Jihan berjalan hilir mudik di depan pintu kamar hotel. Menunggu Rendra, yang sedari tadi masih berada di kamar mandi. Rasanya sudah tidak sabar melihat kehancuran Jingga, yang telah berada di ujung mata. "Apa yang membuatmu tidak sabar melihatku tidur dengan adikmu?" tanya Rendra. Begitu ia keluar dari kamar dan bersiap menuju ke kamar Jingga. Jihan mendengus. "Bukan urusanmu, Rendra. Cukup lakukan saja apa yang kuinginkan dan aku pun begitu. Aku rasa itu sudah cukup adil, bukan?" Seraya mengulurkan tangannya untuk membuka pintu kamar, Rendra berucap. "Ya … ya, baiklah. Selagi masih menguntungkan bagiku, tidak masalah bagiku." Mata Jihan berputar satu kali. Dengan wajah yang dibuat seolah mengejek Rendra. Tentu saja pria paruh baya itu setuju. Karena disini dialah yang paling diu

