Andrew mematikan mesin mobil dan membungkuk mengedarkan pandangan ke pemukiman padat Downtown. Beberapa anak tanggung dari berbagai ras sedang bermain basket di lapangan yang berpagar tinggi dikelilingi oleh tiga gedung apartemen berbata merah. Ia melirik arlojinya. Ia sebenarnya lapar sekali. Satu-satunya yang sempat masuk di tubuhnya seharian ini hanyalah kopi dari mesin penjaja minuman di gedung forensik pagi tadi.
Sedangkan sang partner masih tertidur pulas di sebelahnya. Kepalanya terkulai ke samping dengan wajah yang ditutup dengan topi biru berlogo NYPD dan kedua tangan terlipat di depan tubuh. Andrew mengguncang lengan pria itu cukup lama sebelum akhirnya ia terbangun.
“Kau bukan yang bangun pagi, ya?” tanya Andrew begitu topi terlepas dari wajah Hades dan jatuh ke pangkuannya.
“Well, tidak banyak yang hal keren yang terjadi di pagi hari,” Hades menanggapi dengan suara serak. Ia lalu menarik tubuhnya untuk duduk tegak, mengeliat dengan kedua tangan terentang ke atas. “Apa kita sudah sampai?”
Andrew merasa ia tidak butuh menjawab. Ia hanya melepaskan tali sabuk pengamannya. Keluar dari mobil sambil memegang ponsel. Alamat apartemen ibu dari bocah yang tewas itu pasti ada di salah satu dari tiga gedung apartemen yang mengelilinginya sekarang. Jadi ia mendekati seorang anak laki-laki tanggung yang menghamprinya dengan sepeda. Menanyakan alamat yang dicarinya. Si anak berkulit hitam itu menunjuk gedung apartemen yang ditengah. Sebelum pergi begitu saja tanpa mengucapkan apa-apa lagi.
Hades menyusul kemudian. Sempat menggeliat sebelum ia mengikuti Andrew rapat di belakang. Namun dengan cepat ia tertinggal begitu mereka harus memanjat tangga hingga ke lantai tiga.
“Daisy bilang tidak ada laporan dari ibu dari bocah laki-laki yang tewas itu hingga detik ini.” Andrew sambil membaca pesan dari ponselnya. Mereka sudah sampai di depan pintu apartemen sesuai dengan alamat yang diberikan Daisy.
“Well, itu berarti sehabis dari sini kita masih punya pemberhentian yang lain.” Hades maju untuk mengetuk pintu. “Apa ibunya sudah berangkat bekerja?” Hades mengetuk pintu cukup lama lagi sebelum akhirnya mereka mendengar sahutan dari dalam.
Pertanyaan Hades terjawab setengahnya. Wanita itu jelas memang akan berangkat bekerja. Ada seragam kaos polo berkerah berwarna merah muda dibalik jaket hoodie beresleting yang ia pakai. Rambutnya yang keriting mengembang memakai bando. Bibirnya basah dengan lip gloss.
“Maaf, Miss. Saya Detective Todd dan ini Officer Kwon. Kami ingin menyampaikan kabar putra Anda...”
“Sudah kuduga!” potong wanita itu dengan suara meninggi. “Apa yang ia lakukan, Officer? Mencuri? Mencopet? Itu kenapa ia tidak pulang semalam?”
“Tidak, Miss. Putra Anda ditemukan tewas semalam. Kami turut berbelasungkawa.”
Andrew yang tubuhnya setengah tersembunyi dibalik tubuh Hades itu mengamati ekspresi Ibu Korban 1 dengan lekat. Wanita itu sekarang berpegangan pada dinding, memegang kepalanya dengan jemari yang dicat mengilat.
“Boleh kami masuk, Miss? Sebaiknya kita bicarakan ini di dalam.” Hades kali ini lebih lembut.
Butuh waktu untuk wanita itu menjawab permintaan Hades dan mempersilahkan kedua pria itu masuk. Apartemen itu sempit dan hanya punya dua kamar. Kedua kamar itu sekarang tertutup rapat. Terlihat cukup bersih walau dengan wastafel yang penuh dengan piring kotor yang entah sudah berapa hari. Meja makan sempit mereka juga tampak berantakan. Ada beberapa botol bir dan asbak rokok yang penuh. Selain itu tidak banyak yang mencolok dari rumah dengan dinding cokelat kelabu dan tua itu.
Sang Ibu Korban 1 sekarang menghempaskan diri di salah sofa tua. Andrew memilih tetap berdiri selama Hades yang mengambil-alih pembicaraan itu.
“Apa Anda tahu dengan siapa putra Anda selama ini bergaul, Miss?”
Andrew sendiri tengah mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Satu-satunya yang menunjukkan ada anak remaja yang tinggal di rumah ini adalah seperangkat PS yang sangat tua yang dijejalkan di dalam lemari di bawah TV dan sebuah bola basket di sudut ruangan.
“Aku.. tidak begitu tahu. Kami selalu berselisih jalan. Ia pergi sekolah pagi dan aku yang baru berangkat kerja siang hari. Ia biasanya bermain dengan teman-temannya di daerah ini atau teman sekolah... Tap aku tidak tahu siapa... Oh, Tuhan.”
“Bagaimana dengan sekolah, Miss?” tanya Hades lagi.
“Aku memang beberapa kali dipanggil oleh pihak sekolah karena ia sering tertidur di kelas atau berkelahi. Well, pihak CPS berkata ia memang anak yang sulit.” Sang Ibu dengan serak kemudian berseru. “Aku berusaha, kau tahu! Aku mencoba menjadi ibu yang baik padanya. Tapi ia tidak pernah mau memberiku kesempatan! Aku...”
Suara isak terdengar. Membuat Andrew berbalik badan. Ia kemudian memutuskan duduk di lengan sofa Hades. Mereka menunggu hingga isak itu mereda sebelum Hades melanjutkan,
“Ada bekas suntik di lengan putra Anda, Miss. Ada jejak meth dalam tubuhnya. Sebab kematiannya adalah kelebihan dosis...”
“Tidak! Saya sudah sudah bersih sejak setahun yang lalu!” Wanita itu kembali memegang kepalanya dengan kedua tangan. “Saya bersih! Demi Tuhan!”
“Baiklah. Kami percaya dengan Anda, Mss.” Hades dengan nada memujuk. Kalau begitu kami permisi dulu. Kami akan mencaritahu siapa penyebab kematian putra Anda ke sokolahnya. Mungkin kami akan mendapatkan petunjuk di sana.”
“Ya, Sir. Tolong cari tahu siapa yang menyebabkan kematian anak saya.” Sang ibu sambil mengelap wajahnya dengan tangan.
Keduanya lalu pamit. Kami ini Andrew membiarkan Hades memimpin jalan. Pintu terbanting di belakang mereka...
Hades tidak mengatakan apapun sampai akhirnya keduanya berada di dalam mobil. Andrew kembali duduk di kursi sopir dan Hades duduk di sampingnya, menarik sabuk pengaman dan berseru,
“Oh, aku lapar sekali! Jadi, Officer Kwon. Apa yang kau dapatkan dari kunjungan tadi?”
“Kalau si ibu tampak terlalu tenang padahal baru saja mendengar tentang apa yang baru saja terjadi dengan putranya?”
“Ding-dong. Dan ia bahkan tidak bertanya kapan ia bisa melihat putranya. Ia seharusnya memaksa kita untuk dapat melihat putranya. Ia bahkan dengan cepat menyimpulkan kalau anaknya adalah memang seorang kriminal.” Hades sambil mengambil ponselnya dan mengetik sesuatu di sana. “Ayo, kita selesaikan ini segera dan cari makan. Aku merasa aku bisa menelan seekor angsa sangking laparnya.”
Andrew menggumam mengiyakan. Ia kemudian menghidupkan mesin sebelum Hades berkata,
“Bly gagal melakukan penggerebekannya lagi.” Hades tiba-tiba ketika mereka sudah berada di jalan raya.
“Di mana?” tanya Andrew dengan matanya tertuju pada jalan.
“Perdon Club.”
Untung Andrew dapat menguasai dirinya dengan cepat karena ia nyaris menginjak pedal rem akibat mendengar itu.
“Entah bagaiaman mereka selalu bisa lolos. Walau semua orang tahu Raphael Suarez adalah seorang kepala kartel...”