“Oke, karena aku jelas tidak punya pilihan lain selain menerimamu, Officer Kwon. Maka selamat datang di tim. Mungkin kau akan cukup kewalahan denganku karena aku terbiasa bekerja sendirian. Dan oh, ya. Kau sudah bisa memanggilku dengan Hades. Aku bisa panggil kau dengan Andrew, kan?” Jabat tangan mereka terlepas. Sekarang Hades Todd – sudah mengumpulkan barang-barangnya di atas meja, mengeluarkan sebuah jaket kulit yang ia endus dengan wajah mengernyit. Tapi tetap ia pakai.
Andrew menatap Hades yang jelas bersiap pergi dengan dahi mengerut. “Kau mau pergi?” tanya Andrew sambil mengikuti Hades dengan kunci mobil di tangan.
Mereka sudah berdiri di depan lift ketika Hades menjawab pertanyaan Andrew sambil memperbaiki kerah jaketnya. “Well, aku belum sarapan. Apa kau sudah sarapan? Aku rasa kita bisa saling mengenal sambil makan.”
Karena ada orang lain di dalam lift, Andrew menahan pertanyaannya kembali. Hades sitegur oleh beberapa polisi yang membalas dengans ama antusiasnya. Polisi-polisi itu menatap Andrew penasaran sebelum Hades yang menjawab pertanyaan tidak terucapkan itu. “Kenalkan, pria muda itu adalah partner baruku. Andrew Kwon. Berbaik hatilah padanya, anak-anak!”
“Kau sebagai partner Hades Todd yang seperti kuda liar ini, Nak? Semoga Tuhan melindungimu.” Salah satu polisi dengan seragam biru navy itu diikuti oleh gelak tawa.
“Kau tidak perlu khawatir. Aku menjabat tangannya tadi dan aku masih merasakannya berdenyut sekarang.” Hades entah kenapa serius sekali membuat beberapa senyum menghilang saat itu juga.
Lift berdenting, pintu terbuka. Para polisi berseragam keluar diiringi dengan beberapa dehaman.
“Baik sekali kau membelaku tadi.”
Hades menatap Andrew tidak percaya dari atas bahunya ketika mereka berjalan bersisian. “Ah, aku tadi menyelamatkan diriku sendiri. Beraninya mereka memanggilku dengan “kuda liar.” Namun ada senyum yang bermain di sudut bibir pria itu.
Hades Todd adalah pria kulit putih yang usianya sudah menginjak akhir tiga puluhan. Dengan rambut pirang cokelat dan mata abu-abu memikat. Gayanya sangat santai dan jelas tahu seberapa jauh kemampuannya. Sekarang Andrew mencium wangi busa cukur dan sabun batangan dari tubuh pria itu. Ia mungkin baru saja mandi setelah berhari-hari tidak melakukannya.
“Hai, Alec! Kau sudah bertemu dengan Andrew, kan?” Hades kepada polisi yang berada dibalik konter resepsionis.
“Sudah. Dan ketika ia kembali dari kemanapun kau membawanya sekarang. Ia bisa mengambil lencana dan membuat kartu pengenalnya dariku. Oh, ya. Kau lupa mengambil kartu pengenalmu kembali. Kesalahan hari pertama yang berhak dimaklumi.” Alec menyerahkan kartu Andrew dengan menjepitnya diantara dua jari. Andrew mengutuk dirinya dalam hati sebelum mengambil kartu itu, melepas kartu yang masih tergantung di pakaiannya sebagai gantinya, dan mengucap terimakasih. Bersyukur dalam hati Hades tidak terganggu dengannya.
“Dari bicaramu ini aku yakin Cap sudah memberitahumu tentangnya. Lebih hanya sekedar namanya.” Hades dengan kepala dimiringkan.
“Dan baik sekali kau menerimanya tanpa bertengkar dengan Captain, Detective Todd. Karena aku dan ia tahu kau tidak bisa bekerja sendirian selamanya.” Alec Davis dengan nada penuh penekanan.
Hades menanggapi dengan kibasan tangan. “Tapi bukan berarti aku tidak sempat melawan sedikit. Kami mau pergi sarapan. Karena masih terlalu pagi untuk mengajaknya minum.”
Andrew hanya mengedikkan kepala ke arah Alec sebagai salam dan mengikuti Hades keluar precinct. Pria itu mengedarkan pandangan sejenak dan akhirnya berjalan ke arah sedan Honda Civic berwarna abu-abu yang mungkin usianya lebih dari dua puluh tahun.
“Apa ini masih bisa jalan?” tanya Andrew yang benar-benar khawatir.
“Hey! Jangan kasar begitu. Aku sudah pakai ini sejak aku ditugaskan di 10th precinct. Tunjukkan sedikit rasa hormat. Mobil tersebut bahkan tidak memiliki kunci otomatis. Andrew harus menunggu Hades memutar kunci sebelum ia masuk.
Joknya masih terbuat dari kain dan ada bau apak seperti bau kain yang tidak kering dalam mobil tersebut. Andrew tidak bisa menebak kapan terakhir mobil in dicuci. Ia hanya bersyukur tidak ada aroma asap rokok.
Hades sepertinya menyadari apa yang Andrew rasakan karena pria itu sekarang menyeringai kepadanya dengan kedua tangan di roda kemudi. “Jangan memasang wajah begitu. Aku baru saja menyelesaikan kasus dan langsung membuat laporannya. Jadi aku tidak sempat mencuci mobil ini.”
“Aku hanya berharap suatu masa kita harus mengejar seorang kriminal. Mobil ini tidak berhenti di tengah jalan.” Andrew membalas tatapan itu sambil menarik sabuk pengamannya yang sempat tersangkut.
“Ouch! Kau mengingatkanku pad a Carver.”
“Apa yang kau maksud adalah Carver Yoon yang itu?” Andrew diam-diam mendesah lega karena Hades berhasil menghidupkan mobil itu hanya dengan satu kali putaran kunci.
“Yeah, teman Si Kairan Price pembunuh berantai yang kau sebutkan tadi. Kami... berteman baik setelah itu.” Hadis kemudian memutar roda kemudi, meninggalkan area parkir di tepi trotoar precinct.
***
Seperti yang sudah bisa ia tebak. Juan Santoro menghabiskan sekitar sejam untuk menenangkan para manager penyewa tenant mall yang ia kumpulkan di kafe yang hanya berjarak beberapa meter dari mall-nya. Mengajukan diri untuk membelikan minuman atau kudapan apapun untuk para manager dengan ekspresi tidak terima itu. Mereka bahkan membuat manager Chuck E. Cheese tidak nyaman dan membuat wanita itu duduk dua meja dari mereka. Menunduk menatap gelas take-way-nya yang ia pegak dengan kedua tangan.
Nama wanita itu adalah Marcedes Smith. Seorang keturunan campuran kulit putih dan kulit hitam dengan rambut keriting lebat dengan pipi tirus dan bibir yang hari ini dipoles dengan lip gloss (Yeah, Juan tahu bagaimana membedakannya dari tinggal dengan Gabriella Alvaro sebelumnya) Ia baru menjadi manager selama tiga tahun terakhir dan Juan tahu sebagian besar karyawannya juga tidak menyukainya, entah kenapa. Padahal selama mereka berinteraksi selama ini Marcedes (wanita itu yang meminta Juan untuk memanggilnya dengan nama depannya) Marcedes adalah salah satu dari sedit manager tenant yang mudah diajak bicara dan menyenangkan.
“Apa kalian lebih memikirkan laba daripada kesehatan para karyawan kalian?” hardik Juan pada akhirnya ketika mereka tidak ada yang ingin berbicara bergiliran. “Lihatlah, para karyawan kalian jelas sudah pada pulang.”
Jadi setelah percakapan sengit itu. Juan menunggu di dalam kafe, ketika para manager itu duduk di luar. Ia menyesap Americano-nya sambil mengawasi satu-persatu manager tersebut pergi meninggalkan kafe. Jelas menghiraukan Marcedes atau memberi wanita itu tatapan kebencian.
Seakan-akan Marcedes sendiri yang membuat sambungan pipa gasnya bocor.
Juan menunggu hingga tidak ada dari manager seram itu yang tertinggal sebelum ia menyerahkan kartunya pada kasir cafe untuk membayar pesanan mereka. Ia mengucapkan terimakasih, namun tanpa menatap sang kasir karena ia melihat Marcedes juga sudah berdiri dari mejanya.
Juan meneriakkan nama wanita itu tepat waktu.
“Maafkan aku. Apa kau baik-baik saja?”
Marcedes menggeleng sambil menggigit bagian dalam pipinya. “Tentu saja tidak, Mr. Santoro. Walaupun kau memulanngkan kami semua sekarang. Aku harus membuat laporan di rumah tentang kejadian hari ini. Dan ditambah aku mungkin akan mendapatkan tatapan benci bukan hanya dari para karyawanku sekarang. Tapi dari tenant yang lain.”
“Aku yakin tadi sudah menjelaskan...”
Marcedes kembali menggeleng, kali ini lebih keras. “Aku yakin mereka akan tetap menyalahkanku.” Ia kemudian mengangkat gelas kopinya ke arah Juan. “Terimakasih untuk kopinya, Mr. Santoro. Sampai ketemu besok.”
Juan mengawasi kepergian Marcedes dengan kedua tangan di pinggang. Karena apa yang harus Juan lakukan sekarang adalah kurang-lebih sama dengan Marcedes. Jadi ia mengecek kembali keadaan mall. Listrik sudah dihidupkan kembali. (manager dari tenant makanan dengan jelas berkata kalau mereka harus segera menghidupkan listrik kembali agar kulkas-kulkas bisa bekerja kembali.) Jadi Juan sudah bisa meninggalkan mall untuk melakukan hal lain.
Ia menghentikan taksi kuning dengan lambaian tangan yang secara mengejutkan langsung berhenti di depannya. Ia menyebutkan alamat yang ia tuju kepada sang sopir yang memberinya tatapan bingung dari kaca spion tengah, namun tidak mengomentarinya. Juan sudah melepaskan jasnya dan dua kancing kemejanya sebelum duduk melorot di jok kulit yang teras panas di punggungnya.
Akhirnya ia sampai di kawasan Bronx dan Perdon Club terletak ditengah-tengah pemukiman. Lampu penunjuk klub mati dan Juan tidak melihat mobil siapapun yang ia kenal terparkir di depannya. Namun ia tetap turun di sana. Pintu masuk klub terbuka ketika ia mendorongnya. Klub selalu terlihat seperti dunia lain di pagi hari. Lengang, tanpa tubuh berkeringat yang saling berhimpitan.
Dulu ketika mereka terlalu muda untuk masuk ke klub di malam hari. Raphael memberi mereka “pekerjaan paruh waktu” untuk mengumpulkan apapun yang ditinggalkan pengunjung di lantai klub di pagi hari akhir pekan. Korek api, sepatu tanpa pasangannya, passport dan bra. Sekarang lantai itu sudah bersih dengan tiga kantung sampah besar hitam yang belum dibuang.
Juan melangkah menuju bar dan mendapati punggung Gabriella yang duduk di depan konter dan sedang tertawa dengan salah satu bartender senior mereka, Xavier.
“Aku tadi berharap bisa mendapatkan segelas minuman yang lebih keras dari kopi. Hola, Xavier!” Juan setelah ia naik di kursi di sebelah Gabriella.
Gabriella menoleh ke arah Juan dengan rambut yang menutup sebagian wajahnya. “Aku sudah membaca beritanya. Kebocoran pipa gas?”
Juan mengedikkan bahu. “Kita hanya bersyukur bukan kebakaran yang terjadi. Karena sepertinya bocornya terjadi cukup lama. Apakah ini terlalu pagi untuk segelas whiskey?”
Xavier sudah memutar tubuhnya untuk mengambilkan pesanannya.
“Aku kira kau pakai kesempatan itu untuk tidur. Alih-alih datang ke sini.” Gabriella kembali menyesap kopinya.
“Aku mendengar berita kalau semalam para petinggi kartel datang untuk menemui Raphael soal pengiriman “spesial” kita dari Meksiko?”
“Si, dan apa kau tahu apa yang disarankan Raphael pada pria tua itu? Membeli submarine! Kapal submarine yang cukup menghilang dibalik air, bukan menyelam. Hanya agar kita tidak terdeteksi oleh radar Navy.”
Juan tertawa keras. “Benarkah? Kenapa pula aku tidak ada di sana ketika Raphael mengatakannya?”
“Baguslah kau tidak ada di sana. Ketika Bernardo memberitahuku. Ia terlihat ingin menenggelamkan dirinya ke dinding...”