Dua Belas: Impian

821 Kata
“Lo mau ikut atau nggak?” Aksa mengernyit saat Fiona memintanya mampir ke sebuah toko kain kecil yang ada di pinggir jalan perkampungan. Saat mendengar bahwa gadis itu hendak memilih bahan untuk seleksi sekolahnya, ia kira yang akan ia datangi adalah sebuah toko kain besar yang berada di mall atau ruko-ruko. “Lo yakin mau beli bahan disini?” Heran Aksa saat dirinya sudah benar-benar di depan toko yang sudah terlihat usang tersebut. “Buat desain nanti kan?” “Jangan salah Sa, toko Mang Arif ini kualitasnya juga bagus. Gak kalah sama yang ditoko lain.” Fiona menarik Aksa untuk segera masuk ke dalam toko. “Mang Arif..” Seorang pria berambut klimis yang sedang menyusun kain-kainnya menoleh dan tersenyum ramah kala melihat Fiona yang menyapanya. “Neng Fiona, aduh udah lama ya neng gak kesini lagi. Duduk Neng ajak juga si A’a ganteng.” Sapa Mang Arif memberikan 2 bangku plastik hijau ke hadapan mereka. “Mau dibuatin minum gak Neng sama Teh Ida gak? Baru pulang dari sekolah kan Neng?” “Gak usah Mang, setiap Fiona kesini pasti ngerepotin mulu. Kebetulan hari ini pulang cepet, jadi bisa mampir ambil bahan. “Fiona menyikut Aksa yang hanya sibuk melihat-lihat toko kecil Mang Arif. “Temen saya Mang, namanya Aksa.” “Aksa Mang,”Gumamnya menyambut uluran tangan Mang Arif. “Mang Arif.” Mang Arif menatap Fiona dengan senyum menggoda. “Pacar ya Neng?” Fiona langsung menggeleng kuat-kuat. “Bukan Mang, cuman temen.”Elaknya menatap Mang Arif sedikit sebal. “Bahan yang saya pesen udah ada Mang?” Mang Arif mengangguk semangat. “Ada Neng, bahan yang Neng bilang buat Long Coat itu langka banget, saya sampai nyari ke produsen kainnya langsung Neng. Memang agak mahal dari harga kain yang lain, tapi khusus buat Neng Fio saya kasih diskon.” “Makasih ya Mang...” ****** “Kenapa lo mau jadi desaigner?” Fiona yang sedang mengusir kebosanannya dengan melempar batu kearah danau, mau tak mau menoleh. Aksa melirik kedalam mobilnya yang sudah terisi beberapa kain yang Fiona beli dari Mang Arif. “Biasanya cewek kan lebih milih jurusan yang pekerjaannya udah pasti posisinya. Kayak kedokteran, guru, Stan atau gak jurusan bisnis.” “Yang pasti karena gue gak terlalu bagus dalam matematika.”Sahut Fiona cepat. Aksa tertawa sumbang. “Tapi selalu masuk 10 besar ya..” “Lo lebih parah.” Fiona menunjuk Aksa. “Selalu juara 1 dikelas, tapi banting stir ke politik yang jelas-jelas lintas jurusan.” Aksa tergelak. “Jangan bahas gue, yang gue tanyakan lo.” “ Karena ini kesukaan gue Sa. Apalagi?” Fiona menunjuk rok berbahan jeansnya. “Rok ini gue bikin dari gue SMP. Keisengan yang justru buat gue yakin buat jadi seorang desaigner.” “Gue suka saat melihat cewek cantik terus membayangkan kalau dia cocok sama apa, menggambar desain gue, atau bisa bikin orang lain tersenyum saat dia minta tolong gue buat bikinin dia baju. This my world, mungkin lo gak ngerti apa bagusnya berkutat ditengah gambar, kain, bahkan jarum.” Fiona berhenti sesaat, lalu tersenyum lebar kearah Aksa. Sebuah senyuman yang membuat sudut lain hati Aksa berbicara, sudut yang menamparnya keras akan perasaan yang muncul mendadak itu. “Impian gue adalah semua orang bukan hanya di Indonesia,bisa senang ketika memakai hasil rancangan gue. Dan gue yakin ESMOD adalah salah satu jalan menuju itu.” Dan impian lo itu menjadi alasan kuat kenapa gue harus jatuh cinta sama lo. Batin Aksa menimpali. ******** “Video itu sempat gempar di kalangan anak SMA Garuda, soalnya cowok yang di video itu adalah cowok populer di sana. Dan seinget gue, waktu itu ada 1 menit lebih videonya.” Oji menatap tanda ‘Ruang Musik’ di depannya, kata-kata Nisa terus terngiang dikepalanya sedari tadi. Ia tak memperdulikan tatapan murid SMA Garuda yang tertuju kearahnya sembari berbisik-bisik. Pasalnya almamater Hijau tua SMA Bhakti negara terlihat aneh ditengah-tengah murid SMA Garuda yang beralmamater hitam. “Ada perlu sama siapa ya?” Oji tersentak, saat seorang pemuda menyapa dirinya. Ditangan pemuda itu terpegang buku-buku partitur lagu yang tak Oji pahami. Pemuda itu menyodorkan tangannya. “Gue Gio, anggota klub musik. Mungkin ada yang bisa gue bantu?” “Fauzi, panggil aja Oji.” Oji balas menjabat tangan Gio, ia melirik ruang musik yang tertutup rapat. “Gue nyari Rendra Devian, ada disini?” “Dia ada di Jepang saat ini. Lomba menyanyi tingkat internasional, pulangnya mungkin 3 minggu lagi sehabis UAS.” Gio mengambil ponselnya dari dalam saku almamater. “Kalau lo ada perlu sama dia, lo bisa kasih nomor lo ke gue biar gue hubungin lo pas dia balik.” Oji mengangguk, meraih ponsel tersebut dan mengetikkan nomor telponnya. “Thanks.” “Kalau gue boleh tau, lo ada urusan apa sama Rendra?” Gumam Gio tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Oji hanya tersenyum masam dan menyerahkan kembali ponsel Gio. “Ada yang perlu gue pastiin sama dia.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN