Andrew menghabiskan banyak waktu untuk menatap langit-langit kamarnya sebelum akhirnya ia bisa jatuh tertidur. Apa yang ia pikirkan? Tentu saja tentang Raphael dan bagaimana berat tubuh pria itu di lengannya yang tidak ada artinya tadi.
Raphael yang ia kenal dulu banyak makan. Apalagi ketika ia, Gabriella, dan Juan masih di sekolah menengah mereka sering sekali memesan makanan di malam buta. Walau yang artinya di akhir pekan Raphael akan memaksa mereka latihan bela diri di gedung latihan mereka.
Separah apa sebenarnya kondisinya? Andrew ingin bertanya. Namun ia tahu satu pertanyaan seperti itu hanya akan membuka rentetan pertanyaan yang lain yang membuat Raphael akan mencari celah untuk membawa pulang. Walaupun ia sudah menjadi polisi sekalipun.
Setelah akhirnya ia membuang jauh-jauh semua spekulasi itu. Matanya mulai memberat dan...
Ponselnya berdering sangat kencang, membuatnya terbangun dengan terkejut. Duduk di tepi ranjang dan mengangkatnya.
“Andrew! Astaga! Jangan bilang kau sudah tidur pukul begini?”
Andrew mengerang. Melirik jam digital yang ada di atas nakas sebelum menjawab, “Demi Tuhan, ini pukul tiga pagi.”
“Tindak kriminal tidak mengenal waktu, Officer Kwon! Ayo, seret bokongmu itu sekarang dan temui aku di pintu apartemenmu. Sepuluh menit dan kumohon paling tidak sempatkan gosok gigi.” Dan sambungan telepon-pun ditutup.
Andrew melemparkan ponselnya k atas ranjang. Berjalan secepat rasa kantuknya bisa membawanya ke kamar mandi. Mengusap wajahnya dengan air berulang kali. Tidak lupa menggosok giginya. Ia menyambar sling bag yang menyimpan dompet dan ponselnya. Ia mencoba berlari dengan sepelan mungkin di suasana gedung apartemen yang penuh dengan orang yang masih terlelap itu.
Ternyata benar. Sedan tua Hades sudah terparkir di depan pintu masuk apartemen. Dari jendela pintu yang terbuka ia tampak segar-bugar, tidak seperti ketika mereka berpisah tadi. Andrew memutari mobil dengan tubuh membungkuk, angin musim gugur bertiup tidak kenal ampun menerpanya. Ketika ia sudah duduk di samping Hades, ia bersyukur pemanas mobil itu masih bekerja.
“Ini tanda pengenalmu sudah jadi.” Hades melemparkannya ke pangkuan Andrew sebelum menancap gas hingga membuat ban mobil berdecit di atas aspal.
Andrew mengalungkan tanda pengenal berlogo New York Police Detective dengan nomor “1230” di lehernya. Lalu memasukkan kartu pengenal di dalam sling bag Hades melirik ke arahnya di bawah temaram lampu jalan, namun Andrew yakin pria itu sedang menyeringai. “Itu tampak keren tanpa sling bag. Kumohon, lain kali tinggalkan saja tas itu.”
“Dengan ini kau tidak akan melupakan apapun.” Andrew memperbaiki letak tas dan tali pengenalnya. Cepat-cepat memasang sabuk pengaman yang hampir terlupakan.
Setelah itu tidak ada percakapan. Ia hanya memeprhatikan ke mana arah mereka pergi ketika akhirnya Hades berkata,
“Seseorang menemukan anak laki-laki di bawah umur tewas di sebuah gang sempit di Chinatown. Namun dari rekaman laporan 911 anak itu bukan keturunan Asia sehingga sangat kecil – kecil aku bilang, bukan tidak mungkin – ia memang bukan berasal dari sana. Petugas forensik sudah lebih dulu ke sana.”
Andrew menggumam mengiyakan. Dengan cepat ia mengeluarkan buku note kecilnya dan mulai mencatat. Secara sembarangan dengan pencahayaan dari lampu jalanan yang mereka lewati.
“Kau memakai sling bag, tapi mencatat dengan buku note itu?”
Tanpa mengalihkan pandangan dari buku note-nya Andrew menanggapi, “Aku tipe pria hardcopy.”
Hades berdecak. “Jika kau juga mulai berbicara dengan bahasa gaul. Aku akan melemparku keluar mobil.”
Andrew mendengus geli. “Tidak mungkin. Aku tidak dibiasakan seperti itu di rumah.”
“Oh, ya? Memangnya seperti apa rumahmu?” Hades bertanya, antusias.
Andrew merutuki dirinya dalam hati. “Jadi kira-kira berapa usia anak laki-laki itu?”
“Aku akan memaafkanmu kali ini karena mengalihkan pertanyaanku. Sekitar 10-12 tahun.”
Andrew membeku sejenak sebelum mencatat informasi itu. .Ia hanya berharap Hades tidak begitu menyadari ekspresi apapun yang ada di wajahnya sekarang.
***
Beberapa jam kemudian. Ketika matahari sudah muncul di langit New York sudah dipastikan Raphael mengeluarkan semua isi perutnya di kloset kamar mandi. Setelah rasanya jiwanya juga ikut terbilas oleh keran air. Raphael mengganti pakaiannya. Ia terkesiap mendapati bayangan hitam yang baru nampak jelas di bawah matanya.
Ketika ia keluar dari kamar dengan tidak mengharapkan apa-apa, namun ia malah disambut dengan suara desis teko di dapur dan suara dengung percakapan.
Ia hanya ingat ia diantar pulang oleh Bernardo semalam. Namun ia tidak ingat jika ia membawa orang lain. Ia sudah tidak melakukan itu selama bertahun-tahun.
“Pagi!” Gabriella berkeliaran hanya menggunakan kaos kebesaran yang sangat usang di dapur. Ia lalu mematikan api kompor. Raphael mengangguk lalu duduk di depan meja sambil membenturkan dahi di atasnya.
“Jadi sampai kapan jadi kami yang harus menjagamu?”
Raphael membenturkan dahi berulangkali di konter. “Tolong tuangkan saja kopinya, mi amor. Aku terlalu lelah untuk meladenimu bertengkar.”
Raphael mendengar suara tatakan cangkir yang diletakkan Gabriella di dekat kepalanya. Disusul suara kursi ditarik disebelahku. Ia menoleh dan melihat adik lelakinya yang lain, Juan. Dengan kaos usangnya.
Raphael menebak mereka hanya memakai pakaian lama yang mereka tinggalkan setelah pindah.
“Kau tidak ke Angelic setelah apa yang terjadi kemarin?” tanya Raphael tanpa mengangkat kepala dari konter.
“Itu gunanya ada ponsel, hermano. Mereka tidak akan kenapa-kenapa tanpa aku sehari.” Juan mengucap terimakasih kepada Gabriella karena telah memberinya secangkir kopi. “Kau yang patutnya dicemaskan sekarang.”
Raphael mendesis dan kembali membenturkan dahi ke konter.
“Aku dengar dari Bernardo sebelum kau minum-minum semalam. Kau menemui Andrew.” Terdengar suara desis lagi dan wangi telur digoreng. Gabriella dan satu-satunya menu yang ia bisa masak tanpa membakar seluruh rumah. Roti panggang, telur, dan dendeng sapi.
“Aku hanya minum dua gelas semalam! Jangan menghakimiku terlalu pagi. Aku belum sarapan untuk semua itu.” Raphael menimpali dengan tidak jelas.
“Selesaikan semua obsesimu dengan Andrew ini sebelum membuatmu gila. Ia sudah menemukan panggilannya. Aku rasa kau juga butuh itu.” Juan menimpali.
“Atau mungkin kau hanya belum bertemu dengan seseorang yang baru.”
Mendengar Gabriella berkata seperti itu, Raphael mengangkat kepalanya cepat.
“Ngomong-ngomong dengan bertemu dengan seseorang. Aku melihatnya semalam mengobrol dengan seorang “Perdon Girl” yang baru." Juan lalu menyesap kopinya.
“Kau semalam di klub dan malah Benardo yang mengantarku pulang?!” Raphael menjewer telinga Juan hingga membuatnya merintih kesakitan.
“Sepanjang malam aku berada di belakang. Bandar memerlukan pemain tambahan!” Juan meringis sambil mengusap-usap telinganya.
Gabriella berdecak, menunjuk kami dengan sendok penggorengannya bergantian. “Minum saja kopi kalian atau akan kutaruh sesuatu di sana!” Lalu ia memutar tubuhnya ke arahku dan matanya berubah menyipit. “Dan kau, Senor Suarez. Kuharap kau segera punya pacar! Tidak peduli ia berasal dari mana!”
“Oh, Gab! Kau berbicara denganku seakan-akan kau tidak pernah menaksirku sebelumnya.”
Raphael tahu ia akan mendapatkan reaksi atas perkataannya dan benar saja. Gabriella berbalik, mengacungkan spatulanya tepat ke wajah Raphael. Tangannya mengencang di pegangannya.
“Jangan coba-coba melakukan sesuatu yang akan kau sesali di kemudian hari.”
***