Andrew baru saja keluar dari toilet dan mendapati Hades bersandar dengan berpangku tangan di atas meja. Tidak terganggu sama sekali dengan banyaknya piring kotor yang bertumpuk di depannya. Bibirnya memainkan sedotan yang ada di hadapannya. Matanya menerawang ke arah sebuah salon di seberang jalan yang jendelanya menampakkan dengan jelas apa yang terjadi di dalam.
Andrew berhenti di samping meja mereka, menatap ke arah pandang Hades. Sepanjang siang mereka di sana entah sudah berapa kali ibu dari korban tewas mereka mendapat teguran atau amukan dari sang pemilik salon (seorang wanita dengan rambut ikal yang sangat besar berwarna cokelat) dan pelanggan yang sedang ia kerjakan. Sebanyak itu juga ia mengucap maaf dengan menunduk...
Andrew menggeleng. Ia mulai mengumpulkan piring dan gelas kotor mereka ke sisi piring agar ia mengelap mejanya dengan tisu. Seorang pelayan datang menghampirinya, tapi ia tetap berada di tempatnya. Membantu sang pelayan menaruh piring dan gelas kotor ke atas nampannya. Andrew bahkan tidak lupa mengucapkan terimakasih itu
Sang pelayan wanita berambut pirang sebahu itu menatapnya dengan mata berbinar, mengucap terimakasih dengan lirih dan berbalik badan ke arah pintu dapur dengan berlari kecil.
“Kau jelas masih menyempatkan diri menebar pesona ke mana-mana, ya?” Hades setelah sang pelayan menghilang di balik pintu pintu tanpa melirik sama sekali ke arah Andrew.
“Aku hanya membantu,” Andrew ringan. Kembali ke tempat duduknya di hadapan Hades. “Jadi bagaimana? Apa yang Captain Turner katakan?”
“Ia memberitahu kita soal hasil lab dari kandungan meth dalam darah korban kita. Katanya...” Hades menarik napas lebih dulu. “Kadarnya cukup banyak bahkan untuk membunuh dua pria dewasa.”
Andrew berusaha keras untuk tidak menunjukkan ekspresi apapun. Karena ia sudah belajar lama untuk itu. Jadi ia hanya berdeham kecil. Memusatkan mata kepada sang ibu yang tengah mewarnai rambut seorang pelanggan di seberang sana. Setiap kali ia selesai mengecat satu sisi rambut. Ia menyempatkan diri memeriksa ponselnya lalu mengedarkan pandangan. Kemudian mencoba memusatkan diri pada pekerjaannya lagi.
“Jadi salah satu persoalan utamanya sekarang adalah dari mana pacar ibunya mendapatkan meth itu? Karena komposisi meth tersebut tidak tercatat dalam sistem manapun.” Hades mengatakan kalimat terakhirnya itu sambil menatap lurus-lurus ke arah Andrew.
“Maafkan aku. Tapi apa maksudmu dengan komposisi meth tersebut tidak tercatat di sistem”
Kedua tangan Hades bertaut di atas meja sekarang. Ia menyeringai geli. “Oh, kau mungkin tidak tahu. Tapi setiap komposisi obat-obatan terlarang itu memiliki ciri khasnya sendiri. Itu memudahkan kami mengetahui di mana ia berasal, misalnya dari kartel mana. Karena setiap kartel atau pengedar besar dan kecil punya komposisi unik mereka masing-masing. Karena mereka juga pedagang, kau tahu? Tidak mungkin mereka tidak mencampur obat mereka dengan sesuatu.”
Andrew menelan informasi itu tanpa bisa menahan dirinya untuk tidak memikirkan apalah Raphael tahu semua itu...
Mereka kemudian menatap jam di dinding. Diner tempat mereka berada untungnya buka selama 24 jam sehingga mereka bisa tetap berada di sana hingga salon itu tutup (sesuai dengan pernyataan salah satu pelayan diner.) Hades sudah menghabiskan gelas milkshake ketiganya ketika Andrew memilih untuk membaca beberapa koran dari minggu lalu dalam rak yang disediakan. Mereka saling berdiam diri cukup lama hingga Hades tiba-tiba bertanya,
“Kau tidak pernah memberitahuku soal dirimu selain kau pernah menjadi sheriff di New Hampton.”
Andrew masih menekuni koranny a ketika ia balas bertanya, “Apa yang ingin kau ketahui?”
“Kau jelas tampak tidak nyaman ketika berada di sekolah korban tadi.”
“Sudah kubilang padamu kalau aku tidak suka sekolah menengah.”
“Tidak suka sampai-sampai kau seperti mengerut ingin menghilang saat itu juga? Kau tahu kau tidak mungkin lulus dari akademi jika kau tidak berhasil mengatasi masalah trauma sebelum kerja, kan?”
Andrew menarik napas. Ia melipat korannya dengan sangat rapi dan menaruhnya di atas meja di antara mereka. “Memang dan aku tidak mungkin berada di hadapanmu saat ini jika aku tidak lulus dari masalah itu. Tapi berada di sana lagi ketika kau tidak siap...” Andrew menggeleng-geleng.
“Jadi kau korban perundungan?” Hades dengan dahi mengerut.
“Benar sekali.” Andrew dengan tenang sekali.
“Jahat benar siapapun yang melakukan semua itu hingga membuatmu trauma.” Hades memperhalus nada bicaranya sekarang
“Well, sebagai gantinya aku belajar bagaimana menembak dengan benar.” Andrew tidak perlu memberitahu Hades ia juga belajar menembak bukan hanya dari akademi.
“Kalau begitu aku hanya berharap kau tidak pernah bertemu dengan para perundungmu lagi. Karena aku yakin kau tipe pendendam.”
Andrew hanya tersenyum sebagai jawaban. Dan percakapan itu selesai saat itu juga karena seorang pria Afro-Amerika dengan celana jins melorot dan kaos putih. Tampak terburu-buru dan memasuki salon dengan berani. Sang ibu korban itu beringsut dari pekerjaannya. Mengatakan sesuatu pada pelanggan yang ia tangani sebelum mendorong pria itu keluar dengan telapak tangannya di dadanya. Mereka tampak berargumen di depan pintu salon yang tertutup....
“Itu panggilan kerja.” Hades mengeluarkan dua lembar sepuluh dollar dari dompetnya, menyelipkan di balik gelas milkshake.
Andrew mengikuti di belakang dengan rapat. Mereka menyeberang jalanan yang sepi sehingga mereka tidak mendapatkan klakson yang menarik perhatian. Membuat Hades mempercepat langkah, menghampiri pasangan itu dengan borgol yang muncul dari balik jaket jinsnya. Pria itu bahkan berani-beraninya ingin mencoba kabur. Namun Andrew lebih cepat. Menyambar bagian belakang kaos pria itu tepat waktu dan mencengkramnya erat..
“Maaf, Anda di tahan atas pembunuhan terhadap....” Hades mulai membacakan Hak Miranda-nya. Andrew memiting pria itu keras agar Hades bisa mengatakan itu semua sambil memborgol pria itu...
***
Sedangkan di sisi lain New York beberapa saat lalu Ellie mengikuti Raphael tanpa bertanya, tanpa mengeluarkan protes bahkan ketika pria itu menarik pergelangan tangannya kasar. Memaksanya kembali duduk di kursi penumpang taksi kuning yang diberhentikan Raphael
Pria itu meneriakkan alamat tempat latihan s***h warehouse milik kartel kepada sopir taksi. Sang sopir bahkan sampai berjengit dengan keantusiasan Raphael. Ellie sendiri masih diam, ekspresinya nyaris tidak terbaca ketika Raphael melirik ke arahnya.
Kalau bukan karena kedua adik Raphael yang memberinya ide untuk mencari “pacar” mungkin sekarang ia tengah berada di sana sekarang. Dan ke sanalah tujuan mereka sekarang.
Tempat latihan itu menjadi ajang peningkatan kemampuan bela diri, tinju, bahkan di sana terdapat ruang latih-tembak yang bisa dipakai para anggota kartel. Tempat itu menjadi gudang tempat menyimpan barang-barang spesial mereka agar jauh dari pandangan. Jadi bisa dibilang Raphael hanya menghemat pengeluaran karena tempat latihan nyaris tidak pernah ditinggalkan.
Ellie adalah salah satu dari sedikit gadis yang pernah menginjakkan kaki di sana.
Ketika mereka sampai semua orang tercengang dengan kedatangan mereka. Banyak yang menghentikan kegiatan untuk sekedar menyapa Raphael sopan. Tangan mereka masih bertaut dan itu menjadi perhatian utama mereka.
“Jangan ada yang berhenti latihan hanya karena kedatanganku,” seru Raphael membuat semunya perlahan kembali ke kegiatan mereka.
“Senor, senang melihat Anda di sini lagi.” Seorang pelatih tinju menghampirinya. Ia hanya memakai kaos tanpa lengan dan celana pendek training. Seluruh tubuh besarnya bersimbah keringat.
“Aku ingin bertanding dengan gadis ini menontonku.” Raphael melempar senyum mematikan ke arah Ellie. “Tapi aku ingin seseorang yang kau rekomendasikan untuk menjadi lawanku malam ini. Dan peringatkan ia untuk tidak membuatku menang dengan mudah.”
Sang pelatih memberinya pandangan tidak yakin. Ia tampaknya lebih mengkhawatirkan kesehatan mental Raphael, alih-alih dengan kakinya yang cidera. “Anda yakin, Senor?”
“Aku yakin. Dari lama sebenarnya aku ingin latihan lagi.” Raphael mendekatkan diri ke arah pria besar itu untuk berbisik langsung ke telinganya. “Sekarang aku ingin membuat seorang gadis terkesan.”
Kalimat terakhir itu membuat sang pelatih sekuat tenaga menahan senyum gelinya. “Oke, kalau begitu. Sebaiknya Anda segera bersiap.”
Raphael tidak ingin mengakuinya, namun egonya sedikit tersakiti oleh apa yang gadis itu katakan padanya beberapa saat lalu. Jadi ia menggunakan perasaan itu untuk melakukan sebuah pertandingan ekstrem.
Raphael kemudian membimbing Ellie untuk duduk disebuah bangku menghadap langsung ring tinju yang berada ditengah-tengah ruangan. Setelah yakin tidak akan ada yang berani menunggu Ellie langsung menuju ruang ganti dan mendapati loker lamanya tidak tersentuh.
Setelah mengganti pakaiannya dengan pakaian yang bersih berupa kaos putih tipis dan celana pendek latihan yang berbau seperti apak akibat ruang tertutup. Ia keluar dari ruang loker. Berusaha keras untuk tidak terlalu bergantung pada tongkatnya dan menaruh tongkat itu di tengah-tengah antara dirinya dan Ellie yang duduk tenang. Raphael sendiri sekarang sedang melilit kedua tangannya dengan boxing wrap. Kedua sarung tangan tinju menggantung di lehernya.
Selama ia melakukan semua itu sang pelatih sedang mengobrol serius dengan seorang pemuda di atas ring. Ia tampak seusia Andrew. Keduanya perlahan berbalik dan pemuda itu segera membungkuk hormat ke arah Raphael.
Sebelum Raphael menaiki ring, ia melirik ke arah Ellie yang masih menatapnya dengan tatapan datar. Ia kemudian menerima uluran tangan pemuda itu untuk memanjat naik. “Dan pada posisi apa kau bekerja untukku?” tanyanya setelah ia berdiri dengan kakinya sendiri di ring. Memasang sarung tangan tinjunya sendiri
“Seorang kurir, Senor,” jawabnya sambil tersenyum.
Raphael mengangguk. Setelah itu mereka berjalan mundur, memasang kuda-kuda. Sang pelatih di tengah-tengah. Para prajurit yang latihan tadi sepertinya lebih tertarik untuk menonton pertandingan dan telah berkumpul mengelilingi ring.
“Peraturannya hanya dilarang keras memukul ulu hati dan kelamin. Selebihnya terserah kalian. Pertandingan ini hanya akan berhenti jika salah satunya memintanya, mengerti?”
Kedua pria itu menyanggupi cepat, sudah memasang kuda-kuda.
Sang pelatih menganggukkan kepala ke arah siapapun yang bertugas menyembunyikan lonceng dan dimulailah pertandingan itu.
Pemuda kurir itu lincah dan kuat, penuh dengan kejutan. Ia berhasil menjegal Raphael hingga terguling ketika sebelumnya Raphael telah berhasil meretakkan rahangnya. Membuat pemuda itu meludahkan darah ke lantai lalu melemparkan seringaian ke arah Raphael. Kemudian melancarkan sebuah pukulan jab yang segera ditangkis Raphael dengan mudah.
Raphael memukul dengan cepat sisi tubuhnya, membuatnya terjerembab ke belakang namun tidak jatuh. Semua penonton bersorak…
Raphael bisa melihat Ellie dari balik kerumunan penonton. Ia melipat kakinya dan menatap Raphael tajam sekarang, ekspresinya nyaris tidak terbaca. Namun mata cokelat gelap itu bersinar dengan aneh…
Sebelum Raphael sempat fokus lagi, pria itu berusaha menyerangnya lagi. Tapi kali ini Raphael mengelak dengan mudah, membuat pemuda itu terjatuh nyaris dengan wajah lebih dulu. Namun pemuda itu menguasai dirinya dengan cepat. Raphael nyaris tidak bisa menahan pukulan melayang mengarah ke wajahnya itu akibat kakinya yang cidera, namun ia mengangkat satu lengannya cukup cepat untuk menyelamatkan wajahnya. Satu tangan memberi pukulan terakhir di wajah pemuda itu…
Ketika pemuda itu terjatuh dengan wajah lebuh dulu. Raphael mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi...
Sang pelatih berteriak menandakan berakhirnya pertandingan. Suara bel menggema di antara suara sorakan. Raphael membantu pemuda kurir berdiri, sang pelatih segera mengambil alih untuk membopongnya…
Raphael menahan beberapa pemuda yang menawarkan diri untuk membantunya berjalan keluar dari tali pembatas ring. Dengan langkah tertatih Raphael berjalan menghampiri Ellie. Kepala gadis itu sekarang miring ke satu sisi. Ia sekarang tidak lagi terlihat seperti gadis baru “Perdon Girl” seperti Raphael lihat di hari itu.
“Apa aku sudah memuaskanmu?” tanya Ellie pelan. Ada senyum terselip humor di bibirnya.
Raphael menjawab pertanyaan itu dengan tawa terbahak-bahak dan setelah tawanya mereda, kakinya melemas. Ellie berhasil menangkapnya tepat waktu, namun tubuh kecilnya tidak mampu menahan berat tubuh Raphael.
Dengan kepala Raphael yang berada dipangkuan Elllie dan ujung rambutnya yang menyapu dahi Raphael ketika pria itu berkata. “Gracias, Senorita. Kau telah melakukan tugasmu dengan baik…”
Dan yang terakhir yang Raphael ingat adalah wajah Ellie sebelum semuanya menjadi gelap...
***