Rahasia?

977 Kata
Di sebuah kamar, seorang pria melemparkan seluruh benda yang ada di dalam kamarnya. Ia merasa frustasi karena Jihan, Istrinya, meminta cerai kepadanya. Padahal, selama ini Doni telah berusaha untuk menjadi suami yang baik untuk Jihan. Walaupun pernikahan mereka terjadi karena Jihan yang terpaksa menikah dengannya. Untuk menutupi aib Istrinya itu. Sedikit cerita di masa lalu mereka, Doni yang dari dulu sangat mencintai Jihan, selalu menemani jembatan bagi Senja, agar bisa membawa Jihan keluar untuk berjalan-jalan. Kalau bukan Doni atau Aryan yang menjemput gadis itu, ayahnya tidak akan mau mengizinkan Jihan keluar dari rumah. Aryan dan Doni adalah sahabat dekat Senja, semenjak mereka menggunakan seragam merah putih. Senja yang supel dan mudah bergaul, membuat tidak ada jarak di antara mereka. Lima tahun lamanya menjadi jembatan bagi Senja, sangat wajar jika ada rasa cinta yang tumbuh di dalam hati Doni. Singkat cerita, saat mereka berusia dua puluh tahun, Senja nekat melamar Jihan. Karena memang hubungan mereka berdua telah lama melewati ambang batas. Dimulai dari merayakan kelulusan, sepasang sejoli itu pergi ke pulau Bali. Melakukan perjalanan perayaan kelulusan, seperti pengantin baru. Satu kali dalam sebulan, mereka berdua berusaha untuk menjemput kenikmatan surga duniawi. Berharap, Jihan hamil dan hubungan mereka direstui. Dua tahun lebih berusaha. Namun, belum juga ada tanda-tanda kehamilan dari Jihan. Membuat Senja frustasi dan nekat melamar kekasihnya itu. Jihan adalah anak orang paling kaya di provinsi Sumatera Barat, dengan ratusan pintu kontrakan dan toko bangunan yang tersebar di seluruh provinsi tersebut. Sedangkan Senja, hanya seorang anak penjual nasi bungkus emperan di kota Solok, Sumatera Barat. Membuat Jihan menjadi gadis yang memiliki tahta yang sangat tinggi. Selama Senja pergi, Doni sudah tidak bisa lagi untuk bertemu dengan Jihan. Karena ia tidak memiliki alasan untuk menemuinya lagi. Dua tahun kemudian, Doni mendengar Jihan kecelakaan. Gadis itu kritis dan membutuhkan banyak darah ungu menyelamatkan gadis itu beserta bayi di dalam kandungannya, yang telah memasuki usia enam belas minggu. Membuat Doni terkejut mendengar kabar tersebut. Namun, cinta yang dimiliki oleh pria itu membuat ia nekat berjanji kepada kedua orang tua Jihan, untuk menikahi gadis itu untuk menutupi aib keluarga mereka. Niat Doni untuk tanggung jawab di restui oleh Yang Maha Kuasa, Jihan dan calon anaknya selamat. Dengan sedikit kebohongan, Doni membujuk Jihan agar mau menikah dengannya. Sungguh tidak adil bagi bayi yang ada di dalam kandungan gadis itu jika harus di gugur kan. Setiap Doni bertanya, anak siapa yang akan ada di dalam rahimnya, Jihan selalu menyebut anak dari Senja. Padahal, mereka berdua telah lama tidak berjumpa. Tiga tahun lebih berjuang, Doni belum bisa meruntuhkan dinding yang di bangun Jihan di antara mereka berdua. Hingga tadi subuh, Jihan pulang dan meminta cerai kepadanya. Ia berkata, ingin menggapai bahagia dengan ayah kandung dari Syakila, putri kecilnya, yang telah Doni anggap seperti anak sendiri. Doni meremas erat rambutnya. Bagaimana mungkin ia mampu melepaskan Jihan dan Syakila, setelah apa yang ia korbankan selama ini. Mengalah? Tidak! Ia tidak ingin mengalah lagi dari Senja. Bukankah pria itu telah memiliki istri. Istri yang Doni ketahui adalah adik iparnya sendiri. Gadis yang begitu sangat mencintai Senja, saat ia pertama kali masuk SMP. ****** "Kakak, sudah lama?" Mengabaikan Jihan yang masih memeluk suaminya, Jingga menuruni tangga dengan langkah yang sangat anggun. Kedua sudut bibir gadis itu juga melengkung dengan sangat indah. Senja tersentak. Ia langsung mendorong tubuh Jihan dan menjauh dari wanita itu. "Jingga!" Ucap Senja kikuk. "Dompet Kakak ketinggalan!" Menyodorkan sebuah dompet kulit kepada suaminya. "Kila …, Bunda rindu sama kamu!" Jingga membawa Syakila ke dalam pelukannya. Gadis kecil tersebut langsung memeluk leher Jingga, yang sudah ia anggap sebagai ibu kandungnya sendiri. "Ayo, duduk dulu, Kak! Kakak datang kok nggak ngasih kabar dulu. Agar Jingga bisa memasakkan sesuatu!" Ucap Jingga, dengan suara lembutnya. "Oh, ya. Kakak tahu rumah kami darimana?" "Kakak …," "Jingga, Kakak berangkat dulu, ya!" Ucap Senja memotong perkataan Jihan. "Baiklah, Kak. Jangan lupa janji Kakak padaku," meraih tangan Senja dan mencium punggung tangan tersebut. Senja dan Jihan saling pandang. Mereka sama-sama bingung melihat ekspresi biasa yang ditunjukkan oleh Jingga. Tidak ada luka dan kekecewaan dari sorot mata gadis itu. Padahal, ia melihat dengan jelas mereka berdua berpelukan. Akhirnya, Senja hanya mengangguk dan beranjak. Pria itu berjalan dengan sangat cepat meninggalkan ruang tamu tersebut. "Kakak titip Syakila, ya," ucap Jihan, sebelum berlari mengejar Senja. Yang telah lebih dulu pergi. "Bik …," ucap Senja. Esih langsung menemuimu Jingga di ruang tamu. "Ada apa, Nona Muda?" "Aku titip Kila sebentar, ya. Perutku sakit, Bik!" Menyerahkan gadis kecil itu kedalam gendongan Esih. Dengan sedikit berlari, Jingga kembali ke dalam kamarnya. Mengurung diri di dalam kamar dan membenamkan wajahnya di dalam bantal. Disana, Jingga menumpahkan segala sakit yang menyesakkan dadanya. Ia meremas dan memukul dadanya sendiri. Sesekali gadis itu juga memukul perutnya sendiri. "Jangan sampai kau hadir di dalam rahimku. Aku tidak akan sanggup untuk membuang anakku sendiri. Aku tidak akan sanggup. Hiks hiks, ternyata mereka berdua telah merencanakan untuk menikah. Jadi aku harus apa? Drt Drt Drt, getaran dari ponsel Jingga yang berada di atas nakas mengalihkan pandangannya. Sebuah panggilan masuk dari Don. Jingga segera mengangkat panggilan tersebut. "Hallo, Kak!" (...........) "Aku belum siap untuk mengatakannya kepada Kak Senja, Kak. Aku ….," Jingga menghela nafas panjang. Menatap ponsel yang ada di dalam genggamannya. Panggilan tersebut diputuskan secara sepihak oleh Doni. Dari suara pria tersebut, bisa dipastikan ia juga telah mendengar rencana yang dibuat oleh Senja dan Jihan. Sehingga Doni menuntut Jingga untuk segera mengungkapkan rahasia yang selama ini disimpan oleh Jingga. Rahasia yang hanya diketahui oleh mereka bertiga. Jingga, Aryan, dan Doni. Sebelum keluar dari kamar, Jingga memeriksa media sosial berwarna merah miliknya. Hatinya berkata, ada sesuatu yang akan di update oleh Jihan. Lagi. Rasa sesak itu datang. Story Jihan yang menunjukkan ia sedang mencium pipi seseorang, terpampang disana. Dilihat dari pakaian yang dikenakan oleh Jihan, bisa dipastikan foto tersebut baru saja diambil. Lengan baju berwarna biru langit, yang ikut terfoto semakin menyesakkan d**a Jingga. "Aku yakin itu kamu, Kak!" ucapnya lirih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN