7

1181 Kata
Suasana hati Cherly saat ini sangat buruk, entah kenapa mood-nya rusak pagi ini. Biasanya ia akan segera bangun dari tempat tidur, pergi mandi, membereskan kamarnya, dan turun ke dapur untuk membantu Mama Vincent. Tapi pagi ini Cherly masih belum beranjak dari kasurnya, menenggelamkan seluruh tubuhnya di dalam selimut tebal. Beruntung ini hari Minggu, jadi tak perlu pergi keluar rumah ataupun beranjak dari ranjang empuk yang membuat nyaman badannya. Suara pintu kamarnya dibuka, entah siapa, tapi ia tetap tak mau membuka selimutnya. Memang tidak sopan jika ia seperti itu, tapi mau bagaimana lagi, mood-nya benar-benar berubah pagi ini. Cherly, si gadis ceria dan selalu bersemangat, kini bermalas-malasan di bawah selimut. "Bangun, jangan gak tahu diri kalo numpang di rumah orang," suara itu membuat Cherly memutar kedua bola matanya malas. Biasanya ia akan senang jika Vincent datang kepadanya dan berbicara meskipun dingin. Tapi kali ini ia malah tidak suka dengan kedatangan Vincent, walaupun cowok itu datang karena disuruh. Tak mau menggubris Vincent, Cherly tetap tak bergeming dan memilih menutup matanya kembali. Srekk. Cherly terkejut bukan main ketika selimut yang menutupi tubuhnya tiba-tiba melayang karena ditarik kasar oleh Vincent. Terpaksa Cherly bangun, menatap tak suka pada Vincent yang semena-mena kepada dirinya. Perlakuan Vincent seperti saat ini sangat membuatnya kesal, apalagi di saat mood-nya tengah hancur. "Mau lo apa si? Gue mau tidur," geram Cherly menatap Vincent tak suka. Ada rasa aneh saat Cherly bersikap berbeda padanya, meskipun bingung dengan perubahan sikap Cherly yang tiba-tiba, ia berusaha tidak peduli. Akan lebih baik jika gadis itu bersikap seperti itu terus, bukan? Ia akan terbebas dari Cherly yang selalu mengganggu dirinya. "Gak tahu diri, lo lupa kalo cuma numpang di rumah gue? Turun ke meja makan sekarang," kata Vincent dingin. Dengan wajah kesal, Cherly langsung turun dari ranjang, meninggalkan Vincent yang masih bingung dengan sikapnya pagi ini. Sangat berbeda dari Cherly yang biasanya mengganggu Vincent dengan segala cara, bahkan tidak ada sedikit pun senyum di wajahnya saat mengetahui Vincent ada di kamarnya. "Dia salah makan apa gimana?" tanya Vincent pada diri sendiri. Tak mau memikirkan yang terjadi pada gadis itu, Vincent memilih untuk segera turun menuju meja makan. Di sana Cherly duduk dengan wajah lesu, wajahnya tidak terlihat ceria seperti biasanya. Suasana sarapan pagi ini sangat sunyi, tidak seperti biasanya yang akan terasa menyenangkan karena Cherly tidak akan makan dalam diam. Selesai makan pun, Cherly hanya diam lalu berpamitan untuk kembali ke kamarnya. "Kamu gak apa-apain Cherly kan?" tuduh Risa pada putranya. Vincent yang dituduh langsung melotot kaget karena mamanya selalu berpikir jika ia jahat pada Cherly. "Enak aja, Vincent cuma suruh dia sarapan sesuai perintah Mama. Jadi jangan nuduh gak baik gitu," kesal Vincent kemudian pergi begitu saja. Vincent berjalan menuju kamarnya dengan santai sambil bersiul. Ia sesekali tersenyum karena mengingat wajah cantik kekasihnya. Semalam ia melakukan video call hingga larut malam bersama Sofia, gadis itu bercerita banyak hal yang membuat Vincent tak berhenti tertawa. Sebelum masuk ke dalam kamarnya, ia melirik pintu kamar Cherly yang tertutup rapat. Biasanya Cherly akan pergi bersama teman-temannya ketika libur sekolah, tetapi sekarang gadis itu malah mengunci pintu kamar begitu rapat. Di dalam kamar, Cherly terus memegangi kepalanya yang terasa begitu sakit, bahkan ia menangis karena sangat sakit. Jemarinya tak berhenti menarik rambutnya kuat agar rasa sakitnya sedikit berkurang. Isakan kecil mulai terdengar karena rasa sakit itu tak kunjung hilang. "Hiks, Mama, sakit," isaknya mengadu pada ibunya yang jauh dari dirinya saat ini. Cherly sering kali merasakan sakit kepala tanpa ada yang tahu, ia selalu mengatasi rasa sakitnya sendiri karena ini hal sepele. Kedua orang tuanya sering pergi ke luar negeri untuk menemani kakaknya dan mengurus pekerjaan, sehingga Cherly berusaha mandiri. Ia tak pernah mau merepotkan orang lain meskipun sejatinya ia begitu butuh teman, sandaran, dan tempat untuk mengadu jika sering merasa sakit. Tidak ada yang tahu Cherly yang selalu ceria dan terlihat baik-baik saja sebenarnya membutuhkan kedua orang tuanya. Sejak kecil ia sering ditinggal bersama kakak dan pengasuh, saat kakaknya sudah lulus dari SD, dia semakin merasa sendiri karena kakaknya melanjutkan sekolah di luar negeri. Sejak kakaknya berada di luar negeri, kedua orang tuanya semakin sering meninggalkan dirinya. Seperti sekarang ini, ia dititipkan di rumah keluarga temannya. Suara pintu kamar Cherly diketuk. Awalnya gadis itu tak menggubris karena rasa sakit pada kepalanya masih belum hilang sepenuhnya. Ia tak mau bertemu siapa pun saat sedang tidak baik-baik saja seperti ini. "Cher, buka pintunya," suara dari luar membuat Cherly terkejut, itu adalah suara Vincent. Terpaksa Cherly bangun dari ranjang dan segera pergi ke kamar mandi untuk cuci wajah dan mengelap keringat yang membanjiri tubuhnya. Dengan menahan rasa sakit yang masih begitu terasa di kepalanya, ia menampakkan senyum ceria seperti biasanya. "Eh Vincent, kenapa?" Ini bukan Cherly yang biasanya ketika Vincent datang ke kamarnya. "Lo tadi nangis?" tanyanya acuh. "Ih, enggak. Cherly gak pernah nangis, kamu tahu itu. Udah ya, Cent, aku mau istirahat," Cherly langsung menutup pintu kamarnya lagi tanpa menunggu Vincent. Sedangkan Vincent masih menatap bingung pintu kamar Cherly. Gadis itu benar-benar berubah hanya dalam waktu semalam. Tapi ia juga penasaran kenapa Cherly menangis tadi, tidak mungkin ia salah dengar karena suaranya sangat jelas. *** Cherly tidak keluar dari kamarnya sejak pagi. Vincent sengaja duduk di ruang santai di dekat kamar mereka yang ada di samping tangga. Ini sudah sore hari, tapi tak ada tanda-tanda Cherly keluar dari kamarnya. Beberapa saat kemudian, terdengar kenop pintu dibuka. Vincent memalingkan wajahnya menghadap ke arah lain. Biasanya Cherly akan menyapa Vincent dengan keceriaan saat melihat cowok itu duduk di sana, tapi sekarang tidak. Cherly lewat begitu saja tanpa melirik sedikit pun pada Vincent. "Dia marah gara-gara kemarin gue suruh bawa barang-barang Sofia," Vincent terus dilanda rasa ingin tahu karena perubahan sikap Cherly yang berubah tiba-tiba. Di lantai bawah, Cherly duduk termenung menatap televisi yang menayangkan kartun. Gadis itu tampak banyak pikiran dan suasana hatinya juga belum membaik. Rasa sakit pada kepalanya tadi membuatnya kepikiran, tidak biasanya ia merasakan sakit kepala yang begitu menyakitkan. Biasanya ia hanya merasa sakit kepala sebentar dan tidak terlalu sakit. "Jadi kangen kakak. Gimana kabarnya ya dia? Telepon aja deh, kangen banget gak kuat," gumamnya, lalu mengotak-atik ponselnya sebelum ia tempelkan pada telinga. Tak lama, panggilan tersambung. "Halo, Dik cantik," sapa seseorang di seberang. "Aku kangen banget sama Kakak, Mama, dan Papa. Kakak kapan ke Indonesia?" rengek manja Cherly. "Kakak belum ada waktu, Dek. Kakak usahain lebih cepat bisa pulang ke Indonesia buat ketemu kamu. Kamu baik kan di sana?" Suara kakaknya sangat lembut, selalu bisa membuat Cherly tenang. "Aku baik, Kak. Oh iya, ini pasti tengah malam ya di sana, waktunya Kakak istirahat. Maaf ya Kak, aku malah ganggu waktu istirahat Kakak," kata Cherly merasa bersalah. "Gak apa-apa kok. Kakak malah seneng kalo kamu hubungi Kakak. Tapi Kakak minta maaf ya, sekarang teleponnya harus Kakak tutup, soalnya Kakak bener-bener capek, baru selesai latihan dance," ucap kakak Cherly merasa tak enak. "Aku ngerti kok. Yaudah, aku matiin ya, Kak. Selamat istirahat," tutup Cherly. Setelah mematikan sambungan telepon, Cherly bersandar lesu di kepala sofa. Menatap televisi dengan malas, tidak biasanya mood-nya rusak sejak pagi. Biasanya Vincent selalu bisa mengembalikan mood-nya dengan cepat, tapi hari ini Vincent tidak mempan untuk Cherly.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN