Sebelas: Say Cheese

1333 Kata
Suasana lantai 3 saat istirahat kedua, tak seperti biasanya. Lantai yang dihuni oleh para tingkat teratas di SMA ini, justru terlihat cukup lengang. Hanya beberapa yang berlalu lalang di sepanjang koridor, padahal biasanya akan ada keributan baik dari kejar-kejaran, orang berpacaran hingga para siswi yang bergosip di sepanjang koridor. Semua pintu kelas tertutup rapat, tak terkecuali kelas 12 Mia 3. “Lemparin baju gue cepet, mau ganti nih.” “Bajunya kok masih bau cat sih?!!” Sepertinya keriuhan di lorong berpindah ke dalam kelas. Saat ini para murid perempuan kelas 12 Mia 3, sibuk mempersiapkan diri untuk sesi foto buku tahunan selanjutnya. Setelah berfoto formal dengan wali kelas mereka Miss Prapti, kini semuanya bersiap mengambil foto sesuai tema kesepakatan mereka kemarin yaitu Colorfun. “Ck, Gilda. Cermin gue siniin, gue belum pake bedak sama lipice nih.” Wilsa menatap sebal Gilda yang sudah menjarah tempat duduknya. “Lo mah gak perlu cakep-cakep elah.” “Songong banget lu, anjir.” Gilda tak memperdulikan protes Wilsa dan masih sibuk menyisir rambutnya. “Fi, menurut lo rambut gue diiket atau digerai?” “Diiket aja Gil, kalau lo gak usah ribet-ribet.” Fiona yang masih sibuk mengepang rambut Kinan, kembali fokus ke pekerjaannya. Bahkan gadis itu belum berdandan sedikitpun. “Tapi bukannya ntar malah keliatan bulet ya muka gue?” Gilda menggerakan kepalanya, melihat wajahnya dari berbagai sisi. “Apa gue kepang aja kayak Kinan gitu ya?” Pletak Kinan memukul kepala Gilda dengan botol parfumnya. “Jangan ngerepotin Fiona lah! Dia aja belum siap-siap. Jangan mikirin diri lo doang!” Omel Kinan, tak memperdulikan fakta bahwa dia lah orang yang sudah membuat Fiona tak jadi berdandan. “Udah selesai.” Gumam Fiona mengambil kaca sedang yang ia pinjam dari Yola, menunjukkan kepangan melintang yang ia buat. Kinan tersenyum gembira. “Thanks Fi, sorry ya ngerepotin. “Ayo Gil, lo udah kan? Ayo susul Okta sama Nisa, pasti udah pada nyari adik kelas cogan buat foto bareng.” Paksa Kinan menarik Gilda yang baru selesai menguncir rambutnya, kedua cewek tersebut langsung meluncur keluar. “Akhirnya pergi juga.” Gumam Wilsa lega, meraih kembali cerminnya dan mulai berdandan. Kini Fiona yang bingung bagaimana mengepang rambutnya, ia tidak mungkin mengepang dengan sebelah tangan yang memegang cermin. Ia melirik ke sekelilingnya yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing, teman-temannya yang lain masih belum kembali dari ruang ganti meski tak perlu dikhawatirkan karena mereka sudah berdandan duluan. kecuali Yola yang kini asyik menjadi fotografer dadakan. “Ayo sini gue bantuin.” Entah darimana munculnya, Aksa langsung meraih cermin tersebut dan menghadapkannya kearah Fiona. Pemuda itu sudah rapi memakai kaos putih yang sudah dicoret-coret abstrak dengan cat yang dipercikkan keatasnya, seragam kelas mereka untuk tema kali ini. Aksa pun tak perlu repot-repot untuk berdandan, ia hanya menyisir rambutnya dan memakai bedak biasa. “Harusnya lo urusin diri lo sendiri, baru bantuin Kinan.” Komentar Aksa memperhatikan Fiona yang fokus membuat kepangan setinggi dahinya. Ia memberikan jepitan di dekatnya, dan memberikannya pada Fiona. “Jadinya lo sendiri kan yang kelabakan.” “Sejak kapan sih lo bawel?” Fiona meraih bedaknya dan mulai menyapukannya secara tipis-tipis. “Berasa di omelin pacar tau gak.” Ledeknya menatap Aksa geli. “Emang harus jadi pacar lo dulu, biar lo boleh gue omelin?” Tanya Aksa balik. Yang justru membuat gerakan Fiona yang ingin memakai lipice nya terhenti. “Kenapa diem?” “Enggak, aneh aja.” Fiona memasukkan peralatannya ke dalam tas makeupnya lalu mencubit pipi Aksa cukup kencang. Hal yang jarang ia lakukan. “ Hari ini lo bawel banget.” Ckrik Tanpa keduanya sadari, Yola memotret adegan tadi dan melihat hasilnya. Fiona pasti senang kalau dia memberikan foto ini. Senyum Yola surut, saat tak sengaja matanya melihat kearah koridor. Disana Oji dan Rasha seperti bertengkar hebat, dan Yola benar-benar penasaran apa yang dibicarakan mereka. “Jangan ikut campur Yol. Inget, jangan ikut campur. ******* “Jadi kamu gak mau cerita, dari siapa kamu dapetin video waktu itu?” Rasha menatap sebal Oji, yang sedari tadi menunjukkan video Fiona yang ia berikan setahun yang lalu. Video dimana Fiona mengucapkan kata ‘Aku mencintaimu’ sembari mengenggam tangan seseorang pemuda di sebuah cafe. “Itu udah 1 tahun yang lalu Ji, aku gak inget siapa yang ngasih.” Rasha mematikan video tersebut. “Lagian kenapa sih kamu ungkit hal ini lagi? Kamu gak percaya sama aku?” “Kata kamu temen deket kamu yang ngirimin kesana. Temen deket kamu yang mana Rasha?” Oji menatap dingin kekasihnya. “Aku udah nanya ke semua temen deket kamu dan mereka ngaku bukan mereka yang rekam. Temen deket kamu yang mana?” “Temen SMP aku puas?!” Bentak Rasha tak suka didominasi seperti tadi, apalagi di tengah-tengah koridor yang dilalui banyak orang seperti ini. “Lagian kenapa sih kamu nanya hal ini lagi? Mau mastiin video itu bener atau enggak? Mau nyari alasan biar kamu bisa putusin aku, dan balik ke Fiona? Bener ya, dia itu emang licik. Sejak pesta-“ “Cukup Rasha.” Potong Aksa terlihat begitu marah dan bingung. “Kamu kan yang bikin hubungan ini rumit, apapun itu pasti kamu sangkut paut in sama Fiona. Aku telat jemput, kamu udah marah-marah ngira aku sibuk bareng Fiona. Harusnya aku yang tanya kamu kenapa?!” “Belain aja terus si Fiona! Sekalian selingkuh aja sama dia.” Gumam Rasha dingin, berbalik menuju kelasnya. “Maaf Ji, kalau gue boleh tau video apa yang lo maksud?” Oji menoleh mendapati teman sekelasnya Nisa, sudah berada di dekatnya sembari membawa tongsisnya. “Waktu kelas 11 gue dulu deket sama Rasha, mungkin gue bisa tau video itu dikasih siapa.” Oji hampir melupakan hal itu, dengan cepat ia menunjukkan video tersebut. Sesekali Nisa mengernyit saat melihat video tersebut, dan beberapa kali juga ia mengulangi video tersebut dari awal. “Kok videonya gak lengkap ya?” Oji mengernyit. “Gak lengkap? Maksud lo?” Nisa menggaruk tengkuknya, memperhatikan sekelilingnya takut-takut ada anak cheers atau teman dekat Rasha yang lewat. “Duh gue gak tau nih, pantes diomongin atau enggak.” “Tenang, gue gak bakal kasih tau Rasha kalau lo yang bilang.” Oji tau jelas, Nisa takut dilabrak oleh Rasha dan menjadi bahan gosip-an. “Temen-temennya pada di kelas semua.” Lanjutnya berusaha menyakinkan, Nisa tersenyum masam. “Kayaknya video itu dipotong deh.” ***** "Lo gak foto sama gue?" Fiona yang baru saja selesai berfoto ria dengan teman-temannya hanya tersenyum kecil melihat Aksa yang mengajaknya berfoto dengan canggung. Setelah sesi foto bersama, kelas 12 memang dibebaskan dari jam pelajaran berikutnya untuk berfoto bebas bahkan boleh pulang cepat. Fiona menepuk pundak Yola, mengalihkan kesibukannya dari kameranya. "Fotoin gue dong sama Aksa." pintanya melirik Aksa yang berlagak cool sembari memainkan ponselnya sendiri. "Yaudah ayo." Yola sudah bersiap mengangkat kameranya. Radi, Adit, Hafi, dan Raka yang awalnya berdiri di dekat Aksa ikut menyingkir dan berkumpul didekat Yola. "Tunggu Pj aja ini mah.." Ledek Adit jahil. "Vin lo gak foto sama gue?" Tanya Raka menggoda Davina yang berdiri disebelahnya. "Ogah." Davina langsung mendekatkan dirinya kearah Hafi. "Mending gue sama Hafi, dibanding sama makhluk astral kayak lo!" Hafi berdecak pelan. "Kok gue jadi kena sih." Ia menyugar rambutnya penuh percaya diri. "Gue emang ganteng kok."Ucapnya penuh percaya diri. "Iyain biar cepet." Davina kembali menatap kearah Aksa dan Fiona yang berdiri berjauhan. "Lo berdua mau foto bareng, atau mau foto ijazah sih? kaku amat." "Rangkul lah,Sa." Goda Radi tak kalah gencar, ia pun merangkul Adit disebelahnya. "Perlu gue contohin?" "Gue gak mau ngerangkul." Aksa menarik tangan Fiona, dan melingkarkannya di lengannya. Gerakan kecil yang membuat teman-teman mereka semakin heboh. Aksa menatap Fiona yang geleng-geleng tak habis pikir. "Bikin heboh nih ceritanya?" "Gak papa, gue gak mau disamain kayak Oji yang ngerangkul lo setiap berfoto." Gumam Aksa membuat Fiona terkejut akan jawabannya. "Itu bisa disebut kode gak sih?" "Gak tau." Fiona mengalihkan pandangannya, kembali geleng-geleng kepala karena tak mengerti apa yang mereka bicarakan saat ini. "Udah ah, katanya mau foto." Aksa hanya terkekeh, dan ikut melihat ke depan. Yola kembali bersiap dengan kameranya. "Say cheese~"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN