Senja menatap wajah sendu Jingga, yang masih terlelap. Kedua mata Jingga juga terlihat membengkak ulahnya semalam. Ia tidak pernah berhenti meniduri istrinya itu. Bahkan, Senja mengabaikan panggilan dari Jihan dan Esih. Ia lebih memilih mengurung Jingga di dalam kamar bersamanya. Dan juga, Senja tidak mengizinkan sama sekali istrinya itu untuk berpakaian. Sehingga Jingga hanya menggunakan selimut untuk menutupi tubuh polosnya. "Jangan lakukan lagi. Aku lelah, Kak," lirih Jingga. Saat Senja membalikkan tubuhnya. Suaminya itu mulai meraba tubuh polosnya. "Aku tidak akan pernah berhenti, sebelum kamu berjanji tidak akan meninggalkanku," bisik Senja. Kedua mata Jingga terpejam kuat. Apalagi ini? Kenapa Senja tidak mengizinkannya untuk pergi? "Aku ingin tahu alasannya. Kalau alasan Kakak

