12. The Meeting (2)

1435 Kata
Andrew menghentikan langkahnya ke arah Raphael yang sekarang nyengir lebar dengan kedua tangan terentang ke depan. Ia berdiri timpang dan terdengar desis kecil dari celah giginya. Andrew mengira – sebenarnya mencoba meyakinkan dirinya – kalau Raphael hanya berpura-pura sakit dan tongkat berkepala beruangnya hanya untuk gaya-gayaan. Karena Andrew belum pernah bertemu orang yang lebih dramatis dari abang angkatnya itu. Namun melihat sendiri keadaan Raphael untuk pertama kali sejak ia meninggalkan Raphael d rumah sakit hari itu membuatnya merasakan tusukan kecil di relung hatinya. Andrew akhirnya mendapatkan kembali kesadarannya. Jadi ia berdeham, melanjutkan langkah. Menggendong Raphael dalam buaian seperti pria itu inginkan. Raphael bahkan berseru riang karena mendapatkan apa yang ia inginkan. Ia menyerahkan tongkatnya pada Bernardo yang tampak khawatir. Menatap keduanya bergantian sebelum berkata, “Saya akan berada di belakang.” Raphael mengalungkan kedua tangannya di leher Andrew. Menatap lurus-lurus ke arah wajahnya, namun dihiraukan Andrew dengan sengaja. Ia melangkah menuruni tangga dengan hati-hati. Ia melakukannya dengan mudah. Raphael teras begitu ringan dalam gendongannya. “Kau jelas masih berolahraga dengan baik,” komentar Raphael ketika mereka tinggal dua lantai lagi. “Apa kau masih suka latihan menembak seperti biasa?” “Tentu saja. Aku polisi sekarang. Aku melakukan latihan sama banyaknya dengan yang kau ajarkan dulu padaku di akademi.” Andrew sengaja menatap ke bawah. Ke arah kakinya yang melangkah turun dengan hati-hati. “Tapi kau jelas sangat ringan, hermano.” “Well, semua orang tahu betapa aku benci makan sendirian. Tapi tetap saja kalian semua pindah pergi dariku.” Raphael mendesah panjang. Sekarang mendesah panjang, menyandarkan kepalanya ke lengan Andrew. “Gabriella dan Juan jelas punya kehidupan mereka sendiri juga. Kau seharusnya sadar akan itu.” Akhirnya mereka sampai di lantai bawah. Andrew hanya merasakan sedikit rasa panas di lengan atasnya ketika ia mencoba menurunkan Raphael dari gendongannya di depan pintu masuk, namun pria itu malah menguatkan pelukannya di lehernya. Bernardo sudah membuka pintu itu terang-terangan menghela napas panjang. “Raphael, tolong lepaskan aku sebelum ada tetangga yang melihat kita.” Andrew tepat di telinga pria itu. “Kenapa kau pindah ke sini, Andrew? Kenapa kau tidak pindah kembali denganku?” Andrew menarik napas panjang, menatap langit-langit sambil dalam hati berdoa. “Karena aku tidak bisa. Kumohon, lepaskan aku sekarang.” Lama baru Raphael akhirnya melepaskan kedua lengannya dari leher Andrew dan turun. Bernardo menangkapnya tepat waktu. Raphael mengambil kembali tongkatnya dan Andrew menyadari pria itu berdiri sepenuhnya bertumpu pada tongkat berkepala beruang itu. “Kau mungkin butuh pacar, hermano. Kenapa kau tidak coba mencari pacar saja?” Raphael menyeringai. “Jadi hanya itu solusi yang bisa kau berikan padaku?” Andrew mengedikkan bahu. “Karena kau jelas butuh seseorang yang cukup kuat untukmu agar bisa bersandar.” *** Perkataan Andrew masih terngiang-ngiang di dalam kepala Raphael hingga ia berada di dalam mobil. “Kita ke klub saja, Bernardo. Aku benar-benar malas pulang.” Bernardo mengiyakan lalu mesin mobil menyala. Mereka meninggalkan gedung apartemen Andrew menjauh. Raphael menghabiskan waktu dalam perjalanannya menuju Perdon Club dalam diam. Ia mencoba memejamkan mata sejenak, namun semua terasa singkat dan tiba-tiba Bernardo berkata mereka sudah sampai. Malam ini bukan malam libur tapi Perdon Club tetap ramai. Raphael turun tanpa bantuan Bernardo. Membalas sapaan si penjaga pintu dan dan masuk. Ia harus menyelip diantara banyak tubuh agar sampai ke pintu di belakang di mana sebenarnya jantung Perdon Club berdenyut. Kamar-kamar dengan meja blackjack lengkap dengan tiang penari. Kamar-kamar privat yang VIP yang butuh dipesan sebelum bisa digunakan. Raphael malah menghentikan langkah ketika seorang Perdon Girl menghampirinya dengan antusias. “Senor, saya ingin memperkenalkan Anda dengan seorang gadis baru.” Raphael hanya menaikkan alisnya sangat tinggi kepada gadis yang ditunjuk oleh salah satu Perdon Girl seniornya itu Raphael tahu kalau wanita yang ditunjuk itu sangat muda. Ia hanya berdandan seadanya dengan gaun yang terlihat seperti gaun prom. Raphael memilih tidak menghakimi. Gadis itu hanya butuh sedikit dibimbing, pikirnya. Lagipula gadis itu wujud dari fantasi pria yang menyukai wanita berwajah seperti remaja. Raphael memindahkan tongkatnya pada tangan yang lain. Memberi gadis itu isyarat untuk mendekat. Gadis itu masih menundukkan wajahnya ketika berjalan ke arah Raphael. “Siapa namamu?” tanya Raphael cukup keras untuk menandingi suara musik yang ingar bingar. Ia masih menatap Raphael melalui bulu matanya ketika menjawab. “Ellie Caruso.” “Usiamu?” Wajahnya terlihat semburat merah. “Dua puluh empat.” Raphael menghela napas. “Kutebak kau masih kuliah?” Ia mengangguk. “Dan aku yakin kau yang terbaik di kelasmu.” Raphael bersungguh-sungguh Dari hanya penerangan yang remang-remang itu Raphael menangkap wajah gadis itu - Ellie merona dan ia masih menunduk. “Kalau begitu pertama-tama kau harus menanamkan kepercayaan dirimu terlebih dahulu. Sekarang tatap mataku.” Raphael melangkah mendekat. Mata Ellie berwarna cokelat gelap dan besar. Dari jarak sedekat ini ia tampak seperti gadis berusia enam belas tahun. Hidungnya mancung dan dagunya bulat. Bibirnya merah muda tipis ranum dengan bulu matanya lentik. Pipinya agak tembam dan jelas itu daya tarik sendiri dari dirinya. “Dengan wajah seperti ini tidak ada yang menyangka kau berusia dua puluh empat.” Sambil masih menatap Ellie, Raphael melanjutkan. “Hal pertama yang kau harus tahu untuk menjadi “Perdon Girl” adalah kau harus tahu bahwa dirimu cantik dan berkemampuan. Disini kau juga menjajakan kepintaran dan kelebihanmu. Pria yang datang ke sini kebanyakan juga bukan sekedar p****************g. Terkadang mereka hanya membutuhkanmu sebagai teman bicara atau teman berbagi cerita. Pria-pria yang membutuhkanmu memberi mereka solusi bukan hanya sekedar enak dipandang.” Raphael kemudian menunduk. Merobek gaun abu-abu pucat yang dipakai Elli itu agar menampakkan lebih banyak kulit. Raphael kemudian berdiri lagi untuk menarik pelintiran rambut Ellie, membuat rambut itu jatuh bergelombang. Ia juga merapikan rambut itu di atas salah satu bahu gadis itu. “Kau dituntut bukan hanya mengetahui - tapi menguasai etika seperti wanita terpelajar lainnya. Kau juga harus berpengetahuan luas. Siapa tahu yang datang padamu adalah seorang senator atau seorang pebisnis. Sebagai “Perdon Girl” tidaklah semudah kau berdiri di tepi trotoar sambil melambai-lambaikan tangan pada mobil yang lewat. Dan kau memang dituntut untuk memuaskan. Apa kau mengerti?” Gadis itu mengangguk. Raphael lalu mengedikkan kepala ke arah Perdon Girl senior di belakangnya. “Jenny, lakukan sesuatu dengan make-upnya. Dan selama sebulan penuh ia berada di bawah tanggung jawabmu.” Jenny mengangguk menyanggupi. Setelah itu Raphael berbelok ke konter bar. Untungnya masih ada kursi yang belum diduduki. Ia beruntung bisa duduk tepat di depan Xavier. Setelah menaruh tongkat berkepala beruangnya bersandar di bawah konter ia bertanya, “Kenapa kau masih ada di sini, Xavy? Apa kau sama sekali tidak ingin pulang?” “Senor Suarez, Anda tampak murung.” Xavier malah balik mengomentari. Sebagai gantinya Raphael menyambar minuman yang akan Xavier berikan kepada seorang pelanggan. Pria itu hanya bisa mendesah pasrah sebelum menuangkan minuman yang sama di gelas yang lain. “Apa Anda tidak ingin mencari kegiatan lain?” Xavier setelah menyerahkan sendiri gelas minuman itu kepada pelanggan yang tadi. “Aku tidak yakin. Mungkin ingin kembali berlatih tinju lagi. Aku ingin mencari sesuatu yang menegangkan.” Xavier memberi Raphael pandangan penuh simpati sebelum akhirnya memutar duduk ke arah lantai dansa. Diseberang ruangan pandangannya jatuh kepada gadis yang bernama Ellie tadi. Jenny sedang mengenalkannya kepada kumpulan pria dengan setelah mahal yang langsung tersenyum dengan kedatangannya. “Saya sempat mengobrol dengan gadis yang dibawa Jenny itu, Ellie. Manis sekali. Aku rasa tidak akan ada yang percaya jika ia sedang menjalani program pasca-sarjana,” komentar Xavier dari balik bahu Raphael. Salah satu pria itu meneliti Ellie dari atas sampai bawah. Lalu pria itu menyorongkan tangannya kepada Ellie dan mereka berjabat tangan. Pria itu jelas terlihat tidak begitu buruk. “Yeah, ia manis sekali. Tapi aku tidak yakin ia akan bertahan lama disini. Ia terlihat seperti gadis baik-baik.” Raphael kembali berbalik ke arah Xavier. Menyelesaikan menegak minuman dari gelasnya. Ketika ia baru saja akan menyambar gelas dari tangan Xavier lagi, pria itu menahannya. “Saya rasa malam ini Anda cukup minumnya, Senor. Anda harus pulang. Biar saya panggilkan Bernardo untuk mengantar Anda pulang.” “Aku baru menyelesaikan satu gelas, Xavier! Biarkan aku...” Raphael entah kenapa ingin minum malam ini. Walau seharusnya ia tidak boleh menyentuhnya terlalu banyak. Itu semua akibat obat yang harus dikonsumsinya... Dan dalam sekejap Bernardo sudah berada di sebelahnya. Memapah dan membantu Raphael berjalan menyeruak diantara kerumunan manusia. Tongkat berkepala beruang tidak dilupakan. Musik berdentam-dentam di telinga membuat Raphael berjengit. “Seharusnya saya membawa Anda pulang saja, Senor.” Hanya dalam hati saja Raphael menyeruakan ketidaksetujuannya. Karena jika ia tidak singgah di klub malam ini. Ia tidak akan sempat melihat gadis cantik yang baru saja ia robek gaunnya...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN