“Widih, banyak juga kadonya.”
Zahra menatap takjub tumpukan kado yang diletakkan di meja dekat mereka. Walau hanya mengundang teman sekelas, dan beberapa anak OSIS tetap saja pesta ulang tahun Dena terbilang meriah. Belum lagi beberapa teman Dani, yang sengaja diundang pula. Dena hanya tersenyum lebar menanggapi.
“Tapi tetep aja...” Yola mengantungkan kalimatnya sebentar, ia tersenyum miring sembari melirik sebuah kotak kado yang diletakkan tak jauh dari Dena berdiri.”Kado dari Juan yang bakal berkesan.”
Sontak saja gumaman ‘cie’ langsung terlontar dari mulut keenamnya hingga membuat pipi Dena bersemu merah. Gadis itu tersentak, menyembunyikan senyum bahagianya dibalik wajah cueknya. “Apaan sih! Biasa aja kali.”
“Di mulut ngomongnya ‘Biasa’ tapi kalau hati mah udah seneng banget.” Goda Aurel menyenggol pelan pundak Dena. “Juan kemana ya? Harusnya dia berdiri bareng lo nih..”
“Bacot lo semua!”Kesal Dena sedikit berdecak. Ia kini melirik Fiona yang menatap ponselnya dengan raut wajah serius. “Belom keluar hasilnya Fi?”
Fiona menggeleng lesu dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku roknya. “Enggak, kan pengumumannya gak serentak gitu.” Keenam temannya mengangguk paham.
“Wait, itu Oji kan? Dia telat?!” Wilsa berseru kaget melihat Oji yang membuka pagar dengan tergesa-gesa. Pandangan pemuda itu tertuju ke arah mereka dengan pandangan yang sulit didefinisikan. “Eh dia kena-“
Brugh
Ketujuh gadis itu seketika membeku, tak percaya apa yang sudah dilakukan Oji. Kemeriahan didekat mereka sudah berganti menjadi keheningan. Fiona membulatkan matanya tak percaya, tubuhnya membeku. Oji. Pemuda itu baru saja memeluknya erat, di depan puluhan anak SMA Bhakti Negara.
“b*****t!”
Bugh
Butuh waktu cukup lama, hingga Fiona sadar akan apa yang terjadi. Dengan cepat ia menghampiri Aksa yang sudah memukuli Oji dengan kemarahan yang meledak-ledak. Dani bahkan kesulitan untuk memisahkan keduanya yang sudah saling pukul. Kyra hanya mendesis ngeri saat pegangan Raka pada Oji sudah disentaknya kasar dan balas memukul Oji. Butuh waktu cukup lama hingga mereka berdua bisa dilepaskan.
“Lo berdua apaan sih?!” Bentak Dani penuh amarah, memarahi kedua cowok yang sama-sama sudah lebam di wajah mereka. “Ini pesta adik gue, jadi jangan buat masalah!” Dani kini menoleh kearah Oji. “Termasuk lo yang baru dateng dan udah mulai pertengkaran.”
Aksa menatap Oji penuh amarah yang masih meledak-ledak, ia menepis kasar pegangan Alex dan Juan. Pemuda itu menoleh kearah Fiona dan langsung menarik gadis itu masuk ke dalam rumah Dena. Disusul Dena, Alex, Juan, Davina dan Yola. Sementara yang lainnya memilih tetap di lapangan.
“Kamu gakpapa?”Tanya Kyra menatap khawatir Raka yang dibalas pemuda itu dengan senyuman menenangkan.
“Gila lo!” Kesal Rizky melepas cengkramannya di pundak Oji. Raka pun tak kalah kesal, kalau bukan karena melihat lebam di wajah Oji yang sudah terbilang cukup mengenaskan ia pasti sudah melayangkan pukulan juga. “Lo udah punya Rasha bodoh! Ngapain lo meluk Fiona didepan umum kayak-“
“Gue gak peduli.” Potong Oji mengusap sudut bibirnya yang berdarah dengan kesal.
“Karena dia bukan pacar gue mulai sekarang.”
*******
“Ambil tas lo.”
Aksa melepaskan pegangannya, saat mereka sudah berada di ruang tengah. Cowok itu meraih tasnya yang tergeletak di Sofa bersama tas milik Alex,Raka dan juga Rizky. Pemuda itu membelakangi Fiona hingga ia tak bisa melihat ekspresinya.
“Tapi Sa-“
“Kita pulang, atau lo mau lihat gue marah lebih dari ini.” Ancam Aksa berbalik dan menatap Fiona penuh kemarahan. Walaupun Fiona tau jelas, amarah itu bukan tertuju padanya. Tapi tetap saja ia sedikit ketakutan melihat wajah Aksa sekarang. Memang benar kata orang, seseram apapun marahnya orang pemarah masih lebih seram marahnya orang pendiam.
“Gak papa Fi, lo pulang aja.” Dena kini angkat bicara, dengan isyarat mata ia meminta Fiona mengikuti perintah Aksa. “Nanti pagi kita bertujuh kerumah lo.”
“Baiklah.”Gumam Fiona bergegas menaiki anak tangga bersama Davina yang menemaninya.
“Sabar Sa.” Komentar Alex setelah sekian lama hening menyapa. “Gue ngeri liat lo kayak gini, sumpah.”
Aksa tak menjawab, ia mengacak-acak rambutnya. Menahan keinginannya untuk kembali ke depan dan memukul Oji habis-habisan. s****n. Seumur hidupnya, ini kali pertama Aksa kehilangan kontrol akan dirinya.
“Sial.”
*******
Fiona mengenggam erat-erat seatbeltnya, takut akan tatapan tajam Aksa yang tertuju kearah jalanan. Bahkan ketika mobil sudah terhenti di depan rumahnya, ia tak berani untuk memulai percakapan diantara mereka. Genggaman Aksa di setir mengendur, dan kemudian pemuda itu meletakkan kepalanya diatas setir mobilnya.
“Maaf.” Gumam Aksa cukup pelan, namun berhasil mengoyak dinding pembatas diantara mereka. Pemuda itu menolehkan kepalanya kearah Fiona. “Gue gak pernah kehilangan kendali, sampai kayak tadi.”
“Kenapa?” Fiona menatap Aksa tak mengerti. “Kenapa lo semarah itu akan kejadian tadi?”
“Menurut lo?”Aksa balik bertanya. “Apa ada alasan lain selain gue suka sama lo?”
Fiona terdiam, tak percaya akan mendapatkan pengakuan itu secara mendadak. Aksa mengelus pelan rambut panjang Fiona yang tergerai. “Jadi pacar gue ya?”
“Hah?”
Aksa tak bisa menahan senyumnya melihat wajah cengo Fiona. Ia menegakkan badannya dan menatap Fiona serius. “Jadi pacar gue. Itu kejelasan hubungan kita dari gue. Walaupun gue belum tau hasil pengumuman lo, gue akan selalu menanyakan hal yang sama. Jadi pacar gue?”
Drt Drt Drt
Fiona terkesiap, segera mengeluarkan ponselnya yang bergetar dari dalam saku roknya. Sebuah email masuk kedalam alamat emailnya. Dengan tergesa-gesa ia membuka email baru tersebut.
From: contact@esmod.com
Subject: You Accepted
Content:
Félicitations
We from Esmod Paris are proud to announce. A female student from Indonesia, named Fiona Gerdania Sastra. With the design sent to us, after going through the assessment process is quite long. We announce that you PASS in the design stage.
Two weeks after this email is received. Prospective students are required to send the finished product from the design they send. Excitement and never give up
Rendez-vous à Esmod
Fiona menatap Aksa dengan pandangan berbinar bahagia. Ia tak bisa menahan air mata terharunya, dua kabar bahagia yang secara bersamaan ia dapatkan. Ia langsung memeluk Aksa menyalurkan rasa gembiranya yang meledak. Perlahan Aksa tersenyum bangga, menepuk pundak Fiona. “You got it. So, apa jawaban untuk pertanyaan aku tadi?”
Fiona melepaskan pelukannya dan menatap Aksa geli. “Mesti aku banget ya?” Aksa berdecak mengalihkan pandangannya kearah jalanan. Kata-kata Fiona selanjutnya berhasil membuat Aksa membeku.
“Iya. Fiona Gerdania Sastra in relationship with Aksa Hermawan.”