“Akhirnya jadian juga...”
Zahra menatap senang kearah Fiona sembari melahap bubur ayamnya. Keenam temannya memang menepati janji, pagi-pagi mereka sudah datang ke rumahnya sembari membawa makanan tentunya. Fiona hanya tersenyum lebar, mulai membuat pola diatas kain sesuai ukuran yang ditetapkan panitia.
“Tapi kenapa lo ngerjainnya sekarang?” Kini giliran Dena yang angkat bicara, setelah sekian lama diam melahap bubur ayamnya. “Masih ada 2 minggu waktu pengumpulannya kan?”
“Pengiriman paket internasional biasanya memakan waktu sekitar seminggu lebih paling lama. Jadi minimal dia harus selesai dalam waktu 4-5 hari ini.” Sambung Yola memberikan penggaris panjang kearah Fiona. “Cuman baju doang kan Fi? Tambahan kayak sepatu atau aksesories pelengkapnya udah lo beli kan?”
Fiona mengangguk. “Ya, tapi tetap aja membuat sesetel pakaian musim dingin itu gak bisa cepet. Harus begadang, untung aja udah UAS dan cuman desain untuk cewek.”
“Gue ambil minum dulu.”
Wilsa segera bangkit, sembari membawa gelas kosongnya. Tak butuh waktu lama hingga keenam temannya mulai berkomentar akan sikap Wilsa yang cukup pendiam hari ini.
Fiona mendesis ngeri. “Wilsa kenapa sih? Ngeri gue lihat dia kayak gitu.”
“Entahlah.” Zahra yang paling dekat dengan Wilsa pun mengangkat bahu tak tau. “Semalem waktu nginep dirumah Dena aja di nangis diem-diem di kamar mandi.”
“Oh jadi dia ke kamar mandi, terus nyalain keran gak berhenti-henti itu nangis.”Seru Aurel beroh ria. “Gue pikir dia BAB.”
“Yang pasti.”Potong Dena sebelum Aurel semakin membuat percakapan mereka ngelantur. Ia melirik kearah dapur tempat dimana Wilsa berada.
“Ada hal yang dia sembunyiin dari kita. Dan Wilsa bukan tipe yang suka nyimpen rahasia sendiri.”
******
“Tadi temen-temen pada dateng, jadi maaf berantakan.”
Fiona dengan cepat merapihkan meja ruang tengahnya, seraya meletakkan kotak berisi martabak yang dibawa Aksa. “Bentar ya aku buatin minum dulu buat kamu.” Gumam Fiona segera bergegas menuju dapur.
Aksa tak bisa menahan senyumnya mendengar panggilan “kamu” dari Fiona. Padahal gadis itu yang awalnya merasa jijik karena panggilan ‘aku-kamu ‘ itu. Pandangannya terhenti pada tumpukan kain yang berada diatas meja tak jauh dari dekatnya. Nampaknya masih butuh waktu lama hingga Fiona menyelesaikan pekerjaannya.
“Kamu liatin apa?”
Suara Fiona memecah lamunan Aksa, sembari meletakkan segelas jus jeruk yang ia bawa. Aksa hanya tersenyum lebar. “Kira-kira kapan selesainya?”
“4 – 5 hari? I don’t know” Fiona menaikkan kedua bahunya tak tau. “Kenapa?”
“Kayaknya sebelum kamu selesaiin tugas kamu, lebih baik aku gak usah ketemu kamu dulu deh.” Aksa hanya tersenyum kecil melihat raut tak suka Fiona. “Aku gak mau, fokus kamu kebagi lagi antara tugas sama aku. Apalagi ini tentang mimpi kamu.”
“Kamu?” Kini giliran Fiona yang menatap Aksa serius.
“Yah cuman 4-5 hari doang. Itung-itung latihan kalau kamu keterima disana, otomatis-“
“Bukan itu.”Potong Fiona cepat-cepat. “Aku gak enak sama kamu.”
Aksa menggeleng sembari tersenyum lebar. Ia mengacak pelan rambut Fiona. Hal yang sering ia lakukan belakangan ini.
“Take your time. Selama itu bisa bikin kamu gapai mimpi kamu, aku gakpapa kok.”
*****
“Ada surat buat lo.”
Fiona yang masih merasa mengantuk menerima sepucuk surat berwarna merah yang diberikan Nuga dengan ogah-ogahan. Ia kembali menempelkan wajahnya di meja makan, mencoba meredakan rasa kantuknya.
“Kamu tidur jam berapa semalem?” Paras menatap kasihan anaknya yang sudah terlihat mengenaskan. Ia meletakkan segelas s**u hangat didepan Fiona dan beberapa potong roti isi. “Lihat kantung tidur kamu itu, udah parah banget tau gak.”
“Kalau Aksa lihat penampilan lo sekarang, gue yakin dia bakal nyesel jadiin lo pacar.” Komentar Nuga sembari mengancingkan kemeja kerjanya. Fiona tak memperdulikan hal itu dan justru menyerahkan susunya kearah Nuga. “Lo aja yang minum, gue gak boleh ngantuk. Udah mau selesai ini.”
Nuga berdecak. “Udah 4 hari lo cuman tidur 2 jam. Mati aja lo ntar.” Gumamnya kesal.
Paras sendiri tak mengindahkan keributan yang dibuat kedua putra putrinya, walaupun Nuga adalah anak angkatnya. Ia diam-diam bersyukur bahwa suaminya masih bekerja di luar negeri, kalau tidak keributan di depannya akan semakin menjadi.
Fiona menghela nafas, meletakkan kembali gelasnya dan mulai membuka amplop tersebut. Dengan mata yang berusaha ia buka lebar, ia mencoba membaca surat yang cukup panjang tersebut.
Teruntuk Fiona
Gue terlalu malu untuk meminta maaf langsung pada lo. Tak pernah gue sangka, hanya karena kemarahan sesaat gue melupakan satu fakta penting. Kebenaran yang ada dibalik video itu, entahlah mungkin waktu itu gue terlalu marah sama diri gue sendiri. Maaf.
Jika waktu itu gue gak kepancing emosi, nungkin kita masih bareng-bareng ya Fi. Hahaha. Lo dan Aksa, gak pernah gue sangka akan ada perpaduan itu. Tapi tetep aja gue seneng denger lo sama dia sekarang.
Semoga aja Aksa akan terus jadi penyebab kebahagiaan lo itu, sejak gue yang merengutnya.
Dan kalau boleh egois sedikit, bisakah kita setidaknya kembali menjadi teman?
Fauzi Hardian
Fiona meletakkan surat itu dengan perasaan campur aduk. Pagi-pagi ia sudah harus dikagetkan oleh kata-kata Oji. Tapi ada sebuah ketulusan yang ia rasakan dari ketulusan itu. Menjadi teman? Ia tak keberatan tapi Aksa akan berkata lain.
“Pusing deh ah..”
******
Nyeri itu datang begitu saja, kalau tidak ada tiang disebelahnya Fiona mungkin sudah terjatuh ke tanah. Ia memegangi perutnya yang terasa kram. Kurang tidur, stress dan sekarang kram perut karena datang bulan. Padahal ia berniat langsung pulang setelah mengirimkan paketnya tadi, tapi nampaknya ia tidak ditakdirkan untuk itu. Semoga saja ia bisa mendapatkan taksi secepatnya.
“Fi..”
Fiona menolehkan kepalanya dan mendapati Oji yang baru keluar dari mobilnya. Pemuda itu masih dengan seragam basketnya, menghampiri sembari mengernyit. “Lo kenapa?”
Fiona mengibaskan tangannya, memberi tanda mengusir. “Gak papa.” Ia mengusap keringatnya yang mulai bercucuran. “Cuman kram.”
Oji tak menjawab, ia hanya menarik gadis itu dan memasukkannya ke dalam mobil. Dalam kondisi kram seperti ini, bagaimana mungkin Fiona melawan kekuatan Oji. Lagian ia juga tak mau mengambil resiko menjadi perhatian orang di tengah jalan.
“Gue anter pulang.” Gumam Oji memakai seatbeltnya setelah ia masuk ke dalam mobil. “Lo juga pake, gue gak bisa pakeinnya...”Oji menunjuk seatbelt disamping Fiona. “Bisa dihajar lagi gue sama Aksa.”
Fiona hanya tertawa hambar, tertawa hanya membuat rasa sakit itu semakin parah. Dengan malas ia memakai seatbeltnya. Seolah tak pernah ada yang terjadi di antara mereka, Fiona meraih kotak tisu didalam lacinya. “Bagi tisunya.”
Oji hanya terkekeh, dan mulai menyalakan mobilnya kembali. “Masih hapal aja Fi.” Fiona berdecak, mengalihkan tatapannya ke jendela.
“Dan lo masih suka bertindak tanpa dengerin omongan orang dulu.”
******
Devian yang asyik memetik gitarnya di teras rumah Fiona terhenti kala sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah. Cowok itu memindahkan gitar di pangkuannya ke kursi di sampingnya, dan mengernyit melihat Fiona keluar sembari membawa sebuah kantong kresek berlabel sebuah minimarket.
“Siapa-“
“Gak usah banyak nanya, gue lagi kram perut.” Potong Fiona segera berjalan cepat ke dalam rumah. Devian hanya tersenyum masam dan mulai memetik asal-asalan gitarnya. Seolah teringat sesuatu ia langsung berteriak nyaring. Cukup nyaring hingga ia yakini Fiona bisa mendengarnya
“GUE NITIP OLEH-OLEH BUAT DAVINA!!”