17. Truth Untold

1250 Kata
(Sehari sebelum Tahun Baru 2006) Raphael memastikan semua orang sudah tidur ketika ia pergi seorang diri dengan sebuah kotak berbungkus kertas kado Natal di tangan. Ada hal yang harus selesai secepatnya sebelum ada orang lagi yang menahannya untuk melakukannya. Rumah yang ingin ditujunya itu berada di daerah Queens. Sebuah daerah pemukiman pekerja lusuh tanpa keriangan dilihat dari foto yang diberikan Bernardo padanya lengkap dengan kertas-kertas yang diperlukannya mengenai orangtua asuh Andrew Kwon. Bocah laki-laki yang muncul di depan pintu rumahnya di malam Natal. Ditengah badai salju yang membuat pipi bocah itu memerah menahan dingin.  Selama perjalanan menuju alamat tersebut, Raphael tidak bisa menahan diri untuk tidak membayangkan bagaimana perasaan Andrew kecil hari itu. Berarti mereka telah melakukan hal yang sangat kejam sehingga membuat bocah berusia dua belas tahun itu memutuskan lebih pergi menemuinya. Salju New York masih sama lebatnya atau bahkan lebih lebat lagi dari malam Natal hari itu. Andrew dengan jaketnya, meringkuk kedinginan. Berjalan dan menaiki bus entah berapa kali. Dari Queens ke Bronx... Raphael tidak perlu mencari alamat dengan susah-payah. Rumah yang ditujunya masih memiliki dekorasi Natal-nya yang masih menyala, tidak sama dengan para tetangga yang lain. Ia memarkirkan mobilnya di trotoar depan rumah tersebut. Turun dengan tidak lupa membawa kotak kadonya. Ia meringkuk menembus salju, menaiki undakan. Ia mengibas-ngibas salju dari bagian atas kepalanya sebelum menggedor pintu dengan kepalan tangannya dengan tidak sabar. Begitu pintu dibuka ia mendongak, tersenyum kepada si empunya rumah. Pria kulit putih berambut pirang dengan wajah yang sangat bersih menatapnya bingung. “Ada yang bisa saya bantu?” “Oh, di luar dingin sekali.” Raphel mendorong pria itu ke samping agar ia melangkah masuk. Perapian di ruang tamu menyala dan rumah itu tampak sangat biasa saja. Ada anak kembar lelaki yang sedang bermain monopoli di atas meja. Sebotol whiskey terbuka di dekat mereka Ibu mereka tidak terlihat. “Siapa Anda? Saya akan menelepon polisi...” “Oh, tenang. Saya tidak akan lama.” Raphael memberi pria itu senyum tipis. Ia menyebut nama pria itu dengan jari telunjuk sebelum berkata, “Anda adalah wali dari Andrew Kwon, benar?” “Dad, apa aku bilang! Andrew itu kriminal!” seru salah satu anak kembar itu antusias. “Diam kau!” sentak ayah mereka sebelum berdeham kembali menatap Raphael. “Dengar, bung. Aku tidak tahu apa yang telah dilakukan dengan anak itu. Tapi aku tidak ingin bertanggung-jawab atas apa yang ia perbuat. Aku sudah berpikir untuk...” “Berpikir untuk apa, Sir? Kalau jelas-jelas ditubuhnya banyak sekali memar yang jelas bukan berasal dari kecelakaan.” Raphael dengan manis sekali. Kedua anak kembar itu sepertinya tahu sebaiknya mereka tidak ada di sana. Dengan cepat mereka sudah berlari menjauh dan menaiki tangga. Raphael bahkan sempat melambaikan tangan pada kedua anak yang melewatinya itu. Salah satunya bahkan memberinya seringaian penuh ejekan. “Anda jelas mengasuhnya karena ingin menjadi orang terpandang, kan Sir? Walau sebenarnya Anda menutupi kebusukan Anda sendiri.” “Dengar, kalau kau tidak keluar dari rumahku sekarang juga.” “Anda menunggu asuransi orangtua Andrew cair. Namun ternyata adik perempuan Anda cukup cerdik. Menahan semua uang itu hingga usia Andrew delapan belas. Lalu Anda menumpahkan rasa frustrasi Anda pada istri Anda. Lalu istri Anda menumpahkan frustrasinya pada Andrew, karena ia tidak mungkin melakukannya pada anak Anda sendiri. Anda terjebak utang judi dengan salah satu teman dekat saya.” Raphael kemudian menoleh ke kiri-kanan dengan gaya. “Jadi mana istri Anda, Sir? Apa ia juga meninggalkan Anda?” Pria dengan napas berbau alkohol pekat itu berusaha meraih Raphael. Tapi ia lebih cepat dan diberi keuntungan dengan keadaan pria yang dalam keadaan setengah mabuk itu. Pria itu kehilangan keseimbangan. Jatuh dengan wajah dulu di atas karpet, di dekat kaki Raphael. Raphael kemudian berjongkok. Meletakkan kadonya di dekat wajah pria yangs edang mengaduh itu. “Saya datang ke sini untuk memberi Anda jalan keluar, Sir. Anda akan tetap menjadi wali resmi Andrew, namun ia akan tinggal bersama saya. Ketika tetangga-tetangga Anda yang baik bertanya di mana ia berada, katakan saja Anda mengirimnya ke sekolah berasrama.” Ia kemudian menunjuk kadonya. “Ini berisi uang untuk membayar utang judi Anda dan membawa istri Anda kembali. Saya yakin jumlahnya pas.” Raphael kemudian bangkit berdiri. Pria itu sekarang tengah berusaha untuk bangkit, namun Raphael yang sudah berbaik hati menahan diri sekarang sudah kehilangan kesabarannya. Ia menendang punggung pria itu dengan tumit sepatu booth hingga menimbulkan suara keras, erangan, dan sumpah-serapah. Ia merasa ingin melakukan lebih, tapi suara peringatan Bernardo muncul di dalam kepalanya. Jadi ia mengurungkan niat. Jadi Raphael hanya menunduk, menatap pria itu dengan jijik. “Oh, Sir. Jika Anda tidak bisa menahan mulut Anda. Saya bisa membuat Anda lebih menderita dari ini...” *** “Aku tidak pernah suka dengan anak-anak sekolah menengah pertama.” Andrew Kwon yang telah dewasa berkomentar tanpa ia sadari begitu ia memarkirkan mobil di depan pintu masuk sekolah Korban 1 tersebut. Ia berjengit begitu ia mendengar gelak tawa Hades di sebelahnya. “Kau berkata seakan-akan dulu kau adalah korban perundungan.” Andrew melepas sabuk pengamannya dan berkata dengan nada datar. “Benar. Aku memang korban perundungan.” Kehidupan Andrew “pra-Raphael” benar-benar menyedihkan walau terjadi dalam waktu cukup singkat. Keluarga walinya memperlakukannya dengan sangat jahat. Ia berangkat sekolah hanya dengan bekal selembar roti tanpa selai dan air putih. Ia baru boleh makan ketika seluruh keluarga makan. Ia tidak diperbolehkan bergabung bermain dengan kedua anak kembar laki-laki mereka. Ditinggal ketika mereka pergi berlibur akhir pekan – namun ia selalu dibawa ketika mereka mengikuti kebaktian tiap hari Minggu. Kedua orangtua wali Andrew menikmati setiap pujian yang diberikan oleh para jemaat lain mengenai mereka. Lalu malam Natal. Ketika ia dengan berani ingin ikut dalam acara makan malam mereka (ia hanya diberi sepiring makanan dingin di kamarnya) Ia nyaris ditampar oleh ayah walinya yang napasnya berbau seperti minuman keras. Lalu hanya berbekalkan kartu nama Raphael dan petunjuk peta dari dinding halte bus. Ia kabur dari rumah... Kedua sepupunya itu menjadi alasan utama ia juga kabur. Sekolah bocah laki-laki tewas itu adalah sekolah negeri dengan gedung yang sangat tua. Hades memperlihatkan tanda pengenalnya kepada satpam di depan pintu masuk sekolah. Setelah banyaknya kejadian penembakan massal beberapa tahun belakangan ini. Setiap sekolah dijaga paling tidak satu-dua satpam yang dilatih langsung oleh polisi setempat. Partner Andrew tersebut bertanya di mana ruang kepala sekolah kepada pria satpam pria yang tampak bugar itu. Mereka kemudian diantar melewati ruang guru dan berhenti di depan meja sang sekretaris dengan kacamata yang sangat tebal, begitu juga dengan make-up nya. Sang sekretaris menatap mereka bergantian dengan pandangan menilai sebelum mengangkat telepon dan memencet tombol. Andrew memutuskan untuk menatap ke arah lain selama sang sekretaris berbicara di sana. “Kalian boleh masuk,” katanya akhirnya. Hades membuka pintu dengan Andrew menutup di belakangnya. “Ada yang bisa saya bantu Bapak-bapak sekalian?” Hades memperkenalkan dirinya dan Andrew sebelum ia mengabarkan kematian dari bocah laki-laki itu kepada kepala sekolah berkulit hitam dengan kumis dan jambang spektakuler itu. Sang kepala sekolah itu mengerjap-ngerjap dengan mulut terbuka. “Astaga, saya... Ia memang anak yang nakal. Tapi tidak pernah terpikirkan...” “Ada indikasi ia pemakai obat-obatan cukup lama...” “Tapi kami mengira itu karena latar belakangnya, Anda tahu?" potong sang kepala sekolah. "Hubungan dengan ibunya juga tidak begitu baik. Saya bisa mengetahuinya karena sebagian besar waktu ketika kami menelepon ibunya untuk memberitahu kelakuannya. ia hanya menyerahkan keputusan hukuman pada saya...” Hades dan Andrew bertukar pandang. “Saya yakin paling tidak ia punya satu teman dekat yang bisa kami tanyai.” Kepala sekolah itu langsung menutup mulutnya. Mengangguk cepat...   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN