Tiga Belas: Kenapa?

1499 Kata
“Itu belum bersih jendelanya.” Alex berdecak, menatap kesal Wilsa yang sedang memegangi kursi yang ia naiki untuk membersihkan jendela kelas. Hari ini SMA Bhakti Negara sengaja tidak mengadakan KBM dan justru menyuruh murid-muridnya membersihkan kelas karena Senin nanti mereka sudah melakukan UAS. “Kurang bersih gimana sih?!” Alex menunjuk jendela kelas yang menurutnya sudah bersih. “Mending lo yang bersihin sendiri deh!” kesalnya mengacungkan lap yang ia pegang. Wilsa menunjuk kakinya yang sedikit di perban. “Lo gak liat? Gue habis ketabrak motor. Ya kali gue naik-naik kursi!” “Yaudah gak usah bawel!”Kesal Alex kembali melanjutkan pekerjaannya. “Sini semprotannya.” Wilsa dengan malas menyerahkan semprotan berisi cairan pembersih jendela ditangannga. Tanpa sengaja ia melirik kearah Fiona yang justru bercanda dengan Aksa sembari membersihkan koridor. “Duh kapan gue kayak gitu.” “Hah?” Alex ikut menatap kearah yang Wilsa lihat. “Oh si Fiona sama Aksa. Mereka mah tinggal tunggu adegan tembak-menembak aja.” “Kapan ya gue bisa punya pacar yang care sama gue, tapi sama cewek lain pendiem kayak Aksa.” Wilsa membenarkan poninya yang menutupi matanya. “Dibanding jomblo mulu kayak gini. Boro-boro pacar, gebetan aja gak ada.” “Kalau gue mau jadi gebetan lu gimana?” “Yaudah..” Wilsa langsung terkesiap saat menyadari ucapan Alex. Pemuda itu sudah tersenyum jahil, meski pura-pura sibuk melap jendela. “Apaan sih lo Lex?! Ngisengin orang mulu “ Gerutu Wilsa melepas pegangannya, menyebabkan kursi yang dinaiki Alex bergoyang karena sudah reyot. “Lah jangan dilepas lah.” Panik Alex berusaha menjaga keseimbangannya saat Wilsa sudah berjalan masuk ke dalam kelas dengan kesal. Brugh “Mampus!” ****** “Sini gue bantuin.” Fiona terkesiap saat Oji sudah ikut membantunya mengangkut meja dari gudang untuk pengganti bangku dan meja yang sudah rusak. Cowok itu menoleh dan menatap sebal Fiona yang hanya terpaku ditempatnya. “Ayo lah! Gue bantuin angkat meja doang, bangku mah lo yang bawa.” Fiona tersenyum masam dan menarik bangkunya. “Jangan lama-lama! Nanti diomelin Adin kita...” Oji menatap Fiona yang kepayahan untuk menaiki anak tangga sembari mengangkut bangku. Padahal Oji lebih parah, karena mengangkut bangku dengan memanggulnya di bahunya. “Harusnya lo jangan diet habis-habisan pas kelas 10, kehilangan tenaga kan lo jadinya.” “Gak usah ungkit berat badan gue.” Fiona mendengus kesal. Dia memang dulu terbilang gendut, tapi karena diet habis-habisan ia justru sakit dan menyebabkan berat badannya turun drastis. “Lo aja suka gue pas kurus kan. Coba kalau gak, bakal kita pacaran.” Oji tak menjawab, kembali melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga. Hingga di anak tangga terakhir menuju lantai 2, perkataan Oji membuat Fiona terkejut. Walaupun hanya berupa gumaman, Fiona masih bisa mendengarnya jelas. “Gue suka lo pas gendut kok.” ****** “Kenapa tadi gak ngajak anak cowok aja sih?” Aksa mengambil alih kursi di tangan Fiona saat gadis itu muncul dari tangga dengan nafas terengah-engah. Bayangkan saja menaiki 34 anak tangga sembari membawa bangku yang cukup berat,siapapun pasti akan kecapekan bukan? Oji tak memperdulikan tatapan kaget Aksa saat melihatnya menyusul di belakang Fiona. Ia hanya meletakkan meja itu di dekat Fiona sembarangan. “Gue balik ke bawah lagi ya. Ambil air buat ngepel. Mejanya lomasukkin kelas aja.” Pesan Oji singkat sebelum kembali menuruni anak tangga. “Makasih Ji!” Pekik Fiona yang dibalas pemuda itu dengan acungan jempol. Fiona tak menyadari sama sekali perubahan raut wajah Aksa. “Udah ayo, masukkin mejanya.” Aksa mendengus malas, mengangkut mejanya dan berjalan bersisian dengan Fiona yang menyeret bangkunya. “Lo tadi ajak Oji?” “Enggak. Tadi gue minta tolong Raka tapi dia malah kabur.” Fiona menyeka keringat di dahinya sebentar. “Untung ada Oji mau bantuin, coba kalau gak udah tepar di tengah tangga kali gue. “ Grek Aksa langsung memanggul kursi tersebut dan berjalan cepat-cepat tanpa memerdulikan Fiona. Dan untuk pertama kalinya Aksa tak ingin melanjutkan pembicaraan mereka. Entah kenapa untuk pertama kalinya juga kuping Aksa panas mendengar nama Oji disebut Fiona. ***** “Lo kenapa sih?” “Hah?” Aksa yang sedaritadi diam sembari menyetir, mengernyit bingung. Cowok itu membenarkan letak kacamatanya sebentar sebelum menatap Fiona aneh. “Apa?” Fiona menghembuskan nafasnya kesal. “Dari tadi diem aja. Gue tanyain cuman jawab ‘oh’ atau gak ‘iya. Lo kenapa sih?” Aksa tak menjawab, kembali fokus menyetir. Membuat Fiona semakin kesal dibuatnya, ia hanya mengalihkan pandangannya ke jalanan di depannya. Mencoba menikmati suasana toko-toko yang dilewatinya, ataupun beberapa tempat nongkrong yang mulai dipadati di sore ini. Berharap dengan melewatinya, perasaan kesal Fiona bisa terlupakan. “Thanks,tumpangannya.” Gumam Fiona meraih cepat-cepat tasnya. Ia hanya ingin keluar secepatnya dari suasana canggung ini. “Tunggu Fi.” Aksa menahan pergelangan tangan Fiona sembari berdecak. Gadis itu menatapnya dengan pandangan memaksanya untuk berbicara secepatnya. Aksa mendesah dan menyugar rambutnya yang mulai panjang sesaat. “Bisa gak, gak usah terlalu deket sama Oji?” Pinta Aksa dengan nada serius. “Gue gak suka.” “Cemburu?” Gumam Fiona tanpa sadar, yang menyebabkan Aksa membulatkan matanya kaget. Menyadari kata-katanya, Fiona langsung tersenyum lebar. “Tenang aja, gue gak bakal terlalu deket sama dia. Bisa-bisa digorok Rasha gue.” Aksa terkekeh pelan, ia mengacak pelan rambut Fiona. “Yaudah sana masuk, Tari bisa ngomel-ngomel kalau gue pulang telat lagi.” Fiona berdecak, menyentakkan tangan Aksa yang sudah membuat rambutnya acak-acakan. “Dasar tukang bawel.” *** Gilda Payra messages on ’12 Mia 3’ group Gilda Payra: Eh ruang 6 dimana eh? Diitung dari bawah atau diatas? Aksa Hermawan: Bawah. Dari 10 Mia 1. Gilda Payra: Duduknya bareng adek kelas? Aksa Hermawan: y Fiona berusaha menahan tawanya membaca balasan chat dari Aksa itu. Ia tak ingin masker yang ia pake jadi berantakan karena dirinya terlalu banyak tertawa. Ia bisa melihat beberapa temannya yang mulai membalasi pesan tersebut. Nayara Wulan: Sakit gue bacanya :’v Dena S.A: Gue juga Nay :’v Aksa Hermawan: Kenapa emang? Fiona tak bisa menahan tawanya lagi. Gadis itu langsung tertawa terbahak-bahak hingga masker tomatnya sedikit berceceran di meja belajarnya. Ia tak memperdulikan Nuga yang sudah memukul dinding karena merasa diganggu istirahatnya seterah pulang dari pekerjaan magangnya beberapa bulan ini. Dengan cekatan Fiona me-reply pesan Aksa. Fiona.G.Sastra: Bodo Sa bodo. 😂 Saskya Baskoro: Emang gek Aksa doang... Zahra Wijanarko: NGAKAK ONLINE! Zahra Wijanarko: Oh iya, lupa ngasih tau. Habis UAS, jangan lupa dateng ke ultah Dena ya. Tanggal menyusul... Fiona meraih handuknya dan bergegas ke kamar mandi di luar kamarnya. Batal sudah niatnya untuk bermaskeran sebelum tidur, memakai bedak dingin pun sudah malas sekali rasanya. Itulah kenapa ia hanya mencuci mukanya dan kembali ke dalam kamar. Ia meraih ponselnya diataa meja belajar, dan merebahkan dirinya diatas kasur sebelum membuka hpnya You got messages from Aksa Hermawan Aksa Hermawan:Emang kenapa itu? Fiona.G.Sastra: Apanya? Aksa Hermawan: Di grup Fiona.G.Sastra: Lo balesnya kurang singkat, Sa 😂 Aksa Hermawan: oh Aksa Hermawan: Vidcall? Fiona langsung terkesiap ketika tiba-tiba Aksa menghubunginya untuk melakukan vidcall. Ia langsung duduk bersandar di kepala kasur sebelum menjawab panggilan tersebut. Tak butuh waktu lama, hingga wajah Aksa muncul di layar ponselnya. Dari latarnya nampaknya cowok itu berada di ruang tamu rumahnya. “Tumben.”Gumam Fiona, bisa melihat kerutan dahi halus Aksa yang menandakan bahwa pemuda itu penasaran akan kata-kata selanjutnya. “Biasanya cuman chat kalau udah jemput di depan rumah doang. Tumben ngajak vidcall.” Aksa memutar bola matanya sesaat dan bergumam tak jelas. “Sekali-kali?”Ucapnya terdengar tak yakin. “Kenapa belum tidur?” “Belum ngantuk.” Fiona mengucek-ucek matanya yang sudah merah, berusaha masih terlihat segar. “Lo sendiri?” Aksa mengarahkan kameranya ke arah Gibran, adik bungsu Aksa, yang tertidur di sofa berselimut sembari memeluk stick ps. “Tadi nemenin Gibran tanding main PES. Maklum orang tua keluar kota mulu ngindarin mahasiswanya jadi gue yang urus adik-adik gue.” Jelasnya sembari mengarahkan kamera kembali ke wajahnya. Fiona mengangguk kecil. “Kalau gue lolos ujian nanti, lo kasih hadiah apa ke gue?” “Hadiah? Emang kapan pengumumannya?” Aksa berdeham sebentar. “Lo mau apa emang?” tanyanya menatap lembut Fiona yang mengetuk-ngetuk dagunya seolah berpikir keras. “Pengumumannya barengan sama pesta ultah Dena.” Fiona membenarkan letaknya sebentar. “Lo nawarin apa?” “Ya seterah lo.” Aksa menyugar rambutnya yang sudah lumayan panjang. “Lo mau apa? Traktir? Nonton? Shopping? Jal-“ “Kalau gue minta kejelasan hubungan kita gimana?” Aksa tersentak mendengar ucapan Fiona. Matanya sedikit membulat, tak percaya bahwa Fiona akan mengatakan hal tersebut. Menyadari ucapannya, Fiona ikut tersentak dan langsung mengakhiri sambungan vidcall mereka. Perlahan sebuah senyuman muncul di wajah Aksa, bukan senyum singkat yang biasa ia tunjukkan, melainkan sebuah senyuman yang sangat lebar. Tari, yang baru saja turun dari kamarnya untuk mengambil minum mengernyit saat melihat kakaknya yang tersenyum sendiri. “Bang? Lo menyeramkan senyum sendiri kek gitu.” Tegur Tari menatap Aksa horror. Pemuda itu tak mengindahkannya dan mulai mengetikkan pesan untuk Fiona yang ia yakini sedang malu saat ini. Aksa Hermawan: Baiklah, deal with it J
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN