Empat Belas: Lempar Kode Bersambut Hati

1734 Kata
Rasha menatap layar ponselnya dengan panik. Ini sudah 3 minggu Oji tidak menghubunginya sama sekali, tidak menjemputnya pula yang mengakibatkan ia harus menebeng dengan juniornya. Dan sedari tadi pemuda itu tak mengangkat telponnya sama sekali. Ia takut, pemuda itu sudah mengetahui semua rahasianya. Karena salah satu teman cheersnya pernah melihat Oji datang ke SMA Garuda. Drt Drt Drt Oji Calling Dengan cekatan, Rasha langsung mengangkat sambungan telpon tersebut. Tanpa membiarkan Oji mengucapkan salam, ia langsung berbicara cepat dengan panik. “Kamu kemana aja?! Kenapa gak pernah ngabarin aku?!” Di seberang sana, Rasha bisa mendengar suara Oji yang menghela nafas. “Maaf. Aku sibuk buat UAS besok.” “DAN KAMU PIKIR AKU PERCAYA?!” Bentak Rasha kesal. Ia berusaha mengatur amarahnya yang meledak-ledak. “Sejak kapan kamu mentingin hal yang kayak gitu? Kamu bukan murid teladan kayak Aksa Ji, jadi gak usah cari alasan yang gak masuk akal kayak gitu.” Lanjutnya dengan nada mengejek namun tak sekeras tadi. Oji tak bisa menahan tawanya. Tawa yang terkesan mengejek, dan itu membuat Rasha tersinggung. “Kamu tuh aneh ya.” Gumam Oji tak habis pikir setelah gelak tawanya mereda. “Pacarnya mau berubah jadi lebih baik bukannya didukung malah kamu gak suka...” “Berubah?” Rasha pun tak bisa menahan nada sinisnya. “Kamu itu udah gak kayak dulu Oji. Bukan cowok cupu ditengah-tengah anak basket yang diperlakukan kayak babu seperti dulu. Kamu sekarang cowok populer dan merupakan anggota klub basket yang cukup diperhitungkan.” “Dan sejak kapan belajar menjadi hal cupu? Itu kewajiban kita sebagai pelajar bukan?” Balas Oji skakmat. Rasha terdiam dengan kadar kekesalan yang semakin tinggi. “Cuman kamu deh kayaknya mantan aku yang gak seneng liat aku berubah.” “Mantan? Maksud kamu si Fiona kan?” Rasha mendesis tak suka. “Jangan samakan aku sama cewek cupu kayak dia. Mau jadi desaigner, tapi style nya sendiri gak ikutin selera mode. Sebelas dua belas deh sama Aksa, gak heran-“ Tut Tut Tut Dan berikutnya Rasha membulatkan matanya tak percaya. Tak percaya kalau Oji baru saja mematikan ponselnya secara sepihak. Ia berdecak kesal, melemparkan ponselnya kearah kasurnya dan mulai mengumpat pelan. “Sialan.” Lima Belas: Finally (A) From 0835********: Hai, gue Rendra. Kata Gio beberapa minggu lalu lo nyariin gue ya? Gue bisa ketemu lo hari ini Oji yang awalnya bermimik lelah langsung kembali segar setelah membaca sederet pesan tersebut. “Ji, kita berangkat barengan ke pesta Dena kan? Sebelumnya kita hangout bentar yuk.” Ajak Juan merangkul pundak Oji. “Refreshing habis UAS barusan.” Dengan santai, Oji menurunkan rangkulan Juan dari pundaknya. “Sorry, gue ada urusan dulu sebelumnya. Lo pada aja yang duluan, nanti.” Tolaknya dan segera bergegas keluar dari dalam kelas. “WOY JANGAN AJAK RASHA LO YA!” Ancam Davina yang melihatnya keluar kelas dengan cukup kencang, yang dibalas pemuda itu dengan acungan jempol. To 0835********* Gue Oji, ada yang perlu gue pastiin sama lo. Ketemuan di Vilain Cafe jam 6 sore,bisa? ******* “Lo harusnya bilang kalau Mas Dani lagi dirumah...” Dena hanya terkekeh melihat kelakuan keenam temannya yang menatap Kakaknya Dani dengan pandangan memuja, kecuali Aurel yang asyik mencomot irisan kue pisang dihadapannya dan Fiona yang sibuk melap piring. Di halaman tengah, Dani nampak sibuk membuat balon dan menyiapkan dekorasi lain bersama Aksa, Rizky,Raka dan Alex yang sengaja dipanggil untuk ikut membantu. Wilsa menyusun cupcake dari dus ke piring dengan mata tertuju penuh kepada Dani. “Calon iman gue, gantengnya luar biasa.” Mereka semakin histeris saat cowok bermata teduh itu tersenyum lebar menanggapi candaan Raka. “Nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?”Kini giliran Zahra yang ikutan histeris, meninggalkan sepenuhnya didihan sup yang ia urus. “Duh rahangnya minta di elus-elus manja...” “Kalau Ray kalah ganteng sama Mas Gue. Mas Dani kalah ganteng sama sepupunya Fiona.” Dena melirik Fiona yang hanya mengangguk setuju. “Terkenal lagi di kalangan anak muda kayak kita sekarang.” Sontak saja Yola,Wilsa,Zahra, dan Davina menatap Fiona penuh minat. Aurel yang memang tidak terlalu suka akan topik tersebut mengangkat sepiring kue pisang dan beberapa gelas jus jeruk. “Mending gue kasih ini sama mereka deh.” Keluhnya segera berlalu pergi dari dapur. “Saudara lo yang mana Fi?” Yola kini bertanya antusias. “Setau gue Bang Nuga gak terlalu ganteng dan populer.” “Ada, dia kesini bentar lagi. Baru pulang gitu, lagian Kak Dani itu dulu alumni sekaligus mentornya jadi dia mau kesini dulu.” Fiona kini mencomot satu buah brownies saat pekerjaannya sudah selesai. “Ya tunggu-“ “Apa kabar semua?!!” Suara nyaring namun ngebass itu langsung membuat perhatian keenamnya teralih, spontan saja mereka segera berlari menuju ruang tengah. Penasaran akan siapa yang datang dengan penuh keceriaan itu. Fiona yang hafal akan suara itu santai saja saat sosok didepannya berhasil membuat teman-temannya kecuali Dena terperangah. “Devian Jazza!!” ***** “Duh sepupu tersayang gue, kenapa makin kurus aja sih.” Fiona berdecak sebal, menepis tangan Devian yang mencubit pipinya keras-keras. Sepupunya itu terkekeh dan beralih menyalami Dani dan tak lupa memberikan selamat kepada Dena. Sementara kelima temannya itu asyik memfoto Devian diam-diam, bahkan Wilsa sudah melakukan siaran langsung dari akun i********: miliknya. Siapa yang tak mengenal Devian? Penyanyi muda setara Rizky Febian yang terkenal selama 6 bulan ini. Bahkan single duet Devian dengan Rizky Febian berhasil menjadi populer dan terus diputar selama 1 bulan lebih di radio manapun. Seorang penyanyi yang baru saja berhasil meraih penghargaan tertinggi di lomba menyanyi tingkat Internasional yang baru-baru ini diikuti pemuda tersebut “Gimana Jepang?”Tanya Dani berbasa-basi. “Banyak beli komik lo disana?” Devian mengangguk penuh semangat. “So pasti, ke Jepang gak beli komik apa rasanya coba.” Devian melirik Fiona. “Oleh-oleh lo ntar gua anter ke rumah aja ya,Fi.” “Loh emang lo mau kemana?” Fiona menatap Devian bingung, pemuda itu nampak sedang ada janji yang harus ia tepati. “Ada janji?” Devian mengangguk. “Iya, ada yang mau ketemu gue. Bukan sebagai Devian Jazza, tapi sebagai Rendra Devian. Gio juga gak ngasih tau apa urusannya.” “Emh, boleh minta foto bareng ga?” Pandangan Devian teralih, Davina sudah berada di dekatnya sembari memegang ponselnya dengan wajah tertunduk malu. Dengan cepat Devian menarik tangan Fiona hingga mereka menjauh dari teman-temannya. “Itu temen lo?” Fiona mengangguk mengiyakan. “Ya, Kenapa?” Alih-alih menjawab, Devian langsung mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana. “Bagi nomornya.” “Lo bahkan belum tau namanya,Devian...” Fiona mengambil ponsel itu malas dan mulai mengetikkan nomor telpon Davina yang sudah ia hafal luar kepala. “Kenapa gak minta Id Line nya aja?” Heran Fiona mengernyitkan dahi. “Line gue isinya cuman buat bisnis atau teman sesama artis. Nanti kalau chat dari dia tenggelem gimana.” Balas Devian menerima kembali ponselnya. “Davina, nama yang bagus...” “You can’t be her boyfried Dev.” Gumam Fiona mengingatkan. Gantian Devian yang tak mengerti. “Why?” “Karena dia tipe orang yang susah jatuh cinta. Dan dia sedang menyukai seseorang saat ini.” ******* “Lo yakin kita kasih Dena kado kue aja?” Aksa menyerahkan sebuah kotak sedang berwarna merah maroon, yang didalamnya sudah berisi kue Blackforest ukuran besar yang mereka pesan dari sebuah toko kue terkenal. Fiona mengangguk yakin, sembari membenarkan letak tas yang ia sandang. “Percayalah, dia akan lebih senang mendapat hadiah makanan dibandingkan sebuah benda.” Ujar Fiona menunggu Aksa yang sedang mengambil tas berisi pakaiannya. “Bahkan sebuah barang mewah?”Gumam Aksa tak percaya sembari menutup pintu mobilnya. “Bahkan sebuah barang mewah akan nampak biasa di mata maniak makanan seperti Dena.” Fiona tertawa ringan sembari berjalan masuk ke dalam rumah Dena beriringan dengan Aksa. “Jam berapa nanti?” Tanya Aksa melirik jamnya yang sudah menunjukkan pukul setengah 6. “Pengumuman lo nanti.” “Enggak tau, katanya sih bakal langsung dikirim nanti ke email.” Gumam Fiona menaikkan kedua bahunya tenang. “Ya gak tau juga deh bakal-“ Kata-kata Fiona langsung terendam saat tangan Aksa sudah mengenggam sebelah tangannya yang terbebas. Tak memperdulikan ekspresi membeku Fiona, Aksa hanya tersenyum lebar sembari mengangkat kedua tangan mereka yang tertaut. “Anggap aja ini permulaan dari permintaan lo tempo hari.” ****** “Lo Oji kan?” Oji yang awalnya fokus pada layar ponselnya, langsung mendongak dan terperangah seketika. Cowok di depannya hanya tersenyum lebar hingga lesung pipitnya terlihat, dan menarik bangku di depannya. Ia bisa merasakan beberapa tatapan pengunjung Cafe yang menatap kearah mereka dengan penuh keterkejutan yang sama. “Lo bukannya-“ “Gue Rendra Devian, yang lo cari.” Potong Devian cepat. Ia terkekeh sebentar. “Walaupun orang-orang lebih sering manggil gue Devian Jazza semenjak gue debut. Hanya lo yang masih manggil gue dengan sebutan itu.” Oji tertawa sumbang, bingung ingin bereaksi apa. “Jadi gue harus manggil lo apa?” “Devian.” Balas Devian kembali tersenyum. Seolah-olah ototnya sudah terlatih untuk mengembangkan senyum disaat kapanpun. “Jadi lo ada perlu apa sama gue?” Oji langsung teringat tujuan awalnya kemari, dia dengan cepat menyetel video tersebut dan menunjukkannya pada Devian. “Gue gak bakal basa-basi lagi, apa hubungan lo sama cewek ini?” Devian menerima ponsel itu dan mulai memperhatikan secara teliti video tersebut. Tak butuh waktu lama hingga, pemuda itu tertawa terbahak-bahak. Jenis tawa yang biasanya tidak akan ditunjukkan seorang ‘artis’ di tempat umum. Dan kata-kata Devian selanjutnya membuat Oji membeku. “She’s my cousin.” Devian berusaha mengatur nafasnya yang kelelahan karena kebanyakan tertawa. “Memang banyak yang gak tau kalau dia sepupu gue. Dia gak suka jadi pusat perhatian hanya karena titel ‘keluarga Devian’” Melihat Oji yang masih membeku, Devian kembali melanjutkan. “Sebenernya saat itu, gue sama dia sedang mengulang kembali naskah drama musikal yang pernah kami perankan waktu SMP. Yah, anehnya itu sempat jadi viral sebelum gue debut, walaupun itu jelas-jelas hanya candaan banyak fans gue yang kaget.” “Tapi...” Devian menelengkan kepalanya seolah kebingungan. “Kenapa lo hanya menunjukkan sepotong video itu? Seinget gue-“ Tanpa mendengarkan penjelasan Devian lebih lanjut, Oji langsung menyambar kunci mobilnya diatas meja. Dengan cepat beranjak keluar dari dalam Cafe menuju mobilnya, tak memperdulikan ekspresi Devian yang tak kalah tercengang karena ditinggalkan begitu saja. Catat, seorang artis seperti Devian di tinggalkan begitu saja di dalam cafe. Bahkan ketika ia belum sempat memesan apapun. “Kenapa sih tuh orang?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN