Tujuh Belas: When You In Here

1076 Kata
“Kamu udah mutusin masuk jurusan apa?” Gerakan Aksa terhenti ketika suara berat ayahnya akhirnya terdengar. Sejak kedua orangtuanya sampai beberapa jam lalu hingga makan malam, tak ada satupun kata yang ayahnya ucapkan padanya. Ia hanya menegur Tari dan Gibran, dan seolah-olah memberi jarak diantara mereka. Wahyu, ayah Aksa, berdeham sebentar. “Ayah harap kamu pilih kedokteran.” Aksa meletakkan sendok dan garpunya keatas piring. Sebuah gerakan yang membuat Tari melirik Aksa di sebelahnya. Suasana tegang mulai terasa di ruang makan saat ini. “Aku mau masuk politik.” Aksa menatap ayahnya serius. Sebuah jawaban yang membuat Wahyu menatap anak sulungnya tak suka. “Ngapain kamu masuk politik?” Wahyu menatap tajam anaknya. “Mau jadi tukang korupsi kamu?” Lanjutnya dengan nada meninggi. “Gibran, kamu makan di kamar aja ya.” Dania memerintah pelan putra bungsunya. Gibran mengangguk dan membawa piring dan gelasnya ke luar ruang makan. Dania menghela nafas melihat kedua laki-lakinya yang sudah mengibarkan bendera perang. “Dunia politik gak selalu tentang korupsi ayah.” Ucap Aksa dingin. “Tapi kenyataannya politik selalu tentang uang. Mau atau tidaknya kamu melakukan korupsi, kamu pasti akan terpaksa melakukannya nanti.” Wahyu berdecak pelan. “Ayah gak setuju. Lebih baik kamu ambil jurusan kedokteran, atau gak bisnis siapa tau kamu bisa lanjutin perusahaan kakek kamu.” Aksa mengepalkan kedua tangannya ketika ayahnya mengibaskan tangan. Tanda bahwa keputusannya tak mau diganggu gugat. “Gak cukup gitar aku yang ayah hancurin?” Wahyu mengangkat kepalanya, dan balas menatap Aksa tegas. Putra sulungnya itu tersenyum masam. “Ketika ayah ngelarang aku berpaku di dunia musik aku terima ayah. Bahkan ketika gitar aku dihancurin tepat di depan mata.” Aksa bersedekap d**a. “Ayah harusnya bersyukur kalau aku gak seperti anak lain. Kalau iya, aku pasti udah minggat dan gak pernah tinggal seatap sama ayah.” “Aksa.” Dania menatap Aksa penuh peringatan. “Jaga ucapan kamu di depan ayah.” “Ini hak aku Mah.” Aksa menatap ibunya tak mau kalah untuk kali ini. “Hak aku untuk memutuskan untuk menjadi apa. Dan hak aku untuk memperjuangkannya sendiri.” “Mau makan uang haram kamu?” Kini giliran ayahnya yang kembali berkata sinis. “Mau jadi apa kamu di politik nanti, pemakan uang haram?” “Aku bakal buktiin politik gak selalu tentang korupsi ke ayah.” Aksa bangkit dari kursinya dan kembali menatap ayahnya dingin. “Cukup mimpi aku di musik aja yang ayah hancurin, tapi gak untuk politik.” ****** “Ngapain sih lo pagi-pagi udah di rumah gue aja.” Hafi menghampiri Aksa yang pagi-pagi sudah duduk rapih di depan meja bar dapurnya. Dengan mata masih setengah membuka, pemuda itu membuka kulkasnya dan mulai meneliti apa isi didalamnya. “Lo mau minum apa? Hangat atau dingin?” “Kopi boleh, kalau ada.” Jawab Aksa santai, mencomot roti buatan Ibu Hafi yang masih hangat di hadapannya. “Gulanya 1 sendok aja.” “Tumben.” Hafi menutup kulkasnya dan meraih 2 sachet kopi dari dalam kabinet. “Biasanya lo kan selalu nolak, gak baik buat kesehatan kata lo.” Aksa hanya terkekeh, “Lagi stress biasa.” Hafi tersenyum sinis, seraya menyeduh kopi dari air panas didalam termos. “Bokap lo lagi?” “Lo pikir siapa lagi?” Aksa menggelengkan kepalanya sembari tersenyum masam. “Dia ngelarang gue masuk politik.” Hafi menyodorkan segelas kopi kearah Aksa, sementara ia sendiri mulai menyesap cairan hitam pekat itu. “Kenapa sih lo niat banget masuk politik? Padahal udah banyak yang nilai politik yang jelek-jelek loh.” “Pungli sama korupsi maksud lo?” Aksa meletakkan gelasnya kembali. “Ayolah, ada orang jujur tapi gak pernah di liput media aja.” “Dan gue mau jadi orang jujur itu, buat negara gue sendiri kenapa enggak?” ***** “Kalau masih capek, gak usah ngajak jalan tadi.” Aksa menatap miris Fiona yang terduduk lesu di kursi bioskop. Gadis itu menggeleng dan meraih kotak popcorn dari tangan Aksa. “Suntuk tau dirumah, lagian kemaren aku udah tidur dari jam 12 siang sampai jam 7 pagi tadi.” “Kamu tidur atau pingsan?” Fiona sedikit tergelak dan melahap popcornnya. “Pingsan kayaknya.” “Bagi dong popcornnya.” Pacarnya itu meraup beberapa popcorn dan meletakkannya di tangan Aksa. Kemudian Fiona mengukung kotak tersebut, enggan berbagi lebih banyak. “Pelit banget sama pacar sendiri.” Ledek Aksa terkekeh sembari memakan popcornnya. “Tadi kita nonton Jailangkung aja harusnya.” Gumam Aksa menunjuk trailer Jailangkung yang diputar di hadapan mereka. “Biar nanti kita bisa main juga.” Dugh Fiona memukul bahu Aksa cukup kencang, yang justru membuat pemuda itu tertawa lebar. “Tau ah, sebel.” Kesal Fiona memakan popcornnya lagi. “Dasar mentang-mentang lagi PMS ngambek mulu.” Aksa meraih popcornnya lagi, dan mengacak pelan rambut panjang Fiona. “Yaudah habis ini aku traktir makan lagi.” Fiona tak menjawab, berpura-pura asyik dengan popcornnya. Ia kemudian melirik Aksa yang berfokus pada layar di depannya yang mulai memutar film pilihan mereka. Seketika pikiran Fiona melayang akan pesan yang dikirim Tari kepadanya tadi pagi. Bahkan walaupun mereka sudah sedekat ini, pemuda itu tetap saja menyembunyikan apa yang ia alami. Bahkan ketika kita sudah sedekat ini, Aksa masih terasa jauh. Batin Fiona sedikit kecewa. ****** “Kamu ngapain sih ajak aku kesini?” Aksa menatap Fiona yang sudah asyik berlari-lari kecil di sepanjang pantai. Fiona menulikan pendengarannya dari pertanyaan beruntun yang Aksa tanyakan sejak mereka menginjakkan kaki disini. Ia terkikik sendiri merasakan aliran air laut yang menyentuh kakinya. “AKU SELALU DUKUNG KAMU AKSA!!” Aksa yang sedari tadi hanya terdiam di belakang Fiona sontak mendongak. Gadis itu berbalik dan tersenyum lebar kearah Aksa yang membeku karena teriakannya tadi. “Usaha terus untuk ngeyakinin ayah kamu Sa.” Aksa tersadar dan menghampiri Fiona yang tersenyum lebar kearahnya. Senyuman yang berhasil membuat jantungnya bekerja keras saat ini. “Tari cerita ya?” “Iyalah.” Fiona berjinjit dan menarik kedua pipi Aksa gemas. “Kalau nunggu kamu sendiri yang cerita, nunggu lumutan dulu baru cerita. Aksa mengacak rambut Fiona. “Maaf.” “Kenapa minta maaf? Gak papa kok, kamu pasti gak mau ngumbar masalah kamu sendiri. Aku juga kadang gitu kok.” Balas Fiona merapihkan kembali rambutnya. “Tapi lain kali cerita ya.” Aksa mengangguk pasti. “Siap 86!” Serunya menirukan ucapan polisi di sebuah acara yang sering ia tonton. Fiona tergelak dan memukul bahu Aksa lagi. “When you in here, i feel calm”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN