Setelah yakin Raphael dan Juan bisa ditinggal tanpa pengawasan Gabriella Alvaro berangkat bekerja ke klub. Ada jadwal pengiriman minuman dan beberapa barang spesial mereka yang ikut hari ini dan butuh pengawasannya.
Seandainya bukan karena Xavier yang memintanya pulang semalam. Ia mungkin tidak akan berada di rumah tempatnya menghabiskan masa remajanya ini sekarang. Ia sendiri tidak sampai hati setelah melihat pria yang membesarkannya itu mabuk dengan sangat menyedihkan. Akhirnya ia memutuskan untuk ikut pulang. Satu mobil dengan ia yang duduk di samping Bernardo di kursi sopir dan Juan berada di kursi belakang bersama Raphael yang tidak sadarkan diri berbantalkan paha Juan. Sesekali menggumamkan sesuatu campuran antara Bahasa Inggris dan Spanyol.
“Aku yakin jika ia masih sadar. Ia lebih memilih kau yang yang ada di sini.” Juan berkomentar.
Namun Gabriella tidak berani dan ia tidak butuh menjelaskannya. Jadi wanita itu menimpali dengan, “Tenang saja di sana dan jangan banyak bicara.”
“Aneh rasanya setelah terbiasa melihatnya banyak minum dulu dan sekarang ia sudah tumbang hanya dengan satu-dua gelas minuman.”
Gabriella meringis. Ia sendiri masih kewalahan menata perasaannya. Sekuat apapun ia ingin menyangkalnya, ia tahu ia masih punya perasaan romantis dengan abang angkatnya itu. Menjadikan alasan kenapa ia “melemparkan diri” pada Andrew yang disambut oleh pria itu tanpa banyak bicara...
Kepergian Andrew yang tiba-tiba itu bukan berarti tidak memengaruhinya juga yang berakhir dengan kepindahannya. Begitu juga dengan Juan. Dan tentu saja kita tidak bisa menyelamatkan semua orang dalam satu waktu, kan?
Sebelum ia bisa mencapai pintu keluar. Ia mendapati Juan sedang duduk santai di ruang tamu. Satu tangan memegang ponselnya, satu tangan memegang gelas berisi kopi. Entah sudah berapa gelas kopi yang sudah ditegak pria itu.
“Kau sudah pergi bekerja sekarang?”
“Seharusnya aku yang menanyakan itu padamu.” Gabriella sambil memperbaiki kerah jaket mantelnya.
“Sudah aku bilang aku masih bisa bekerja dari sini!” Ia melambaikan ponselnya di atas kepala. “Lagipula aku tetap akan ke Angelic. Tapi tidak sepagi kau.”
Gabriella memutar bola matanya. “Aku tidak punya waktu untuk meladeni omong kosongmu.” Sebuah mobil sedan mengilat berhenti tepat di depan rumah yang Gabriella tebak adalah pesanan taxi online-nya. “Dah!”
Gabriella langsung berlari masuk ke mobil itu. Tidak memberi sang sopir waktu untuk menyapanya dan langsung menyela, “Kalau kau bisa sampai di sana tanpa bicara. Aku akan memberimu tip dan lima bintang.”
Sang sopir langsung memperbaiki letak duduknya dan menghidupkan kembali mesin mobilnya. Gabriella memperbaiki letak duduknya.
Tidak butuh lama sebelum ponselnya berbunyi. Nama Bernardo berkedip di sana. Ia melirik ke arah sang sopir sebelum mengangkatnya dengan dahi mengerut.
“Maaf, Senora meneleponmu pagi-pagi. Tapi kita punya sedikit masalah.”
“Katakan cepat. Aku sedang berada di jalan.” Gabriella dengan Bahasa Spanyol.
“Oh, baiklah. Seseorang menguntit mobil pesanan minuman kita. Saya yakin itu Officer Ahiga lagi.”
Gabriella menyeringai. “Ia tidak pernah menyerah, ya? Lalu bagaimana dengan pesanan khusus itu?”
“Untungnya penguntitan mereka dimulai dari warehouse sehingga mereka tidak jadi membawa pesanan khusus itu. Sepertinya para polisi berniat untuk melakukan penggerebekan di klub.”
Gabriella merapikan rambutnya ke balik telinga. “Si, bersiap saja untuk yang paling buruk. Tapi aku tidak yakin Officer Ahiga ingin mempermalukan dirinya lagi.” Gabriella kemudian teringat. “Apa kau juga memberitahu Raphael soal ini?”
Bernardo menjawab saat itu juga. “Tidak, Senora. Aku merasa ia tidak perlu tahu soal ini.”
“Kau benar. Selama tidak ada yang terjadi, Raphael tidak perlu tahu.”
Gabriella menyudahi sambungan teleponnya itu dan menyadari sang sopir meliriknya dari spion tengah, mengulum bibirnya. Namun Gabriella sudah balas memelototinya sehingga ia menatap ke depan lagi.
Tidak butuh waktu ia sudah sampai di depan klub yang tertutup itu. Lampu neon bertuliskan “Perdon Club itu” tampak garang walau sedang tidak hidup. Gabriella langsung turun, tidak menanggapi ucapan salam sang sopir lagi. Ia masuk ke klub yang sedang disapu dan dipoles lantainya itu. Berjalan secepat high heels-nya bisa membawanya menuju pintu masuk belakang tempat mereka menyimpan stok minuman dan barang-barang klub lainnya.
Gabriella datang tepat waktu. Sebuah mobil boks baru masuk menuruni ruang penyimpanan mereka di basement dan saat itu juga terdengar suara seruan polisi!
Para karyawan klub mengangkat tangannya sesuai dengan perintah sang polisi. Sang sopir truk dipaksa turun dari kursi pengemudi. Gabriella melihat Bernardo ada di dekat ambang pintu. Mata tangan kanan Raphael itu dengan awas mengamati satu-persatu para polisi itu berpencar. Membuka sendiri pintu mobil boks dan memaksa masuk ke dalam boks.
“Ada apa ini?!” Gabriella berteriak keras dengan sengaja. Menuruni tangga dan ia bahkan tidak gentar ketika Sang Officer Ahiga sendiri yang mengacungkan pistol ke arahnya. “Ini bahkan terlalu pagi untuk kunjungan Anda, Officer.”
Ada pandangan berapi-api dalam mata Officer Ahiga ketika ia balas menatap Gabriella yang tenang itu.
“Kami mendapatkan berita kalian menyelundupkan liquid cocain dalam botol minuman hari ini. Jadi kami datang mengecek.” Officer Ahiga masih tidak menurunkan pistolnya. Walaupun sekarang Gabriella berdiri sangat dekat dengannya.
“Oh, ya? Boleh aku tahu siapa?” Gabriella menurunkan acungan pistol itu dari wajahnya dengan tangannya bercat perak dengan glitter. “Tidak baik mengacungkan pistol ke arah orang yang tidak bersenjata, Officer. Aku tahu kalau kau punya sopan santun.”
Ekspresi Officer Ahiga mengeras. Ia bahkan masih balas menatap Gabriella ketika anak buahnya berseru, “Semua isi boks didalan adalah minuman, Sir.”
Gabriella memiringkan kepalanya. “Klub kami direservasi oleh seorang anak senator malam ini. Aku yakin kalian tidak ingin membuatnya kecewa dengan ketidaksediaan minuman untuk para tamunya, kan?”
Officer Ahiga masih menatap Gabriella dengan penuh kebencian, bahkan ketika ia menyuruh para anak buahnya mundur. Sekarang Bernardo sudah berdiri di samping Gabriella selama mereka bertukar pandang. Keduanya dan juga para karyawan klub mengawasi kepergian polisi-polisi tersebut hingga menghilang dibalik gang sebelum menghela napas panjang.
“Apa, sih mau pria itu?” cerca Gabriella dengan kedua tangan di pinggang, menatap langit-langit. “Apa kau bisa menghitung sudah berapa kali ia datang ke sini sejak empat tahun yang lalu?”
“Kita jelas harus tahu siapa mata-matanya dengan segera. Sebelum kita kita kecolongan lagi.” Bernardo bijak. Memberi isyarat pada para karyawan untuk mulai mengeluarkan minuman itu dari dalam mobil boks ke gudang.
“Si, kau benar. Lakukanlah Bernardo.” Gabriella mengangguk sebelum ia menyadari. “Tunggu dulu. Kenapa kau selalu ada di tempat-tempat kejadian luar biasa, Benny? Apa kau tidak pernah tidur?”
“Senora Alvaro, aku hanya senang dengan pekerjaanku. Itu saja.” Bernardo mengedikkan bahunya sekali.
“Aku curiga kau hanya suka dengan drama. Raphael dan segala keesnetrikannya itu.”
Bernardo tertawa lepas, bergema di seluruh ruangan itu...