Andrew menutup pintu yang menghubungkan ruang pengamatan dan ruang interogasi itu perlahan. Di tangannya terdapat cup holder berisi tiga gelas sterofoam berisi kopi. Captain Turner bergabung dengan mereka begitu tahu mereka membawa ibu pacar korban ke precinct. Kedua pria itu sekarang memandang arah dinding kaca yang menampakkan sang pacar dengan tangan terborgol di atas meja besi. Wajahnya tegang dan sesekali ia menggaruk belakang kepalanya kuat-kuat. Menggosok-gosok hidungnya marah.
“Ice Americano dengan dua pump sirup hazelnut untuk Hades. Ice Americano tanpa gula untuk Cap. Dan ini untukku.” Kedua pria itu berbalik badan dan mengambil gelas minum miliknya masing-masing. Sang Cap dan Hades mengucap terimakasih bersamaan.
“Jadi bagaimana rasanya langsung bekerja keras di hari kedua, Andrew?” tanya Cap ketika pria muda itu mengambil tempat di sisi kirinya, menyesap hot mocca-nya sendiri.
“Menyenangkan. Contohnya aku tidak pernah keluar uang untuk makan seharian ini.” Andrew ringan. Memandang sang pacar mulai habis sabar dan menatap lurus-lurus ke arah dinding kaca dan anehnya tepat ke mata Andrew.
“Yeah, aku tidak mungkin menyuruhnya membayar ketika sebagian besar makanan aku yang makan.” Hades disusul dengan geraman sangat rendah di bawah tenggorokannya. “Jadi bagaimana kabar Bly, Sir? Aku tadi tidak melihatnya di manapun.”
“Sebaiknya kita tidak mengganggunya dulu. Penggerebekan di Perdon Club pagi tadi membuatnya cukup terpukul. Ia bahkan mendapatkan mendapat teguran dari Deputy Chief.” Sang Captain menyesap minumannya lagi.
“Hey, aku tahu kalian ada di sana! Sampai kapan kalian akan mengurungku seperti ini?!”
“Well, sekali lagi tugas memanggil.” Hades berkata akhirnya. Melewati tubuh Sang Captain, menyerahkan gelas kopinya kepada Andrew. “Biarkan aku yang menemuinya.”
Andrew memutuskan untuk tidak mendebat. Ini kasus pertamanya sebagai detektif sehingga ia tidak ingin mengambil risiko untuk merusak apapun. Hades memutari ruangan dan ia sekarang sudah berada di ruang interogasi. Duduk membelakangi Andrew dan Sang Captain.
“Apa kau sekarang ingin memberitahuku alasan kenapa kau memberikan meth kepada seorang anak di bawah umur?”
“Karena anak itu tidak bisa diatur, kau tahu! Ia bahkan sudah menjadi pemakai sejak ia pindah kembali pada ibunya! Kami hanya tidak ingin mencari masalah.”
“Apa kalian sebodoh itu dengan menutupi masalah dengan masalah yang lebih besar lagi?” Hades dengan datar sekali.
“Dengar, ibunya hanya takut ia akan dianggap tidak becus menjaga anak. Ia masih dalam pengawasan pemerintah...”
“Kau bisa melaporkannya kepada pihak berwenang!” potong Hades.
“Yeah, seperti kalian akan mempercayai kami begitu saja.”
Andrew menyadari punggung Hades mulai menegang. “Oke, aku hanya tanya di mana kau mendapatkan meth itu?”
Diam sejenak. Sang pacar membasahi bibirnya lalu menggeleng-geleng.
“Aku akan menuntutmu sebagai pembunuh jika kau tidak mau memberitahuku di mana kau mendapatkan meth itu.”
“Yang terakhir itu bukan dariku! Ia mendapatkannya entah dari mana! Sudah lima hari aku tidak bertemu dengan ibunya, oke? Karena... ada masalah dalam gengku. Anak itu mendapatkan pasokannya dari tempat lain selama aku pergi!”
Hades sekarang menoleh ke belakang, seakan meminta persetujuan pada Sang Captain.
“Berarti sekarang kita harus mencaritahu sendiri darimana meth itu berasal,” bisik Sang Captain kemudian berbalik badan dan meninggalkan Andrew begitu saja...
***
Sedangkan di malam buta itu Raphael terbangun dengan Gabriella duduk di sebelahnya dengan waslap di tangan. Ia mengerjap-ngerjap dan menyadari ia sudah berada di kamarnya sendiri. Tidak terlihat Ellie di manapun. Ia mengerang pelan
“Tenang, aku tidak akan berkomentar apapun,” Gabriella lalu membilas waslap nya lagi dengan air hangat dalam baskom di atas nakas.
Raphael meringis ketika Gabriella menutul-nutul lebam di wajahnya sebentar sebelum beralih ke salep lebam.
“Ellie mana?”
“Pulang. Aku yang menyuruhnya. Tenang, ia diantar Bernardo.”
Raphael merasakan seluruh tubuhnya remuk-redam. Gabriella dengan tidak berperasaan menekan jari telunjuknya kuat-kuat ketika memasang salep lebam di wajahnya. Raphael melemparkan pelototan padanya.
“Bernardo memberitahuku kata san g pelatih kau bertanding dengan hebat tadi malam,” Gabriella melanjutkan setelah beralih memasang salep ke atas rusuknya yang sakit. Lama Raphael baru menyadari kalau ia tidak memakai pakaian. “Dan aku juga menyukai apa yang gadis itu tuliskan untukmu.” Ia mengedikkan kepalanya ke arah nakas di sebelah baskom air hangat. “Aku rasa ia adalah “Perdon Girl” paling cerdas yang kita punya.”
Raphael meraih memo kuning itu dari atas nakas untuk membacanya.
Terkadang memang sakit hanya bisa disembuhkan dengan sakit
Raphael ingin tertawa, tapi sakit di sudut bibirnya membuatnya mengaduh.
“Kau tidak pernah menghabiskan waktu dengan seorang gadis selama itu, seingatku.”
“Gab…” erang Raphael pelan
“Dan aku benci sekali dengan nada kasihanmu itu.” Gabriella menyeringai, namun tidak menatap ke arah wajah Raphael.
Raphael yang tadinya berusaha bangkit menggunakan lengan kanannya sebagai penyangga, sekarang menghempaskan diriku kembali ke ranjang.
“Gab, ada yang ingin aku tanyakan padamu,” kataku hati-hati.
Ia hanya menggumam sebagai jawaban.
“Apakah kau tahu alasan kenapa ibumu menelantarkanmu?”
Gabriella membeku sejenak dari kegiatannya menyalepi tulang rusuk Raphael. Setelah dua menit penuh ia seperti itu akhirnya ia berkata, “Aku tidak tahu. Tapi aku berterimakasih karena ia meninggalkanku padaku. Orang yang tidak bersyukur karena dicintai, tidak semestinya bisa berakhir hidup bahagia selamanya.”
“Apa kau sekarang mengejekku?” Raphael dengan mata menyipit.
“Kau sendiri yang mengungkit masalah itu. Aku tidak pernah peduli padanya sama dengan ia yang tidak pernah peduli padaku.
Setelah selesai Gabriella meninggalkannya beristirahat.
Sepanjang sisa malam itu Raphael habiskan dengan tidur. Agak aneh rasanya ketika Bernardo datang untuk menggantikan Gabriella merawatnya. Dan lebih canggung ketika pria botak itu membuat sup krim jamur sebagai menu sarapan.
Di dalam diri pria besar ini terdapat hati yang lembut sekali. Raphae; tidak pernah menyangka karena selama ini ia bisa melempar pisau berburu ke papan bidik dari jarak lima 30 kaki dengan jitu.
“Bernardo, aku ingin meminta bantuanmu,” pinta Raphael akhirnya ketika ia sibuk membaca majalah. Sekarang mereka tengah berada di ruang tengah dengan TV yang menyala setelah Raphael merengek ia akan mati bosan jika harus disimpan di kamar.
“Si, Senor?”
“Bisakah kau mencari tahu nomor ponsel Ellie Caruso? Kau tahu, gadis yang”
“Gadis yang kau bawa kemarin malam itu?” Bernardo menyelesaikan kalimatnya.
Raphael mengangguk malu-malu. Entah kenapa rasanya seperti baru saja ketahuan memasang perangkap tikus di depan ruang guru yang sebenarnya bukan ulahnya.
Benardo meneliti wajah Raphael sebelum merogoh ponsel dari saku celana. Mengotak-atiknya sebentar dengan Raphael yang menunggu dengan gelisah sebelum Bernaro menyerahkan ponselnya pada pria itu. Dengan ragu Raphael mengambilnya dan menempelkannya di telinga.
“Senor Suarez, apakah Anda lebih baik sekarang?”
Itu Ellie dan suara gaduh di belakangnya. Sekarang wajah Raphael memera membuat Bernardo mengernyitkan dahi.
“Aku baik-baik saja. Dan tolong, Raphael saja.”
Bernardo dengan matanya masih mengawasi sekarang kembali ke sofa tunggalnya.
Raphael bisa mendengar dehaman halus dari ujung sana. “Jadi, Raphael. Aku benar-benar merasa bersalah. Melihat keadaanmu semalam, seharusnya aku tidak menekanmu seperti itu.”
“Tidak,” potong Raphael, cepat. “Aku memang memerlukan pertandingan itu. Aku seharusnya berterimakasih padamu.”
“Well, itu berarti apakah kau mau menjawab pertanyaanku? Apakah aku memuaskanmu, Senor Suarez?”
Raphael melirik ke arah Bernardo yang kembali dengan majalahnya, namun matanya masih mengawasi Raphael ketat. Ia menjawab dengan menelan ludah. “Yeah...”
“Apa? Aku tidak mendengarmu.”
Raphael merutuki Ellie dalam hati lalu menarik napas, frustasi. “Yeah, kau memuaskanku!”
Ellie berdeham sekali.
Raphael merasakan sakit disudut bibirnya karena berteriak tadi. “Apakah malam ini kau ke klub?”
Sebelum mendengar jawabannya Raphael mendengar suara pemuda yang berteriak memanggil di latar. “El, kelas sebentar lagi!” teriak pria itu cukup jelas.
“Maaf sekali. Tapi seminggu ini aku akan sangat sibuk dengan kuliah. Aku sudah memberitahu Jenny dan ia marah sekali, mengingat aku baru dua hari di sana…”
“Urusan Jenny biar aku yang urus. Kau belajar sajalah yang tekun.” Raphael bisa merasakan kekecewaan dalam suaranya. Ia sendiri heran karenanya.
“Gracias, Senor. Aku harus pergi. Bye…”
Setelah itu Raphael menutup telepon lalu mengembalikan ponsel Bernardo. Matanya masih menatap Raphael lekat-lekat ketika berkata,
“Anda bersemu, Senor.”
Dengan segenap sikap kekanakan yang Raphael punya, ia membuang muka . Dan untuk semua yang terjadi sekarang. Raphael bisa mendengar suara dengus geli Bernardo yang sama sekali tidak ditutup-tutupi itu.
***