Setelah bertahun-tahun Andrew Kwon menghadapi sang Raphael Suarez yang terkenal, ia entah kenapa bisa tetap santai menghadapi kekesalan Hades Todd yang tidak susah-payah ditutupi oleh pria itu.
“Oh, tidak...Tidak, Kumohon, Cap! Tidak!” Pria itu menggeleng-geleng sangat kuat. Rambut basahnya bergerak-gerak di puncak kepalanya.
“Hades, kau tahu kau tidak bisa bekerja sendirian selamanya...”
Andrew tanpa kata mengedarkan pandangannya. Ia mundur meninggalkan keduanya yang mulai berargumentasi dengan mulai mengumpulkan sampah-sampah makanan dari atas meja Hades Todd dan membuangnya ke tempat sampah terdekat. Ia bahkan sempat meminta izin mengambil beberapa tisu dari meja tetangga mereka yang menatap Andrew dengan penuh simpati. Membersihkan setiap remah makanan dan bercak tumpahan kopi di meja.
“Kau tahu aku...”
“Aku tahu dengan trauma-mu, tapi Inspector yang menginginkannya. Kau jelas selalu terlibat dalam bahaya untuk dibiarkan bekerja sendiri,” Captain Turner entah kenapa terdengar seperti ialah yang memelas.
Andrew selesai mengelap meja itu tanpa benar-benar menyentuh barang-barang yang Hades Todd biarkan berserakan. Karena ia bisa menebak Hades Todd adalah orang yang tidak ingin barang-barangnya disentuh oleh orang yang tidak dikenal. Ia membuang sampah tisu tersebut sebelum kembali ke tempatnya berdiri semula.
“Namamu siapa tadi?” Hades Todd akhirnya menaruh perhatian padanya.
“Andrew Kwon, Sir,” jawab Andrew datar. Captain Turner menatap mereka bergantian.
“Kwon dari mana? Korea? China? Maaf, kalau terdengar kasar.” Hades Todd sambil menunjuk. Terdengar suara teguran dari Captain, namunia dengan berani mengangkat tangannya, membuat Captain mengerang frustrasi.
“Korea, Sir.”
Hades mengerjap. “Apa kau bisa Bahasa Korea juga?”
Hubungannya apa, coba? “Bisa, Sir. Bahasa Spanyol juga, kalau Anda ingin tahu.”
“Bahasa Spanyol?!” Hades sekarang berkacak pinggang dengan dua tangan. “Kau kutu buku!”
Andrew tidak menanggapi.
“Aku biarkan kalian saling mengenal, oke? Jangan nakal.” Captain meremas pundak Andrew sebelum berlalu pergi. Hades Todd lalu berjalan ke mejanya yang sudah dibersihkan Andrew. Matanya bergantian menatap mejanya lalu Andrew.
“Kau tenang sekali untuk ukuran seseorang dihari pertamanya bekerja.” Hades Todd melemparkan handuk basah di punggung kursinya. Kembali menatap Andrew.
“Saya sudah membayangkan kemungkinan yang jauh lebih buruk dari ini, Sir.”
“Seperti apa tepatnya.”
“Anda menolak saya di tempat.”
“Aku tadi menolakmu. Apa kau tidak menyadarinya?”
Andrew menggeleng. “Saya membayangkan Anda bahkan melempari saya dengan sesuatu.”
“Astaga, apa kau membayangkan aku seburuk itu?”
“Anda tempramen, Sir. Sebelum saya resmi dipindahkan teman-teman saya di di New Hampton memperingatkan saya tentang Anda.”
Hades Todd mendengus geli. “Peringatan seperti apa?”
“Kalau Anda jelas banyak sekali bertindak tanpa berpikir panjang.”
“Jadi kau merasa kau adalah partner yang terbaik untukku?”
Andrew mengangguk. “Saya rasa saya cukup logis untuk ditempatkan bersama Anda.”
“Kau jelas tahu bagaimana caranya membals perkataan.”
“Tidak, Sir. Saya hanya punya banag yang sangat mirip dengan Anda.”
“Abang?” Hades Todd duduk di kursinya. Mendongak menatap Andrew kali ini dengan benar-benar tertarik. “Abangmu seperti apa?”
“Saya tidak bisa menceritakannya secara rinci. Tapi yang jelas ia sama menyebalkannya dengan Anda.”
Hades akhirnya tertawa. Cukup keras hingga menggema di seluruh lantai. “Astaga, aku jelas salah menilaimu.” Ia kemudian mengulurkan tangannya. “Oke, kalau begitu kita mulai dari awal. Halo, namaku Hades Todd. Detektiv di 10th Precinct sejak...”
“...2014. Anda juga terkenal sebagai detektif yang menangkap pembunuh berantai Kairan Price pada 2016. Pria yang membunuh tujuh wanita dan menguburnya di Central Park. Price berakhir bunuh diri di selnya sebelum keputusan pengadilannya selesai. Anda, Sir. Detective Hades Todd – menerima saya Andrew Kwon. Seorang polisi yang baru saja bertugas selama empat tahun menjadi partner pertama Anda.” Andrew mengatakan itu semua dalam satu napas. Ia menjabat tangan Hades kuat sekali.
Dan pria berkulit putih dengan warna mata abu-abu itu menatap Andrew dengan terkesima. Ia melirik ke arah jabat tangan mereka yang sangat erat itu sebelum berkata, “Well, kau jelas melakukan pekerjaan rumahmu dengan baik.”
***
Sepertinya pagi ini menjadi pagi yang tidak betgitu baik untuk keluarga besar Suarez. Salah satunya adalah Juan. Ia mendapatkan kabar buruk yang menimpa mall yang ia pimpin mengalami kebocoran gas. Untungnya ia sudah siap berangkat bekerja ketika ia mendapatkan berita itu.
Juan Santoro tahu ia tidak bisa menyetir sendiri ketika keadaannya sudah seperti itu. Karena sudah pasti akan terjadi kemacetan di depan mall yang terletak di pusat Brooklyn itu. Jadi ia berhenti tiga blok sebelum lokasi. Membayar ongkos taksinya kepada sopir keturunan India itu yang senang karena ia memberikan semua kembaliannya padanya. Juan melanjutkan perjalanan dengan berlari. Jas seragamnya sudah ia lepaskan setengah jalan. Semakin ia mendekati lokasi, semakin banyak orang yang bergerombol sehingga ia harus menyelip sambil mengucapkan maaf berkali-kali.
Juan menghampiri seorang polisi yang menahan para penonton sekitar seratus kaki dari pintu masuk mall. Terlihat ada dua mobil pemadam kebakaran dsan satu mobil patroli polisi yang berjaga. Namun seperti warga New York kebanyakan, hanya sedikit yang tinggal menonton dengan wajah ingin tahu. Well, kecuali para karyawan yang memiliki tenant di dalam mall tersebut. Mereka jelas kesal.
Sial, sekali upah minimum pemerintah!
Juan menghampiri salah satu polisi yang ebrjaga dibalik pita kuning. Mengeluarkan kartu pengenal karyawannya ke wajah sang polisi dan berkata, “Saya General Manager mall ini. Bagaimana keadaanya?”
“Kebocorannya sudah di atasi, Sir.” Polisi itu mengangkat pita kuning, membiarkan Juan lewat. “Berasal dari dapur Chuck E. Cheese. Namun sepertinya butuh waktu sekitar satu-dua jam lagi untuk orang bisa masuk, Sir. Karena gasnya masih tertinggal di dalam.”
Juan mendesah penuh syukur. Tidak berapa lama kemudian para petugas pemadam kebarakan keluar dai pintu dengan coverall tanpa api berwarna hijau dan helm-nya. Salah seorang dari mereka yang adalah Juan tebak adalah kapten menghampirinya.
“Mr. Juan Santoro, benar? Kami sudah memeriksa seluruh selang gas Sir. Tidak ada kebocoran selain di Chuck E. Cheese. Namun saya tidak menyarankan untuk para karyawan dan pengunjung untuk langsung masuk sekarang. Kita cukup beruntung tidak ada percikan api di dalam. Jadi jangan ditambah dengan keracunan lagi.”
Juan mengangguk, ia mengedarkan pandangan kepada para karyawan yang terlihat gelisah itu dari balik bahunya. “Ada saran apa yang harus saya lakukan sekarang?”
“Menyuruh mereka pulang?” saran salah satu tim pemadam kebakaran, namun ia sudah disodok oleh koleganya yang lain. Langsung membuatnya tutup mulut.
“Well, kalau memang begitu saran Anda Sir. Apa boleh buat.”
“Hanya pastikan sirkulasi udara tetap hidup karena kalian jelas tidak punya jendela.” Sang kapten kemudian berlalu meninggalkannya.
Juan menunggu hingga seluruh polisi dan para petugas kebakaran sudah pergi sebelum ia maju ke arah gerombolan karyawan dengan seragam berbagai warna itu dengan kedua tangan bertaut. Juan mengedarkan pandangan pada seluruh wajah sebelum menyerukan. “Saya meminta maaf. Tapi sepertinya kalian tidak bisa bekerja hari ini. Terlalu berbahaya.”
Terdengar suara erangan tidak setuju dari beberapa mulut. Juan menyadari ada beberapa manager dari setiap tenant menghampirinya dari arah berlawanan.
Ia sudah tahu hari ini akan menjadi hari yang panjang...