10. Hola, Brother!

1263 Kata
“Aku bosan!” Raphael melempar bukunya ke lantai. Entah sudah berapa ia ditinggalkan di kamarnya. Tanpa benar-benar melakukan apapun. Itu karena kakinya tiba-tiba kakinya yang terluka tiba-tiba sakit sehingga membuatnya mengerang-ngerang. Bernardo ada di sana. Melihatnya dalam keadaan menyedihkan seperti itu. Memberi Raphael pandangan mengasihani yang ia benci sekali. Belum lagi ketik ia bertemu dengan para petinggi kartel semalam. Ketika tidak sedikit yang menyinggung soal keadaan kesehatannya. Namun lebih delapan tahun berlalu. Raphael masih membuktikan dirinya kalau ia mampu mengelola Perdon Club, Angelic Mall, dan pengiriman “ramuan spesial” mereka dari perbatasan Meksiko. Sebenarnya belum habis kesalnya setelah proposalnya tentang pembelian submarine tersebut. Belum lagi Bernardo tidak membantunya sama sekali semalam dan menghilang begitu saja. Membuat Raphael terpaksa menjanjikan hal lain sebagai pengganti dari “ide cemerlangnya” itu. Obat yang harus ia konsumsi untuk meringankan sakitnya itu tidak lebih dari campuran opium. Jadi sudah bisa dipastikan Raphel berusaha keras agar ia tidak kecanduan, tapi tidak berhasil. Dosis yang harus ia konsumsi naik seiring waktu. Aneh rasanya karena seorang kartel sepertinya berakhir kecanduan obat terlarang. Terdengar langkah kaki mendekat lalu suara ketukan pintu. Bernardo muncul dengan sepiring cookie yang sangat harum dan mungkin baru keluar dari pemanggang. “Apa itu alasan suara mixer tadi?” Raphael menarik dirinya untuk duduk bersandar di kepala ranjangnya. Berusaha seminimal mungkin menggerakkan kakinya yang masih terasa kaku. “Cokelat adalah makanan pembawa senyuman.” Bernardo mendekat. Menaruh cookies selebar setengah telapak tangan Raphael itu di dekat lampu tidurnya. “Berikan aku s**u putih. Siapa tahu akan ada Santa Claus menyasar di tengah tahun seperti ini.” Bernardo menggumam mengiyakan. Ia keluar dengan tidak menutup pintu. Suara berat langkah kakinya entah kenapa menenangkan Raphael. Lebih baik seperti itu daripada kesunyian yang membuatnya malah ingin menyumbat telinganya... Raphael menoleh dan mengambil satu potong cookie dan memandanginya sejenak. Ia ingat Bernardo juga ada di sana pada Natal pertama mereka tanpa Uriel Suarez. Raphael terlalu larut dalam kesedihannya sehingga ia lebih banyak mengurung diri di kamar. Adik-adiknya dan Bernardo-lah yang akhirnya turun tangan untuk menghias dan menyiapkan pesta Natal mereka. Bernardo adalah seorang lajang tanpa istri sehingga ia menjadi pengasuh bagi adik-adik Raphael ketika Raphael sedang sibuk merawat Uriel yang sedang sakit. Sekarang ketika semua adik Raphael sudah dewasa. Tugasnya kembali menjadi tangan kanan Raphael. Pria berkepala plontos itu juga sesekali memberinya informasi tentang apa yang dilakukan Andrew. Apa kata pria itu pagi tadi? Hari ini adalah hari pertama Andrew menjadi detektif? Kali terakhir Raphael mendengar berita tentang Andrew adalah pria itu menjadi seorang sherif di daerah elit New Hampton. Kata Bernardo tidak banyak hal terjadi di sana kecuali sebuah epsta dengan suara musik yang ingar-bingar atau pesta miras yang berakhir dengan menyetir dalam keadaan mabuk. Bernardo akhirnya kembali. Kali ini dengan dua gelas s**u. Jelas Bernardo ingin tinggal untuk menemaninya. “Aku baru ingat tadi pagi kau berkata hari ini adalah hari pertama Andrew sebagai detektif. Tahukah kau ia berakhir di mana?” “10th Precinct, Manhattan. Seseorang memberitahuku siang tadi kalau ia terlihat berpatroli dengan Detective Hades Todd.” “Hades Todd?” Kenapa namanya tidak asing?” “Pria itu mendapatkan namanya ketika ia menangkap seorang pembunuh berantai di tahun 2016 lalu. Sebuah kasus besar. Tujuh wanita dikubur di Central Park.” Raphael mencoba mengingat, namun ia tidak menemukan ingatan apapun yang berkaitan dengan Detective Todd dan dirinya selain tentang Raphael pernah membaca detektif itu menjadi pahlawan beberapa tahun lalu. Melihat ekspresi mengernyit yang Raphael tunjukkan sambil mengunyah cookie-nya, Bernardo menimpali, “Mungkin kalau kusebutkan nama Officer Bly Ahiga. Anda akan ingat...” “Pria tampan keturunan Native-Amerika yang pernah datang menyerbu klub beberapa tahun lalu itu?” Dios, Andrew bekerja satu precinct dengannya?!” Raphael dengan mulut penuh “Si, tapi saya ragu Officer Ahiga mengenali Andrew. Karena saat penggerebekan itu terjadi. Andrew sudah kuliah.” Raphael menunduk, menatap gelas s**u yang masih ada di tangan Bernardo. Jadi ia mengambil satu, menegaknya sedikit. “Senor, apa kau mau aku ajak berkeliling sebentar?” *** Andrew tidak pernah menyangka hari pertamanya menjadi seorang detektif akan berakhir tepat pukul lima sore. “Maafkan aku, Andrew. Semalam aku tidur tidak lebih dari empat jam. Bagaimana kalau kita sudahi hari ini?” Hades akhirnya setelah tiba-tiba berhenti di sebuah trotoar di sebuah kawasan perumahan menengah Manhattan setelah seharian berkeliling patroli. “Kau bisa menyetir, kan? Andrew mengiyakan. Mereka berganti tempat duduk. Hades langsung meringkuk dan memejamkan mata. Tidak butuh waktu lama Hades sudah sudah terlelap. Ia bahkan mendengkur cukup keras. Andrew menghidupkan map di ponselnya untuk membawa mereka kembali ke precinct. Andrew tidak segan-segan mengguncang Hades ketika mereka sampai. “Astaga, kau menyetir lembut sekali. Aku bahkan tidak sadar sama sekali.” Andrew memutar bola matanya. Ia menunggu Hades turun dan mengawasi pria itu berjalan dengan langkah terseret dan bahkan nyaris menabrak seorang polisi di pintu masuk. Andrew sendiri berhenti di depan meja resepsionis Alec dan membiarkan Hades memasuki lift sendiri dan menghilang. Andrew di bawa di ruang yang ia yakin biasanya menjadi tempat diambilnya foto mugshot para tersangka. Alec hanya mengganti layar di dinding dengan warna biru laut dan mengambil foto Andrew dengan satu kali jepretan. “Astaga, memang lain kalau menyangkut pria tampan, ya?” Alec memperlihatkan hasil foto Andrew, satu bibir pria berumur itu terangkat. Andrew tidak tahu harus bereaksi apa. Hanya ikut tertawa. Setelah itu Andrew memohon diri pamit. Toh, tidak banyak yang bisa ia lakukan tanpa adanya partner-nya yang menuntunnya. Alec berkata ia juga tidak perlu melapor pada Cap. Karena pria itu sedang menghadiri pertemuan dengan para kapten dari precinct lain di City Hall dan bertemu Sang Mayor Jadi di sini ia. Sedang menaiki tangga gedung apartemennya dengan hati yang mengganjal. “Aku tidak menyangka kau pulang secepat ini.” Andrew sudah nyaris membuka pintu apartemennya dan ia tidak perlu menebak siapa itu. Itu sudah pasti Naya. Sedang duduk bersila dan bersandar di pagar pembatas lantai dengan buku sketsa di tangan. “Sudah berapa kali kukatakan padamu jangan duduk bersandar di sana.” Andrew berbalik, memberi gadis itu pandangan tidak setuju. “Banyak angin dengan duduk di sini, Mr. Detective. Lagipula kenapa kau bisa pulang cepat sekali? Aku tidak pernah menyangka pekerjaan kepolisian pekerjaan 9-5.” Andrew berjalan ke arah Naya lalu mengambil duduk di samping gadis itu. Menatap gambar pintu apartemen dengan bayangan hitam monster yang muncul dari celah pintunya. “Aku merasa kau tidak pernah menggambar yang bukan tentang gelap seperti ini.” “Oh, ya? Toh, karena hidupku tidak ada terangnya sama sekali.” Naya mengedikkan bahu. Masih terus menggambar. “Kau jelas lebih imut ketika masih kecil dulu.” Andrew mendesah kecewa. Sekarang memeluk kedua lulutnya. “Kalau aku kecil terus. Kita tidak akan pernah berduaan seperti ini.” Andrew memutar bola. “Jadi apakah kau sudah memilih akan kuliah di mana? Apa kau sudah membuat esaimu?” “Kumohon, jangan menyebalkan seperti ibuku, oke? Aku sedang tidak ingin memikirkannya.” Andrew lalu menatap wajah Naya. Ada semacam kemarahan di mata gadis itu. Namun sebelum ia sempat berkomentar lebih jauh. Andrew mendengar suara langkah kaki diiringi ketuk di tangga gedung apartemen yang terbuat dari kayu itu. “Dios! Kenapa pula ia harus tinggal di lantai teratas seperti ini!” Andrew terperanjat. Ia kenal dengan suara itu hingga membuatnya langsung berdiri. Bersamaan dengan Raphael yang muncul di hadapannya. Dengan napas terengah dan seringaian. “Hola, Andrew!” Namun Raphael sudah mengangkat jari telunjuknya, meminta izin menarik napas. “Aku tidak pernah menaiki banyak tangga lagi dengan kaki ini. Kedua saudaramu membeli apartemen mereka di lantai dasar dam kau jelas tidak ingin aku kunjungi sama sekali.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN