6

1063 Kata
"Vincent, nih aku buatin kamu s**u jahe biar gak dingin. Diminum ya?" Cherly mengangkat cangkir yang ia bawa untuk diletakkan di dekat Vincent. "Gak perlu, lo bawa pergi aja," tolak Vincent sebelum cangkir itu berada di dekatnya. "Diminum dikit aja, aku udah buatin khusus buat kamu," paksa Cherly yang semakin menyodorkan cangkir itu. Karena kesal, Vincent mendorong kasar tangan Cherly, membuat s**u jahe buatan gadis itu tumpah mengenai tangan putihnya. Byuurr "Aduh, panas!" ringis Cherly kepanasan karena Vincent menepis tangannya cukup keras hingga s**u jahe tumpah mengenai tangannya. Bukannya membantu Cherly yang kepanasan, Vincent malah memandang malas gadis di depannya. Itu bukan salahnya, tapi salah Cherly yang memaksa agar ia meminum s**u jahe itu. Vincent memang tidak memiliki hati, dia sangat jahat terhadap Cherly yang selalu memperhatikan Vincent. "Salah lo sendiri gak mau denger. Gue udah bilang gak mau, jangan maksa," bentaknya tepat di depan wajah Cherly, membuat Cherly ingin menangis karena tangannya benar-benar terasa panas. Buru-buru Cherly pergi ke dapur untuk mengambil air es. Tangannya terasa sangat panas. Sekarang air matanya jatuh bersamaan saat ia mengirimkan air es ke tangannya, bayangan Vincent membentaknya tadi tiba-tiba membuat sesak dadanya. Bukan kali pertama Vincent membentak dirinya seperti itu, tapi kenapa sekarang dadanya terasa sangat sesak? "Hiks... hiks... kok sesak banget... hiks... hiks..." isaknya sembari memukul dadanya kuat. "Astaga, Cherly, kamu kenapa nangis? Aah, tangan kamu kenapa bisa merah gitu? Sini Tante bantu obatin," pekik Risa. Cherly hanya menurut saat Risa membawanya ke ruang tengah untuk mengobati tangannya yang sedikit memerah. Tangisnya tak kunjung berhenti meskipun sudah berusaha melupakan kejadian tadi. Ia pikir setelah tinggal di rumah cowok itu akan mudah untuk mengambil hatinya, tapi ternyata tidak. Vincent bahkan semakin jahat pada Cherly. "Kamu kenapa nangis? Apa masih perih?" tanya Risa lembut. Tak ada jawaban dari bibir mungil Cherly, hanya ada isak tangis yang terus terdengar. Risa yang tidak tega dengan Cherly meraih tubuh gadis itu ke dalam pelukannya, berusaha memberikan ketenangan agar tangisnya mereda. Tidak biasanya Cherly menangis; biasanya anak itu selalu tersenyum ceria dan membangun suasana menjadi ceria. "Vincent mau kemana?" tanya Risa ketika melihat putranya hendak keluar rumah. "Mau keluar cari udara segar," jawabnya acuh. "Kamu ajak Cherly jalan-jalan aja gih, dia lagi sedih. Mama gak tega mau ninggalin dia sendirian di rumah," perintah Risa. "Dia punya tangan kaki lengkap, bisa pergi sendiri tanpa Vincent. Kenapa harus pergi bareng? Nyusahin, dan Vincent gak mau," tolaknya. "Oh, kalo gitu mama bakal sita mobil kamu, sama kartu ATM semua mama bekukan," ancam Risa tidak main-main. "Maa..." "Bawa Cherly jalan-jalan atau semua fasilitas kamu beku selama satu minggu," putus Risa tak mau dibantah. "Tante, Cherly bisa pergi sendiri kok. Gak perlu sama Vincent," tolak Cherly merasa tidak enak. "Itu keputusan Tante dan gak bisa diubah, sayang. Sekarang kamu siap-siap sana, Tante tunggu di sini sama Vincent," Risa mendorong pelan tubuh Cherly. Terpaksa Cherly menuruti permintaan ibu Vincent yang memaksa agar ia pergi bersama anaknya. Senang? Tentu saja ia sangat senang dengan kesempatan ini. Tapi ia kasihan pada Vincent yang harus dipaksa seperti itu. Ia ingin pergi bersama Vincent tanpa ada paksaan seperti ini. Meskipun mustahil Vincent akan pergi bersama dirinya, tapi ia akan berusaha sendiri nantinya. Kini Cherly sudah berada di dalam mobil bersama Vincent. Suasananya sangat hening, tak ada sedikit pun suara. Sesekali Cherly melirik Vincent yang begitu fokus dengan jalan di depannya. Dia sangat tampan dan berkarisma. Vincent sangat suka memakai pakaian dengan warna netral, terutama hitam. Sama seperti sekarang, cowok itu memakai kaos lengan pendek dan jaket Levis polos berwarna hitam, celana hitam, dan juga sepatu hitam dengan sedikit warna putih sebagai variasi. Vincent benar-benar tampan dilihat dari segi apapun, itu sebabnya Cherly sangat tergila-gila pada sosok Vincent meskipun ia diabaikan. "Ganteng banget," bisik Cherly sangat pelan, lalu mengalihkan wajahnya sambil tersenyum bahagia. "Coba aja kita pacaran, pasti Vincent bicara banyak hal dan eh, itu pacar Vincent kan?" batin Cherly. "Lo tuh harusnya tau diri, lo cuma numpang di rumah gue, jadi jangan ngelunjak. Kalo di depan orang tua gue, gak usah cari simpati," desis Vincent tajam tanpa menatap pada Cherly karena ia harus fokus pada jalan. "Vincent, aku minta maaf ya, kalau nyusahin kamu," ucap Cherly merasa tidak enak. "Lo tuh bikin hidup gue berubah, gue benci sama lo," lontar Vincent tanpa memikirkan perasaan Cherly yang memungkinkan tersinggung. "Cinta sama benci, beda tipis loh, hehe," sengaja Cherly mengatakan itu karena ingin ada sedikit candaan di antara mereka. Tapi tetap saja, Vincent tidak menanggapi dan tak sedikit pun melirik pada Cherly yang ingin mendapatkan tanggapan. Tak lama, mobil Vincent berhenti tepat di depan gadis cantik yang sudah menunggu entah sejak kapan. Vincent keluar begitu saja tanpa mengatakan sepatah kata pun. Cherly kembali memegangi dadanya yang sesak saat melihat Vincent mencium kedua pipi pacarnya. Cowok itu bahkan bisa tersenyum dengan begitu lebar, berbeda dengan dirinya yang selalu dingin. Klik "Keluar lo, duduk di belakang," usir Vincent. Cherly segera berpindah ke kursi belakang, membiarkan gadis yang menjadi kekasih Vincent duduk di sana dengan tenang. Mereka asyik mengobrol tanpa memperdulikan Cherly di belakang. Dia hanya bisa diam menatap iri gadis di depannya. Sekarang, hati Cherly merasakan bagaimana rasa sakit yang sebenarnya, di mana ia melihat Vincent yang manis terus tersenyum pada gadis yang disukainya. "Ada yang patah, tapi bukan kayu. Huaa... Mama, Cherly mau Vincent," teriak batin Cherly. "Oh iya, nama kamu siapa? Nama aku Sofia," tanya Sofia ramah. "Aku Cherly," jawabnya pelan. "Kamu sama Vincent kenal udah lama?" tanya Sofia lagi. "Iya, dari lama. Karena orang tua kita temenan, jadi kita kenal," jawab Cherly, benar-benar merasa canggung melihat keramahan Sofia pada dirinya. Author POV Cherly masuk ke dalam kamarnya dengan wajah lesu. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan Vincent yang mau membelanjakan Sofia begitu banyak. Selama pergi bersama Vincent tadi, ia hanya dijadikan tukang bawa barang, bahkan kedua pasangan itu tidak memperdulikan seorang Cherly yang membawa banyak barang milik Sofia. Vincent juga tak sedikit pun menoleh untuk memastikan apa Cherly baik-baik saja, kesusahan, atau bahkan membutuhkan bantuan. Cowok itu asyik berbincang dengan Sofia layaknya tak ada beban sama sekali. Sekarang Cherly benar-benar lelah dan langsung tidur tengkurap di ranjangnya tanpa mengganti pakaian maupun melepaskan sepatunya. Sebelumnya, ia tak pernah membawa barang sebanyak tadi meskipun pergi berbelanja, karena dirinya akan langsung meminta pihak toko untuk mengirimkan barang itu ke rumahnya. Atau barang belanjaannya akan dibawa oleh bodyguard yang ikut dengannya. Cherly sebenarnya sama kayanya dengan Vincent, tapi kekayaan keluarga Vincent memang jauh di atas keluarganya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN