Menjadi Tahanan

1221 Kata
Di sebuah kamar luas dan mewah, Kana memutar tubuh meneliti seluruh ruangan secara liar. Keningnya mengernyit dalam kala menyadari dirinya telah berada dalam sana. Bahkan jalan menuju kamar ini tidak di ketahuinya, mengingat pria bernama Roand membawanya ke sini dengan menutup matanya memakai kain hitam. "Kamar siapa ini?" Tanya Kana memandang Roand yang berdiri di ambang pintu kamar. "Kamar ini sekarang milik, Nona Kana." Kana menatap aneh pada Roand yang tiba-tiba menjadi ramah terlihat dari senyum di bibir pria tersebut. Padahal sewaktu di penjara tadi, Kana di todong senjata dan berniat di bunuh olehnya. 'Kamar? Yang benar saja! Ini seperti penjara untukku! Seluruh jendela di lapisi besi dan hampir setiap sudut ruangan ada CCTV, apa-apaan ini!' ucap Kana di dalam hati. "Aku tidak mau! Aku tidak ingin berada di sini, biarkan aku pulang!" Kana berniat menerobos pintu kamar dengan berlari keluar dari sana. Namun, Roand langsung menahan bahu Kana. Kana mundur beberapa langkah setelah menepis tangan Roand. "Maaf, Nona. Atas perintah Tuan Zaro, anda tidak bisa meninggalkan kamar ini. Sekarang anda akan tinggal di sini." Tegas Roand, namun beberapa detik dia kembali berucap. "Seluruh keperluan Nona sudah di lengkapi di kamar ini dan nanti akan ada pelayan yang membawa makanan secara rutin. Silahkan anda membersihkan diri dan beristrahat, aku permisi." setelah Roand berkata demikian. Dia memutar langkah dan berlalu keluar kamar. Klek! Suara pintu di kunci menjadi pentanda Kana benar-benar di kurung dalam kamar. Kana panik, segera menuju pintu kamar lalu menggedornya dan berteriak meminta di lepaskan, namun sepertinya semua sia-sia. Kana menyerah, dia berjalan menuju tempat tidur menatap ranjang dengan tatapan kosong. "Barang-barangku di ambil, bahkan handponeku! Bagaimana caranya aku bisa mengabari Nenek ... " Napasnya terhela berat, mengingat jika hari ini seharusnya jadwal penerbangan untuk dia pulang ke negaranya. Harusnya, namun faktanya dia di jadikan tahanan dan di kurung di tempat itu! "Mengapa? mengapa aku bisa terjebak di situasi ini? Bahkan pria tidak waras itu memaksaku menikah! Apa salahku Ya Rabb?" Lirihnya frustasi. Kana menyudahi acara merenungi nasibnya yang buruk, dia melangkah menuju kamar mandi. Mungkin di sana dia bisa menyegarkan otak sejenak lalu memikirkan cara untuk kabur dari rumah ini. Yah, kana harus tetap hidup untuk membongkar kejahatan para penjahat itu. Dia tidak ingin mati konyol atau bertindak gegabah karena frustasi dia akan bunuh diri? Oh, tidak. Itu adalah hal yang sangat di benci oleh Allah. Kana hanya harus bersabar menanti celah untuk bisa keluar dari dunia pria tidak waras itu. "Semangat Kana! Kau pasti bisa! " Penyemangat tak lain adalah diri sendiri. Setelah berendam di bak mandi bagaikan hotel bintang lima di negaranya, Kana segera keluar dan menuju lemari baju. Sekarang dia masih memakai pakaian lengkapnya, meski kamar ini katanya miliknya dia tidak boleh seenaknya. Kalian tidak lupakan CCTV di setiap sudut ruang kamar? Tidak mungkin dia keluar kamar mandi hanya memakai handuk? Untung saja kamar mandi itu bebas CCTV, hanya itu tempat teramannya sekarang. "Aku pinjam bajunya Tuan tidak waras. Tidak mungkin kan, aku memakai pakaianku yang kemarin?" Dia membuka lemari dan... "Apa-apaan ini!" Kana shock melihat jejeran pakaian bermerek di gantung cantik di sana. Bukan! Kana bukan wanita cinta kemewahan, dia tidak terlena dengan pakaian mewah itu. Namun lebih tepatnya, pakaian itu sangat tidak pantas untuknya. "Pakaian kurang bahan seperti ini tidak waras jika aku memakainya. Aku ini wanita muslim dan menutup aurat itu wajib!" Omelnya kesal. Diapun menutup pintu lemari kasar dan duduk di atas ranjang. Krukkk Krukkk Memalukan! Dia sekarang malah lapar! Yah, tidak salah sih. Dia hanya makan tadi malam, tentu pagi ini cacingnya minta makan. "Huff ..., kapan aku bebas dari penjara ini?" "Tidak akan!" Kana tidak mungkin menjawab pertanyaannya, kan? Terus siapa yang bicara itu? "Pria tidak waras!" Kata Kana hanya menyerupai gerakan bibir. Pria yang benama Zaro itu telah berdiri bersandar di pintu dengan gaya sombongnya. Tangannya di silang di d**a. Entah sejak kapan Zaro dan seorang wanita memakai pakaian pelayan ada di samping pria itu masuk? Kana tidak menyadari. "Lakukan tugasmu dan segera keluar." Kata Zaro pada pelayan tersebut. Buru-buru wanita berumur sekitar 40-an meletakkan nampan berisi makanan, mempersilahkan kana makan dan setelahnya dia pamit keluar. Tinggal Zaro dan Kana. "Kau tidak mengganti pakaian?" Kening Zaro mengerut memperhatikan penampilan Kana yang masih duduk di atas ranjang. Kana memutar mata, "kalau begitu, biarkan aku pergi dan mengganti pakaian di rumahku." Jawab Kana asal. "Dan setelahnya kabur? Ide yang bagus, Nona! Dalam lemari semua pakaian wanita, apa yang salah?" Tanya Zaro menunjuk lemari pakaian lewat ekor mata. Zaro berjalan ke arah Kana, namun berhenti beberapa meter. "Apa yang salah? Anda kira aku wanita apa? Aku bukan wanita yang banyak di tempat club malam, memakai pakaian seksi, dan membuka aurat. Anda ini tidak peka sekali!" Coba pikirkan perasaan Kana sekarang. Bagaimana kesalnya menghadapi pria tidak waras sekaligus tidak peka itu! Apa dia buta? Jelas-jelas Kana ini seorang muslimah! Zaro diam beberapa detik sambil mengotak atik ponselnya sampai kemudian, Roand masuk ke dalam kamar. "Roand, tukar semua pakaian dalam lemari dengan pakaian wanita muslimah seperti dia, dan juga kebutuhan beribadah untuk gadis itu segera siapkan." "Baik, Tuan Zaro." *** Dalam ruang kerja milik seorang pria yang duduk di tempat kebesarannya, sedang mencoret-coret beberapa kertas yang kemudian di lempar asal ke ujung meja kerjanya. "Apa-apaan semua laporan sampah ini?!" Amuknya murka pada karyawan wanita yang berdiri gemetar di depannya. "M-maaf, Bos. Saya sudah mengerjakan laporan proyek itu satu minggu dan semua sudah saya periksa dengan teliti," Jawab si wanita menunduk takut. "Kau bilang teliti? Aku sudah memberimu dua kali kesempatan untuk merubah laporan itu menjadi benar, jika ketiga kalinya hasilnya masih tetap sampah keluar dari perusahaanku!" Kata pria itu tajam. "Saya akan bekerja lebih keras lagi, Pak." "Pergi, aku tidak butuh omong kosongmu, buktikan kalau kamu memang pantas bekerja di sini!" "Baik pak!" Tuk tuk tuk... Namun sebelum wanita itu undur diri dan keluar ruangan, suara ketukan pintu mengalihkan perhatian mereka. "Masuk." Pria itu berucap. Ternyata yang masuk adalah Roand, sekretaris Zaro. "Kenapa diam? Cepat keluar dan kerja dengan benar!" Katanya menatap tajam karyawannya. "Maaf, Pak. Saya permisi!" Sekarang tinggal dua orang tersebut dalam ruangan itu. "Ada apa?" "Kami sudah menemukan kamera itu, Tuan Zaro." Sebenarnya Zaro adalah ketua Mafia yang juga seorang Presdir di perusahaan ternama di kota itu. Dan Roand adalah tangan kanannya sekaligus sekretarisnya. "Bagus, hancurkan bukti itu!" Kata Zaro menggengam selembar kertas dan meremuknya hingga tak berbentuk. membayangkan jika itu adalah benda tersebut. "Tapi, Tuan ..." Roand sedikit berpikir sebelum mengatakannya. "Ada apa?" "Menghancurkan kamera itu hanya sia-sia karena memori SD telah di pisahkan sebelum kamera itu di buang dalam tempat sampah." Jelas Roand membuat amarah Zaro makin terlihat. "Dasar gadis licik!" Maki Zaro memukul meja keras. Roand tahu jika Tuannya sangat marah mengetahui fakta itu, bahkan diapun terkejut saat memeriksa kamera itu pertama kali. Roand mengakui kepintaran Kana. Menurutnya, Kana bukanlah gadis bodoh karena di saat keadaannya terancam otaknya masih bekerja baik untuk mengambil memori dan membuang kameranya. "Tenang saja, Tuan, kami akan mencari bukti itu sampai dapat lalu menghancurkannya." Zaro langsung menatap Roand datar. "Kau pikir mudah mencari benda sekecil itu! Hanya ada satu cara agar gadis itu diam dan tidak membongkar identitas kita." "Apa maksud anda dengan menikahi gadis itu kita akan terus menahannya?" Itulah yang Roand pikirkan dan biasanya tebakannya selalu benar. "Yah, begitulah," Senyum evil Zaro terlihat lebih mengerikan di banding suara auman harimau. -Bersambung....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN