Senja memarkirkan mobilnya di sebuah taman, yang dekat dari rumah makan Padang yang ia miliki. Dengan perasaan yang kesal, pria itu turun dan menarik tangan Jihan keluar dari mobilnya.
"Apa yang kamu lakukan sudah keterlaluan, Jihan!" Senja menutup kembali pintu mobil dengan kasar.
"Apanya yang keterlaluan, Eja?" Jihan menyandarkan tubuhnya pada mobil.
"Kamu mengambil foto kita berdua, tanpa seizinku! Kamu tahu, itu bisa membuat Jingga dan Doni memiliki jalan untuk mempersulit perceraian kita. Dan kamu tahu, hak asuh Syakila juga bisa jatuh ke tangan Doni!"
"Aku tidak peduli, EJa! Aku sengaja melakukannya, agar Jingga menjauh darimu!"
"Percuma!" Segah Senja.
"Percuma?" Jihan mengernyit heran.
"Benar. Percuma saja kamu memanasi Jingga. Dia tidak akan peduli. Kamu ingat ini?" Senja menunjuk tanda merah yang ada di ceruk lehernya. "Ini kerjaan kamu, kan? Jingga melihatnya, dan dia mengatakan ini bekasnya. Dia tidak peduli sama sekali."
Mata Jihan membesar. "Benarkah?"
"Benar. Jangankan menangis, bertanya pun tidak!" Senja mengacak rambutnya. "Kamu mengirim foto mesra kita di media sosial, tidak mungkin Jingga tidak melihatnya. Jadi cukup! Jangan lagi umbar kemesraan kita. Karena disini kamulah yang akan rugi, Jihan. Ingat Syakila!"
"Kenapa Syakila?"
"Kamu ingin berpisah dengan putrimu itu?" Senja menaikkan satu alisnya.
"Putriku? Putri kita, Eja!" Rengek Jihan.
"Sudahlah, Jihan! Aku tahu berapa usia Syakila. Umurnya memang tidak sesuai dengan pernikahanmu dengan Doni. Tetapi, sangat tidak masuk akal lagi, jika Kila anakku. Jujurlah, dia anak Doni, kan? Kalau Syakila anakku, umurnya sekarang pasti sudah lebih dari empat tahun. Kamu ingat, kita tidak bertemu lima tahun lebih!" Senja mengamati wajah pucat Jihan. "Katakan sejujurnya, Syakila anak siapa?"
"Ok, baiklah! Aku jujur. Syakila anaknya Doni. Aku khilaf, Eja. Aku tidak sadar saat dia meniduriku. Aku mabuk!"
Senja tertegun. "Setelah itu?"
"A-aku, tidur dengannya. Dan …, aku hamil. Begitu aku tahu aku hamil, aku mencoba untuk bunuh diri, tetapi Doni menyelamatkan aku. Dia mendonorkan darahnya padaku. Dan menawarkan diri untuk menikahiku. Agar Syakila lahir dengan identitas yang jelas."
"Bukankah kamu berkata, tidak pernah sekalipun berhubungan dengan Doni? Ingat Jihan, aku juga bukan orang pertama yang menidurimu. Namun, karena cintaku padamu, aku menerimamu apa adanya. Dua tahun kita mencoba, tidak menghasilkan apa-apa. Namun, dengan Doni?"
"Senja, kamu kalau ingin membuangku katakan saja! Kamu sebenarnya sudah tidak mencintaiku lagi, kan?" Jihan terngungu. "Katakan! Kamu jatuh cinta kepada Jingga? Kenapa? Apa karena dia masih gadis, dan aku wanita kotor?" Meremas kerah baju Senja. "Katakan!" Ucapnya lantang.
Senja memeluk Jihan. "Bukan, bukan seperti itu, Jihan. Aku mencintaimu masih sama seperti dulu, Sayang. Aku berjuang demi cinta kita, tetapi kenapa kamu mengkhianati aku?" Mengusap lembut rambut lurus Jihan.
"Aku khilaf, Eja. Kamu tahu, Doni memanfaatkan keadaan ku yang sedang mabuk! Selama menikah, dia tidak pernah menyentuhku! Jadi tolong, percayalah padaku!" Lirih Jihan lagi.
"Maafkan aku …,"
"Ehem, selagi kita berkumpul disini! Aku juga ingin tahu Syakila anak siapa?" Doni tersenyum miring.
"Ka-kamu?" Jihan memucat.
Perlahan, Senja mengurai pelukannya. "Katakanlah Jihan. Agar ini semua cepat selesai!"
"Bagaimana kamu bisa tahu dimana keberadaanku, Don?"
"Itu tidak penting sekarang. Cepat katakan!" Ucap Doni santai.
"Anak kamu!" Cicit Jihan, hampir tidak terdengar oleh Senja dan Doni.
"Aku …," mata Doni membesar. Melihat Jihan yang tiba-tiba saja berlari ke arah sepeda motor yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi. Dalam hitungan detik, tubuh Jihan terpental ke pinggir jalan.
"JIHAN!"
Senja dan Doni meneriaki satu nama tersebut secara bersamaan.
****
"Nona menangis lagi?" Tanya Esih, yang melihat Jingga menuruni anak tangga.
"Tidak, Bik. Hanya kelelahan saja. Dari tadi nguap terus!"
"Tuan lagi?" Sela Esih, yang sedang menidurkan Syakila di sebuah permadani tebal, yang ada di ruang keluarga.
"Tidak, Bik!" Jingga ikut duduk dan menatap kepada Syakila. Gadis kecil, yang katanya adalah anak kandung Senja.
Mana mungkin kamu anaknya suami Bunda, Nak. Kamu hadir dua tahun setelah kepergian suami Bunda. Apa mereka pernah bertemu sebelumnya?
Jingga memindai seluruh wajah Syakila. Namun, tidak ada sedikitpun garis wajah Senja disana. Sehingga, Jingga meminta Doni untuk menemui Jihan yang sedang pergi dengan Senja, untuk menanyakan kebenaran tersebut. Walaupun berat, Jingga rela melepaskan Senja, kalau memang Syakila adalah anak kandung suaminya.
Jingga yang tidak mengetahui kemana suaminya pergi, hanya bisa mengirimkan nomor ponsel Senja. Selebihnya, Jingga menyerahkan semuanya kepada Doni. Saat dalam perjalanan, Doni mencoba untuk menghubungi Senja. Karena nomor asing, suami Jingga tersebut mengabaikan panggilan dari Doni
Tidak habis akal, Doni mengirimkan sebuah pesan yang berisi
[Aku Doni, share lock posisi kamu dan istriku, Senja! mumpung kalian bersama, aku ingin tahu Syakila anak siapa?]
Cukup terkejut dengan pesan dari media sosial hijau tersebut. Namun, Senja berusaha tenang agar Jihan tidak curiga. Tanpa sepengetahuan wanita itu, Senja mengirimkan lokasi terkini kepada Doni Tepatnya sebuah taman yang cukup terkenal di kota Bandung. Sehingga pria itu bisa dengan mudah menemukan keberadaan Senja dan istrinya.
Tidak sanggup untuk menjawab pertanyaan Doni dan Senja, Jihan nekat menghadang sepeda motor yang sedang melintas. Seperti dulu, saat ia ketahuan hamil Syakila.
"Sebaiknya Nona katakan yang sejujurnya kepada Tuan!" Esih mengusap bahu Jingga.
"Aku tidak ingin Kak Senja tahu siapa aku sebenarnya, Bik. Sebelum dia mencintaiku sebagai Jingga, bukan Mentari."
"Tapi, Non!"
"Bibik tenang saja. Suatu saat nanti aku pasti bisa meruntuhkan dinding pembatas antara kami berdua."
"Bibik doakan semoga Nona cepat hamil. Agar bisa mengikat tali pernikahan kalian berdua!"
"Tidak, Bik. Aku takut …," Jihan mengusap air matanya. "Aku takut anak kami akan menjadi pelampiasan kemarahan suamiku, Bik. Aku tidak ingin itu terjadi."
"Itu tidak akan terjadi, Non. Percayalah! Anak, adalah pengikat tali pernikahan yang sangat kuat. Meskipun sekarang tuan mengatakan tidak menginginkan anak ada diantara kalian, tetapi percayalah. Tuan orang pertama yang akan bahagia saat anak itu hadir di dalam rahim Nona."
Esih mengusap perut Jingga yang masih rata.
Gadis itu tersenyum. Ia begitu beruntung memiliki Esih disisinya. Walaupun mereka baru dua hari bersama, Namun, kelembutan Esih mampu membuat Jingga tenang. Dan mampu menceritakan rahasia terbesarnya kepada wanita paruh baya tersebut. Saat beliau mengajak Jingga yang sedang kehujanan masuk ke dalam rumah. Esih juga memperlakukan Jingga layaknya anak kandung. Bertekad untuk mengasihi dan melindungi gadis tersebut.
Saat Jingga dan Esih sibuk mengobrol, sebuah pesan singkat dari Doni menyentakkan Jingga. Mata gadis itu memanas, membaca pesan tersebut. Kakaknya, Jihan, koma di rumah sakit. Doni meminta Jingga datang sekaligus segera menghubungi orang tua mereka.
Kondisiku menurun lagi. Mohon sabar untuk uptade Adara My Wife. Sehat selalu sayang aku.