicara ujung-ujungnya hanya bercanda.
Di Sekolah.
Chelsea berjalan menyusuri koridor sekolah yang cukup panjang. Tiba-tiba dari belakang ada yang menepuk punggungnya.
“Nad, nonton yuk. Hari ini ada film horror baru.” Ajak Hesti kepada Nadia.
“Iya nad, kayaknya udah lama kita nggak nonton bareng-bareng deh.” Balas Reski yang tidak ingin kalah merayu Nadia.
Tanpa kami sadari ternyata ada anak yang lari berhamburan dari arah belakang. Itu adalah Fara yang memang dia adalah teman Nadia yang paling rempong. “Woeey kalian! Kenapa aku ditinggal sendiri?” Ucap Fara berteriak.
“ha… haa… haa… ” Hesti dan Reski malah justru tertawa terbahak-bahak.
Nadia hanya diam saja, karena belum tahu arah maksud dan tujuan mereka bertiga.
Fara langsung memegang lengan tangan Nadia dan berkata “nad kita nonton berdua aja yuk? Aku udah di beliian tiket nonton sama papa aku” ucap fara memanas-manasi Hesti dan Reski.
Tanpa berfikir lama Nadia langsung menjawab “oke” karena Nadia dah biasa tuh ngadepin anak-anak jahil itu.
“Ikuuut...” teriak Hesti dan Reski manja.
Nadia dah tahu betul mana mungkin Fara cuma bawa tiket 2 saja, pasti papa nya membelikan 4 tiket. Cuma kadang Reski dan Hesti terlalu jahil sama Fara makanya gitu deh.
Di parkiran pelataran sekolah ternyata sudah ada mobil beserta sopirnya Fara, ia dan Fara langsung bergegas mendekat ke arah mobil putih bermerk Toyota Alpahart itu. Baru sopirnya membukakan pintu mobil untuk Nadia dan Fara ternyata Reski dan Hesti sudah langsung nylonong masuk aja tuh.
“Bener-bener ini bocah kagak punyak akhlak, ini yang punya mobil belum masuk bambang.” Ucapa Fara kesal. “Bener-bener nih, tadi aku di tinggal di kamar mandi sendiri, lha sekarang main nylonong aja tuh bocah, emang nggak ada akhlak dah.” Sambung Fara dengan ekspresi wajahnya yang memang sudah kesal kayaknya.
“Salah siapa mau punya temen nggak ada akhlak, week” jawab Reski dengan menjulurkan lidahnya keluar. Persis banget kaya anak kecil.
Nadia hanya menggeleng-gelengkan kepala sembari tersenyum geli melihat tingkah polah teman-temannya itu.
Tanpa di sadari oleh mereka berempat ada sepasang bola mata yang sangat tajam mengamati senda gurau mereka.
Tanpa perfikir panjang ia langsung berlari dan menghampiri mereka semua. “Nad mau kemana kamu?” Tanya cowok ganteng yang sekarang sedang naik daun di sekolah, ia adalah Ricky.
“Eh, ada si ganteng. Ikut kita nonton yuk?” tiba-tiba Hesti main jawab aja itu.
“Oh, kalian mau nonton, yaudah nanti aku susul ya. Ditempat biasa kan nand?” Tanya Ricky menegaskan ke Nadia yang hanya di jawab dengan anggukan.
Untuk beberapa saat terjadi sebuah tatapan yang sangat tajam, akan tetapi itu bukan tatapan antara Ricky dan Nadia, melainkan tatapan Ricky dan Fara.
Di dalam mobil.
Tak lama setelah itu mobil Alphart berwarna putih itu melaju dengan kecepatan sedang menyuri hiruk pikuknya keramaian ibu kota.
Nadia mengeluarakan sebuah benda pipih berlogo apel sisa gigitan putri salju itu dari dalam tas, baru ia akan mengirim pesan ke pak Barjo dan ayahnya kalau ia sedang bersama teman-temannya pergi menonton.
Meski orang tua Nadia sering di Luar Negeri, akan tetapi Nadia selalu berpamitan dimanapun ia akan pergi dan bersama siapa.
“Nad, coba pegang d**a aku” suara Fara yang sedikit ambigu membuatku hilang konsentrasi. “ayo nad pegang d**a aku.”
Nadia memicingkan matanya “kamu kenapa Fa?” dan menuruti apa yang Fara inginkan.
“Jantung aku masih ada diposisi semula kan nad.” Ucap Fara lagi.
“Maksudnya?” Nadia yang sangat polos Tanya dengan nada polosnya itu.
“itu lho nad, tadi Fara baru ditatap sama Ricky makanya dia kehilangan kesadarannya gitu.” Balas Hesti malas.
“Iya tuh bener banget, dia itu naksir sama si Ricky.” Balas Reski menimpali lagi.
Mendengar obrolan dari teman-temannya itu, Nadia cukup kaget. Ia tidak menyangka kalau Fara yang merupakan teman dekat Nadia suka sama Ricky.
Tak ingin terlihat aneh Nadia menjawab “Wow kebetulan sekali, Ricky itu kan jomblo.” Jawab Nadia dengan nada cerianya.
“Benarkah nad?” balas Fara menjawab dengan ekspresi baby face dan mata yang berkaca-kaca karena bahagia.
“Masak Nadia bohong, Nadia kan memang orang yang paling dekat sama Ricky, makanya kalau kamu ingin mendapatkan Ricky tanya sama Nadia.” Hesti yang menjawab dengan ekspresi datar dan matanya yang fokus ke layar ponsel.
Nadia hanya mengangguk dan tersenyum manis merespon apa yang Fara inginkan.