Jingga hanya mampu diam. Tidak ada satu katapun yang mampu diucapkan oleh gadis itu. Melihat suaminya menggenggam erat tangan kakak perempuannya. Disana, Senja juga mengatakan hal yang membuat jantung Jingga terasa di remas sangat kuat.
"Bangun lah, Sayang. Aku berjanji padamu tidak akan pernah mengungkit tentang Syakila lagi. Kita akan membesarkannya bersama- sama. Aku juga mengizinkannya memanggil ayah kepadaku. Namun, sebelum itu, bangun lah Sayang. Bangun …," lirih Senja. Semenjak Jihan dipindahkan ke ruang rawat, pria itu tidak pernah melepaskan genggamannya dari tangan wanita itu. Bahkan, ia mengabaikan keberadaan Jingga dan Doni.
"Bangunlah, Jihan! Aku mohon …, bukankah kamu ingin menikah denganku? Kalau kamu terus-menerus menutup mata seperti ini, bagaimana mungkin kita bisa menikah?" lirih Senja lagi.
Jingga yang masih berdiri di ambang pintu, tersenyum getir. Bagaimana mungkin, Senja tega mengatakan itu semua di hadapannya. Tidakkah Senja memikirkan bagaimana perasaannya? Bagaimana mungkin Senja mengatakan hal tersebut, sedangkan Jingga masih sah menjadi istrinya? Hanya Jingga dan Tuhanlah yang tahu, bagaimana keadaan hatinya sekarang.
"Sampai kapan kamu menutupi ini semua?" Tanya Aryan, yang baru saja sampai disana.
"Sampai aku lelah, Kak!" Jawab Jingga.
"Ini tidak adil bagimu, Jingga. Lebih baik kamu katakan apa yang sebenarnya kepada Senja. Sebelum nasibmu sama sepertiku." Lirih Doni. Pria itu melihat istrinya yang terbaring di sana.
Walaupun statusnya masih suami sah Jihan, pria itu tidak bisa mendekati istrinya sendiri. Karena Senja menganggap semua yang terjadi kepada Jihan, akibat ambisi Doni. Padahal, pria itu hanya ingin menyelamatkan Jihan dan Syakila. Pria itu memang sangat mencintai Jihan, akan tetapi ia juga cukup tahu diri dengan posisinya. Menikahi Jihan hanya semata untuk melindungi gadis tersebut. Namun, bila akhirnya rumah tangga mereka berjalan sebagaimana mestinya, itu semua merupakan anugerah baginya.
Namun, rumah tangga harmonis dan bahagia yang selalu diimpikan Doni tidak akan pernah menjadi kenyataan, karena ia sendiri bisa mendengar dengan jelas, Senja dan Jihan telah merancang rencana pernikahan mereka berdua. Bahkan tadi pagi, Jihan telah mengungkapkan niatnya untuk bercerai.
"Aku tidak apa-apa, Kak. Aku akan tetap bertahan demi keutuhan rumah tanggaku. Memang terdengar sangat konyol, tetapi selama suamiku tidak menceraikan aku, aku akan tetap berada di sampingnya. Meskipun dia tidak pernah menyadari kehadiranku." Dengan sangat perlahan Jingga menutup pintu ruang rawat kakaknya itu. Semakin lama ia berada disana, semakin dalam pula luka yang akan ia rasakan.
"Apa lagi yang kamu tunggu, Jingga? Bukankah kamu bisa mendengar Senja dan Jihan akan menikah?"
Jingga tersenyum. "Baru 'akan'. Untuk saat ini, akulah istrinya Senja!" Ucap Jingga singkat.
"Jingga, sebenarnya apa yang kamu harapkan dari pernikahanmu dan Senja?" Selidik Aryan lagi. Ia begitu sangat penasaran, dengan istri sahabatnya itu. Dari dulu menyimpan rasa, hingga sekarang dikhianati secara terang-terangan. Akan tetapi, gadis itu tetap terlihat tenang dan selalu mengukir senyum di bibirnya.
"Aku hanya ingin merasakan hidup bersama pria yang sangat aku cintai. Meskipun hatinya bukan milikku." Jingga beranjak meninggalkan Aryan dan Doni.
"Oh, ya, Kak! Jangan hubungi kedua orang tuaku. Aku tidak ingin mereka mendengarkan kelakuan kakakku. Biarkan saja. Aku yakin dia akan baik-baik saja. Karena pria yang ia cintai ada bersamanya. Aku pulang dulu, kalau ada apa-apa, Kakak harus segera menghubungi aku." Jingga meneruskan langkahnya. Tanpa melihat kembali kebelakang.
Barulah, air mata mengalir di pipinya. Jangan tanyakan lagi bagaimana perasaan Jingga sekarang. Bertahan? Mana mungkin ia bisa bertahan berdiri di atas bara yang menyala. Setidaknya, Jingga masih memiliki sedikit waktu untuk menarik Senja kembali padanya. Ia tidak ingin, kejadian di masa lalu membuat Senja kembali jauh dari jangkauannya. Setidaknya, hingga Senja mengusir Jingga dari kehidupannya, gadis itu memiliki sedikit kesempatan untuk memenangkan hati suaminya itu.
"Kenapa harus Jingga lagi yang harus mengalah?" Ucap Aryan. Pria berwajah tampan tersebut menyandarkan tubuhnya di dinding rumah sakit.
"Ini semua bermula darimu, Yan! Jika seandainya dulu kamu mengalah, tentu semua tidak akan pernah terjadi. Terutama Jingga dan Senja, aku yakin mereka telah lama hidup bahagia." Jawa Doni pasrah. Menundukkan kepalanya dan meremas rambutnya sendiri.
"Bukannya aku tidak ingin mengalah, Don. Namun, tidak akan ada yang mampu hidup berdampingan dengan orang yang sama sekali tidak dicintai. Seperti kamu, tiga tahun hidup satu atap dengan Jihan, hingga detik ini tidak ada cinta yang tumbuh di hatinya. Bahkan, kamu belum mampu menyentuhnya seujung kuku pun!"
"Cih, jangan mentang-mentang kamu pernah menyentuhnya, sekarang seenaknya kamu mengatakan itu kepadaku?" Ejek Doni.
"Astaga, Don … masih juga berpikir seperti itu! Buka matamu lebar-lebar, aku tidak pernah sekalipun tidur dengannya. Coba kamu perhatikan Syakila, tidak ada mirip-miripnya denganku Lagian nih, ya Cintaku kepada Jingga sangatlah besar, hingga detik ini tidak pernah berubah," Aryan berpindah ke samping Doni. "Aku bukan kamu yang mau menerima bekas sahabat sendiri. Kamu paham sendiri lah, ya. Bagaimana hubungan Jihan dan Senja dulu. Bahkan, bukan Senja pria pertama yang melakukannya dengan Jihan. Jadi … mana mungkin aku mau dengannya. Bagiku, yang menjadi permasalahannya bukan gadis atau bukan, tetapi si wanitanya, harga diri saja dia tidak mampu menjaga apa lagi harga diri suaminya sendiri."
Terang Arayan lagi.
Doni mengusap wajahnya dengan kasar. "Jadi Syakila anak siapa? Bukannya kamu yang malam itu bersama Jihan di tempat karaoke? Kamu yang membawanya pulang dan menidurinya bukan?" Ejek Doni lagi.
"Memang kami pergi bersama! Namun, hanya sebatas karaoke dan minum saja. Tetapi Jihan malah mabuk berat. Aku takut mengantarkannya ke rumah orang tuanya. Akhirnya, aku memutuskan untuk membawa Jihan pulang ke kosan. Kamu tahu," Aryan mengahadap kepada Doni "Percaya atau tidak, malam itu aku tidur di lantai dan Jihan di atas tempat tidur Dan entah apa yang terjadi, paginya aku melihat Jihan tidur hanya dibungkus selimut."
"Aku tidak percaya padamu!" Doni memukul kepala belakang Aryan. "Kalian berdua sama-sama mabuk malam itu."
"Astaga, Don. Kamu nggak percayaan amat sama sahabat sendiri. Kalau memang aku yang melakukannya. Bisa dipastikan, aku terbangun di sampingnya dan sama polosnya dengan Jihan. Tapi kenyataannya apa? Tidak ada yang berubah dariku begitu aku bangun dari tidur. Jadi …,"
"Apa maksud semua ini?" Senja melipat kedua tangannya di d**a. Menatap kedua sahabatnya itu secara bergantian.
Doni dan Aryan saling pandang satu sama lain. Tenggorokan mereka berdua sama-sama tercekat karena tiba-tiba saja Senja telah berada di samping mereka. Saling sikut diantara mereka pun tidak bisa dielakkan.
"Banyak hal yang belum kamu ketahui tentang ini semua, Senja," Aryan beranjak dari tempat duduknya. "Sebaiknya, sebelum kamu mencari tahu tentang ini semua, jangan pernah kamu menyia-nyiakan istrimu. Ingat satu hal, penyesalan akan selalu datang terlambat Jadi, untuk saat ini, pulanglah! Jihan masih istri Doni, dia yang berhak berada disini."
Aryan menarik tangan Senja. "Hubungi orang tuanya, Don. Jihan tanggung jawabmu!" Menepuk bahu Doni sekilas, sebelum ia pergi membawa Senja menjauh dari rumah sakit.
"Katakan apa saja yang masih belum aku ketahui!" Ketus Senja. Saat kedua pria itu sampai di parkiran.
Aryan menepuk bahu Senja. "Gunakan instingmu, dan perhatikan dengan baik sekelilingmu, Ja. Semua akan terjawab dengan sendirinya. Aku dan Doni tidak memliki hak untuk membukanya. Biar waktu yang akan menjawab dan untuk sementara waktu, jaga Jingga sebaik mungkin."
Mengabaikan Senja yang masih tertegun, Aryan masuk ke mobil dan pergi meninggalkan rumah sakit tersebut.
Untuk sekian detik, Senja hanya terdiam. Pria itu mencerna baik-baik maksud perkataan Doni dan Aryan. Hingga ia memutuskan untuk pulang menemui Jingga, berharap istrinya itu memiliki jawaban atas segala teka-teki yang ada.
Terimakasih Doanya, Sehingga aku bisa kembali beraktivitas. Jangan lupa, Tap Love, Komen, dan Follow akunku, ya. Sehat dan bahagia selalu kesayangan.