Andrew Kwon tahu kalau pria yang akan mereka temui – Carver Yoon – adalah seorang kepala perawat di Harlem Hospital. Hades menggumamkan sebuah lagu selama ia menyetir.
“Maaf, kau juga harus terbiasa mendengarku menyanyi. Radio mobil ini sudah rusak beberapa tahun yang lalu. Aku sudah lupa kapan tepatnya.” Hades menyeringai, padanya ketika mereka berhenti pada lampu merah.
“Aku tidak bertanya. Tapi terimakasih informasinya.” Andrew tenang. Mengedarkan pandangannya ke setiap arah jalanan yang mereka lewati. “Apakah boleh tahu kasus apa yang baru saja kau selesaikan?”
“Oh, sebuah penculikan anak perempuan oleh mantan simpanan seorang pengacara ternama beristri. Tiga hari yang tegang. Asal kau tahu saja.”
“Kalau kau bisa menebak oleh siapa dari awal? Kenapa butuh tiga hari untuk mendapatkan anak perempuan itu?” Andrew dengan nada paling datar.
“Karena pengacara itu terkenal sebagai pengacara dari kalangan para mafia New York yang terkenal. Ia jelas punya banyak musuh yang lebih cocok menjadi tersangka utama daripada sang simpanan. Ketika aku memeriksa CCTV toko roti yang terletak di dekat sekolah sang simpanan tertangkap basah menculik anak perempuan itu dan memasukkannya dalam mobil. Well, penggerebekan tidak terjadi dengan mudah. Sang simpanan menginginkan si pengacara sendiri yang menjemput anak perempuannya. Dan begitu sang pengacara itu datang. Ia malah ditembak di tempat. Nyaris kehilangan nyawa. Penculikannya hanya terjadi selama satu malam. Dua malam dipakai untuk menunggu apa sang pengacara selamat dari tembakan fatal itu. Lalu ditambah urusan di belakangnya yang ternyata bertahan dua minggu lagi.”
Lampu traffic berubah hijau, Hades mendorong perseneling sebelum melanjutkan. “Oh, ya. Sang pengacara tersebut dirawat di rumah sakit Carver.”
Mereka baru saja melewati Marcus Garvey Park yang berarti Harlem Hospital sudah dekat. Andrew bisa melihat mural yang menggambarkan sejarah Harlem dan dieksekusi oleh tiga seniman Afrika-Amerika dan seniman fresko yang dipajang di bagian depan gedung rumah sakit itu. Andrew hanya pernah membaca berita tentang mural tersebut dari portal berita online yang Naya pernah perlihatkan padanya dengan wajah bersemangat.
Andrew turun lebih dulu setelah mobil tua itu terparkir rapi di depan rumah sakit. Kepalanya menengadah, memandang mural itu dari setiap sisi.
“Kau terlihat belum pernah ke sini.” Hades lalu membanting pintu mobilnya menutup. Suara derik mengerikan dari engsel pintunya tidak ia indahkan.
Ketika Andrew menoleh. Hades sudah menyeberang ke sisi lain jalanan. Andrew melihat ada dua food truck yang terparkir berdekatan di sana. Dari iklan di dinding truk itu. Satu menjual kopi dan sandwich. Satu lagi menjual berbagai macam kudapan Meksiko. Kedua food truck itu sama-sama mempunyai lima orang dengan pakaian scrub yang mengantri. Semua orang tersebut tampak seperti zombi dengan kantung mata dan setengah mata yang terpejam.
“Well, kau mengantri d sana.” Hades menunjuk food truck yang menyediakan kopi. “Satu gelas ice americano dengan dua pump sirup hazelnut. Satu hot cappucino dan gula sedang. Dan satu lagi terserah kau mau apa. Aku traktir.”
Andrew mengawasi Hades merogoh saku celana dan jaketnya untuk mengumpulkan gulungan uang yang sudah sangat kusut. Ia menghitung sejenak sebelum memindahkan beberapa lembar ke dalam telapak tangan Andrew. Ia menepuk pundak An drew sebelum mengambil antrian di food truck makanan Meksiko.
Andrew dengan sabar menunggu gilirannya. Ia sampai lebih dulu daripada Hades yang masih tersangkut satu pembeli lagi. Ia menyebutkan semua pesanan yang disebutkan Hades tadi.
“...Tambah hot mocca latte gula sedang.”
Sang pramusaji yang adalah seorang pemuda yang mendengar pesanannya itu mengerutkan dahi. Sebelum ia menjulurkan leher dan menatap ke arah food truck tetangganya. Hades dengan semangat balas melambai ke arahnya.
“Astaga, apa aku bisa berasumsi kalau kau adalah partner baru Detective Todd?” Senyumnya mengembang dengan mesin kasir yang berdesing di hadapannya. Sedangkan sang barista menerima pesanan Andrew dengan ekspresi yang sama. Melempar senyum ke arah Andrew sebelum memulai membuat pesanannya.
“Benar. Aku Andrew Kwon. Senang bertemu denganmu.” Andrew berjinjit-jinjit di depan jendela sang pramuniaga.
“Well, aku harap dengan adanya kau, Detective Todd jadi tidak sering ke sini.”
Alis mata Andrew naik. Namun sang pramuniaga sudah memberinya struk belanja dan kembaliannya. Andrew sudah menyingkir ke jendela yang lain. Sang barista bahkan tidak menanyakan minuman mana untuk siapa. Sudah ada tiga nama untuk masing-masing gelas ketika Andrew menerima pesanannya dalam cup holder.
Andrew menghampiri Hades yang juga sedang menunggu pesanannya.
“Aku harap kau bisa makan pedas.”
Andrew mengedikkan bahu.
Hades kemudian menatap Andrew dari kaki hingga kepala. “Kau jelas tidak banyak bicara, ya?”
“Apa kau ingin aku banyak bicara?”
“Dan bisa balas perkataan dengan mudahnya.”
Andrew memilih tidak menjawab.
Jadi dengan Andrew dengan cup holder dan Hades dengan kantung kertas. Sama-sama mereka menyeberang jalan menuju rumah sakit tersebut. Satpam yang berjaga memberi Hades salam yang ia balas dengan sama antusiasnya. Andrew bahkan tidak bisa menghitung berapa banyak dokter maupun perawat yang ditegur atau menegur Hades sepanjang perjalanan mereka. Andrew mengetahui nomor lantai tujuan mereka dari papan petunjuk yang tadi ia lihat sekilas di lantai dasar.
Bangsal rawat inap untuk pasien kardiologi dan toraks.
Andrew mengikuti Andrew rapat. Di lantai ini lebih banyak perawat yang menegurnya yang ia balas dengan sama antusiasnya. Mereka jelas terlalu pagi untuk datang menjenguk seseorang. Tapi Hades sudah berhenti di depan sebuah kamar. Menoleh ke arah Andrew dan berkata,
“Aku bilang kalau sang pengacara yang anaknya diculik itu di tembak, kan? Nah, ia dirawat di sini.”
Andrew mengerjap, namun ia tidak sempat untuk mempersiapkan diri karena pintu sudah dibuka.
Namun ketika ia mengira mendapati seorang pasien yang berbaring. Malah mendapati seorang pria yang sedang dibantu seorang perawat pria untuk mengancingkan kemejanya. Duduk di tepi ranjang. Rambutnya pirang stroberi panjang hingga ke tengkuk, namun wajahnya bersih tanpa jambang.
“Oh, selamat pagi Detective Todd. Apa kopi itu untukku?”
“Tidak. Saya kira Anda baru bisa pulang sekitar tiga hari lagi?” Ternyata Hades sama sekali tidak tahu tentang ini. “Oh, halo. Nurse Yoon. Kau terlihat hebat hari ini.”
Andrew mengawasi itu dari jarak tiga kaki. Tidak seperti Kairan Price. Ia hanya pernah membaca nama Carver Yoon, namun tidak pernah melihat wajahnya. Dari pengamatannya ia yakin pria itu keturunan Asia juga bukan hanya dari nama belakangnya. Sang perawat tidak menanggapi basa-basi Hades. Hanya menyelesaikan pekerjaannya dalam diam.
“Aku minta dikeluarkan lebih cepat. Berbaring di sini membuatku malas. Waktu adalah uang, Detective Todd. Kau tahu, karena...
“...Karena kau dibayar perjam. Yah, yah. Aku mengerti.”
“Lalu siapa pria muda di sana itu, Detective Todd?” tanya sang pengacara lagi. Menoleh lurus-lurus ke arah Andrew.
Sekarang seluruh pandangan jatuh ke arahnya. Andrew mengangkat sebelah tangannya , melambai.
“Oh, perkenalkan. Itu Officer Andrew Kwon. Mulai hari ini ia akan menjadi partner-mu.”
“Kau? Dengan partner?” Carver Yoon akhirnya bersuara.
“Yeah, Cap memintaku menerimanya. Aku rasa karena sekarang sudah cukup tua. Sudah saatnya ada orang yang menjaga diriku dari belakang. Benar, kan Andrew? Hey, kenapa kau berdiri jauh sekali begitu?”
Andrew akhirnya mendekat. Pandangan Carver Yoon mengikutinya. Sampai akhirnya ia berdiri di belakang Hades.
“Jadi apa kau jadi untuk mewakili dirimu sendiri dalam persidangan melawan mantan simpananmu itu?” tanya Hades dengan nada bicara sangat serius.
“Tentu saja. Karena tidak ada orang lain yang mengetahui kelemahannya selain aku.” Sang pengacara terdengar sangat percaya diri.
“Oh, selain titik rangsangan di ranjang. Tentu saja.”
Dari belakang tubuh kedua pria itu. Andrew yakin Carver Yoon memutar bola matanya.
“Simpan pikiran itu dalam kepalamu sendiri, Detective Yoon.” Sang pengacara bangkit dari ranjangnya perlahan. Carver Yoon mengawasinya dengan ketat. Pintu kamar mereka kembali diketuk. Muncul seorang pria dengan jas lengkap dengan kursi roda di tangan.
“Baiklah, bapak-bapak sekalian. Kalian tidak perlu repot-repot mengantarku keluar.” Carver Yoon masih tetap maju untuk mendudukkan sang pengacara di kursi rodanya. “Sampai ketemu di pengadilan, Detective Todd. Terimakasih, Carver. Dan semoga beruntung untukmu, Officer.”
Ketiganya mengawasi kepergian sang pengacara dengan siapapun itu hingga ia menghilang dari balik pintu.
“Hello, Andrew Kwon. Aku Carver Yoon, senang bertemu denganmu.” Carver Yoon menunduk sekali pada Andrew, yang dibalas Andrew dengan sikap yang sama.
Lama baru Andrew menyadari Carver Yoon memakai Bahasa Korea. Itupun karena Hades menatap mereka bergantian dengan pandangan kecewa. “Aku tidak ingin menjadi orang menyebalkan. Tapi bisakah kalian memakai Bahas Inggris saja ketika bersamaku?”
“Itu hanya sapaan formal, Hades. Tidak perlu menyebalkan begitu. Aku hanya mengecek kalau Andrew juga memiliki bahasa ibu yang sama denganku. Walau dengan mata birunya yang tidak biasa itu.” Carver mengambil gelas kopi yang bertuliskan namanya dari tangan Andrew. “Jadi apa ini menjadi hari terakhir kau akan menggangguku setiap pagi? Ngomong-ngomong, panggil aku dengan Carver saja. Begitu, Andrew?”
“Tidak. Kita sudah melakukan ini selama lebih dari lima tahun. Aku rasa kebiasaan tidak bisa hilang begitu saja.” Hades tampak syok.
“Bisa. Jika kau sudah punya pengganti yang lebih baik.”
Carver Yoon menyesap minumannya sambil melirik ke arah Andrew. Sebelum berjalan melewati keduanya. Membuat Hades menatap kepergian pria itu dengan tatapan tidak percaya sebelum akhirnya mengejar. Diikuti oleh Andrew yang merasa ia tidak butuh ikut dalam percakapan apapun yang mereka lakukan.
Carver sudah berbelok ke lift. Hades dan Andrew masuk tepat waktu.
“Bagaimana bisa kau melepaskannya ketika ia masih tidak layak untuk pulang sekarang?” Hades bertanya ketika lift sudah bergerak turun.
“Dokter yang merawatnya telah memberinya izin untuk pulang. Kenapa pula aku harus menahannya kalau begitu?” Carver sambil menyesap minumannya lagi.
“Apa dokternya adalah wanita?” Hades terdengar bersemangat
“Kau tidak layak bertanya seperti itu, Hades.”
Hades menggerutu.
Lift membuka. Andrew mengikuti keduanya ke arah papan petunjuk ke arah kafetaria. Carver yang memilih meja untuk mereka. Andrew terjebak duduk di samping keduanya ketika Hades mengambil duduk di hadapan Carver sambil menaruh kantung kertas di hadapan mereka.
Andrew akhirnya mempunyai cukup waktu untuk mengamati Carver lebih dekat. Rambut pria itu hitam legam dan terlihat sangat lebat. Matanya meruncing di sudut luarnya dan berwarna cokelat madu. Kulitnya sangat putih sehingga Andrew tidak yakin mereka berasal dari ras yang sama.
Pria itu bahkan bisa dikatakan sangat cantik untuk ukuran pria. Walau mungkin seumuran dengan Hades.
Carver sudah mengeluarkan tiga gulungan almunium dari dalam kantung kertas. Melipat rapi kantung kertas itu sebelum memeriksa setiap catatan yang ada di luar gulungan sebelum mengambil satu.
Andrew juga mengambil satu dan mulai mengunyah. Karena Hades sepertinya masih sibuk dengan pikirannya sendiri.
“Ada apa, Detective Todd? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?” Carver dengan mulut yang penuh burrito.
“Kau tidak merasa ada sesuatu yang mengganjal? Sang pengacara jelas terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja ditembak di d**a dan nyaris kehilangan nyawa.”
“Itu karena ia tahu sesuatu yang aku yakin baru ia katakan di pengadilan.” Carver ringan lalu menyesap kopinya lagi.
“Apa kira-kira? Tapi yang pasti ia tidak sabar untuk mengirim sang simpanan ke penjara.” Hades sekarang memiringkan kepalanya. “Berarti selama ini ia tidak punya perasaan apapun dengan wanita itu?”
Carver mengedikkan bahunya. Ia melirik ke arah Andrew sebelum berkata, “Bisa jadi. Karena ketika pria merasa ia telah menyimpan perasaannya dengan baik. Terkadang perkataan mereka sendiri malah mengkhianati mereka.”
***